Kipas angin berdiri di sudut ruangan itu berputar dengan bunyi berdecit tiap kali kepalanya menoleh ke kiri, seolah ada baut yang longgar dan malas diperbaiki selama bertahun-tahun. Ratih menghitungnya tanpa sadar: tiga puluh delapan decitan sejak ia duduk. Ia sudah berhenti mencatat angka itu di kepala begitu Haji Endang mulai bicara lagi, karena ada angka lain yang jauh lebih penting untuk diingat.
"Tiga ratus empat puluh juta, Neng," kata Haji Endang, untuk ketiga kalinya, sambil membuka map karton yang diikat karet gelang dobel. "Tunggakan sudah jalan dua bulan. Bulan depan genap tiga bulan. Kalau sampai tiga bulan, koperasi wajib jalankan lelang jaminan. Bapak Sobari, semoga husnul khatimah, sudah sering saya bilangin waktu itu. Tapi ya, Allah yang punya rencana."
Ratih mengangguk. Ia sudah duduk empat puluh menit di kursi plastik hijau itu, punggungnya lurus, kacamata baca tergantung di lehernya belum juga ia pakai, dan sepanjang waktu itu ia belum sekali pun bertanya untuk apa sebenarnya uang sebesar itu dipakai. Ia hanya bertanya soal angka, tanggal, prosedur, seolah pertanyaan-pertanyaan teknis bisa menunda pertanyaan yang sesungguhnya.
"Jatuh tempo pastinya tanggal berapa, Pak Haji?"
"Dua puluh lima bulan depan. Kalau lebih dari itu, ya, mangga, kami surati lagi, tapi prosesnya jalan terus."
Ratih membuka buku tulis anak sekolah bersampul kotak-kotak biru, bekas punya Aji yang halamannya masih setengah kosong, lalu menuliskan angka itu. Pulpennya ditekan terlalu keras, seperti biasa, sampai kertas di baliknya ikut membekas timbul. Tiga ratus empat puluh juta. Dua bulan tunggakan. Satu bulan lagi. Ia menulis semuanya dengan huruf kapital rapi, seakan dengan menuliskannya ia bisa memindahkan sebagian beban itu ke kertas dan membiarkannya tinggal di sana.
Haji Endang menyodorkan map itu ke seberang meja. "Ini salinannya. Aslinya di lemari besi, jangan khawatir, aman."
Di dalam map, di antara lembar-lembar fotokopi yang sudah menguning di pinggirnya, terselip satu lembar yang berbeda. Kertasnya masih putih bersih, belum pernah terlipat, dengan cap dan tanda tangan yang tintanya masih tampak hidup. Sertifikat hak milik atas nama Sobari Wiryaatmaja. Ratih membaca tanggal terbitnya dua kali untuk memastikan matanya tidak salah. Dua bulan sebelum ayahnya meninggal.
"Ini sertifikat rumah Cikutra?"
"Muhun, betul." Haji Endang mengusap peci hitamnya yang sudah kusam di bagian pinggir, lalu menatanya kembali seperti kebiasaan orang yang gugup tapi tidak mau kelihatan gugup. "Itu jaminannya, Neng. Bapak jaminin itu buat pinjaman terakhir."
"Pinjaman itu dipakai untuk apa, Pak Haji?"
Pertanyaan itu keluar pendek, sopan, hampir seperti pertanyaan formulir. Tapi Ratih merasakan sesuatu yang dingin merayap di dadanya begitu ia mengucapkannya, seperti orang yang baru sadar sudah lama duduk di kursi terdakwa tanpa tahu dakwaannya.
Haji Endang menghela sesuatu yang bukan napas, lebih seperti jeda yang sengaja diperpanjang. Ia membetulkan letak tongkat rotannya yang bersandar di kaki meja. "Ya itu tadi, buat nebus rumah. Bapak Sobari itu, Neng, orangnya keras kepala tapi baik. Almarhum dulu sering cerita ke saya, katanya, 'Haji, saya mah bukan orang yang bisa nolak titipan.' Suka gitu bapak, ngomongnya muter-muter, tapi hatinya lurus. Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga rumah itu balik nama."
"Balik nama dari siapa?"
"Ah, itu mah cerita lama, Neng. Yang penting sekarang mah gimana ke depannya." Haji Endang tersenyum, giginya yang tinggal separuh tampak saat bibirnya terbuka, lalu ia buru-buru menambahkan doa, "Mudah-mudahan ada jalan, ya, biar teu kudu dilelang. Sayang, rumah peninggalan orang tua."
Ratih menatap sertifikat itu sekali lagi, tintanya yang masih baru seperti luka yang belum sempat mengering, dan ia tahu, dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan dengan angka, bahwa ada bagian dari cerita ini yang sengaja tidak pernah diberitahukan kepadanya. Ia tidak bertanya lagi. Ia mencatat saja di buku tulisnya: sertifikat terbit dua bulan sebelum wafat, cerita lama tidak dijelaskan.
Ketika Haji Endang beranjak untuk mengambil air minum di lemari es kecil di pojok ruangan, Ratih mengeluarkan ponselnya. Ada dua puluh tiga pesan belum terbaca di grup keluarga bernama Rumah Cikutra, dibuat ayahnya sendiri bertahun-tahun lalu dengan foto profil pohon jambu air di halaman belakang.
Damar, 09.14: jual aja sih menurutku. udah dihitung2 sama wulan juga masuk akal. Wulan, 09.20: harga tanah di sana sekitar 9-11 jt/m2, luas tanah 180, itung sendiri kisarannya berapa. lunasin utang, sisanya dibagi 3. Wulan, 09.21: aku udah capek mikirin ini pake perasaan. perasaan gak bisa bayar bunga koperasi, mba. Damar, 09.30: setuju. mba ratih gimana? kalo oke langsung kita cari agen ya.
Tidak ada satu pun pesan yang menunggunya, tidak ada yang bertanya apakah ia sudah sampai di koperasi, apakah angkanya benar tiga ratus empat puluh juta, apakah ia baik-baik saja duduk sendirian di ruangan panas itu menghadapi map berkaret gelang. Musyawarah sudah selesai sebelum ia sempat membuka mulut. Ratih membaca ulang pesan-pesan itu tiga kali, jarinya berhenti di atas kolom ketik, mengetik satu huruf lalu menghapusnya lagi, sampai akhirnya ia mengunci layar dan memasukkan ponsel ke dalam tasnya tanpa membalas apa-apa.
Ingatannya, tanpa diminta, meluncur ke malam takbiran dua tahun lalu. Ayahnya duduk di karpet ruang tengah, sarungnya masih basah bekas wudu, mengumpulkan mereka bertiga sesudah salat isya dengan alasan ada berkas yang harus segera dibereskan sebelum Lebaran. "Surat keperluan waris," katanya, membagikan pulpen satu per satu dari kotak pulpen kantor yang ia bawa pulang entah dari mana. "Biar nanti gampang, teu ribet. Ratih tanda tangan dulu, tulisan kamu paling rapi."
Ratih menandatangani di kolom yang ditunjuk ayahnya tanpa membaca satu baris pun, karena ayahnya bilang begitu, dan karena di rumah itu, kepercayaan pada ayah adalah hal yang tidak pernah dipertanyakan. Damar menyusul menandatangani sambil bercanda soal THR, Wulan menandatangani di sampingnya dengan cepat, tidak mau ketinggalan. Malam itu ayahnya tersenyum, mengumpulkan kembali pulpen-pulpen itu ke dalam kotak, dan berkata, "Beres. Alhamdulillah." Ratih ingat suara itu, ringan, lega, seperti orang yang baru menurunkan karung berat dari pundak. Ia dulu mengira ayahnya lega karena urusan administratif sudah selesai. Sekarang, duduk di ruangan panas berkipas angin rusak ini, ia tahu ayahnya lega karena tiga tanda tangan itu baru saja menyelamatkan sebuah rumah, dan menyerahkan tiga ratus empat puluh juta rupiah kepada tiga anak yang tidak tahu apa-apa.
Haji Endang kembali dengan dua gelas air mineral, menyodorkan satu ke arah Ratih. "Diminum, Neng. Panas hari ini."
Ratih menerimanya, mengucapkan terima kasih, lalu menutup buku tulisnya. Di perjalanan pulang nanti ia harus menyusun kalimat, harus memikirkan cara mengatakan pada ibunya bahwa dalam satu bulan rumah ini bisa dilelang, sementara adik-adiknya sudah lebih dulu memutuskan menjualnya seolah rumah itu hanya angka per meter persegi. Tapi ia tidak tahu kalimat seperti apa yang bisa memuat semua itu tanpa membuat ibunya, yang setiap hari masih menyalakan lampu kamar mendiang suaminya, merasa dunia runtuh dua kali dalam setahun. Maka ia memutuskan, di dalam angkot menuju Cikutra, untuk menunda dulu cerita itu. Menyimpannya sebentar. Ia membenci kebiasaan menyimpan seperti ini, kebiasaan yang dulu ia kutuk diam-diam dari ayahnya, tapi hari itu ia melakukannya juga, seolah pola itu memang sudah mengalir dalam darah keluarga ini seperti golongan darah.
Rumah Cikutra menyambutnya dengan bau minyak kayu putih yang menguar dari arah dapur, bercampur aroma nasi yang baru matang. Emih sedang berdiri di depan kompor, punggungnya membungkuk lebih dari biasanya, daster batik pudar bertumpuk kaus kaki tebal meski siang sudah beranjak sore.
"Tos dahar can, Teh?" Emih tidak menoleh, tangannya sibuk mengaduk sayur asem di panci.
"Belum, Mih. Tadi dari koperasi."
"Duduk atuh, Ibu bikinin. Ada ikan asin, ada sambal terasi kesukaanmu."
"Mih, soal koperasi tadi..."
"Duduk dulu, atuh, Teh. Ngobrol mah nanti, capek kan dari luar." Emih sudah menyodorkan piring, nasi sudah tertata rapi di atasnya, seolah ia sudah menyiapkannya sejak sebelum Ratih pulang.
Ratih menghela dan duduk. Ia tahu jalan itu buntu, seperti biasa, ibunya selalu punya cara memindahkan setiap percakapan berat ke meja makan, mengubur pertanyaan di bawah lauk pauk. Ia membiarkan dirinya kalah untuk sore itu, menyendok sayur asem yang rasanya masih sama seperti dua puluh tahun lalu, membiarkan kelegaan palsu itu singgah sebentar meski ia tahu benar kelegaan itu tidak akan bertahan sampai malam.
Dari ruang tengah, Aji, anak Wulan yang sedang liburan sekolah dan dititipkan di Cikutra selama dua minggu, muncul dengan satu earphone tersangkut di telinga kiri, yang kanan menggantung di lehernya.
"Tante Ratih," katanya, tanpa basa-basi, seperti caranya berbicara selalu, "kenapa sih Nenek tadi nangis di kamar mandi? Aku denger, terus pas aku tanya, katanya semuanya baik-baik aja."
Ratih menoleh ke arah Emih. Ibunya masih membelakangi mereka, tangannya masih memegang sendok sayur, tapi Ratih melihat bahunya yang kurus itu berhenti bergerak sepersekian detik lebih lama dari yang wajar.
Ratih membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar. Ia tidak tahu jawabannya, dan yang lebih mengganggu, ia mulai curiga bahwa ini bukan sekadar tangis karena rumah atau karena utang. Ada sesuatu yang lebih tua tersimpan di balik punggung membungkuk itu, sesuatu yang sudah lama sebelum sertifikat bertinta baru itu terbit, dan Ratih, untuk pertama kalinya sejak duduk di kantor koperasi tadi, merasa bahwa angka tiga ratus empat puluh juta mungkin bukan rahasia terbesar yang harus ia bongkar dari keluarga ini.