Tambaklorok tidak jauh dari Kota Lama kalau diukur di peta. Tujuh kilometer. Ranti butuh empat puluh menit karena harus turun dari angkot di simpang dan berjalan sisanya lewat jalan yang sudah bukan jalan.
Bara tidak mengajaknya. Ranti yang bertanya di mana ia mengambil contoh tanah, dan Bara menyebut nama kampung itu tanpa mengira akan disusul.
Rumah-rumah di sana berdiri di atas urukan setinggi lutut. Beberapa dua kali diuruk, jadi pintu depannya sekarang setinggi dada dan orang harus menunduk untuk masuk ke rumah sendiri. Di beberapa halaman ada perahu kecil yang diikat ke tiang listrik, bukan untuk melaut.
Ranti menemukan Bara di ujung gang, berjongkok di depan sumur bor dengan tabung kaca kecil di tangan.
"Anda ke sini naik apa?"
"Angkot."
Bara berdiri. Celananya sudah kotor sampai lutut.
"Ini bukan bagian dari pekerjaan saya juga," katanya. "Kalau Anda mau tahu."
"Terus kenapa Bapak di sini?"
Bara menutup tabung kacanya dengan sumbat karet dan memasukkannya ke tas.
"Rumah ibu saya dua gang dari sini," katanya. "Yang catnya hijau."
Rumah itu memang hijau, atau pernah hijau. Sekarang catnya tinggal di bagian atas, di atas garis lurus setinggi paha yang mengelilingi seluruh dinding seperti seseorang menggambarnya dengan penggaris raksasa.
"Itu bekas air?" tanya Ranti.
"Yang atas bekas tahun 2019. Yang bawah tidak kelihatan lagi karena sudah di bawah tanah."
Ibu Bara duduk di kursi plastik di teras, kaki di atas dingklik supaya tidak menyentuh lantai yang basah. Umurnya mungkin tujuh puluhan. Ia memanggil Bara dengan nama lain, nama kecil, dan Bara menjawab tanpa mengoreksi.
"Ini Ranti, Bu. Dari radio."
Perempuan itu menoleh cepat.
"Sekar Laut?"
"Iya, Bu."
"Yang tiap pagi ada keroncongnya itu?"
Ranti mengangguk.
Ibu Bara menepuk-nepuk kursi plastik di sebelahnya sampai Ranti duduk, lalu bercerita tanpa ditanya bahwa dulu radionya diletakkan di jendela dapur menghadap keluar, supaya tetangga yang tidak punya radio ikut dengar, dan bahwa suaminya almarhum selalu bangun waktu keroncongnya mulai dan bilang "sudah setengah lima" walau tidak pernah ada yang bertanya jam berapa.
"Sekarang masih Ibu dengar?" tanya Ranti.
"Masih. Tapi radionya sudah di lemari atas." Ia menunjuk ke dalam. "Kalau rob, yang di bawah basah semua."
Mereka pulang bersama karena angkotnya sama.
Di dalam angkot Bara duduk di ujung bangku, memangku tas kanvasnya, dan tidak bicara sampai kendaraan itu melewati jembatan.
"Ibu saya bertahan di situ karena rumah itu satu-satunya yang dia punya," katanya. "Bukan karena berani."
Ranti menunggu.
"Tahun 2019 saya sudah insinyur. Saya bilang ke dia rumah itu tidak bisa diselamatkan, cuma bisa ditinggikan, dan meninggikan itu menunda, bukan menyelesaikan." Bara memandang keluar. "Dia tetap menguruk. Dua kali."
"Bapak marah?"
"Dulu."
"Sekarang?"
Angkotnya berhenti menaikkan penumpang. Ada anak sekolah naik, basah sebetis, dan duduk di antara mereka.
"Sekarang saya cuma menulis angkanya," kata Bara. "Orang boleh memutuskan apa pun sesudah itu. Yang tidak boleh adalah memutuskan tanpa tahu angkanya."
Ranti memikirkan itu sepanjang sisa jalan.
"Kalau angkanya jelek," katanya waktu mereka turun, "berapa lama menara itu masih bisa berdiri?"
"Saya belum tahu."
"Kira-kira."
"Saya tidak mengira-ngira di depan pemiliknya."
"Saya bukan pemiliknya. Gedungnya punya Larasati."
Bara menyandang tasnya dan melihat ke arah gedung itu, yang dari simpang ini cuma terlihat atapnya dan ujung menaranya.
"Anda pemilik yang lain," katanya.
Sore itu Ranti menelepon Dinas.
Ia menunggu tujuh menit di nada tunggu, memindahkan ponsel ke telinga kanan tiga kali, dan waktu akhirnya ada yang mengangkat ia menyebut nama ayahnya lebih dulu, baru namanya sendiri.
Petugasnya sopan. Ia mengecek. Lalu ia menyebut istilah yang Ranti harus minta diulang dua kali.
Izinnya tidak bisa diperpanjang. Ia harus diajukan baru.
"Bedanya apa, Pak?"
"Kalau perpanjangan, syaratnya ringan. Kalau baru, ikut ketentuan yang sekarang."
"Ketentuan yang sekarang apa saja?"
Petugas itu membacakannya. Ranti menulis di halaman yang ada tanda tanyanya, dan di butir keempat pensilnya berhenti.
Bukti kelayakan struktur menara pemancar.
"Pak, itu maksudnya surat dari siapa?"
"Dari ahli struktur bersertifikat, Bu. Yang dipakai pemilik gedung biasanya bisa sekalian."
Ranti mengucapkan terima kasih dan menutup telepon.
Ia duduk di lantai kamarnya cukup lama sampai lampu jalan di luar menyala.
Laporan yang akan membunuh radionya, dan surat yang bisa menyelamatkannya, ditulis orang yang sama. Di kertas yang sama. Dari enam kali pengukuran yang ia bantu tahan pitanya sendiri.
Ranti mengambil buku catatannya dan menulis satu baris lagi di bawah "Habis 2024".
Butir 4.
Lalu ia menutup bukunya dan tidak membukanya lagi malam itu.
Hari kelima Bara membawa laptop.
Ia menaruhnya di lantai atap, di atas tas kanvasnya supaya tidak langsung kena beton, dan duduk bersila di sebelahnya. Layarnya penuh kolom angka.
"Sudah selesai mengukur?" tanya Ranti.
"Sudah. Sekarang bagian yang lebih lama."
Ranti duduk di kursi plastik ayahnya, dua meter darinya, dan tidak berpura-pura sedang melakukan hal lain.
Ada satu kalimat yang sudah ia susun sejak semalam, dan ia sudah mengucapkannya tiga kali di kamar mandi kos. Butir empat. Surat kelayakan. Bapak bisa sekalian.
Ia membukanya begini: "Bapak belajar ini di mana?"
Bukan itu kalimatnya.
"Undip," kata Bara. "Lalu delapan tahun di kontraktor, lalu sendiri."
"Kenapa sendiri?"
"Di kontraktor, yang menandatangani laporan bukan yang mengukur."
Ranti mengangguk seolah itu jawaban yang biasa.
Angka-angka di layar itu bergerak waktu Bara mengetik. Ada kolom yang berubah merah, lalu kembali hitam, lalu merah lagi.
"Yang merah itu jelek?"
Bara berhenti mengetik.
"Mau saya ajari membacanya?"
Butuh empat puluh menit, dan Ranti hanya mengerti sepertiganya.
Yang ia tangkap begini. Menara itu tidak akan roboh karena angin; anginnya sudah dihitung sejak 2001 dan besinya masih cukup. Yang berubah bukan menaranya, melainkan tanah di bawahnya. Kaki yang di sisi laut turun lebih cepat daripada tiga kaki lainnya, dan setiap milimeter selisih membuat seluruh rangka itu memikul beban dengan cara yang tidak pernah direncanakan orang yang memasangnya.
"Jadi masalahnya bukan menara."
"Masalahnya tanah. Menaranya cuma yang berdiri di atasnya."
"Tanahnya bisa diperbaiki?"
"Bisa. Pondasi dalam sampai lapisan keras." Bara memutar layarnya sedikit. "Di sini kira-kira dua puluh delapan meter."
"Berapa harganya?"
Bara menyebut angka.
Ranti mendengarnya, lalu meminta diulang, lalu mendengarnya lagi.
Ia memikirkan buku catatannya. Harga besi siku. Tukang las di Kaligawe. Seluruh daftar itu, kalau dijumlahkan dan dikalikan sepuluh, masih belum satu per sepuluh dari angka yang barusan disebut.
"Baik," katanya.
"Bu Ranti—"
"Baik. Saya dengar."
Ia berdiri dan berjalan ke sisi atap yang menghadap laut, dan berdiri di situ membelakangi laptop itu sampai suaranya kembali seperti biasa.
Waktu ia berbalik, Bara sudah menutup laptopnya.
"Boleh saya lihat headphone Anda?"
"Kenapa?"
"Kalau cuma kabelnya putus di dekat jack, itu lima menit."
Ranti tidak menjawab.
"Saya bawa solder di mobil," kata Bara.
"Tidak usah."
Ia mengucapkannya lebih cepat daripada yang ia mau, dan keduanya mendengar itu.
Bara mengangguk sekali. Ia memasukkan laptopnya ke tas, menutup ritsletingnya sampai ujung, dan berdiri.
"Besok saya tidak ke sini," katanya. "Saya menulis laporannya."
"Berapa lama?"
"Dua hari. Mungkin tiga."
Ranti mengantarnya sampai tangga. Ia berdiri di situ sampai bunyi langkah itu sampai ke bawah, dan yang keenam tidak berbunyi seperti biasa.
Malam itu ia tidak pulang ke kos.
Ia tidur di kursi putar yang busanya keluar, dengan jaket dijadikan bantal, dan bangun pukul empat kurang sepuluh karena kebiasaan.
Pukul empat lewat dua puluh ia sudah duduk di depan meja siar walau tidak ada yang perlu disiapkan.
Ia mengambil headphone dari gantungan dan memasangnya. Memiringkan kepala.
Lalu ia mengetuk meja tiga kali.
Tuk. Tuk. Tuk.
Pak Hardi belum datang, jadi tidak ada yang menekan tombolnya, dan lampu merah di atas pintu tetap padam.
Ranti tetap membuka mikrofonnya.
"Selamat pagi Semarang," katanya, ke ruangan yang tidak menyiarkan apa-apa. "Ini Sekar Laut seratus enam koma tiga."
Ia diam beberapa saat.
Lalu ia menutup mikrofonnya lagi, melepas headphone, dan menggantungnya di tempatnya.
Pak Hardi datang pukul empat lewat tiga puluh, membawa dua bungkus nasi.
Ia tidak bertanya kenapa Ranti sudah di situ, dan tidak bertanya kenapa matanya begitu. Ia menaruh satu bungkus di sudut meja, di luar jangkauan kabel, di titik yang sama dengan cangkir teh.
"Bapak," kata Ranti. "Kalau saya harus memilih antara menaranya dan izinnya, saya harus pilih yang mana?"
Pak Hardi membuka bungkus nasinya sendiri dan mengaduk isinya dengan sendok plastik.
"Bapakmu dulu pernah ditanya begitu."
"Sama siapa?"
"Sama saya." Ia menyendok sekali dan mengunyah. "Tahun 2009. Waktu ada tawaran jual frekuensi."
"Terus jawabnya apa?"
"Dia tanya balik. Katanya, kalau menaranya berdiri tapi tidak ada yang bicara, itu apa namanya." Pak Hardi menyendok lagi. "Saya tidak bisa jawab. Sampai sekarang."
Ranti membuka bungkus nasinya dan tidak memakannya.
Pukul lima kurang seperempat ia memutar dangdut lama untuk almarhum Pak Sarno lagi, walau tidak ada yang meminta, dan Bu Warti mengirim pesan tiga menit kemudian yang isinya cuma satu huruf.
Sesudah siaran, Ranti membuka ponselnya dan mengetik pesan ke nomor Bara yang tertulis di kartu nama di dalam map plastik.
Pak Bara, ada satu hal yang perlu saya tanyakan soal laporan itu.
Ia membacanya empat kali.
Lalu ia menghapus kata "soal laporan itu" dan menggantinya dengan "kalau Bapak ada waktu".
Lalu ia menghapus seluruhnya dan menaruh ponselnya menelungkup di atas meja siar, di sebelah cangkir yang belum diisi.
Sebelum pulang ia membuka laptop dan mencari berkas digital keroncong itu. Ada, di folder bernama ARSIP, direkam ulang tahun 2019 dengan alat yang lebih baik.
Ranti memutarnya.
Di detik kedua puluh nadanya tidak turun. Ia lewat begitu saja, rata, bersih, seperti lagu mana pun.
Ranti mendengarkan sampai habis, lalu menutup laptopnya.
Besok pagi ia akan memutar kasetnya lagi.