Sabtu terakhir tiap bulan Ranti berkeliling.
Ini kebiasaan yang dimulai ayahnya tahun 2011, waktu ada pendengar yang tiga bulan tidak mengirim permintaan lagu dan ternyata sudah meninggal dua bulan sebelumnya tanpa ada yang memberi tahu radio. Sejak itu, sekali sebulan, siapa pun yang menjaga Sekar Laut naik motor dan mendatangi mereka satu per satu.
Sekarang tinggal empat nama.
Ranti sedang mengikat kantong plastik berisi formulir permintaan lagu ke jok belakang waktu mobil Bara berhenti di depan gedung.
"Saya dengar Ibu keliling hari ini."
"Dengar dari siapa?"
"Dari Ibu. Kemarin di siaran."
Ranti berhenti mengikat.
"Bapak dengar siaran saya tiap pagi?"
Bara membuka pintu penumpang dari dalam.
"Motornya nanti kehujanan," katanya, yang bukan jawaban.
Yang pertama Pak Kusno, delapan puluh satu tahun, bekas masinis, tinggal dengan anak perempuannya di Bandarharjo.
Ia menerima formulir itu dengan dua tangan seperti orang menerima undangan, lalu mengisinya di depan Ranti dengan pulpen yang harus dikocok dulu. Tulisannya besar-besar. Satu lagu per bulan, selalu lagu yang sama.
"Pak Kusno, ini yang bulan lalu juga."
"Iya."
"Sama yang bulan sebelumnya."
"Iya."
Anak perempuannya, dari dapur: "Sudah dua tahun begitu, Mbak. Biarin aja."
Pak Kusno melipat formulirnya jadi empat dan menyerahkannya.
"Ibu saya suka lagu itu," katanya. "Dia meninggal tahun tujuh puluh dua."
Ranti memasukkan lipatan itu ke kantong plastik.
Di mobil, Bara tidak bertanya apa-apa selama dua ratus meter.
"Lagunya apa?" tanyanya akhirnya.
"Bengawan Solo."
"Yang di kaset itu?"
"Bukan. Yang di kaset instrumental." Ranti melihat ke luar. "Tapi mirip."
Yang kedua Bu Sunarti, tujuh puluh enam, tinggal sendiri di rumah petak belakang pasar.
Rumahnya gelap walau siang, dan radionya menyala di atas lemari, disetel ke 106,3 sepanjang hari walau Sekar Laut cuma mengudara satu setengah jam.
"Bu, ini kan siarannya sudah selesai dari tadi pagi."
"Saya tahu."
"Terus kenapa dinyalakan?"
Bu Sunarti menuang teh untuk mereka berdua dari termos yang sudah tidak panas.
"Biar ada bunyinya," katanya.
Bara mengangkat cangkirnya dan minum tanpa berkomentar. Ranti melihat ia melakukan itu, dan mencatatnya di suatu tempat di dalam dirinya yang tidak ia namai.
Yang ketiga Pak Umar, tujuh puluh sembilan, tidak ada di rumah. Tetangganya bilang beliau ke masjid dan biasanya lama. Ranti menyelipkan formulir di bawah pot.
Yang keempat Bu Warti.
Warungnya penuh karena jam makan siang, jadi Ranti menunggu di bangku panjang sambil memegang kantong plastiknya di pangkuan, dan Bara duduk di sebelahnya memesan dua es teh tanpa ditanya mau apa.
"Empat orang," kata Bara.
"Empat yang pakai kotak surat. Yang dengar lebih banyak."
"Berapa?"
"Saya tidak pernah menghitung."
"Kenapa tidak?"
Ranti memutar gelasnya di atas meja, meninggalkan bulatan basah.
"Karena kalau saya hitung, angkanya akan jadi alasan," katanya. "Buat siapa pun yang mau menutupnya. Termasuk buat saya sendiri."
Bara diam agak lama.
"Itu kalimat orang yang sudah pernah memikirkannya."
"Saya memikirkannya tiap bulan waktu keliling."
Bu Warti datang membawa formulirnya yang sudah diisi, plus satu bungkus tahu gimbal yang tidak dipesan siapa pun.
"Buat di jalan," katanya, dan menolak dibayar dengan cara yang membuat membayarnya jadi tidak sopan.
Di mobil, Bara menaruh bungkusan itu di antara mereka dan tidak menyentuhnya sampai Ranti membukanya lebih dulu.
Mereka makan di mobil yang diparkir menghadap laut, di ujung jalan yang buntu karena airnya, dengan jendela terbuka dan mesin mati.
"Bapak sudah kirim laporannya?" tanya Ranti, sesudah bungkusnya habis.
"Belum."
"Hari ini hari keempat."
"Saya tahu hari keberapa."
Ranti melipat kertas bekas bungkus itu jadi kecil-kecil.
"Saya tidak akan menanyakannya lagi," katanya. "Saya sudah menanyakannya sekali, dan itu sudah cukup tidak adil."
Bara memandang ke depan, ke air yang menutup ujung jalan, ke tiang listrik yang berdiri di dalamnya sampai sebetis.
"Bu Ranti, boleh saya tanya sesuatu yang tidak ada hubungannya?"
"Boleh."
"Kalau radio itu berhenti besok, Ibu akan kerja apa?"
Ranti berpikir lebih lama daripada yang ia kira ia perlukan.
"Saya tidak tahu," katanya. "Itu yang bikin saya takut, bukan radionya."
Bara mengangguk.
"Waktu ibu saya menguruk rumah yang kedua kali," katanya, "saya pikir dia bodoh. Sekarang saya mengerti dia cuma tidak punya jawaban untuk pertanyaan yang sama."
Angin dari laut masuk lewat jendela dan membawa bau yang bukan bau apa-apa, cuma bau air yang sudah lama tidak pergi.
Mereka duduk di situ sampai matahari cukup rendah untuk membuat air itu berwarna, lalu Bara menyalakan mesin dan mengantar Ranti pulang tanpa keduanya mengatakan apa pun lagi yang penting.
Minggu paginya tidak ada siaran. Sekar Laut libur satu hari sejak dulu, karena ayahnya bilang orang perlu satu pagi tanpa suara siapa pun.
Ranti tetap datang.
Ia membersihkan karpet dinding yang lepas dengan paku payung baru, menempelkannya kembali satu per satu, dan berhenti tiap kali palunya membuat bunyi yang terlalu keras di ruangan yang tidak menyiarkan apa-apa.
Pukul sebelas Pak Hardi datang membawa obeng dan tidak menjelaskan kenapa ia juga datang di hari libur.
Mereka membongkar pemutar kaset.
Bagian dalamnya penuh debu yang menempel jadi kain tipis. Pak Hardi meniupnya, Ranti membersihkan kepala pitanya dengan cotton bud dan alkohol, dan mereka bekerja tanpa banyak bicara sampai lewat tengah hari.
"Pak," kata Ranti, waktu memasang tutupnya kembali. "Kalau antenanya dipindah ke tiang enam meter, jangkauannya sampai mana?"
Pak Hardi memasang sekrup terakhir dan memutarnya sampai kencang.
"Empat kilometer. Mungkin lima kalau tiangnya di atap yang tinggi."
"Bapak sudah pernah hitung?"
"Bapakmu yang hitung. Tahun 2013." Ia menaruh obengnya. "Waktu itu ada rencana pindah ke ruko sebelah."
"Kenapa tidak jadi?"
"Karena Tambaklorok tidak masuk."
Ranti memegang tutup pemutar kaset itu di pangkuannya.
"Bapak saya bilang apa waktu itu?"
"Dia bilang, radio yang tidak sampai ke tempat orang paling butuh itu bukan radio, itu hobi." Pak Hardi berdiri dan membersihkan celananya. "Terus dia tidak pernah bahas lagi."
Sore itu Ranti mencoba kasetnya.
Pemutarnya jalan lebih halus sesudah dibersihkan, dan untuk beberapa detik Ranti mengira suaranya jadi lebih bagus.
Lalu sampai detik kedua puluh.
Nadanya tetap melar, turun setengah laras, dan naik lagi.
Ranti membiarkannya main sampai habis, dua belas menit, duduk di kursi putar yang busanya keluar, menghadap meja yang ada bekas bundar di pernisnya.
Di akhir lagu ada bunyi kecil sebelum pitanya berhenti. Seperti kertas disobek dari jauh.
Ranti memutar ulang bagian itu tiga kali dan tidak berhasil memastikan ia benar-benar mendengarnya atau tidak.
Ia mengeluarkan kasetnya, memasukkannya ke kotaknya yang retak di sudut, dan menaruhnya di rak kecil di sebelah kiri, di tempatnya, seperti tiap hari selama sembilan tahun.
Lalu ia mengunci studio dan pulang.
Di tangga bawah, air sudah naik lagi sampai anak tangga kedua, dan Ranti melewatinya tanpa menggulung celananya.
Senin subuh Bara datang lagi, dan kali ini ia masuk ke studio sebelum siaran, bukan sesudah.
"Boleh saya di dalam?"
Ranti menunjuk kursi lipat di sudut.
Pukul empat lewat dua puluh sembilan ia memasang headphone-nya, memiringkan kepala, dan mengetuk meja tiga kali.
Tuk. Tuk. Tuk.
Bara melihat itu.
"Itu apa?" tanyanya sesudah siaran selesai.
"Kebiasaan."
"Kebiasaan Ibu atau kebiasaan ayah Ibu?"
Ranti melepas headphone-nya dan menggantungnya.
"Saya tidak pernah tanya," katanya. "Saya cuma pernah lihat dia melakukannya, dan waktu saya mulai siaran sendiri tangan saya melakukannya juga."
"Ibu tidak pernah bertanya kenapa?"
"Waktu itu saya kira masih banyak waktu untuk bertanya."
Bara tidak menjawab, dan Ranti bersyukur ia tidak menjawab.
Pak Hardi lewat membawa dua cangkir dan menaruh satu di dekat kursi lipat itu, di tempat yang sekarang sudah jadi tempatnya.
Hari itu Bara tinggal sampai jam sepuluh.
Ia tidak mengukur apa-apa. Ia duduk di kursi lipat dengan laptop tertutup di pangkuan sementara Ranti menyortir formulir permintaan lagu, menyalin nama, dan menandai tiga yang harus diingatkan bulan depan.
Sekali ia berdiri untuk membetulkan kaki meja siar yang goyang, dengan cara melipat karton bekas dan menyelipkannya. Ranti tidak memintanya.
Sekali lagi ia berdiri untuk mengangkat kabel yang tergeletak di lantai dan menggantungnya di paku.
"Bapak tidak ada kerjaan?" tanya Ranti.
"Ada."
"Terus?"
Bara duduk lagi.
"Kerjaan saya cuma satu sekarang," katanya, "dan saya belum mau mengerjakannya."
Ranti berhenti menyalin.
Ia meletakkan pulpennya, menutup buku catatannya, dan untuk pertama kalinya sejak Senin dua minggu lalu ia duduk menghadap laki-laki itu tanpa ada alat, pita ukur, atau pekerjaan di antara mereka.
"Pak Bara."
"Ya."
"Kalau Bapak menunda karena saya, jangan."
Bara menatapnya.
"Kenapa?"
"Karena nanti kalau ada yang terjadi, yang menanggungnya Bapak. Dan saya tidak akan bisa mengembalikan apa pun."
Di luar ada suara motor lewat, lalu suara pintu warung dibuka.
"Saya sudah memikirkan itu," kata Bara akhirnya. "Berkali-kali. Dan tiap kali saya sampai ke jawaban yang sama, dan tiap kali jawaban itu tidak membuat saya bergerak."
"Jawabannya apa?"
"Bahwa saya harus mengirimnya hari ini."
Ranti berdiri dan pergi ke jendela, dan membukanya walau di luar panas.
Dari situ ia bisa melihat menara itu kalau memiringkan badan sedikit. Ia tidak memiringkan badannya.
"Ya sudah," katanya.
"Bu Ranti—"
"Kirim." Ia tetap membelakangi ruangan. "Tapi jangan hari ini."
"Kenapa?"
"Karena hari ini empat puluh hari almarhum suaminya Bu Warti, dan saya sudah janji memutar lagunya jam lima kurang seperempat besok pagi."
Ranti menutup jendela dan mengunci kaitnya.
"Kirim lusa," katanya. "Satu hari. Itu saja yang saya minta, dan itu yang terakhir."
Bara mengambil laptopnya dan berdiri.
Di pintu ia berhenti, seperti orang yang lupa sesuatu, lalu mengeluarkan kelereng dari saku celananya dan menaruhnya di telapak tangan Ranti tanpa penjelasan apa pun.
Lalu ia turun, dan yang keenam tidak berbunyi.