Air sudah sampai anak tangga keempat.
Ranti berhenti, menggulung celananya sampai betis, lalu turun. Airnya sedingin lantai kamar mandi dan warnanya seperti teh yang didiamkan semalaman. Di permukaannya mengambang bungkus mi instan, sehelai daun ketapang, dan satu sandal jepit sebelah kanan yang bukan miliknya. Ia menyingkirkan sandal itu dengan punggung tangan supaya tidak menempel ke kakinya.
Gedung ini dibangun tahun 1912 oleh orang yang menjual kopi ke Rotterdam. Di dinding depan masih ada huruf timbul yang tinggal separuh, HANDEL M, dan sisanya rontok pelan-pelan selama seratus tahun tanpa ada yang memungutnya.
Di anak tangga ketujuh airnya berhenti. Ranti berdiri di situ, mengetukkan kakinya ke ubin sampai tetesannya habis, lalu berjalan ke pintu studio. Pukul empat lewat dua puluh. Ia selalu datang pukul empat lewat dua puluh.
Pak Hardi sudah menyalakan pemancar. Ia duduk di kursi putar yang busanya keluar dari sobekan di sandaran, membaca koran kemarin, dengan kacamata melorot ke ujung hidung.
"Sampai mana?" tanya Ranti.
"Tangga empat." Pak Hardi tidak mengangkat kepala. "Semalam sampai enam. Sudah turun dua."
"Sudah turun dua," ulang Ranti.
Ia menggantung tasnya di paku di balik pintu. Paku itu dipasang ayahnya, terlalu tinggi, dan Ranti harus sedikit berjinjit tiap pagi selama sembilan tahun.
Studio itu satu ruangan empat kali lima meter. Dindingnya dilapisi karpet cokelat yang dipaku ayahnya sendiri tahun 2003, dan di beberapa tempat karpet itu sudah lepas lalu menggantung. Meja siarnya kayu jati bekas meja guru. Di atasnya ada mikrofon, satu pemutar kaset, dua pemutar cakram, dan sebuah laptop yang kipasnya berbunyi sejak Maret.
Ranti duduk. Ia mengambil headphone dari gantungan di sisi meja dan memasangnya. Sebelah kirinya mati sejak tahun lalu. Ia sudah terbiasa memiringkan kepala ke kanan supaya suaranya terasa penuh, dan sekarang kepalanya miring sendiri tiap kali ia duduk di kursi itu, bahkan sebelum headphone-nya terpasang.
Pukul empat lewat dua puluh sembilan.
Ia menarik satu kaset dari rak kecil di sebelah kiri. Kotaknya retak di sudut dan tulisan spidol di labelnya sudah pudar sampai tinggal SEKAR LA. Isinya keroncong instrumental yang direkam ayahnya dari piringan hitam tahun 1998. Pitanya mulur. Kalau diputar, nadanya melar di detik kedua puluh, turun setengah laras, lalu naik lagi. Ada berkas digitalnya di laptop. Ranti tahu ada.
Ia memasukkan kaset dan menutup pintu pemutar dengan telapak tangan.
Lalu ia mengetuk meja tiga kali dengan buku jari telunjuk. Tuk. Tuk. Tuk.
Pak Hardi menekan tombol. Lampu merah kecil di atas pintu menyala.
"Selamat pagi Semarang, ini Sekar Laut seratus enam koma tiga. Sudah setengah lima. Di Kota Lama airnya sampai tangga empat, turun dua dari semalam. Yang mau lewat Jalan Merak, ambil jalur atas."
Keroncongnya jalan. Melar di detik kedua puluh. Ranti menunggunya naik lagi, seperti biasa, lalu mendorong tuas volume ke bawah.
"Yang di Tambaklorok, hati-hati. Yang di Bandarharjo juga."
Ia membaca dua permintaan lagu dari pesan semalam. Satu dari Bu Warti yang minta dangdut lama untuk suaminya yang tidak bisa tidur. Satu dari nomor tanpa nama yang cuma menulis: apa saja, yang penting ada suaranya.
Pukul enam kurang sepuluh, Pak Hardi menaruh secangkir teh di sudut meja, di luar jangkauan kabel. Ia selalu menaruhnya di situ. Sembilan tahun, selalu di titik yang sama, sampai ada bekas bundar di pernis mejanya.
Pukul enam, Ranti menutup siaran. Lampu merah padam.
Ia melepas headphone dan menggantungnya. Kepalanya masih miring sedikit selama beberapa detik sesudahnya.
"Ada surat," kata Pak Hardi.
Ia menyodorkan amplop cokelat yang sudah dibuka. Sudutnya basah dan menggelembung.
"Sudah Bapak baca?"
"Sampulnya kena air. Saya pikir itu tagihan."
Kertasnya satu lembar. Kop surat PT Bhumi Larasati Nusantara, pemilik gedung sejak lelang tahun 2019. Ranti membacanya dua kali. Kedua kalinya lebih pelan.
Isinya empat paragraf. Tiga paragraf pertama sopan.
Paragraf keempat mengatakan bahwa seorang ahli struktur akan datang hari Senin untuk menilai kelayakan menara pemancar di atap, dan bahwa hasil penilaian itu akan menentukan langkah selanjutnya.
Ranti melipat suratnya kembali mengikuti garis lipatan yang sudah ada.
"Tagihan apa?" tanya Pak Hardi.
"Bukan tagihan."
Ia memasukkan surat itu ke amplopnya, lalu menaruh amplopnya di bawah cangkir teh supaya tidak melayang kalau kipas dinyalakan.
"Pak Hardi, Senin ada orang datang."
"Orang apa?"
"Insinyur."
Pak Hardi melipat korannya jadi empat. Ia tidak bertanya lagi.
Ranti berdiri, berjalan ke jendela, dan membukanya. Dari lantai dua ia bisa melihat menara pemancar itu kalau memiringkan badan keluar sedikit. Tingginya delapan belas meter, besi bercat merah putih, dipasang tahun 2001 oleh empat orang dan satu katrol. Ayahnya salah satu dari empat orang itu.
Di kakinya, di beton dasar menara, ada retakan yang tahun lalu selebar rambut. Ranti tidak mengukurnya. Ia hanya tahu bahwa tahun lalu ia harus mencari-cari untuk menemukannya, dan pagi ini ia menemukannya dari jendela.
Ia menutup jendela dan mengunci kaitnya.
Di bawah, air sudah turun ke tangga ketiga.
Kamar kos Ranti di Jalan Petek, dua puluh menit jalan kaki kalau jalannya kering. Pagi itu ia berjalan tiga puluh lima menit karena harus memutar lewat belakang pasar.
Di kamarnya ada kasur, lemari plastik tiga susun, kompor listrik, dan satu kardus berisi barang ayahnya yang belum dibuka sejak 2016. Kardus itu ia pakai sebagai meja. Di atasnya ada gelas, sisir, dan tumpukan buku catatan.
Ia tidur sampai pukul sebelas, bangun, merebus mi, memakannya di depan kipas angin.
Sesudah itu ia mengeluarkan buku catatan dan menulis daftar. Harga besi siku. Nama tukang las di Kaligawe. Nomor Dinas Perhubungan. Lalu dua kata, izin frekuensi, dengan tanda tanya di belakangnya.
Ia menatap tanda tanya itu, menutup bukunya, dan membukanya lagi di halaman yang sama.
Sore harinya ia kembali ke Kota Lama untuk mengambil daftar permintaan lagu dari kotak surat di bawah. Kotak itu masih dipakai empat orang. Tiga di antaranya di atas tujuh puluh tahun.
Bu Warti sedang menyapu air di depan warungnya, mendorongnya ke arah selokan yang juga penuh.
"Ranti," katanya. "Bapak saya semalam bisa tidur."
"Alhamdulillah."
"Lagunya itu. Yang Bu Ranti putar jam berapa itu."
"Jam lima kurang seperempat."
"Iya. Dia bangun, terus dengerin, terus tidur lagi." Bu Warti mendorong airnya lagi. "Dia bilang bapaknya dulu punya piringan hitam yang itu."
Ranti mengangguk. Ia mengambil daftar dari kotak, empat lembar kertas yang dilipat kecil-kecil, dan memasukkannya ke saku.
"Airnya sampai mana semalam, Bu?"
"Betis." Bu Warti menunjuk lututnya. "Dua tahun lalu mata kaki."
Malam Minggu Ranti naik ke atap.
Tangganya besi, dipasang di dinding luar, dan anak tangga keenam sudah lepas satu bautnya sejak lama. Ranti melompatinya tanpa berpikir. Ia sudah melompatinya sejak umur dua puluh tiga.
Di atap ada menara itu, empat kaki beton, dan seutas kabel penahan yang kendur di sisi timur. Di sebelahnya ada kursi plastik yang catnya sudah tinggal separuh. Ayahnya dulu duduk di situ.
Ranti tidak duduk. Ia berjongkok di sebelah kaki menara yang menghadap laut dan menaruh telunjuknya di retakan itu.
Ujung jarinya masuk sampai ruas pertama.
Ia menariknya keluar, mengusapkan debu semen ke celananya, dan berdiri.
Dari atap, Semarang malam itu terlihat seperti biasa. Lampu pelabuhan di utara. Lampu-lampu rumah di antaranya. Di kejauhan, di Tambaklorok, sebagian lampunya lebih rendah dari yang seharusnya, karena rumah-rumahnya memang lebih rendah dari yang seharusnya.
Ia turun sebelum jam sembilan. Melompati anak tangga keenam.
Senin pagi ia datang pukul empat lewat dua puluh seperti biasa. Airnya cuma sampai tangga pertama. Ia siaran, membaca empat permintaan lagu, menyebut nama Bu Warti dan bapaknya, dan menutup pukul enam.
Pukul delapan lewat, waktu ia sedang menggulung kabel mikrofon cadangan, ia mendengar langkah di tangga.
Langkahnya berat dan berhenti dua kali. Sekali di tangga ketujuh. Sekali lagi lebih dekat.
Lalu ada yang mengetuk pintu studio.
Tiga kali.
Ranti membuka pintu.
Laki-laki itu memegang tas kanvas di tangan kiri dan helm proyek di tangan kanan. Sepatunya basah sampai mata kaki. Celananya masih tergulung dan ia lupa menurunkannya.
"Selamat pagi. Saya Bara Anindito, dari Larasati."
"Bukan dari Larasati," kata Ranti. "Dibayar Larasati."
Laki-laki itu diam sebentar. Lalu mengangguk. "Betul."
Ia tidak membela diri, dan Ranti jadi tidak punya kalimat berikutnya.
"Menaranya di atap," katanya akhirnya.
"Saya tahu. Boleh saya lihat di dalam dulu? Lantai, dinding. Bebannya turun lewat sini."
Ranti mundur selangkah dan membiarkannya masuk.
Bara berdiri di tengah studio dan tidak melihat ke satu pun alat. Ia melihat ke sudut-sudut ruangan, ke pertemuan dinding dengan lantai, ke arah bawah. Lalu ia berjongkok, menaruh telapak tangannya di ubin, dan menggeser tangannya pelan sampai ke kaki meja siar.
"Ubin lama?"
"Iya."
"Sejak kapan miring?"
Ranti membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Ia tidak pernah tahu lantai itu miring.
Bara mengeluarkan kelereng dari saku celananya. Ia menaruhnya di ubin dekat pintu dan melepaskannya.
Kelereng itu berjalan sendiri ke arah jendela. Pelan. Berhenti di kaki meja siar.
"Empat koma dua," kata Bara. "Kira-kira. Nanti saya ukur betul."
Pak Hardi berhenti menggulung kabel.
Ranti menatap kelereng itu di tempatnya berhenti, dan tidak berkata apa-apa.
Bara berdiri dan menepuk celananya.
"Boleh saya naik ke atap?"
"Tangganya di luar. Anak tangga keenam bautnya lepas."
"Terima kasih."
Ia memungut kelerengnya, memasukkannya ke saku, lalu keluar.
Ranti mendengar langkahnya di tangga besi. Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima.
Lalu jeda.
Lalu enam yang tidak berbunyi, dan tujuh.
Pak Hardi menggulung kabelnya lagi.
"Ranti," katanya.
"Ya."
"Tehnya sudah dingin."
Ranti mengangkat cangkir itu dari bekas bundar di pernis meja, dan meminumnya sampai habis.