Kantor Koperasi Bina Karya siang itu lebih panas dari biasanya, seolah kipas angin berdiri di sudut ruangan sudah menyerah sejak pagi. Haji Endang duduk di kursi kayunya yang berderit setiap kali ia bersandar, peci hitamnya sedikit miring, dan map karton berkaret gelang sudah tergeletak di meja seperti sudah menunggu kedatangan Ratih sejak kemarin.
"Ibu Ratih," katanya, tanpa terkejut, seolah kedatangan Ratih yang kedua kalinya dalam satu minggu adalah sesuatu yang sudah ia hitung sejak pertemuan pertama. "Duduk, duduk. Sudah minum apa belum?"
"Sudah, Pak Haji. Terima kasih." Ratih duduk di kursi plastik yang sama seperti hari itu, kacamata bacanya tergantung di lehernya, jari telunjuknya sudah bersiap di atas pulpen yang ia bawa sendiri, seolah pulpen kantor ini tidak bisa dipercaya untuk mencatat apa yang akan ia dengar. "Saya mau tanya soal tahun 2013, Pak."
Haji Endang tidak langsung menjawab. Ia mengetuk-ngetuk tongkat rotannya ke lantai, dua kali, seperti orang yang sedang menghitung sesuatu di kepalanya, lalu tersenyum, senyum yang menurut Ratih terlalu lebar untuk pertanyaan sesederhana itu.
"Bapak sama saya ini kawan lama, Bu. Dari zaman masih sama-sama muda, sama-sama kerja di pabrik tekstil di Kiaracondong, sebelum pabrik itu tutup. Dulu Bapak itu paling rajin nabung, tiap gajian langsung disisihkan, katanya buat anak-anaknya, buat Ratih, buat Damar, buat yang bungsu, siapa itu, Wulan." Ia berhenti, matanya menerawang ke arah papan tulis putih di dinding, daftar tunggakan yang ditulis tangan, seolah di sana ada sesuatu yang lebih menarik daripada pertanyaan Ratih. "Zaman itu kita masih sama-sama naik motor butut, Bu, belum ada yang punya mobil, kalau hujan ya kehujanan sama-sama."
"Pak Haji," Ratih memotong, suaranya tetap datar, "tahun 2013 itu ada apa."
Senyum di wajah Haji Endang perlahan surut, seperti air yang ditarik dari bak. Ia menatap Ratih lama, lalu menghela sekali, pendek, dan tangannya bergerak ke arah map karton itu.
"Ibu ini keras juga ya, sama kayak bapaknya." Ia melepas karet gelang, membuka map, mengeluarkan satu lembar fotokopi yang sudah menguning di pinggirnya, lalu meletakkannya di meja, menghadap Ratih. "Ini saya kasih. Sebetulnya saya nggak wajib kasih ini, Bu, ini bukan berkas pinjaman yang sekarang. Tapi karena Ibu sudah nanya dua kali, dan karena saya juga sudah kepikiran ini sejak Bapak meninggal, ya sudah."
Ratih mengambil lembar itu dengan kedua tangan, membaca judulnya lebih dulu sebelum membaca isinya: Akta Jual Beli dengan Hak Membeli Kembali. Nama Sobari Wiryaatmaja sebagai penjual. Nama Widarsa sebagai pembeli. Objek: satu bidang tanah dan bangunan di Jalan Cikutra Gang Melati. Tahun: 2013.
"Ini..." Ratih tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia membaca ulang baris demi baris, mencari kesalahan ketik, mencari nama lain, mencari sesuatu yang bisa membuat isi kertas itu berarti lain dari yang tertulis.
"Rumah Ibu itu, dulu, pernah dijual," kata Haji Endang, pelan, seperti sedang menjelaskan sesuatu kepada anak kecil yang baru saja jatuh dari sepeda. "Dijual ke Pak Widarsa, tahun 2013, dengan hak beli kembali sebelas tahun. Artinya, Bapak boleh nebus lagi rumah itu, asal sebelum sebelas tahun. Nah, pinjaman tiga ratus empat puluh juta yang kemarin saya bilang, itu bukan buat foya-foya, Bu. Itu buat nebus. Sertifikat yang Ibu lihat kemarin, yang terbit dua bulan sebelum Bapak meninggal, itu sertifikat baru, atas nama Bapak lagi, karena Bapak sudah nebus."
Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih panas dari sebelumnya, atau mungkin hanya Ratih yang merasa demikian. Ia meletakkan kertas itu di meja, lalu mengangkatnya lagi, seolah kertas itu bisa berubah kalau ia berhenti menatapnya sebentar.
"Kenapa dijual, Pak? Dari siapa Bapak minjam waktu itu, sampai harus jual rumah?"
Haji Endang menggeleng, tongkat rotannya diketuk sekali lagi. "Itu saya kurang tahu persis, Bu, urusan dalam keluarga Bapak sendiri saya nggak ikut campur. Yang saya tahu, waktu itu Bapak butuh uang cepat, katanya buat nutup masalah salah satu anaknya. Bapak datang ke saya, minta tolong dicariin jalan, dan saya... " ia berhenti, matanya menunduk ke lantai, "saya yang ikut nyaksiin akta itu ditandatangani. Saya ikut teken sebagai saksi. Saya kira waktu itu itu jalan terbaik buat Bapak, biar cepat, biar nggak berbunga di rentenir. Tapi saya nggak pernah nyangka bakal jadi begini panjang urusannya."
Ratih menatap tangan Haji Endang yang gemetar sedikit saat menyusun kembali lembar-lembar dalam map. Sebelas tahun, pikirnya. Orang ini menyimpan sesuatu selama sebelas tahun juga, seperti hampir semua orang di sekeliling keluarganya.
"Kalau begitu, Pak Haji tahu ini bukan salah Bapak sepenuhnya. Kenapa tetap harus dilelang?"
"Karena di koperasi ini bukan cuma Bapak Ibu yang punya utang, Bu." Suara Haji Endang mengeras sedikit, bukan marah, tapi seperti orang yang sudah lama menyiapkan jawaban ini. "Ada tiga ratus anggota lain, sebagian besar sudah tua, sebagian pensiunan, uang mereka juga ada di sini. Kalau saya tunda-tunda terus buat satu keluarga, gimana nasib yang lain? Saya sayang sama Bapak, Bu, saya kenal Bapak dari muda, tapi saya juga harus adil sama yang lain. Itu aturan yang nggak bisa saya langgar, walau hati saya nggak enak."
Ratih tidak menjawab. Ia melipat kertas itu, memasukkannya ke dalam tasnya dengan hati-hati, seolah kertas itu bisa robek kalau ia terburu-buru, lalu berdiri, berpamitan dengan sopan yang nyaris otomatis, dan keluar dari ruangan yang panas itu ke jalan yang lebih panas lagi.
Di angkot menuju Cikutra, Ratih duduk di pojok, tasnya dipeluk di pangkuan, dan ia membaca ulang akta itu untuk ketiga kalinya. Bahasa notaris yang kaku, istilah-istilah yang asing baginya, "hak membeli kembali", "jangka waktu sebelas tahun sejak tanggal akta", "apabila penjual tidak menggunakan haknya dalam jangka waktu tersebut, hak kepemilikan beralih penuh kepada pembeli". Ia menghitung dalam hati: 2013 ditambah sepuluh adalah 2023. Ayahnya meninggal awal tahun ini. Artinya ayahnya menebus rumah itu tepat di ujung waktu, mepet, seperti orang yang berlari mengejar kereta yang hampir berangkat.
Rumah itu bukan warisan, pikirnya, sambil menatap ke luar jendela angkot yang berdebu. Rumah itu adalah sesuatu yang direbut kembali, dibayar dua kali, dan tidak seorang pun memberitahunya.
Kemarahan yang muncul bukan kemarahan yang membakar, melainkan yang dingin, yang selalu keluar dari Ratih dalam bentuk pertanyaan yang terlalu tenang. Kenapa aku baru tahu dari orang lain. Kenapa Emih diam saja selama ini. Kenapa Damar menutup telepon secepat itu waktu disebut tahun 2013.
Rumah Cikutra menyambutnya dengan bau minyak kayu putih yang sudah menjadi bagian dari udara di sana, dan suara Aji yang sedang menonton sesuatu di ponsel dengan volume terlalu keras di ruang tengah. Emih ada di dapur, membolak-balik sesuatu di penggorengan, punggungnya membungkuk seperti biasa, kaus kaki tebalnya menempel di lantai tegel yang dingin.
"Emih." Ratih berdiri di ambang pintu dapur, tasnya masih tersampir di bahu. "Saya dari koperasi."
"Sudah makan?" Emih tidak menoleh, tangannya terus mengaduk.
"Emih, saya tahu soal Widarsa. Soal rumah ini pernah dijual tahun 2013." Ratih mengeluarkan kertas dari tasnya, meletakkannya di meja dapur, tepat di samping baskom cabai yang belum selesai diulek. "Ini aktanya. Kenapa Emih nggak pernah cerita?"
Tangan Emih berhenti sebentar di atas penggorengan, hanya sebentar, lalu bergerak lagi, seolah tidak terjadi apa-apa. "Ini sambel udah keasinan kayaknya. Ratih tolong ambilin gula di lemari, yang toples kuning."
"Emih." Suara Ratih tetap tenang, tapi ada sesuatu yang mengeras di baliknya. "Saya nggak nanya soal sambel."
"Rumah mah rumah, Neng. Yang penting sekarang ditempatin, ada yang masak, ada yang makan." Emih akhirnya menoleh, matanya bening seperti biasa, tapi ada sesuatu yang menghindar di sana, sesuatu yang membuat Ratih merasa seperti sedang berbicara dengan dinding yang sengaja dicat licin. "Udah, atuh, jangan digali-gali. Bapak juga udah nggak ada, buat apa diungkit."
"Karena saya yang harus bayar utangnya, Mih. Saya berhak tahu buat apa."
Emih tidak menjawab. Ia mematikan kompor, mengangkat penggorengan, dan berjalan melewati Ratih menuju wastafel, langkahnya pelan tapi pasti, seperti orang yang sudah memutuskan bahwa percakapan ini selesai meskipun lawan bicaranya belum selesai bicara.
Ratih berdiri di tempatnya, kertas akta masih di atas meja, dan untuk beberapa detik ia merasa persis seperti anak SD yang bertanya kenapa langit biru dan dijawab dengan suruhan mencuci tangan.
Malamnya, setelah Emih tidur, atau berpura-pura tidur, Aji muncul di pintu kamar Ratih, masih memegang ponselnya, wajahnya serius untuk anak seusianya.
"Bu Uti nangis lagi, Tante. Tadi sore, pas Tante belum pulang. Aku denger dari kamar mandi lagi."
Ratih menatap keponakannya itu, sebelas tahun, wajah yang masih terlalu polos untuk menyimpan kecurigaan sebesar ini. "Kenapa dia nangis, kamu tahu?"
"Nggak tahu. Tapi tadi dia buka-buka sesuatu di kamar belakang. Aku liat dari luar, dia naik kursi, ambil kaleng dari atas lemari." Aji melangkah masuk, duduk di tepi ranjang tanpa diminta. "Aku pengen tahu, Tante. Semua orang di rumah ini kayak nyimpen rahasia. Aku udah gede, aku nggak mau dibohongin lagi."
Kalimat itu, dari mulut anak sebelas tahun, entah kenapa terasa lebih berat daripada kalimat siapa pun yang pernah Ratih dengar minggu ini. Ia bangkit, dan mereka berdua berjalan ke kamar belakang, kamar yang dulu jadi gudang, tempat lemari kayu tua yang catnya mengelupas berdiri di sudut.
Emih sudah ada di sana, duduk di lantai beralas tikar plastik, kaleng biskuit Khong Guan berkarat di pangkuannya, tutupnya sudah terbuka. Ia tidak terkejut melihat Ratih dan Aji masuk, seolah ia sudah menunggu mereka datang, seolah malam ini memang sudah waktunya.
"Emih," Aji duduk di depan neneknya, menyentuh lengan Emih yang kurus. "Itu apa?"
Emih menatap cucunya lama, lalu menatap Ratih, dan untuk pertama kalinya sejak Sobari meninggal, matanya yang biasanya bening dan awas itu berkaca-kaca tanpa berusaha disembunyikan.
"Bapak kamu, sebelas tahun," katanya, suaranya pelan tapi jelas, "nyewa rumah sendiri, Neng. Sebelas tahun."
Ia membalikkan kaleng itu perlahan, dan berlembar-lembar kuitansi tumpah ke atas tikar, kuning kecokelatan, tersusun rapi menurut urutan yang tidak mungkin acak: tahun, bulan, jumlah, dan di setiap lembar, tanda tangan yang sudah sangat dikenal Ratih, tanda tangan yang biasa ia lihat di rapor sekolahnya dulu, di buku tabungan yang ia temukan tiga hari lalu. Sobari Wiryaatmaja.
Ratih berlutut, mengambil satu kuitansi dari tumpukan itu, membacanya. "Diterima dari Bapak Sobari, uang sewa rumah bulan Januari 2014, sejumlah dua juta lima ratus ribu rupiah." Tangan tanda tangan Widarsa di bawahnya, kecil dan cepat.
Ia mengambil lagi. Februari. Maret. Ia menghitung dalam hati, seperti kebiasaannya menghitung apa saja yang bisa dihitung ketika perasaannya terlalu besar untuk ditangani langsung. Satu per bulan, dua belas per tahun, sebelas tahun.
"Seratus tiga puluh dua," gumamnya, tanpa sadar menghitung keras-keras, jarinya bergerak dari satu lembar ke lembar lain, cepat, seperti mesin. "Seratus tiga puluh dua kuitansi."
Aji memungut satu lembar dari bulan yang lebih belakangan, matanya membaca angka-angka yang mungkin belum sepenuhnya ia pahami, tapi wajahnya sudah berubah, dari bingung menjadi sesuatu yang lebih dekat dengan marah. "Kenapa Kakek bayar sewa buat rumah sendiri? Ini kan rumah kita?"
"Karena bukan rumah kita lagi, waktu itu," jawab Ratih, pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Aji. "Karena Kakek jual rumah ini ke orang lain, terus nyewa balik, sambil nyicil buat nebus lagi."
Ingatan yang selama ini terkubur di kepala Ratih tiba-tiba muncul begitu saja, dipicu oleh bau kayu lembap kamar itu, oleh tulisan tangan ayahnya yang kaku di kuitansi-kuitansi itu: tahun 2013, Damar baru dua puluh enam tahun, baru saja pulang dari Jakarta dengan wajah pucat, bicara terbata-bata soal modal usaha yang ia titipkan kepada teman kuliahnya, modal yang ternyata dibawa lari, modal yang bukan hanya uangnya sendiri tapi juga uang orang lain yang mengancam akan melaporkannya kalau tidak diganti dalam sebulan. Ratih ingat suara Damar malam itu di telepon, suara yang jauh lebih rapuh daripada suara Damar yang sekarang selalu cepat dan penuh istilah bisnis. Ia ingat Sobari duduk lama di kursi kayu di teras, tidak bicara pada siapa pun, lalu keesokan harinya pergi ke rumah seorang kenalan bernama Widarsa yang katanya "bisa bantu", pulang dengan wajah yang sudah memutuskan sesuatu.
Ia ingat, samar-samar, meja di kantor notaris, ayahnya membetulkan lipatan lengan kemejanya sebelum menandatangani, gerakan kecil yang biasa dilakukan ayahnya setiap kali gugup, seolah dengan merapikan lengan baju ia bisa merapikan juga apa yang sedang terjadi. Ratih ingat dirinya sendiri berdiri di sudut ruangan itu, tiga puluh tahun waktu itu, tidak sepenuhnya paham apa yang ditandatangani, hanya tahu bahwa ayahnya terlihat lebih tua dalam satu hari itu daripada dalam bertahun-tahun sebelumnya.
"Emih," suara Ratih pecah dari lamunannya sendiri, "kenapa Emih nggak pernah cerita ini ke kami?"
Emih meremas ujung dasternya, matanya menatap kuitansi-kuitansi yang berserakan di tikar seperti sedang menatap sebelas tahun hidupnya sendiri yang terhampar begitu saja. "Bapak kamu bilang, jangan sampai Damar tahu. Katanya, biar Damar bisa hidup tenang, biar dia nggak keinget terus dosa yang bikin Bapak jual rumah. Bapak bilang, itu kasih sayang, Neng. Diem itu kasih sayang."
"Itu bukan kasih sayang, Mih." Suara Ratih naik sedikit, hal yang jarang terjadi. "Itu bikin saya sama Wulan mikir Bapak wafat ninggalin utang buat foya-foya. Itu bikin saya dua minggu ini nyangka Bapak orang yang nggak tanggung jawab."
"Bapak kamu tanggung jawab, Neng!" Suara Emih tiba-tiba keras, lebih keras dari yang pernah Ratih dengar sejak pemakaman. "Sebelas tahun dia nyicil, sebelas tahun dia nyewa, sebelas tahun dia nggak bilang siapa-siapa, semua biar Damar—" ia berhenti sebentar, dadanya naik turun, lalu menyebut nama itu lagi, lebih keras, seperti sesuatu yang selama ini tertahan di tenggorokannya, "Damar! Semua ini gara-gara Damar, Neng, dan Bapak kamu nggak pernah nyalahin dia sekali pun, sampe mati juga nggak. Ibu yang nyimpen ini, karena Ibu janji sama Bapak, jangan sampai Damar tahu, jangan sampai dia nanggung malu itu seumur hidup."
Ruangan itu hening sesaat, hanya suara kipas angin kecil di sudut kamar dan detik jam dinding yang terdengar lebih keras dari biasanya. Aji duduk diam, memegang satu kuitansi di tangannya, wajahnya yang tadi bingung kini penuh sesuatu yang lebih rumit, sesuatu yang mungkin baru pertama kali ia rasakan: rasa marah kepada orang dewasa yang selama ini ia percaya tidak pernah berbohong.
Ratih menatap ibunya yang kini terisak pelan, tangan yang bergetar memegang kuitansi paling atas, dan untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, ia merasa kemarahannya tidak lagi tahu harus diarahkan ke mana: kepada Damar yang lari dari kesalahannya, kepada Emih yang menyimpannya terlalu lama, atau kepada ayahnya sendiri, yang memilih mati dengan seluruh kebenaran itu masih terkunci rapat di dalam sebuah kaleng biskuit di atas lemari.