Mobilnya berhenti di depan gedung hari Kamis pukul sembilan, dan orang yang turun dari situ memakai sepatu yang salah untuk jalan yang baru surut.
Ranti melihatnya dari jendela lantai dua. Perempuan, sekitar empat puluh, memegang map dan berjalan mengangkat ujung celananya dengan dua jari.
Ia naik tanpa mengetuk.
"Selamat pagi. Saya Prasasti, dari Bhumi Larasati." Ia melihat ke sekeliling studio sekali, cepat, dan Ranti bisa melihat ruangan itu sedang dihitung. "Bapak Bara ada?"
"Beliau sedang menulis laporan."
"Di sini?"
"Di kantornya."
Prasasti mengangguk dan tetap berdiri. Ia tidak duduk di kursi putar yang busanya keluar, dan Ranti tidak menawarkannya.
"Ibu Ranti, ya? Saya sebetulnya memang mau ketemu Ibu juga."
Ia membuka mapnya di atas meja siar, di sebelah cangkir teh, dan Ranti memindahkan cangkir itu satu jengkal tanpa berpikir.
"Sewa ruangan ini terakhir dibayar tahun 2019," kata Prasasti. "Sebelum lelang."
"Ayah saya punya perjanjian dengan pemilik lama."
"Betul. Dan perjanjian itu tidak ikut terjual." Ia membalik satu lembar. "Jadi selama enam tahun ini Ibu di sini tanpa dasar apa pun. Kami tidak pernah menagih."
"Kenapa tidak?"
Prasasti mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya ekspresinya terlihat manusia.
"Karena tidak ada yang mau gedung ini, Bu. Sampai sekarang."
Ranti berdiri di tempatnya.
"Ada yang mau sekarang?"
"Ada peminat. Untuk seluruh blok, bukan cuma gedung ini." Prasasti menutup mapnya. "Mereka butuh kepastian soal menara itu sebelum tanda tangan. Kalau menaranya harus turun, itu biaya. Kalau tidak, itu aset."
"Terus posisi saya di mana?"
"Posisi Ibu tergantung laporan Pak Bara, sama seperti posisi kami."
Prasasti menyelipkan mapnya di bawah lengan.
"Saya bukan mau menakut-nakuti, Bu Ranti. Saya sudah baca berkasnya. Bapak Ibu yang memasang menara itu, dan saya kira itu pantas dihormati." Ia berjalan ke pintu, lalu berhenti. "Tapi saya juga harus jujur: kalau laporannya bilang menara itu tidak layak, kami tidak akan memperbaikinya. Kami akan menurunkannya. Itu jauh lebih murah."
"Kalau laporannya bilang layak?"
"Maka tidak ada yang perlu terjadi." Prasasti melangkah keluar. "Untuk sementara."
Ranti menemukan kantor Bara di lantai tiga ruko di Jalan Imam Bonjol, di atas toko bahan kue. Tidak ada papan nama, cuma kertas A4 ditempel di pintu dengan nomor teleponnya.
Bara membukanya masih memegang pensil.
"Ada apa?"
"Prasasti datang tadi pagi."
Bara membuka pintunya lebih lebar.
Ruangannya kecil, satu meja, satu rak, dan dinding penuh gambar kerja yang ditempel dengan lakban kertas. Di meja ada laptop yang sama, terbuka, dengan kolom-kolom angka yang sekarang lebih banyak merahnya.
Ranti tidak duduk.
"Saya mau minta sesuatu, dan saya sudah tahu jawabannya, tapi saya tetap harus minta."
"Silakan."
"Izin siaran saya habis 2024. Untuk mengajukan yang baru, saya butuh surat kelayakan struktur menara. Dari ahli bersertifikat." Ranti berhenti. "Butir empat."
Bara menaruh pensilnya di atas meja, sejajar dengan tepi kertas.
"Saya tidak bisa menandatangani surat yang bilang menara itu layak, kalau menurut hitungan saya tidak."
"Saya tidak minta Bapak berbohong."
"Terus Ibu minta apa?"
Ranti menatap kolom-kolom merah di layar itu.
"Saya minta tahu berapa lama."
Bara duduk. Ia memutar laptopnya menghadap Ranti dan menunjuk satu kolom.
"Ini kecepatan turun kaki yang menghadap laut. Enam koma delapan sentimeter setahun, rata-rata lima tahun terakhir." Ia menunjuk kolom sebelahnya. "Ini batas selisih yang masih aman untuk rangka seperti itu."
"Berapa jaraknya sekarang?"
"Dua koma satu sentimeter dari batas."
Ranti menghitung di kepalanya, dan Bara membiarkannya menghitung sendiri.
"Empat bulan," kata Ranti.
"Kalau turunnya rata. Tidak pernah rata."
"Jadi bisa lebih cepat."
"Bisa. Bisa juga lebih lambat kalau musim keringnya panjang." Bara memutar laptopnya kembali. "Itu sebabnya saya tidak mengira-ngira di depan orang. Angka empat bulan itu sekarang sudah ada di kepala Ibu, dan besok Ibu akan menganggapnya janji."
"Saya tidak akan menganggapnya janji."
"Semua orang bilang begitu."
Ranti menarik satu-satunya kursi lain di ruangan itu dan duduk, akhirnya.
"Kalau Bapak menulis laporannya sekarang, radio saya berhenti bulan ini."
"Iya."
"Kalau Bapak menahannya tiga bulan, saya punya tiga bulan."
Bara tidak menjawab.
"Saya tidak minta Bapak menulis yang tidak benar," kata Ranti. "Saya minta Bapak menulisnya nanti."
Di luar ada suara mesin pengaduk dari toko bahan kue di bawah, berhenti, lalu jalan lagi.
"Bu Ranti, ada yang perlu Ibu tahu tentang menahan laporan," kata Bara. "Kalau menara itu jatuh sebelum saya menyerahkannya, yang di bawahnya bukan cuma studio Ibu."
Ranti membuka mulut.
"Ada warung Bu Warti," lanjut Bara. "Ada gang yang dilewati anak sekolah jam setengah tujuh. Delapan belas meter besi, Bu."
Ranti menutup mulutnya lagi.
"Saya sudah pernah menahan satu laporan," kata Bara. "Tahun 2017. Bukan menara, gedung parkir. Pemiliknya minta waktu untuk cari dana, saya kasih enam minggu."
"Terus?"
"Tidak terjadi apa-apa. Gedungnya diperbaiki, sampai sekarang berdiri." Bara mengambil pensilnya lagi dan meletakkannya lagi. "Dan selama enam minggu itu saya tidak bisa tidur, dan tiap pagi saya lihat berita, dan tiap pagi saya bersyukur untuk alasan yang salah."
"Bapak bersyukur karena tidak ada yang mati."
"Saya bersyukur karena saya tidak ketahuan."
Ranti tidak punya jawaban untuk itu.
Bara berdiri dan berjalan ke rak, mengambil sesuatu, dan meletakkannya di meja di depan Ranti.
Solder kecil, dengan gulungan timah yang tinggal separuh.
"Headphone Anda," katanya. "Tawarannya masih berlaku."
Ranti melihat benda itu tanpa menyentuhnya.
"Kenapa Bapak terus menawarkan?"
"Karena itu satu-satunya yang bisa saya perbaiki."
Ranti pulang jalan kaki, walau jaraknya empat kilometer dan sepatunya tidak dibuat untuk itu.
Di Jalan Petek ia berhenti di depan warung Bu Warti dan berdiri di seberangnya sebentar, memandangi tenda terpalnya yang miring, kompor yang menyala, dan bangku panjang tempat empat orang duduk membelakangi jalan.
Delapan belas meter besi.
Ia menyeberang dan memesan teh.
"Ranti," kata Bu Warti. "Kemarin makasih ya, lagunya."
"Sama-sama, Bu."
"Bapak saya empat puluh harinya besok. Nanti saya kirim pesan, ya, minta diputar lagi."
"Iya, Bu."
Ranti memegang gelasnya dengan dua tangan walau tehnya panas.
"Bu Warti, warung ini sudah berapa lama di situ?"
"Dua belas tahun. Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
Bu Warti menuang air ke termos dan tidak bertanya lagi, dan Ranti duduk di bangku panjang itu sampai tehnya habis, menghadap jalan, membelakangi gedung yang menaranya berdiri delapan belas meter di atas kepala mereka semua.
Hari Jumat Ranti naik angkot ke Kaligawe dan mencari bengkel las yang nomornya sudah sembilan tahun ada di buku catatannya.
Bengkelnya ada. Pemiliknya sudah bukan orang yang namanya tertulis di kartu itu, melainkan anaknya, laki-laki seumuran Ranti dengan lengan penuh bekas percikan.
Ranti menunjukkan foto menara itu di ponselnya.
"Bisa dikuatkan, Mas?"
Laki-laki itu memperbesar fotonya dengan dua jari, melihat kaki-kakinya, lalu mengembalikan ponselnya.
"Besinya masih bagus, Mbak. Yang jelek bawahnya."
"Bawahnya bisa?"
"Bukan kerjaan saya. Itu pondasi." Ia menyeka tangannya ke celana. "Saya cuma bisa bikin yang berdiri, bukan yang menahan."
Ranti mengangguk dan bersiap pergi.
"Tapi Mbak," kata laki-laki itu, "mesti setinggi itu?"
Ranti berhenti.
"Maksudnya?"
"Antenanya. Kalau cuma buat radio kecil, kan tidak harus di menara delapan belas meter. Bapak saya dulu pernah pasang buat orang, di atap rumah biasa, tiang enam meter. Jangkauannya memang tidak sejauh itu."
"Sejauh apa?"
"Tergantung. Tiga kilometer, empat. Kalau daerahnya rata bisa lebih."
Di angkot pulang Ranti menghitung dengan jari di paha.
Kota Lama ke Tambaklorok tujuh kilometer. Ke Bandarharjo lima. Ke Jalan Petek satu setengah.
Empat kilometer berarti Bu Warti dapat. Berarti tiga dari empat nama di kotak surat dapat. Berarti ibu Bara tidak.
Ia menulis angka-angka itu di buku catatan, di halaman yang sama dengan tanda tanya dan Habis 2024 dan Butir 4, dan di bawahnya ia menulis satu baris baru.
Enam meter.
Lalu ia menatap dua kata itu dan menambahkan tanda tanya juga, karena ia belum tahu apakah itu jalan keluar atau cuma cara lain untuk menyerah.
Malam itu ia menerima satu pesan dari nomor yang tidak tersimpan.
Laporan saya selesai. Belum saya kirim.
Ranti membacanya di depan kompor listrik yang airnya belum mendidih.
Ia mengetik: Kapan Bapak kirim?
Balasannya datang enam menit kemudian.
Itu yang sedang saya pikirkan.
Ranti menatap layarnya sampai padam sendiri, lalu menyalakannya lagi untuk membaca kalimat itu sekali lagi, lalu menaruhnya menelungkup.
Airnya mendidih dan ia membiarkannya mendidih terus, cukup lama sampai uapnya mengembunkan kaca jendela kamarnya, dan di kaca itu ia bisa melihat pantulan lampu kamar sendiri dan tidak ada yang lain.
Besok subuhnya ia membuka siaran seperti biasa, dan untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun ia menambahkan satu kalimat yang tidak ada di catatan mana pun.
"Buat yang dengar dari Tambaklorok," katanya, sesudah keroncongnya naik lagi. "Kalau suatu hari suara ini tidak sampai ke sana lagi, itu bukan karena kami berhenti."
Pak Hardi menoleh dari balik kaca.
Ranti tidak menjelaskan apa-apa. Ia membaca permintaan lagu, menyebut empat puluh hari almarhum Pak Sarno, dan menutup pukul enam.
Sesudah lampu merah padam, Pak Hardi masuk membawa cangkir.
"Yang tadi itu untuk siapa?"
"Untuk saya sendiri, Pak."
Pak Hardi menaruh cangkirnya di titik yang sama seperti biasa.
"Jangan pamitan dulu sebelum waktunya," katanya. "Orang jadi ikut bersiap-siap, padahal belum tentu."
Ranti mengangkat cangkirnya.
"Kalau ternyata betul waktunya, Pak?"
Pak Hardi melipat korannya jadi empat, seperti selalu.
"Ya besok kita lihat," katanya. "Hari ini masih ada yang dengar."
Ranti membawa cangkir itu ke jendela dan meminumnya sambil melihat ke arah menara.
Pagi itu langitnya bersih, dan besi merah putih itu berdiri seperti sudah berdiri sejak ia dua puluh tiga tahun.
Dari bawah, tidak ada yang kelihatan miring sama sekali.