Ranti menyusul ke atap sepuluh menit kemudian, membawa dua gelas teh yang salah satunya untuk orang yang datang menghitung berapa lama lagi radionya boleh berdiri.
Bara sudah melepas helmnya dan menaruhnya terbalik di lantai beton, diisi kunci pas dan pita ukur supaya tidak bergulir. Ia berlutut di kaki menara yang menghadap laut, di sisi yang retak, dengan senter kecil digigit di antara gigi.
Ranti menaruh satu gelas di dekat helm itu.
Bara mengangkat wajahnya. Ia mengambil senter dari mulutnya. "Terima kasih."
"Panas."
"Iya."
Ia tidak menyentuh gelasnya. Ia kembali ke retakan, memasukkan ujung pita ukur ke dalamnya, lalu menariknya keluar dan membaca angkanya di bawah matahari.
"Boleh saya minta tolong?"
Ranti mendekat.
"Pegang ini di ujung sana. Yang di bawah tulisan cat merah."
Ranti berjongkok dan memegang ujung pita itu. Besinya panas. Ia memindahkan pegangannya ke bagian plastik.
"Jangan ditarik," kata Bara. "Cukup ditahan."
Mereka mengukur enam kali. Bara menyebut angka, Ranti menahan pita, dan di antara pengukuran keempat dan kelima ada angin dari utara yang membawa bau ikan asin dari arah pelabuhan.
"Sudah," kata Bara akhirnya. Ia menggulung pitanya dengan ibu jari, tiga putaran, dan menguncinya.
Ranti melepaskan ujungnya. Telapak tangannya ada garis merah tipis.
"Berapa?"
"Saya belum bisa bilang berapa."
"Bapak barusan mengukur enam kali."
"Enam angka bukan kesimpulan." Bara mengambil gelasnya, meniupnya sekali, dan meletakkannya kembali tanpa minum. "Kalau saya bilang angka sekarang, besok angka itu yang Anda ingat, bukan yang benar."
Ranti berdiri dan mengusap telapak tangannya ke celana.
"Berapa lama Bapak di sini?"
"Tiga hari. Mungkin empat."
"Tiap hari?"
"Tiap pagi. Sesudah siaran Anda selesai." Ia melihat ke arah pintu atap. "Saya tidak akan mengganggu."
"Bapak tahu jam siaran saya?"
Bara memungut helmnya, mengeluarkan kunci pas dan pita ukur dari dalamnya, lalu memasangnya di kepala.
"Setengah lima sampai enam," katanya. "Seratus enam koma tiga."
Lalu ia menuruni tangga, melompati anak tangga keenam tanpa diberi tahu dua kali.
Di studio, Pak Hardi sedang menyeka meja siar dengan kain yang dulunya kaus.
"Dia tahu frekuensi kita," kata Ranti.
"Semua orang di Kota Lama tahu frekuensi kita."
"Semua orang di Kota Lama ada dua belas orang, Pak."
Pak Hardi mengangkat cangkir yang kosong, menyeka bekas bundarnya, lalu menaruh cangkirnya kembali di tempat yang sama.
"Dua belas juga dengar," katanya. "Yang penting masih ada yang dengar."
Ranti tidak menjawab. Ia membuka buku catatan permintaan lagu dan menyalin empat nama ke halaman baru, walau keempat nama itu sama dengan yang kemarin dan yang kemarinnya lagi.
Besoknya Bara datang pukul enam lewat lima.
Ranti sedang menggulung kabel waktu ia mendengar langkah di tangga luar, bukan tangga dalam. Ia tidak keluar. Ia menunggu sampai bunyi langkah itu berhenti di atap, lalu menghitung dalam hati sampai enam puluh, lalu naik membawa satu gelas teh.
Kali ini Bara sedang mengetuk-ngetuk beton dengan palu kecil dan menempelkan telinganya ke situ.
"Bapak mendengarkan apa?"
"Kosong."
"Kosong apa?"
"Kalau di dalamnya ada rongga, bunyinya lain." Ia mengetuk dua kali di satu titik, lalu dua kali di titik yang lebih rendah. "Dengar?"
Ranti berjongkok dan mendekatkan kepalanya. Ia memiringkan kepala ke kanan tanpa berpikir.
Bara mengetuk lagi. Yang atas berbunyi padat. Yang bawah lebih tinggi, dan ada ekornya.
"Dengar," kata Ranti.
Bara mencatat sesuatu di buku bersampul plastik. Tulisannya kecil dan miring ke kiri.
"Kenapa kepala Anda begitu?" tanyanya, tanpa mengangkat wajah.
"Begitu apa?"
"Miring."
Ranti menegakkan kepalanya. "Headphone saya rusak sebelah. Kirinya."
"Sudah lama?"
"Setahun."
"Kenapa tidak diganti?"
Ranti berdiri. Ia melihat ke arah laut, yang dari atap ini cuma garis abu-abu di antara atap-atap seng.
"Yang kanan masih bunyi," katanya.
Bara menutup bukunya. Ia tidak tersenyum dan tidak berkomentar, dan Ranti tiba-tiba merasa perlu turun.
Hari ketiga hujan sejak subuh.
Ranti membuka siarannya seperti biasa. Mengetuk meja tiga kali. Kaset keroncong melar di detik kedua puluh, naik lagi, dan Pak Hardi menekan tombolnya.
"Selamat pagi Semarang. Hujan dari jam tiga, jadi hati-hati yang mau berangkat. Kalau ada yang rumahnya sudah masuk air, kabari saya. Nomornya masih yang lama."
Ia membaca satu permintaan lagu. Lalu satu lagi. Lalu ia melihat ke kaca, ke ruang kecil di seberang yang biasanya kosong.
Bara duduk di kursi lipat di sana, basah dari bahu ke bawah, memegang buku bersampul plastiknya di atas paha supaya tidak kena air.
Ia tidak melambai. Ia cuma menunggu sampai lampu merah padam.
"Atapnya licin," kata Bara waktu Ranti keluar. "Saya tidak naik hari ini."
"Bapak menunggu di situ dari jam berapa?"
"Setengah lima."
Ranti menatapnya. Air menetes dari ujung celananya ke ubin dan membuat bulatan kecil yang melebar pelan.
"Kenapa tidak masuk?"
"Lampunya merah."
Pak Hardi lewat membawa dua gelas dan menaruh satu di dekat kursi lipat itu tanpa berkata apa-apa, lalu masuk lagi ke ruang pemancar.
Bara mengangkat gelasnya. Kali ini ia minum.
"Boleh saya tanya satu hal yang bukan urusan pekerjaan saya?"
"Boleh."
"Kaset itu. Yang Anda putar tiap pagi." Ia memutar gelasnya sedikit di telapak tangan. "Yang nadanya turun di tengah."
Ranti tidak langsung menjawab.
"Pitanya mulur," katanya akhirnya. "Sudah lama."
"Saya kira memang begitu lagunya."
"Bukan."
Bara mengangguk pelan, seperti orang yang baru saja diberi tahu sesuatu yang sudah lama ia kira ia mengerti.
"Ada yang digital, kan?"
"Ada."
Ia tidak bertanya lagi sesudah itu, dan Ranti bersyukur untuk itu dengan cara yang tidak ia tunjukkan.
Hari keempat langitnya bersih dan Bara naik lagi.
Ranti ikut, membawa teh, dan kali ini ia tidak menunggu diminta. Ia memegang ujung pita ukur, menahan tanpa menarik, dan membaca angka waktu Bara menyebutnya supaya laki-laki itu tidak perlu bolak-balik.
"Tiga koma satu."
"Tiga koma satu," ulang Bara, menulis.
"Empat koma nol."
"Empat koma nol."
Mereka bekerja sampai matahari naik cukup tinggi untuk membuat besi menara tidak bisa dipegang lagi.
Waktu Bara membereskan alatnya, Ranti bertanya, "Kalau hasilnya jelek, apa yang terjadi?"
Bara memasukkan pita ukur ke tas kanvas. Ia menutup ritsletingnya sampai ujung sebelum menjawab.
"Saya tulis apa adanya di laporan."
"Terus?"
"Terus itu bukan keputusan saya lagi."
"Tapi laporannya keputusan Bapak."
Bara berdiri. Ia menyandang tasnya, dan untuk pertama kalinya sejak Senin ia menatap Ranti cukup lama sehingga Ranti harus memutuskan mau balas menatap atau tidak.
"Iya," katanya. "Laporannya keputusan saya."
Ia turun. Anak tangga keenam tidak berbunyi.
Ranti tinggal di atap sendirian dan menaruh telunjuknya lagi di retakan itu, di tempat yang sama dengan Sabtu malam.
Masuk sampai ruas pertama, dan sedikit lagi.
Malamnya Ranti membuka kardus.
Ia sudah memakainya sebagai meja selama sembilan tahun, jadi ia harus memindahkan gelas, sisir, dan tumpukan buku catatan ke lantai lebih dulu. Lakbannya sudah kering dan lepas sendiri waktu ditarik.
Isinya tidak banyak. Kacamata baca. Satu obeng. Kartu nama tukang las di Kaligawe, yang nomornya sudah ia salin ke buku catatan tanpa pernah menelepon. Dan satu map plastik cokelat yang sudutnya digigit tikus.
Di dalam map itu ada izin penyelenggaraan penyiaran atas nama ayahnya.
Ranti membacanya di bawah lampu kamar yang cuma satu.
Masa berlaku sepuluh tahun. Tertanggal 2014.
Ia membaca angka tahunnya tiga kali, lalu meletakkan kertas itu di lantai dan duduk memandanginya dari jarak satu lengan, seperti orang memandangi sesuatu yang mungkin akan bergerak.
Dua tahun lewat.
Di luar ada suara motor lewat, lalu tidak ada apa-apa lagi.
Ranti mengambil ponselnya dan mengetik nama Dinas di kolom pencarian, lalu menghapusnya sebelum menekan cari. Ia mengetik lagi. Menghapus lagi.
Pukul sebelas ia menaruh ponselnya menelungkup dan memasukkan map itu kembali ke kardus, di bawah kacamata baca, seolah menaruhnya lebih dalam membuatnya lebih lama tidak ada.
Lalu ia mengambil buku catatan dari lantai, membuka halaman yang ada tanda tanyanya, dan menulis satu baris di bawahnya.
Habis 2024.
Ia menatap dua kata itu lebih lama daripada yang ia perlukan untuk membacanya.
Besok subuh ia akan datang pukul empat lewat dua puluh. Ia akan mengetuk meja tiga kali. Kaset itu akan melar di detik kedua puluh dan naik lagi, dan dua belas orang akan mendengarnya, dan salah satunya bapaknya Bu Warti yang tidak bisa tidur.
Ranti mematikan lampu.
Di kegelapan ia menyadari kepalanya masih miring ke kanan, dan ia membiarkannya.
Pukul lima kurang seperempat keesokan paginya, telepon studio berdering.
Itu jarang. Orang biasanya mengirim pesan. Pak Hardi mengangkatnya, mendengarkan sebentar, lalu menyodorkan gagangnya ke Ranti sambil menunjuk lampu merah yang masih menyala.
Ranti menurunkan tuas mikrofon dan mengangkat gagang itu ke telinga kanannya.
"Sekar Laut."
Suara di seberang perempuan tua, dan ada bunyi kipas angin di belakangnya.
"Ini Ranti, ya?"
"Iya, Bu."
"Bu, suami saya meninggal jam dua tadi."
Ranti memegang gagang itu dengan dua tangan.
"Innalillahi."
"Saya cuma mau bilang," kata perempuan itu, "dia sempat dengar yang jam lima kurang seperempat kemarin. Yang dangdut lama itu. Dia bilang itu lagunya waktu kami kawin."
Di seberang ada bunyi kipas angin, lalu bunyi kursi digeser.
"Ya sudah. Itu saja. Maaf mengganggu."
Teleponnya ditutup sebelum Ranti sempat menjawab.
Ranti menaruh gagang itu kembali di tempatnya. Ia melihat ke arah tuas mikrofon yang masih di bawah, lalu ke lampu merah yang masih menyala, lalu ke Pak Hardi yang sudah memutar satu lagu pengisi tanpa diminta.
Ia mendorong tuasnya naik.
"Buat Bu Warti dan almarhum Pak Sarno," katanya. "Saya putar lagi yang kemarin."
Lalu ia memutar lagu itu, dan tidak berbicara lagi sampai jam enam.
Di tangga luar, seseorang duduk di anak tangga ketujuh sepanjang lagu itu, dan baru naik ke atap sesudah lampu merahnya padam.