Rumah Kakek Broto berdiri di ujung jalan setapak yang menanjak, di antara pohon-pohon waru yang daunnya berguguran seperti telapak tangan yang lelah menampar udara. Aku sampai di sana sekitar pukul sepuluh pagi, membawa buku catatanku, alat perekam yang sudah kuisi baterai baru, dan sesuatu yang lebih sulit kubawa: harapan yang kupaksa terlihat seperti profesionalisme.
Aku sudah menyiapkan pertanyaan-pertanyaanku semalaman, disusun dengan metodis seperti biasa—kronologis, dari sejarah desa yang paling umum menuju detail-detail spesifik tentang keluarga Ardaya. Aku percaya, atau setidaknya ingin percaya, bahwa kesaksian lisan yang sistematis akan memberiku fondasi yang lebih kokoh daripada jurnal seorang pria yang mungkin sudah kehilangan pijakan pada kenyataan.
Kakek Broto duduk di beranda depan rumahnya ketika aku tiba, membelakangi cahaya pagi sehingga wajahnya setengah tersembunyi dalam bayang-bayang atap yang menjorok. Mata kanannya—yang tersisa—menatapku dengan waspada yang tidak berusaha ia sembunyikan, sementara mata kirinya, yang cekung dan tertutup kelopak yang layu, seolah menjadi saksi bisu dari sesuatu yang sudah lama ia relakan untuk tidak dilihat lagi.
"Selamat pagi, Kek," sapaku, berusaha membuat suaraku terdengar sesantai mungkin. "Saya Wulan, anak—"
"Saya tahu kamu siapa," potongnya, suaranya serak seperti dahan kering yang digesekkan. "Seluruh desa tahu kamu siapa sejak kamu turun dari perahu kemarin sore."
Aku tersenyum tipis, mencoba tidak menunjukkan bahwa jawaban itu membuatku sedikit gentar. "Kalau begitu, Kakek pasti juga tahu kenapa saya kembali."
"Untuk menggali kuburan yang sudah lama ditutup," katanya, bukan sebagai pertanyaan, melainkan pernyataan yang sudah lama ia siapkan. "Padi yang sudah dituai tidak akan tumbuh lagi meski kau siram tangkainya dengan air mata."
Aku mengeluarkan buku catatanku, membiarkan gerakan itu menjadi semacam pernyataan niat—bahwa aku datang bukan untuk sekadar mengorek luka lama demi kepuasan pribadi, melainkan untuk mencatat, memverifikasi, membuktikan. "Saya hanya ingin mendengar cerita tentang mercusuar itu, Kek. Tentang sejarahnya. Bukan untuk menghakimi siapa pun."
Kakek Broto tidak menjawab untuk beberapa saat. Ia mengangkat tangannya yang keriput, meraih sesuatu dari saku baju lusuhnya—sebuah tasbih kayu berwarna cokelat tua, butir-butirannya sudah aus dan mengilap karena bertahun-tahun digenggam. Ia mulai menghitung butir-butir itu satu per satu, bibirnya bergerak tanpa suara, seolah aku sudah tidak ada di hadapannya.
"Tujuh orang," gumamnya akhirnya, begitu pelan hingga aku harus mencondongkan tubuh untuk mendengar. "Tujuh orang tenggelam bersama perahu yang kayunya dijadikan tasbih ini. Itu saja yang perlu kau tahu tentang laut di sini, Nak. Ia mengambil, dan kita belajar untuk tidak bertanya kenapa."
"Tujuh orang yang mana, Kek? Kapan?"
Ia menggeleng, memasukkan kembali tasbih itu ke sakunya seperti menutup sebuah pintu. "Sudah, sudah. Pulanglah. Hari masih pagi, tapi angin akan berubah nanti siang."
Aku merasakan frustrasi yang mulai menjalar di dadaku, sesuatu yang kupaksa tetap tersembunyi di balik nada formal yang telah lama kulatih untuk situasi semacam ini—situasi di mana narasumber menutup diri dan aku harus tetap sopan meski setiap sarafku ingin berteriak. Aku sudah membayangkan wawancara ini akan memberiku setidaknya kerangka waktu, nama-nama, sesuatu yang bisa kuverifikasi silang dengan catatan ayahku. Namun yang kudapat hanyalah potongan-potongan kalimat yang lebih menyerupai mantra daripada kesaksian, dan sebuah tasbih yang menyimpan cerita yang enggan diceritakan.
Aku menutup buku catatanku, tapi tidak beranjak dari kursi kayu yang ia tawarkan di sebelah beranda. "Kek," kataku, mengubah pendekatan, "saya menemukan sesuatu di jurnal ayah saya. Sebuah istilah—Darah Penjaga. Apakah Kakek tahu apa artinya?"
Perubahan pada wajah Kakek Broto begitu cepat hingga hampir tak kutangkap—sekelebat rasa takut yang melintas di mata kanannya sebelum ia kembali memasang topeng ketertutupannya. Tangannya, yang tadi tenang menghitung butiran tasbih, kini berhenti bergerak sama sekali.
"Dari mana kamu dapat istilah itu?" tanyanya, suaranya lebih tajam dari sebelumnya.
"Dari jurnal ayah saya. Dia menulisnya berkali-kali, seolah itu penting."
Kakek Broto menghela napas panjang, seperti seseorang yang baru saja menerima kabar yang sudah lama ia takutkan akan datang. "Itu bukan sekadar istilah, Nak. Itu... aturan. Hanya darah Ardaya yang bisa menyalakan api itu dan membuatnya benar-benar mengikat. Orang lain bisa menyalakannya, api akan tetap menyala, tapi..." ia berhenti, seolah mengukur berapa banyak yang boleh ia katakan, "...tapi itu bukan nyala yang sama. Itu bukan nyala yang menahan."
"Menahan apa, Kek?"
Untuk sesaat, aku pikir ia akan menjawab. Bibirnya bergerak, ada sesuatu yang hendak keluar, sesuatu yang kurasa sudah lama ia simpan di kedalaman dadanya yang bungkuk. Namun kemudian, seolah menyadari dirinya sudah melangkah terlalu jauh, ia menggeleng cepat dan berkata, "Sudahlah. Tidak penting."
Aku merasakan sesuatu bergeser dalam diriku saat itu—bukan lagi skeptisisme murni yang membawaku kemari, melainkan kewaspadaan yang baru, yang lebih dingin dan lebih personal. Ada sesuatu yang nyata di balik semua ini, sesuatu yang membuat seorang lelaki tua yang sudah kehilangan satu matanya karena laut masih bisa merasa takut hanya dengan menyebut sebuah istilah. Aku menolak untuk sepenuhnya mempercayainya, tapi aku juga tidak bisa lagi mengabaikannya begitu saja.
"Kek," kataku, mendorong lebih jauh meski aku tahu risikonya, "apakah ini yang orang sebut Utang yang Tak Terbayar? Apakah itu yang terjadi pada ibu saya? Pada ayah saya?"
Tangan Kakek Broto yang memegang tasbih mulai gemetar—getaran kecil namun jelas, seperti daun yang diterpa angin yang tak terlihat. "Setiap beberapa generasi," katanya, suaranya nyaris berbisik, "perjanjian itu meminta lebih. Bukan cuma nyala yang setia. Ia meminta... sesuatu yang hilang. Akal sehat. Orang yang dicintai. Kadang nyawa penjaga itu sendiri." Ia menatapku dengan mata kanannya yang basah, entah karena usia atau karena sesuatu yang lain. "Tapi saya sendiri tidak tahu, Nak, apakah itu kutukan yang sungguhan, atau hanya cerita yang kami wariskan supaya orang-orang tetap taat pada aturan. Sudah terlalu lama saya hidup dengan cerita itu untuk bisa membedakan mana yang nyata."
Aku ingin bertanya lebih jauh—ingin memaksa dia mengingat nama, tanggal, detail apa pun yang bisa kucatat dan kuverifikasi—tapi Kakek Broto sudah berdiri, tubuhnya yang bungkuk bergerak dengan kecepatan yang mengejutkan untuk seseorang seusianya.
"Pulanglah," katanya, nadanya kini kembali dingin, sopan namun tegas. "Hari sudah mulai siang. Tangga batu menuju rumahmu licin kalau kau turun waktu senja."
Aku tahu itu adalah cara halus untuk mengusirku, tapi aku tidak melawan. Aku berdiri, mengucapkan terima kasih yang terasa hampa di mulutku, dan berjalan menuruni jalan setapak dengan buku catatan yang lebih kosong daripada yang kuharapkan namun pikiran yang jauh lebih penuh daripada sebelum aku datang.
Duka lama tentang ibuku—yang selama tujuh tahun kupaksa mengendap di dasar diriku, kususun rapi dalam kategori "trauma yang telah diproses"—kini menyeruak kembali dengan kekuatan yang membuatku harus berhenti sejenak di tengah jalan, menahan napas, menahan sesuatu yang terasa seperti isak yang menolak keluar.
*
Aku kembali ke Rumah Lama Keluarga Ardaya menjelang tengah hari, dengan matahari yang memantul keras dari atap seng dan membuat debu-debu di dalam rumah tampak seperti kabut emas yang melayang perlahan setiap kali aku bergerak. Aku langsung menuju ruang kerja ayahku, mengabaikan rasa lapar yang sudah mulai mengganggu perutku sejak pagi, dan membuka kembali jurnal itu ke halaman-halaman yang membahas malam kematian ibuku.
Yang kutemukan membuatku duduk terlalu lama tanpa bergerak.
Ada dua versi cerita tentang malam itu, ditulis dengan tinta yang sama, di halaman yang berurutan, seolah ayahku menulis keduanya dalam satu tarikan napas yang sama namun dengan dua jiwa yang berbeda.
Versi pertama:
*Aku berlari. Tuhan tahu aku berlari secepat yang kubisa, menuruni tangga mercusuar dalam gelap, kakiku tersandung tiga kali, dan aku tidak peduli. Saraswati berteriak dari tebing, suaranya terbawa angin, dan aku tahu—aku TAHU—bahwa jika aku tidak sampai dalam hitungan detik, laut akan mengambilnya seperti ia mengambil yang lain. Api padam karena aku meninggalkannya. Aku memilih istriku di atas nyala itu, dan aku akan memilihnya lagi seribu kali meski aku tahu apa yang akan terjadi setelahnya.*
Versi kedua, ditulis tepat di bawahnya, tanpa jeda, tanpa tanggal baru:
*Aku menunggu. Aku berdiri di ruang lampu dan aku menunggu, karena aku tahu—aku selalu tahu—bahwa perjanjian tidak bisa ditinggalkan, bahkan untuk dia. Saraswati berteriak, dan aku mendengarnya, dan aku tidak bergerak selama yang aku bisa tahan, karena seseorang harus memilih, dan aku memilih nyala itu terlebih dahulu, seperti yang seharusnya dilakukan seorang penjaga, sebelum akhirnya aku tidak tahan lagi dan aku berlari, terlalu terlambat, selalu terlalu terlambat.*
Aku membaca kedua paragraf itu berulang kali, mencoba menemukan penanda yang bisa memberitahuku mana yang ditulis lebih dulu, mana yang jujur, mana yang hanya rasionalisasi seorang pria yang berusaha hidup dengan pilihannya sendiri. Tapi tulisan tangan ayahku sama persis di kedua versi—tidak ada perbedaan tekanan pena, tidak ada perubahan tinta yang bisa menunjukkan jeda waktu di antara keduanya.
Aku mencatat kedua versi itu berdampingan di buku catatanku, seperti yang selalu kulakukan dengan data yang kontradiktif—menuliskannya apa adanya, tanpa penilaian, membiarkan bukti berbicara sendiri. Tapi untuk pertama kalinya sejak aku mulai mencatat, tanganku berhenti di tengah kalimat, pena melayang di atas kertas, karena aku menyadari sesuatu yang mengganggu: aku tidak bisa memperlakukan ini sebagai data semata. Ini bukan sekadar kesaksian yang bisa diuji dan diverifikasi. Ini adalah kematian ibuku, ditulis ulang dua kali oleh tangan ayah yang mungkin tidak lagi tahu versi mana yang benar—atau, lebih buruk, yang tahu persis bedanya dan sengaja menulis keduanya agar tak seorang pun, termasuk dirinya sendiri, bisa memutuskan.
Aku menutup mataku sejenak, mencoba menata napas, sebelum melanjutkan membaca entri-entri berikutnya.
*
Di sinilah aku mulai memperhatikan sesuatu yang lebih mengganggu daripada isi tulisan itu sendiri: perubahan gayanya.
Entri-entri awal jurnal, yang kubaca tadi malam, ditulis dengan bahasa yang hampir puitis—kalimat panjang yang mengalir, deskripsi tentang laut dan cahaya yang terasa seperti seseorang yang mencintai pekerjaannya, mencintai kesunyian mercusuar, mencintai istrinya dengan cara yang tersirat di antara baris-baris tentang tugas dan tanggung jawab. Ada keteraturan dalam tulisan itu, semacam disiplin yang membuatku—meski enggan mengakuinya—merasa sedikit bangga menjadi anak dari pria yang menulis seindah itu.
Namun semakin aku maju ke halaman-halaman berikutnya, semakin dekat ke tanggal kematian ibuku dan seterusnya, gaya itu mulai retak. Kalimat menjadi lebih pendek, terputus-putus, kadang tidak selesai. Beberapa halaman hanya berisi pengulangan kata yang sama, ditulis berkali-kali seperti mantra:
Nyala tak boleh padam nyala tak boleh padam nyala tak boleh padam nyala—
—hingga tulisan itu memburuk menjadi coretan yang nyaris tak terbaca, tinta yang menembus kertas karena tekanan pena yang berlebihan, seolah tangan yang menulisnya sedang berperang dengan sesuatu yang tak bisa dilihat.
Aku duduk di sana, menatap halaman-halaman itu, dan menyadari sesuatu tentang diriku sendiri yang membuatku merasa mual: aku tidak lagi membaca jurnal ini sebagai bukti yang harus diuji. Aku membacanya seperti mencari alasan—mencari pembenaran—bahwa ayahku tidak gila, bahwa apa pun yang mendorongnya menulis kalimat-kalimat kacau ini adalah sesuatu yang nyata, sesuatu di luar dirinya, bukan penyakit yang tumbuh dari dalam.
Itu bertentangan dengan segala hal yang selama ini kubangga-banggakan tentang diriku—perfeksionisme dalam mencatat fakta, kemampuan untuk memisahkan keinginan dari kebenaran. Aku menutup jurnal itu perlahan, meletakkan tanganku di atas sampulnya yang lusuh, dan meraih buku catatanku sendiri.
Catatan kaki, tulisku, tanganku sedikit gemetar, aku tidak lagi yakin bisa membaca ini secara netral. Aku takut sedang mencari pembenaran, bukan kebenaran. Aku takut aku menjadi seperti dia—menipu diriku sendiri dengan dua versi cerita yang berdampingan, berharap salah satunya akan cukup untuk membuatku bisa hidup dengan apa yang terjadi.
Aku membaca ulang kalimat itu, lalu menutup buku catatanku dengan lebih keras dari yang kumaksudkan.
*
Sore mulai turun ketika aku akhirnya sampai ke halaman-halaman terakhir jurnal itu—halaman yang paling dekat dengan tanggal ayahku menghilang, tujuh tahun lalu.
Berbeda dengan halaman-halaman sebelumnya yang penuh dengan pengulangan kacau, entri terakhir ini justru mengejutkan karena kesederhanaannya. Hanya beberapa baris, ditulis dengan tangan yang tenang—terlalu tenang, pikirku, mengingat semua yang sudah kubaca sebelumnya.
Malam ini aku akan pergi sendiri ke Palung Sunyi. Aku sudah menunggu terlalu lama untuk memahami apa yang sebenarnya kujaga. Jika ini adalah caranya perjanjian ini berakhir, biarlah begitu. Aku sudah lelah menyalakan api untuk sesuatu yang tidak pernah kupilih untuk kutahan.
Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Tidak ada nama tempat yang lebih spesifik selain "Palung Sunyi"—yang belum pernah kutemukan disebutkan di peta mana pun yang kubawa, hanya di jurnal ini, seolah itu adalah nama yang hanya diketahui oleh mereka yang sudah cukup dekat dengan laut untuk mengenalinya tanpa perlu koordinat.
Aku membalik halaman berikutnya, berharap menemukan sesuatu—catatan susulan, penjelasan, apa pun.
Halaman itu kosong.
Aku membalik lagi, dan lagi, memeriksa apakah ada halaman yang sengaja disobek, tapi tidak ada. Jurnal itu berhenti begitu saja di kalimat itu, seolah waktu ayahku terputus tepat di titik ia menulis niatnya untuk pergi—seolah setelah menuliskan kalimat terakhir itu, ia benar-benar berjalan keluar dari rumah ini, menuruni tebing, dan tidak pernah kembali untuk menuliskan apa yang terjadi setelahnya.
Aku memeriksa tanggal di bagian atas halaman, membandingkannya dengan catatan resmi yang kumiliki tentang kapan ayahku dinyatakan hilang. Tanggalnya cocok. Persis.
Aku duduk di sana dalam keremangan yang mulai menguasai ruang kerja itu, lilin yang sudah kunyalakan sejak siang kini menjadi satu-satunya sumber cahaya, dan untuk pertama kalinya sejak aku memutuskan kembali ke Ujung Karang, aku merasakan sesuatu yang lebih dingin dari sekadar rasa penasaran ilmiah.
Aku sudah datang ke sini dengan misi untuk membuktikan bahwa ayahku waras—bahwa kematian ibuku adalah kecelakaan tragis, bukan kelalaian seorang pria gila, dan bahwa kepergiannya tujuh tahun lalu punya penjelasan yang bisa diterima akal sehat. Tapi duduk di sini sekarang, menatap kalimat terakhir yang ditulis tangan ayahku sendiri sebelum ia menghilang menuju tempat bernama Palung Sunyi—tempat yang bahkan tidak muncul di peta mana pun yang kupercaya—aku menyadari bahwa pertanyaan yang sebenarnya kubawa bukan lagi tentang kewarasan ayahku.
Pertanyaannya sekarang adalah apa yang menunggunya di sana. Dan apakah, dengan segala kekeraskepalaanku untuk mencatat setiap fakta dengan presisi yang dingin, aku sedang berjalan menuju jawaban yang sama seperti yang telah menelan ayahku—atau menuju sesuatu yang jauh lebih buruk.