Warung Bi Icih buka sejak subuh dan baru tutup ketika lampu jalan gang mulai berkedip nyala, jadi jam berapa pun Ratih pulang, hampir pasti masih ada Bi Icih di sana, duduk di bangku kayu panjang sambil menghitung recehan atau mengupas bawang untuk dagangan besok. Sore itu Ratih singgah seperti biasa, membawa amplop cokelat berisi tiga ratus ribu untuk arisan RT yang sudah ia titipkan setiap tanggal sepuluh selama delapan tahun terakhir, sejak ia pindah kembali dekat rumah ibunya sehabis cerai. Ia meletakkan amplop itu di atas etalase kaca yang berisi permen dan rokok ketengan, di sebelah toples kerupuk yang tutupnya sudah retak.
"Titip nya, Bi. Punya arisan RT 04."
Bi Icih menerima amplop itu tanpa membukanya, memasukkannya ke laci kayu di bawah meja yang berbau kunyit dan uang logam. Perempuan tua itu punya cara bicara yang selalu mengalir dari satu topik ke topik lain tanpa jeda, seolah mulutnya lebih cepat dari pikirannya, dan sore itu ia baru saja selesai bercerita tentang cucu keduanya yang diterima kerja di pabrik tekstil ketika, tanpa mengubah nada, ia menyambung dengan kalimat lain.
"Eh, Teh Ratih, si Emih udah beres urus pajak rumah, belum? Biasanya kan Pak Widarsa yang bayarin, tapi dia mah sekarang mah udah pindah ka Cimahi, jarang liwat dieu deui."
Ratih berdiri diam sebentar, tangannya masih di atas etalase. "Pak Widarsa yang mana, Bi?"
"Nu jualan bahan bangunan di Jalan Ahmad Yani itu, geuning. Udah lama pisan mah, Teh, dari jaman Bapak Sobari masih kuat jalan kaki ka masjid. Tiap taun ka dieu, nganterin amplop pajak, ngobrol sabentar sama Bapak di teras, terus pulang. Ibu mah sok mikir eta jasa baik, secara kan Bapak lagi susah waktu itu."
Bi Icih mengatakannya sambil mengambil sebutir kelapa dari karung goni, memeriksa apakah sudah cukup tua untuk diparut, seolah kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya bukan apa-apa, hanya potongan cerita kampung yang sudah dua puluh tahun lewat, sudah basi, sudah tidak berarti apa-apa selain bahan obrolan sore.
Tapi bagi Ratih, kalimat itu jatuh seperti sesuatu yang berat ke tanah yang selama ini ia kira padat. Ia tidak pernah dengar nama Widarsa disebut di rumahnya sendiri. Tidak sekali pun. Dan kenapa ada orang lain yang membayar pajak rumah keluarganya, bertahun-tahun, tanpa pernah disinggung ayahnya atau ibunya, seolah itu urusan yang memang harus dijaga jauh dari telinga anak-anak?
"Oh," katanya, berusaha membuat suaranya sedatar mungkin, "iya, Bi. Nanti saya tanyakan ke Emih."
Ia berjalan pulang dengan langkah yang sama seperti biasa, menyusuri gang sempit yang sudah dihafalnya sejak kecil, melewati tembok yang catnya mengelupas membentuk peta yang tidak pernah ia tafsirkan, tapi kali ini ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, bukan lagi hanya amplop kosong yang biasa ia bawa pulang setelah menitip uang, melainkan sebuah nama yang terasa seperti batu kecil yang masuk ke sepatu, kecil tapi terus mengganggu setiap langkah.
Di rumah, Emih sedang menjemur pakaian di teras belakang, dekat pohon jambu air yang akarnya sudah mengangkat sebagian lantai dapur sampai retak seperti jaring laba-laba. Ratih berdiri di ambang pintu, menunggu ibunya menyelesaikan menjepit salah satu daster batik ke tali jemuran, sebelum akhirnya bertanya.
"Mih, Bi Icih tadi cerita, katanya dulu ada Pak Widarsa yang suka bayarin pajak rumah kita. Bener, Mih?"
Tangan Emih berhenti sejenak di antara jepitan jemuran, tapi hanya sejenak, secepat kedipan mata yang mudah terlewat kalau tidak diperhatikan betul-betul. Lalu ia melanjutkan menjemur, seolah pertanyaan itu tidak lebih penting dari cuaca.
"Ih, Bi Icih mah kebanyakan ngomong. Udah, Teh, mau colenak, teu? Emih beli tadi di simpang, masih anget."
"Mih, saya tanya soal Pak Widarsa."
"Aji udah makan can, nya? Tadi Emih liat dia di kamar, main hape wae ti tadi." Emih sudah berjalan ke arah dapur, punggungnya membungkuk lebih dalam dari biasanya, langkahnya cepat untuk ukuran perempuan berusia enam puluh delapan tahun, seolah kaki itu juga ingin menghindar sebelum kepalanya sempat menoleh kembali.
Ratih berdiri di tempatnya, tangan terkepal pelan di samping tubuh, kesal yang tidak bisa ia lampiaskan karena ibunya, sekali lagi, sudah lolos ke topik lain, ke soal makan, ke soal Aji, ke mana pun asal bukan ke pertanyaan yang baru saja ia ajukan. Ia ingin mengejar, ingin memaksa, tapi ia tahu benar, dari empat puluh satu tahun hidup bersama perempuan itu, bahwa memaksa hanya akan membuat pintu itu tertutup lebih rapat lagi, mungkin untuk beberapa hari, mungkin untuk selamanya.
"Nggak usah, Mih," katanya akhirnya, suaranya rata, sopan, nyaris seperti sedang bicara dengan orang asing di loket administrasi. "Saya ke sekolah dulu, ada berkas yang harus diperiksa."
Ia tahu itu bohong kecil, sekolah sudah lama sepi jam segitu, tapi ia butuh alasan untuk pergi, untuk duduk sendiri, untuk menghitung sesuatu yang bisa ia kendalikan karena angka, setidaknya, tidak pernah berbohong seperti orang.
Ruang guru SMP Bina Insani sudah kosong ketika Ratih tiba, hanya satu lampu neon yang masih menyala di ujung ruangan, berdenging pelan seperti lebah yang terjebak. Dispenser di sudut sudah lama kosong galonnya, tapi tidak ada yang mengganti karena memang jarang ada yang butuh air di jam segitu. Ratih duduk di mejanya sendiri, di antara tumpukan buku tugas kelas delapan yang belum sempat ia periksa, dan mengeluarkan kertas kosong dari laci, lalu mulai menulis angka-angka dengan pulpen yang ia tekan terlalu keras, kebiasaan yang sudah membuat jari telunjuk kanannya berkapal.
Gaji pokok, ditambah tunjangan sertifikasi, ditambah honor mengajar les tambahan setiap Sabtu pagi untuk anak-anak kelas sembilan yang akan ujian. Ia jumlahkan, lalu kurangi dengan kebutuhan bulanan: listrik, air, beras, obat tekanan darah Emih yang harus ditebus tiap tiga minggu, dan tidak lama lagi, uang pendaftaran kuliah Aji yang akan lulus SMA tahun depan, anak titipan Wulan yang entah kenapa terasa lebih seperti tanggung jawabnya sendiri daripada tanggung jawab adiknya yang di Surabaya.
Ia membagi tiga ratus empat puluh juta dengan cicilan bulanan yang disebutkan Haji Endang, lalu membagi lagi dengan sisa uang yang mungkin bisa ia sisihkan tiap bulan kalau ia berhenti membeli apa pun untuk dirinya sendiri, kalau ia berhenti menabung untuk hari tua, kalau ia menganggap dirinya tidak akan pernah sakit, tidak akan pernah butuh uang mendadak untuk apa pun selain rumah itu.
Angka yang keluar di ujung kertas adalah seratus tiga puluh dua bulan.
Ia menghitung ulang, khawatir ada yang salah, memindahkan angka dari satu kolom ke kolom lain, tapi hasilnya tetap sama. Seratus tiga puluh dua bulan, dibagi dua belas, adalah sebelas tahun.
Sebelas tahun tanpa liburan, tanpa membeli baju baru selain untuk lebaran, tanpa memperbaiki gigi yang sudah lama ingin ia tambal, tanpa apa pun untuk dirinya sendiri selain menjadi orang yang membayar. Angka itu duduk di kertas dengan tenang, seolah tidak tahu betapa berat ia terdengar, dan yang lebih aneh, ada sesuatu dalam angka itu yang terasa familiar, seperti nomor telepon lama yang masih bisa ia ingat meski sudah bertahun-tahun tidak ia hubungi, tapi ia tidak bisa menempatkan dari mana rasa itu datang.
Ia menyandarkan punggung ke kursi kayu yang berderit, memandangi lampu neon yang berkedip di ujung ruangan, dan entah karena lelah atau karena sesuatu di kepalanya yang sudah lama tertutup rapat tiba-tiba terbuka sedikit, ingatan itu muncul begitu saja, seperti foto lama yang jatuh dari buku yang tidak sengaja terguncang.
Ia melihat dirinya, atau lebih tepat, ia mendengar cerita tentang dirinya, yang diceritakan berkali-kali oleh Emih semasa kecil, tentang hari ia lahir di kamar depan rumah Cikutra, dibantu bidan kampung bernama Mak Enah yang sudah membantu persalinan hampir semua bayi di gang itu selama tiga puluh tahun. Dalam ingatan yang bukan miliknya sendiri, tapi sudah begitu sering diceritakan hingga terasa seperti kenangannya sendiri, ia melihat Sobari berdiri di ambang pintu kamar, kemeja lengan panjang digulung rapi meski baru bangun tidur, menunggu kabar dengan tangan terlipat di depan dada.
Mak Enah, setelah memandikan bayi yang baru lahir itu, memegang telapak tangan kecilnya, menatapnya lama, lalu berkata pada Sobari dengan nada yang menurut cerita Emih terdengar seperti sedang membaca ramalan cuaca, datar dan pasti. "Ieu budak, Pak, garis leungeunna kuat. Bakal jadi anu mikul, lain anu dipikul." Anak ini akan jadi yang memikul, bukan yang dipikul.
Sobari, menurut cerita Emih, hanya mengangguk pelan, tidak berkomentar apa-apa saat itu. Tapi malam harinya, ketika semua sudah tidur, ia membuka buku tabungannya, buku tabungan biasa dari bank yang sudah lama tutup cabang, dan menulis sesuatu di halaman belakang yang kosong, halaman yang biasanya dipakai orang untuk mencatat nomor telepon atau daftar belanja.
Ratih tidak pernah melihat sendiri catatan itu. Ia hanya mendengar ceritanya, diceritakan Emih sambil tertawa kecil, seolah itu lelucon keluarga yang lucu, bukti bahwa Ratih memang ditakdirkan jadi anak yang kuat, anak yang bisa diandalkan. Tapi duduk di ruang guru yang sepi itu, dengan angka sebelas tahun masih basah tintanya di atas kertas, lelucon itu berubah rasa di mulutnya, jadi sesuatu yang lebih pahit, hampir seperti tuduhan.
Ia bergegas pulang, tidak lagi peduli jam berapa itu, hanya ingin memastikan satu hal: apakah catatan itu benar-benar ada, atau hanya bumbu cerita yang dibesar-besarkan ibunya selama bertahun-tahun.
Rumah Cikutra sudah gelap ketika ia tiba, hanya lampu kamar Emih yang menyala dari celah pintu, dan lampu kamar mendiang ayahnya yang memang selalu dinyalakan ibunya tiap malam, kebiasaan yang tidak pernah ia tanyakan alasannya karena selalu ia anggap sebagai bentuk kesedihan biasa. Ia masuk ke kamar itu, kamar yang masih berbau minyak kayu putih dan mothball, kamar yang isinya nyaris tidak berubah sejak Sobari meninggal beberapa bulan lalu.
Di laci meja kecil dekat ranjang, di antara kertas-kertas kuitansi lama dan kacamata baca yang sudah tidak dipakai lagi, Ratih menemukan kotak kayu kecil berisi buku-buku tabungan lama, sebagian dari bank yang sudah lama merger dengan bank lain, sebagian dari koperasi yang sudah tutup. Ia memeriksa satu per satu, tangannya bergerak cepat, hampir gemetar, sampai akhirnya ia menemukan satu buku tabungan yang sampulnya sudah lusuh, tahun terbitnya 1983.
Ia membuka halaman belakang.
Di sana, dengan tulisan tangan Sobari yang rapi dan kecil, khas orang yang terbiasa mencatat angka, tertulis kalimat yang membuat dada Ratih terasa seperti ditekan sesuatu yang berat: "Ratih Kurniasih, lahir 14 Maret 1983. Kata Mak Enah, anak ini pemikul. Dicatat supaya tidak lupa, supaya adil kelak."
Di bawahnya ada tanggal, dan di bawah tanggal itu ada beberapa baris angka kecil yang tidak ia mengerti maksudnya, seperti perhitungan yang hanya masuk akal bagi orang yang menuliskannya.
Ratih duduk di tepi ranjang ayahnya, memegang buku tabungan itu dengan kedua tangan, dan untuk beberapa saat ia tidak melakukan apa-apa selain menatap kalimat itu berulang-ulang, seolah dengan membacanya cukup banyak kali ia bisa menemukan alasan yang masuk akal, alasan yang bisa membuatnya berhenti marah. Tapi yang muncul justru pertanyaan, satu demi satu, tenang dan dingin, seperti biasanya kemarahannya keluar: kenapa ayah mencatat ini. Kenapa disimpan. Kenapa tidak pernah dikatakan langsung. Kenapa harus adil kalau caranya justru dengan diam-diam menentukan siapa yang akan memikul sejak sebelum bayi itu bisa bicara.
Ia mengambil ponselnya, mencari nama Damar di daftar kontak, dan menekan tombol telepon sebelum ia sempat memikirkan apa yang akan ia katakan.
Damar mengangkat setelah dua kali dering, suaranya cepat seperti biasa, terdengar sedikit terengah seolah baru saja berlari atau baru saja berhenti dari sesuatu yang membuatnya tegang. "Teh Ratih, ini soal rumah kan? Aku udah bilang kok di grup, aku setuju dijual, gampang kok itu, tinggal urus notaris, aku bisa transfer biaya administrasi kalau perlu, nggak usah nunggu aku pulang segala."
"Aku mau tanya soal lain, Dar. Kamu kenal nama Widarsa?"
Ada jeda, sangat pendek, tapi cukup terasa. "Widarsa siapa? Aku nggak... maksudnya, banyak Widarsa, Teh, itu nama umum, kayak marga. Kenapa emangnya?"
"Katanya dulu ada keluarga Widarsa yang bayarin pajak rumah kita, bertahun-tahun. Kamu tahu apa-apa soal itu?"
"Nggak tahu, Teh, aku kan udah lama di Jakarta, mana ngerti urusan pajak rumah di sana, itu kan urusan Bapak sama Emih, aku nggak pernah diajak ngobrol soal begituan, lagian buat apa sih ngungkit-ungkit itu sekarang, yang penting kan sekarang gimana caranya rumah itu cepat kejual biar utangnya lunas, biar semua beres, biar—"
"Tahun 2013," Ratih memotong, suaranya tetap datar, hampir seperti sedang membaca daftar hadir. "Ada apa di tahun 2013, Dar?"
Hening di ujung telepon, lebih lama dari jeda sebelumnya, cukup lama sampai Ratih bisa mendengar suara kipas angin di kamar Damar berputar, dan sesuatu yang berdenting pelan, mungkin jam tangan yang diputar-putar di pergelangan tangannya, kebiasaan yang selalu muncul kalau adiknya itu gugup sejak mereka kecil dulu.
"Aku... aku lagi ada meeting, Teh," suara Damar tiba-tiba turun, jauh lebih pelan dari sebelumnya, nyaris berbisik. "Nanti aku telepon balik, ya."
Sambungan terputus sebelum Ratih sempat menjawab.
Ia menatap layar ponselnya yang kembali gelap, lalu menatap buku tabungan tua di pangkuannya, dan untuk pertama kalinya sejak ia duduk di kantor koperasi tiga hari yang lalu, ia merasa yakin bahwa angka tiga ratus empat puluh juta bukan sekadar utang yang jatuh begitu saja dari langit, melainkan ujung dari sesuatu yang sudah lama sekali dijaga, oleh lebih dari satu orang, dengan cara yang sama diamnya seperti ayahnya menulis nasib anak sulungnya di halaman belakang buku tabungan, empat puluh satu tahun yang lalu.