Ratih berhenti di depan nisan yang nama di atasnya sudah mulai dijajah lumut. TPU Sirnaraga tidak peduli pada siang yang memanas; tanaman melati di sekitar tembok merayap ke atas, mengeluarkan bau yang menenangkan dan membingungkan sekaligus. Suara adzan dari masjid di luar tembok datang terputus-putus, tertimpa bising truk yang lewat di jalan raya.
Dia mengulurkan salinan akta dari tas ransel kanvas — kertas fotokopi yang sudutnya sudah lipat, tinta hitam yang mulai pudar di beberapa bagian. Jari telunjuk kanannya, yang berkapal dari puluhan tahun menekan pulpen, menggosok tepi kertas sebelum dia mengangkatnya ke arah batu.
"Akta jual beli dengan hak membeli kembali," baca Ratih, suaranya datar di udara panas. "Tanggal dua belas Juni dua ribu tiga belas. Penjual: Sobari Wiryaatmaja. Pembeli: Keluarga Widarsa. Harga jual: dua ratus lima puluh juta. Hak tebus: sebelas tahun. Batas akhir: dua belas Juni dua ribu dua puluh empat."
Kata-kata itu terasa aneh di mulutnya, seperti membaca surat cinta orang lain di hadapan orang yang bersangkutan. Dia tidak pernah membacanya dengan keras sebelumnya. Di kantor Haji Endang, matanya hanya meluncur di atas klausul-klausul, mencatat nominal dan tanggal di buku catatan hitamnya. Di rumah, di bawah lampu krom petromaks, dia membacanya diam-diam sambil mendengar Emih menggosok piring di dapur.
Sekarang, di bawah sinar matahari yang menyilaukan, dia paksa diri mengucapkan setiap angka.
"Dua ratus lima puluh juta," ulangnya. "Tapi pinjaman koperasi tiga ratus empat puluh juta. Selisih sembilan puluh juta. Untuk biaya notaris, pajak, dan bunga sebelas tahun."
Angin hembus, menggerakkan daun waru di atas kepalanya. Bayangan bergeser di atas teks yang dia baca.
"Kau menandatangani ini," kata Ratih pada batu. "Tangan kanan kau. Kuku bersih. Lengan kemeja digulung rapi sampai siku. Kau tidak terlihat seperti orang yang terpaksa. Kau terlihat seperti orang yang sudah menghitung semuanya — termasuk aku."
Jari telunjuknya berhenti di tengah kalimat. Di dalam dada, sesuatu menggerakkan — bukan amarah, bukan sedih, tapi pengakuan yang meremangkan kulit.
Selama empat puluh satu tahun, Ratih percaya dirinya adalah korban paling sabar dalam keluarga ini. Anak sulung yang menutupi kekurangan ayah, yang membereskan kekacauan ibu, yang mengurus adik laki-laki yang pelit dan adik perempuan yang dingin. Dia menikmati posisi itu. Dia menikmati rasa bersalah yang terlihat seperti kebaikan. Dia menikmati ketika Damar meminta uang dan Wulan meminta nasihat, karena itu membuktikan dia dibutuhkan, dia yang kuat, dia yang tidak pernah jatuh.
Dan sekarang, berdiri di depan nisan ayahnya dengan bukti bahwa ayahnya bukan pengkhianat tapi penebus, Ratih takut. Bukan takut utang tiga ratus empat puluh juta. Bukan takut lelang tujuh puluh lima hari lagi. Dia takut kehilangan jabatan itu. Jabatan korban yang mulia. Jabatan anak sulung yang menderita diam-diam.
"Kau jahat," bisiknya pada batu. "Kau diam sebelas tahun. Kau biarkan aku jadi orang baik. Kau biarkan aku menikmati jadi orang baik. Kau mati dua bulan setelah menebus rumah ini, dan aku tidak punya siapa lagi yang bisa aku salahkan selain diri sendiri."
Suara langkah kaki di kerikil. Cepat, tidak seimbang, seperti seseorang yang berlari tapi badannya menolak.
Ratih tidak menoleh. Dia sudah tahu siapa itu. Bau minyak solar dan asap rokok kretek sudah sampai ke hidungnya sebelum bayangan jatuh di sampingnya.
Damar berhenti di sisi kiri nisan. Kemeja putihnya lecek di pinggang, kolernya kusut, rambutnya acak berantakan tertiup angin. Tas laptop yang digantungkan di bahu kanan mencondongkan postur tubuhnya. Dia terlihat lebih kecil dari ingatan Ratih — atau mungkin Ratih yang terlalu lama tidak melihatnya dekat-dekat.
"Kak," panggil Damar. Suaranya pecah di tengah kata.
Ratih baru menoleh. Wajah adiknya basah — keringat, atau air mata, atau keduanya. Tangannya yang biasa memutar-putar jam tangan sekarang menggenggam tas laptop sampai putih.
"Kau tidak dibenarkan ke sini," kata Ratih. "Tidak ada yang memberitahu kau."
"Wulan meneleponku," jawab Damar. "Dia bilang kakak pergi ke TPU dengan akta. Dia bilang... dia bilang kakak marah."
Ratih menatap adiknya. Tiga puluh tujuh tahun, dan Damar masih sama: panik dulu, berpikir kemudian. Jam tangan di pergelangan tangannya berputar cepat, kancingnya sudah longgar.
"Marah itu terlalu sederhana," kata Ratih. "Aku sedang membaca akta ini ke ayah. Mau dengar?"
Damar mengangguk, lututnya goyah. Dia turun ke tanah, tidak peduli kemejanya kotor, tidak peduli rumput basah merembes ke celana. Di depan nisan ayahnya, Damar Wiryaatmaja berlutut — bukan pada Ratih, bukan pada Tuhan, tapi pada batu marmer yang mengukir nama Sobari Wiryaatmaja.
"Dua ribu tiga belas," kata Damar, suaranya nyaris berbisik. "Aku... aku yang membuat ayah menandatangani ini."
Ratih menunggu. Angin membawa suara adzan kedua, lebih keras, lebih dekat.
"Modal aku hilang," lanjut Damar, matanya menatap tanah. "Investasi bodoh. Teman sekolah menipu. Seratus lima puluh juta, uang tabungan ayah yang aku minta untuk 'modal usaha'. Aku ingin pergi dari Bandung. Ke Jakarta. Aku bilang kalau tidak dikasih uang, aku kabur dan tidak pulang. Aku... aku ancam bunuh diri, Kak. Aku bodoh dan penakut dan aku ancam bunuh diri."
Ratih merasa dada menyempit. Dia tidak pernah tahu. Tidak pernah ditahu.
"Ayah tidak marah," kata Damar, suara semakin kecil. "Ayah tidak bertanya banyak. Ayah hanya pergi ke notaris besok paginya. Aku lihat dari luar ruangan. Ayah duduk di depan meja, kemeja lengan panjang, lengan digulung rapi sampai siku. Ayah betulkan lipatan kemejanya sebelum menandatangani. Seperti... seperti dia sedang menandatangani slip gaji bulanan. Biasa saja. Tenang."
Jari Ratih mengencangkan pada kertas akta. Lipatan kemeja. Ayah selalu begitu. Kemeja lengan panjang digulung rapi bahkan di rumah. Kuku selalu bersih. Membawa tas kulit tipis berisi kuitansi ke mana-mana. Orang yang menghitung segalanya, yang merencanakan segalanya, yang diam bukan karena tidak tahu tapi karena sudah menghitung akhir dari cerita sebelum cerita dimulai.
"Dua ratus lima puluh juta," kata Ratih, membaca kembali angka di kertas. "Ayah menjual rumah ini untuk menebus kesalahanmu. Dan ayah pinjam tiga ratus empat puluh juta ke koperasi untuk menebusnya kembali sebelum hak tebus habis. Sebelas tahun ayah menyewa rumahnya sendiri. Seratus tiga puluh dua kuitansi. Ayah mati dua bulan setelah lunas."
Damar menunduk lebih dalam, dahinya hampir menyentuh rumput. "Aku tidak tahu soal kuitansi. Aku tidak tahu ayah bayar cicilan tiap bulan. Aku pikir... aku pikir ayah cuma marah dan diam. Aku pikir ayah tidak pernah maafkan aku."
"Ayah tidak pernah bilang maaf," kata Ratih. "Tapi ayah juga tidak pernah bilang tidak. Ayah hanya diam, dan bayar, dan mati."
"Dan sekarang nama kami bertiga di koperasi," kata Damar, mengangkat wajah. Matanya merah, tapi tatapannya tajam — tajam dalam keputusasaan. "Kakak, aku... aku akan bayar cicilannya. Semuanya. Aku cari cara. Aku pinjam ke bank, aku jual mobil, aku... aku tanggung jangka panjang. Sepuluh tahun, sebelas tahun, berapa pun. Cuma... cuma jangan jual rumah ini. Belum. Bukan sekarang. Izinkan aku yang ini. Izinkan aku yang bertanggung jawab, sekali ini."
Ratih menatap adiknya. Damar Wiryaatmaja, yang selalu lari dari konsekuensi, yang selalu bayar mahal untuk menghindari perasaan, sekarang menawarkan hal yang paling ia takuti: tanggung jawab jangka panjang.
Sebelum Ratih sempat menjawab, deringan ponsel memecah keheningan. Nada nothing standar, nada yang dipakai Wulan untuk grup keluarga.
Damar mengambil ponselnya dengan tangan gemetar. Layar menyala. Video call dari Wulan Wiryaatmaja.
"Terima," perintah Ratih.
Damar menyentuh layar. Wajah Wulan muncul — dapur apartemen sewaan di latar belakang, kulkas putih dengan magnet berbentuk jeruk, piring mencuci di wastafel. Wulan memakai kaus oblong, rambut pendeknya rapi, wajah paling mirip ayah di antara mereka bertiga.
"Kalian berdua di TPU?" tanya Wulan tanpa basa-basi. Suaranya jernih, tidak ada gemetar. "Bagus. Hemat waktu."
"Wulan," panggil Ratih. "Kau tidak usah—"
"Seratus tiga belas juta tiap bulan," potong Wulan. "Bertiga. Selama sembilan tahun. Total cicilan koperasi tiga ratus empat puluh juta, bunga sudah masuk hitungan Haji Endang. Seratus tiga belas juta per orang per bulan. Tanda tangan di notaris, bukan percakapan. Kirim draft perjanjian ke grup WhatsApp sebelum malam. Aku sudah siapkan template, tinggal isi nama dan nomor rekening."
Dia tertawa kecil, suara pendek di tenggorokan. "Lucu, ya. Ayah mati supaya rumah ini tetap di tangan kita, dan sekarang kita bertiga harus bayar cicilan supaya rumah ini tidak dilelang. Ironi yang mahal."
Damar merem, tangan menutupi mulut. Ratih merasa sesuatu pecah di dalamnya — bukan amarah, bukan kecewa, tapi rasa hampa yang aneh. Adik bungsunya, yang selalu dikira paling dingin, paling logis, paling tidak peduli, baru saja jadi orang paling dewasa di antara mereka.
"Wulan," kata Ratih, suaranya tersendat. "Kau... kau setuju?"
"Setuju apa?" Wulan memiringkan kepala. "Setuju bayar cicilan? Ya. Setuju jual rumah? Juga ya. Dua hal terpisah. Cicilan harus dibayar supaya rumah tidak dilelang. Rumah dijual supaya kita tidak miskin sebelas tahun. Logika sederhana. Kenapa kalian suka bikin rumit?"
"Karena ini bukan soal logika," kata Damar, suaranya kembali normal, meski masih bergetar. "Ini soal... soal ibu. Soal hari keseribu. Soal—"
"Ibu hitung hari keseribu," potong Wulan. "Koperasi hitung lelang. Aji hitung uang kuliah. Kakak hitung gaji dan honor les. Kalian berempat hitung hal yang beda dengan kalender yang beda. Kalau mau selesai, hentikan hitungan emosional. Mulai hitung uang. Angka tidak bohong. Angka tidak punya perasaan. Angka adil."
Dia mendekatkan wajah ke layar, matanya tajam menembus piksel.
"Draft perjanjian sudah dikirim ke grup. Baca. Tanda tangan digital. Besok aku kirim ke notaris buat legalisasi. Kalau kalian setuju, transfer cicilan pertama tanggal lima depan. Kalau tidak setuju... kalian berdua yang urus ibunya kalau rumah dilelang."
Layar gelap. Panggilan berakhir.
Kediaman diam di antara mereka. Di kejauhan, adzan ketiga bergema, menutupi suara napas mereka.
Ratih melihat ke Damar. Damar melihat ke Ratih. Di antara mereka, nisan ayah mereka diam menyaksikan.
"Dia benar," kata Damar pelan. "Angka adil. Angka tidak bohong."
"Tapi angka tidak peduli," kata Ratih. "Angka tidak tahu ibu menunggu seribu hari. Angka tidak tahu Aji butuh uang kuliah bulan depan. Angka tidak tahu aku... aku sudah siap menjual rumah ini seminggu lalu. Sudah siap ikut suara kalian berdua. Dan sekarang, karena kalian berdua mau bayar cicilan, aku jadi yang paling egois — aku yang mau nahan rumah ini."
Damar tertawa, tapi tidak sampai ke mata. "Selamat datang di klub orang egois, Kak. Anggotanya cuma kita bertiga."
Ratih menghela napas. Dia memasukkan akta ke tas, mengangkat ponselnya. Layar menunjukkan grup WhatsApp "Rumah Cikutra" — foto profil pohon jambu air di halaman belakang. Pesan terbaru dari Wulan: file PDF "Perjanjian Pembagian Cicilan Utang Koperasi Bina Karya.pdf" dan teks: Tanda tangan digital sebelum jam 12 malam. Notaris besok pagi.
Jari Ratih bergerak cepat. Buka file. Baca klausul pembagian bertiga. Klausul penalti keterlambatan. Klausul penjualan rumah jika cicilan macet tiga bulan berturut-turut. Klausul yang membuatnya menggigit bibir: Pihak Pertama (Ratih Kurniasih) bertindak sebagai koordinator pembayaran dan komunikasi dengan Koperasi.
Koordinator. Penanggung jawab. Anak sulung.
Dia mengetik: Saya setuju. Tanda tangan digital terlampir.
Kirim.
Damar menatap ponselnya, lalu menatap Ratih. "Cepat sekali."
"Aku terbiasa menandatangani hal yang tidak aku suka," kata Ratih. "Itu pekerjaan anak sulung."
"Bukan lagi," kata Damar. "Sekarang itu pekerjaan kita bertiga. Kontrak bertiga. Bukan takdir sulung."
Matahari mulai condong, bayangan nisan memanjang di rumput. Ratih merasa lelah yang dalam, lelah yang tidak bisa disembuhkan tidur. Tiga kalender berputar di kepalanya: koperasi tujuh puluh lima hari, ibu seratus lima puluh delapan hari lagi, Aji enam bulan lagi masuk kuliah. Ketiga kalender itu tidak akan pernah bertemu di titik yang sama.
"Kita pulang," kata Ratih. "Ibu menunggu."
***
Rumah Cikutra menyambut mereka dengan bau kayu lembap dan minyak kayu putih. Lampu krom petromaks di ruang tamu menyala, bayangannya melayang di dinding triplek yang menggelembung. Di meja makan, kalender dinding bergambar masjid tertancap di dinding — kotak-kotak merah di tanggal-tanggal tertentu, ditandai bolpen hitam yang tebal.
Emih duduk di kursi kayu di hadapan kalender, jari jarinya menelusuri kotak-kotak merah itu satu per satu. Daster batik pudarnya kusut di pinggang, kaus kaki tebalnya bergelambir di pergelangan kaki. Dia tidak menoleh saat pintu terbuka.
"Hari ke-berapa, Bu?" tanya Ratih, meletakkan tas di sofa.
Emih tidak menjawab seketika. Jarinya berhenti di satu kotak. "Hari ke-842," kata dia, suara datar. "Tinggal 158 hari lagi. Seribu hari genap."
Ratih menghitung cepat di kepala. Seratus lima puluh delapan hari. Lima bulan lebih dua belas hari. Koperasi lelang tujuh puluh lima hari lagi. Hitungan ibu dan hitungan koperasi tidak akan pernah bertemu. Tidak mungkin.
"Koperasi lelang tanggal dua puluh lima depan," kata Ratih. "Masih enam puluh lima hari dari hari keseribu."
Emih baru menoleh. Matanya bening, awas, tidak ada air mata. "Koperasi hitung uang. Ibu hitung sayang. Bedanya di situ, Rat."
"Damar dan Wulan setuju bayar cicilan bertiga," kata Ratih, duduk di kursi berhadapan ibu. "Seratus tiga belas juta per orang per bulan. Sembilan tahun. Kontrak sudah ditandatangani digital. Besok notaris legalisasi."
Emih mengangguk pelan. "Bagus. Anak-anak pintar. Anak-anak adil."
"Tapi rumah..." Ratih berhenti. Jari telunjuknya menggosok pinggang gelas teh yang sudah dingin di meja. "Damar dan Wulan tetap mau jual rumah. Setelah cicilan lancar, rumah dijual. Hasil bagi tiga. Itu kesepakatan mereka."
"Dan kau?" Emih menatap Ratih, tajam meski matanya bergetar. "Kau mau apa?"
Ratih menatap ibu. Menatap wanita yang sebelas tahun menunggu suaminya menebus rumah ini, yang sekarang menunggu hari keseribu sambil menghitung mundur di kalender dinding. Wanita yang menyimpan seratus tiga puluh dua kuitansi di kaleng biskuit Khong Guan di atas lemari kamar belakang. Wanita yang tidak pernah bertanya mengapa, hanya menunggu, dan makan, dan berdoa.
"Aku..." Ratih menelan ludah. "Aku belum tahu. Aku pikir aku mau jual. Seminggu lalu aku sudah siap jual. Tapi sekarang... sekarang aku merasa kalau menjual rumah ini berarti mengakui bahwa sebelas tahun ayah menyewa rumahnya sendiri itu sia-sia. Berarti ayah mati untuk tidak apa-apa."
"AYAH MATI UNTUK RUMAH INI TETAP DI TANGAN KALIAN!" Suara Emih menerjang, tiba-tiba keras, mengejutkan Ratih. "Bukan untuk rumah dijual! Bukan untuk uang! Bukan untuk cicilan! Ayah mati supaya kalian punya tempat pulang! Supaya kalian tidak pernah merasa tidak punya rumah!"
Dia berdiri, badannya goyang tapi tegak. Tangannya yang bergetar menunjuk ke arah Ratih.
"Kalian bertiga berdebat soal uang, soal cicilan, soal kontrak, soal notaris. Tidak ada yang tanya: untuk apa ayah berkorban sebelas tahun? Untuk apa ibu menunggu seribu hari? Untuk apa Aji dibesarkan di sini, makan di sini, tidur di sini, belajar jalan di halaman ini di bawah pohon jambu air?"
Ratih diam. Di depannya, ibu yang selalu halus, yang selalu menjawab pertanyaan sulit dengan pertanyaan tentang makan, kini berteriak — dan Ratih tidak punya jawaban.
Emih menghela napas panjang, bahunya turun. Suaranya kembali pelan, tapi kini bergetar. "Ibu tidak mau tahu soal uang. Ibu tidak mau tahu soal koperasi. Ibu cuma tahu: hari ke-842. Tinggal 158 hari. Dan koperasi mau lelang dalam 75 hari. Hitungan tidak bertemu, Rat. Hitungan tidak akan pernah bertemu."
Dia mendekat ke meja makan, mengambil ponsel Ratih yang layarnya masih menyala di halaman draft perjanjian. Jarinya yang gemetar menyentuh layar, tidak sengaja menggulir ke bawah.
"Kau sudah tanda tangan," kata Emih. "Kakak sudah setuju bayar cicilan. Kakak sudah setuju jadi koordinator. Tapi kakak belum jawab pertanyaan ibu: kau mau apa, sebenarnya?"
Ratih menatap ibu. Menatap jari-jari yang bergetar itu. Menatap kalender dinding dengan kotak-kotak merahnya. Menatap lampu krom petromaks yang bayangannya menari-nari di dinding.
Dia tidak menjawab. Dia tidak bisa menjawab. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ratih Kurniasih — pencatat segala hal, penghitung segala angka, penanggung jawab segala kekacauan — tidak memiliki angka untuk situasi ini. Tidak memiliki catatan. Tidak memiliki rencana.
Dia hanya duduk di hadapan ibu, di rumah yang ayahnya tebus dengan sebelas tahun kesendirian, di bawah pohon jambu air yang akarnya mengangkat lantai dapur, dan menunggu. Menunggu jawaban yang tidak ada di buku catatan hitamnya. Menunggu keputusan yang tidak bisa dihitung.
Di luar, adzan Maghrib mulai bergema. Suara ketiga masjid tumpang tindih, saling menutupi, saling melengkapi. Seperti mereka bertiga. Seperti keluarga ini. Berbeda nada, berbeda waktu, tapi sama-sama memanggil ke arah yang sama.
Ratih mengangkat tangannya, menutupi tangan ibu di atas ponselnya. Kulit ibu dingin, kering, bergelombang seperti kertas tua.
"Ibu," kata Ratih, suaranya rendah. "Ibu sudah makan?"
Emih menatapnya lama. Lalu, perlahan, sudut bibirnya naik — bukan tersenyum, tapi sesuatu yang mirip lega.
"Belum," jawab Emih. "Menunggu kakak pulang."
"Bereskan dulu kontraknya," kata Ratih, bangun dari kursi. "Lalu aku masak. Ada ikan asin di kulkas. Dan colenak... colenak masih ada, kan?"
"Ada," kata Emih, sudah berjalan ke dapur, punggungnya membungkuk tapi langkahnya pasti. "Ibu gorengkan. Kakak makan dulu, baru bicaranya lanjut."
Ratih menatap punggung ibu yang pergi. Lalu menatap ponsel di meja — draft perjanjian, tanda tangan digital, angka-angka yang rapi berbaris di layar.
Dia tidak mengambilnya. Dia tidak mencatat. Dia hanya mengikuti ibu ke dapur, ke bau ikan asin dan gula merah, ke suara adzan yang memanggil mereka pulang — ke rumah yang ayahnya tebus, yang ibu jaga, yang adik-adiknya bayar cicilannya, yang sekarang menunggu keputusannya: apakah ia akan menjualnya, atau menahannya, atau sesuatu di antara keduanya yang belum ia temukan namanya.
Di belakangnya, kalender dinding diam menunggu. Kotak merah ke-843 menunggu besok. Dan besoknya. Dan besoknya. Sampai seribu. Atau sampai lelang. Mana yang lebih dulu.