Jalan masuk ke Desa Ujung Karang tidak pernah diaspal ulang sejak terakhir kali aku menginjaknya. Tanah merah bercampur pasir itu masih sama, masih retak-retak seperti kulit orang tua, dan bau garam masih menempel di udara seperti sesuatu yang enggan pergi. Aku berhenti sebentar di gerbang tak resmi desa itu—dua batu karang besar yang berdiri seperti gapura alami, ditumbuhi lumut hijau tua yang tampaknya sudah ada sejak sebelum aku lahir. Tas ranselku terasa lebih berat dari biasanya, meski isinya hanya buku catatan, alat perekam suara, dan tiga potong pakaian ganti. Barangkali beratnya bukan soal berat fisik.
Tujuh tahun. Aku menghitungnya lagi dalam hati, seolah angka itu bisa membuatku lebih siap. Tujuh tahun sejak aku menuruni tangga batu itu untuk terakhir kalinya, dengan koper yang isinya lebih banyak amarah daripada baju, dan sumpah yang kuucapkan pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah kembali ke tempat yang telah merenggut kewarasan ayahku dan nyawa ibuku.
Aku kembali sekarang, bukan karena sumpah itu batal, melainkan karena aku butuh membuktikan sesuatu—pada diriku sendiri, jika bukan pada dunia.
Kubuka buku catatanku, menuliskan tanggal dan waktu kedatangan dengan huruf yang kupaksakan tetap rapi meski tanganku sedikit gemetar. Aku selalu melakukan ini: mencatat, seakan kata-kata yang tertulis bisa menjinakkan apa pun yang liar di dalam diriku. Pukul empat lewat dua puluh menit sore. Langit mulai jingga di ufuk barat. Suhu udara terasa lebih dingin dari yang kuingat, atau mungkin aku saja yang berubah.
Dari kejauhan, aku bisa melihat mercusuar itu—menjulang di ujung tanjung seperti jari tua yang menuding langit, catnya yang dulu putih kini pudar jadi abu-abu kotor. Aku menahan napas sejenak. Ada sesuatu yang aneh ketika melihatnya lagi: bukan rasa rindu, bukan pula ketakutan murni, melainkan campuran keduanya yang membuat perutku terasa seperti ditarik ke dalam.
Aku memaksakan diri untuk berjalan. Seorang peneliti tidak boleh dikuasai oleh perasaannya sendiri, kataku dalam hati, meski aku tahu betul bahwa aku bukan peneliti sungguhan—aku hanya seseorang yang telah membaca terlalu banyak berkas kepolisian dan artikel usang tentang mercusuar-mercusuar tua di Nusantara, mencoba meyakinkan diri bahwa itu cukup untuk membuatku objektif.
*
Perkampungan nelayan tampak lebih sepi dari yang kuingat, meski mungkin ingatanku sendiri yang telah membesar-besarkan keramaiannya. Rumah-rumah kayu berdiri berjajar dengan cat yang mengelupas, jaring-jaring ikan tergantung di teras seperti jerat yang menunggu mangsa. Beberapa nelayan tua duduk di depan rumah mereka, mengisap rokok kretek sambil menatapku dengan mata yang terlalu tenang untuk disebut ramah.
"Permisi," kataku pada seorang perempuan tua yang sedang menjemur ikan asin di halaman rumahnya. "Saya mencari informasi tentang keluarga Ardaya. Wisesa Ardaya, penjaga mercusuar dulu."
Perempuan itu mengangkat wajahnya, menatapku dengan tatapan yang sulit kubaca—bukan permusuhan, bukan pula ketakutan, melainkan semacam kewaspadaan yang telah lama dilatih. "Kamu anaknya," katanya, bukan pertanyaan.
"Ya. Wulan Kirana."
Ia mengangguk pelan, lalu kembali membalik ikan-ikan asin di atas anyaman bambu. "Sudah lama sekali kamu tidak pulang."
"Tujuh tahun." Aku mencoba menahan diri agar tidak terdengar defensif. "Saya ingin bertanya tentang malam ibu saya... malam kejadian itu."
"Ah." Ia menghela napas panjang, seolah pertanyaan itu adalah beban yang harus ia pikul sesaat. "Sudah lama sekali. Ingatan orang tua seperti saya sudah tidak bisa dipercaya lagi."
Aku mencatat jawabannya dalam hati—ingatan orang tua seperti saya sudah tidak bisa dipercaya lagi—dan merasakan sesuatu yang ganjil dalam kalimat itu. Terlalu rapi. Terlalu siap diucapkan, seolah ia telah menyiapkannya jauh-jauh hari, menunggu pertanyaan itu datang.
Aku berpindah dari satu rumah ke rumah lain sepanjang sore itu, dan pola yang sama terus berulang. Seorang lelaki paruh baya yang dulu kukenal sebagai teman ayahku mengatakan bahwa malam itu "cuaca sedang buruk, ombak tinggi, dan hal semacam itu memang sering terjadi pada keluarga penjaga mercusuar." Seorang perempuan muda yang mungkin masih anak-anak saat kejadian itu terjadi malah bersikeras bahwa ia "tidak pernah dengar cerita apa-apa, mungkin salah orang." Ketika kutanyakan detail-detail kecil—jam berapa ibuku terakhir terlihat, siapa yang menemukan tubuhnya, apakah ayahku benar-benar berada di ruang lampu saat itu—jawaban mereka saling bertentangan seperti puzzle yang potongan-potongannya diambil dari kotak yang berbeda.
Aku duduk sebentar di dermaga kayu, membiarkan angin laut menampar wajahku, dan membuka buku catatanku lagi.
Pukul 17.45. Enam narasumber diwawancarai. Tidak ada kesamaan detail waktu maupun kronologi. Kemungkinan: (1) memori kolektif yang telah terdistorsi oleh waktu, (2) kesepakatan tak tertulis untuk tidak membicarakan kejadian tersebut, (3) trauma kolektif yang membuat warga menghindari topik. Perlu penyelidikan lebih lanjut.
Aku menulis kata "kesepakatan tak tertulis" dengan tinta yang sedikit menekan kertas lebih dalam dari kata-kata lainnya. Sesuatu di dalam diriku—bagian yang selalu kubungkam dengan logika—berbisik bahwa opsi kedua itulah yang benar. Tapi aku menutup buku itu dan menaruhnya kembali ke dalam tas, menolak untuk membiarkan firasat mengalahkan fakta yang belum kukumpulkan.
*
Tangga batu menuju Rumah Lama Keluarga Ardaya masih berdiri di sisi bukit karang, mendaki curam dari tepi desa menuju tanjung tempat mercusuar itu berjaga. Aku ingat setiap lekuknya—seratus dua puluh tiga anak tangga, aku pernah menghitungnya waktu kecil hanya untuk mengusir bosan—dan aku ingat pula bagaimana licinnya batu-batu itu setelah hujan, bagaimana lumut hijau tumbuh di celah-celahnya seperti urat yang menonjol di kulit orang tua.
Aku berdiri di anak tangga pertama, dan untuk sesaat, kakiku menolak bergerak.
Terakhir kali aku menaiki tangga ini, aku berjalan bersama ayahku, dan ia menggenggam tanganku begitu erat hingga aku bisa merasakan getaran di jarinya—getaran yang, saat itu, kukira karena usia tuanya, namun sekarang, dengan segala yang telah kubaca tentang gejala-gejala psikosis, aku curiga itu adalah sesuatu yang lebih dalam. Ia berkata sesuatu waktu itu, sesuatu yang tidak sepenuhnya kuingat—tentang cahaya, tentang janji, tentang sesuatu yang "harus tetap di bawah." Aku terlalu muda untuk mengerti, dan terlalu marah setelahnya untuk mau mengingat.
Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan udara laut yang asin memenuhi paru-paruku, lalu memaksakan kaki kananku melangkah ke anak tangga pertama.
Satu. Dua. Tiga.
Aku menghitung lagi, seperti dulu, meski kali ini bukan untuk mengusir bosan, melainkan untuk mengusir sesuatu yang jauh lebih sulit dijelaskan—semacam ketakutan yang tidak punya nama, yang menempel di tulang belakangku seperti lintah yang menolak dilepas.
Ketika aku sampai di anak tangga terakhir, napasku memburu bukan karena lelah fisik, melainkan karena sesuatu yang lebih dalam dari itu. Rumah Lama Keluarga Ardaya berdiri di hadapanku, tepat seperti yang kuingat—bahkan terlalu seperti yang kuingat, seolah waktu telah sepakat untuk berhenti berjalan di halaman rumput yang mengelilinginya. Dinding kayu yang mulai lapuk, atap seng yang berkarat di beberapa bagian, dan pintu depan yang catnya mengelupas namun tetap tertutup rapat, seperti mulut yang telah lama membisu.
Aku berdiri di depan pintu itu cukup lama, mungkin lima menit, mungkin lebih, membiarkan tanganku menggantung di udara tanpa berani menyentuh gagang pintu.
Kamu bukan anak kecil lagi, Wulan, kataku pada diriku sendiri. Kamu di sini untuk mengumpulkan bukti, bukan untuk merasa.
Aku mengeluarkan kunci dari saku jaketku—kunci yang kudapat dari kepala desa setelah proses birokrasi yang cukup melelahkan, mengingat status hukum ayahku yang masih menggantung entah di mana—dan memasukkannya ke lubang kunci yang berkarat. Butuh beberapa kali putaran dan dorongan sebelum akhirnya pintu itu berderit terbuka, mengeluarkan suara yang terdengar seperti erangan sesuatu yang telah lama tertidur dan tak ingin dibangunkan.
*
Bau debu dan kayu lembap menyergap begitu aku melangkah masuk. Aku berdiri di ambang pintu sejenak, membiarkan mataku menyesuaikan diri dengan kegelapan di dalam. Cahaya sore yang menerobos melalui celah-celah jendela menciptakan garis-garis keemasan yang jatuh di lantai berdebu, memperlihatkan jejak kaki—jejak kakiku sendiri, kusadari kemudian—yang mengganggu lapisan debu yang telah mengendap bertahun-tahun.
Ruang tamu masih tertata seperti yang kuingat: kursi rotan yang mulai lapuk, meja kayu bundar dengan taplak yang telah menguning, dan foto keluarga yang tergantung miring di dinding—aku, ayah, dan ibu, tersenyum dalam bingkai kayu yang kini ditutupi lapisan debu tebal seperti kain kafan tipis.
Aku menahan diri untuk tidak menghampiri foto itu terlebih dahulu. Sebaliknya, aku mengeluarkan buku catatanku dan mulai mencatat kondisi ruangan, seperti seorang detektif yang memeriksa TKP—meski TKP macam apa ini, aku sendiri belum yakin.
Ruang tamu: kondisi terjaga, minim kerusakan struktural. Debu menunjukkan tidak ada aktivitas manusia dalam waktu lama, kemungkinan sejak penyegelan rumah tujuh tahun lalu. Barang-barang tidak dipindahkan—kemungkinan warga desa menghindari rumah ini secara sengaja.
Keheningan di dalam rumah itu terasa berbeda dari keheningan biasa. Ini bukan keheningan yang kosong, melainkan keheningan yang seperti sedang menahan napas, seolah rumah itu sendiri sadar akan kehadiranku dan memilih untuk diam-diam mengawasi. Aku tahu ini tidak masuk akal—rumah tidak punya kesadaran, debu tidak punya niat—namun aku tetap merasakan bulu kudukku meremang setiap kali melangkah lebih dalam.
Aku menyusuri lorong sempit menuju ruang kerja ayahku, ruangan yang dulu selalu terkunci untukku sebagai anak-anak, ruangan yang penuh dengan peta laut, buku-buku tentang navigasi, dan alat-alat optik untuk merawat lensa mercusuar. Pintunya kali ini tidak terkunci—entah karena ayahku lupa menguncinya sebelum menghilang, atau karena seseorang telah membukanya sebelum aku datang, sebuah pikiran yang membuat tengkukku dingin.
Ruangan itu, anehnya, tampak lebih rapi dari yang kuingat. Peta-peta laut masih tergantung di dinding, garis-garis birunya memudar namun masih terbaca. Rak buku masih penuh, meski beberapa jilid tampak dikeluarkan dan diletakkan kembali dengan posisi yang tidak sepenuhnya rapi—seolah seseorang pernah mencarinya, atau ayahku sendiri yang terakhir kali menyentuhnya sebelum menghilang.
Dan di atas meja kerja itu, tepat di tengah, tergeletak sebuah jurnal berkulit usang, seperti sengaja ditinggalkan untuk ditemukan.
Aku berdiri mematung sejenak, menatap jurnal itu seolah ia bisa menatap balik.
Ini terlalu rapi, pikirku. Terlalu disengaja. Seolah seseorang tahu aku akan kembali, dan meninggalkan jurnal ini sebagai umpan.
Tapi tentu saja itu tidak masuk akal. Ayahku menghilang tujuh tahun lalu, dan tidak ada seorang pun yang memasuki rumah ini sejak saat itu—setidaknya begitulah yang dikatakan kepala desa padaku.
Aku melangkah mendekat, tanganku terulur, dan mengangkat jurnal itu dengan hati-hati seolah ia bisa hancur di sentuhan pertama.
*
Aku menarik kursi kayu di depan meja kerja itu, duduk, dan membuka halaman pertama jurnal itu di bawah cahaya senja yang mulai meredup dari jendela. Tulisan tangan ayahku—rapi namun agak miring ke kanan, khas orang yang menulis dengan tangan kiri meski ia kidal terpaksa karena kecelakaan masa kecilnya—memenuhi halaman-halaman itu dengan tinta yang mulai memudar menjadi cokelat.
Hari pertama sebagai penjaga penuh. Ayahku (kakekku, tentu saja, bagi Wulan kelak) mewariskan kunci ruang lampu padaku pagi ini, dengan wajah yang lebih mirip orang yang menyerahkan beban daripada warisan.
Aku mencatat tanggal entri itu—tiga puluh dua tahun lalu, dua tahun sebelum aku lahir—dan melanjutkan membaca.
Aturan pertama yang ia ajarkan: Nyala tak boleh padam. Dari senja hingga fajar, tanpa putus, tanpa kecuali. Aku bertanya kenapa, dan ia hanya menjawab, "Karena itu bagian dari perjanjian, dan perjanjian tidak butuh alasan untuk dipatuhi."
Aku mendengus pelan, geli sekaligus terganggu. Perjanjian. Kata itu terlalu berat untuk sekadar aturan kerja penjaga mercusuar. Aku menuliskan di marjin catatanku: Kemungkinan mitos lokal yang diwariskan turun-temurun untuk menjaga disiplin kerja. Perlu dikonfirmasi dengan sumber sejarah desa.
Aku melanjutkan membaca, melompati beberapa entri yang berisi catatan rutin tentang cuaca, kondisi lensa, dan jadwal pasokan minyak—hal-hal teknis yang membosankan namun setidaknya masuk akal—hingga aku sampai pada sebuah entri yang membuat jariku berhenti membalik halaman.
Aku mulai bertanya-tanya, apakah cahaya ini benar-benar untuk kapal-kapal itu. Aku sudah bertahun-tahun berjaga, dan aku tidak pernah melihat satu kapal pun yang benar-benar membutuhkan cahaya ini untuk berlayar aman. Rute pelayaran sudah berubah sejak lima puluh tahun lalu, tidak ada lagi kapal besar yang lewat perairan ini. Lalu untuk siapa nyala ini kupertahankan setiap malam?
Tanganku yang memegang pena berhenti bergerak. Aku membaca kalimat itu dua kali, tiga kali, mencoba mencari nada delusi di dalamnya, mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanyalah keraguan seorang penjaga tua yang mulai bosan dengan pekerjaannya. Namun ada sesuatu dalam cara ayahku menulis—terlalu tenang, terlalu rasional untuk seseorang yang sedang berhalusinasi—yang membuatku merasa tidak nyaman.
Aku melanjutkan membaca, dan menemukan entri lain, beberapa halaman setelahnya:
*Aku bertanya pada Pak Tua Reza (semoga arwahnya tenang) sebelum ia meninggal, tentang Palung Sunyi. Ia hanya tertawa dan berkata, "Kau sudah terlalu banyak berjaga sendirian, Sesa. Pikiranmu mulai membuat cerita sendiri." Tapi aku tahu apa yang kulihat malam itu, saat lampu sempat redup selama tiga menit karena kehabisan minyak. Air di bawah tebing bergolak seperti direbus, meski tidak ada angin, tidak ada badai. Dan ketika aku berhasil menyalakan kembali sumbu itu, air kembali tenang seolah tidak terjadi apa-apa.*
Aku menutup jurnal itu sejenak, menekan kelopak mataku dengan ibu jari dan telunjuk, mencoba mengumpulkan kembali kerangka berpikir rasional yang mulai retak di sudut-sudutnya.
Ini delusi, kataku pada diriku sendiri, mencoba keras untuk percaya. Isolasi bertahun-tahun sebagai penjaga mercusuar, tekanan psikologis, mitos lokal yang terinternalisasi—semua ini bisa menjelaskan kenapa seseorang mulai menciptakan narasi semacam ini untuk dirinya sendiri.
Aku membuka buku catatanku dan menulis dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil:
Catatan: Entri jurnal menunjukkan pola pikir yang konsisten dengan gejala awal psikosis—keyakinan bahwa tindakan rutin (menyalakan lampu) memiliki tujuan tersembunyi yang lebih besar dari fungsi nyatanya. Perlu dibandingkan dengan diagnosis psikologis yang mungkin pernah dibuat terhadap Wisesa Ardaya, jika ada catatan medis yang bisa diakses.
Namun bahkan saat aku menuliskan kata-kata itu, ada sesuatu di dalam diriku yang menolak untuk sepenuhnya percaya pada penjelasan itu sendiri. Sesuatu dalam cara ayahku menulis tentang air yang "bergolak seperti direbus" terasa terlalu spesifik, terlalu jelas untuk sekadar imajinasi yang liar. Orang yang berhalusinasi biasanya tidak mencatat detail teknis seperti durasi tiga menit padamnya lampu, atau menghubungkannya dengan sebab-akibat yang begitu presisi.
Aku menggeleng, mencoba mengusir pikiran itu, dan melanjutkan membaca beberapa halaman lagi sebelum akhirnya cahaya senja yang masuk lewat jendela menjadi terlalu redup untuk membaca dengan nyaman.
*
Aku memutuskan untuk menjelajahi bagian lain rumah sebelum gelap sepenuhnya turun, dan langkahku membawaku ke kamar yang dulu ditempati ibuku—kamar yang letaknya terpisah dari kamar utama, karena ibuku, kudengar dari cerita-cerita samar masa kecilku, sering tidur terpisah dari ayahku pada bulan-bulan terakhir sebelum kematiannya, dengan alasan yang tidak pernah benar-benar dijelaskan padaku.
Kamar itu lebih kecil dari yang kuingat, dengan dipan kayu yang kasurnya sudah lama dilepas, meninggalkan rangka kosong yang terlihat seperti tulang rusuk binatang purba. Lemari pakaian di sudut ruangan masih tertutup rapat, dan aku tidak berani membukanya dulu—entah kenapa, ada semacam keengganan yang tidak bisa kujelaskan, seperti tubuhku tahu sesuatu yang belum siap diketahui pikiranku.
Perhatianku justru tertarik pada jendela kamar itu, tempat sehelai kain biru tergantung, bergoyang pelan meski tidak ada angin yang cukup kuat untuk menggerakkannya di dalam ruangan tertutup itu.
Aku mendekat, jantungku berdegup lebih cepat dari yang seharusnya untuk sesuatu yang sesederhana selembar kain.
Itu selendang ibuku. Aku mengenalinya seketika—biru tua dengan motif bunga-bunga kecil berwarna putih di tepiannya, kain yang selalu dikenakannya setiap kali ia berjalan menuju dermaga untuk menyambut ayahku pulang dari mercusuar. Aku ingat bagaimana kain itu berkibar di belakangnya seperti sayap ketika angin laut bertiup kencang, dan bagaimana ia akan tertawa sambil mengejar ujung kainnya yang terbang, tawa yang begitu ringan hingga terasa mustahil bahwa perempuan yang sama akan ditemukan tenggelam di bawah tebing karang beberapa tahun kemudian.
Tanganku terulur, hampir tanpa kusadari, menyentuh kain itu.
Basah.
Aku menarik tanganku secepat aku menyentuhnya, seolah kain itu membakar kulitku. Aku menatap jari-jariku, dan benar saja, ada bekas lembap di ujung jari telunjuk dan tengahku, seolah aku baru saja mencelupkannya ke dalam air.
Aku menatap selendang itu lagi, mencoba mencari penjelasan logis. Mungkin ada kebocoran di atap yang membuat air merembes hingga ke jendela ini. Mungkin kelembapan udara laut yang terperangkap di dalam kain selama bertahun-tahun. Mungkin—
Tapi rumah ini kering. Aku sudah memeriksa langit-langit ruang tamu dan ruang kerja, tidak ada tanda-tanda kebocoran, tidak ada bercak air di dinding manapun. Dan kelembapan udara tidak akan membuat kain terasa basah seperti baru saja dicelup, bukan setelah tujuh tahun tergantung di ruangan tertutup yang bahkan berdebu tebal di setiap permukaannya kecuali kain ini.
Aku menyentuhnya lagi, kali ini dengan lebih hati-hati, dan rasa dingin serta basah itu masih ada, nyata, tidak bisa disangkal oleh logika macam apa pun yang coba kubangun dalam kepalaku.
Dengan tangan yang gemetar, aku mengeluarkan buku catatanku dan mencoba menulis, meski huruf-hurufku kali ini jauh dari rapi yang biasa kubanggakan.
Temuan: Selendang biru milik Saraswati Ardaya (ibu) ditemukan tergantung di jendela kamar. Kain terasa basah meski kondisi rumah kering dan tidak ada indikasi kebocoran. Kemungkinan penjelasan: [aku berhenti, pena tergantung di atas kertas, tidak menemukan kelanjutan kalimat yang masuk akal]
Aku tidak bisa melengkapi catatan itu. Untuk pertama kalinya sejak aku memutuskan kembali ke Ujung Karang, aku tidak memiliki penjelasan logis untuk sesuatu yang kusaksikan dengan mata dan tanganku sendiri.
*
Malam telah sepenuhnya turun ketika aku kembali ke ruang kerja ayahku, membawa lilin yang kutemukan di dapur (aku menolak menyalakan listrik rumah itu, meski entah kenapa listriknya masih menyala—satu misteri kecil lagi yang kusimpan untuk kemudian) dan duduk kembali di kursi kayu di depan mejanya.
Aku menatap jurnal itu, lalu menatap jendela gelap di seberang ruangan, dari mana—jika aku memiringkan kepala sedikit—aku bisa melihat siluet mercusuar di kejauhan, gelap dan sunyi, karena tentu saja tidak ada yang menyalakannya lagi sejak ayahku menghilang.
Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa semua ini bisa dijelaskan. Kelelahan perjalanan, trauma yang terpendam selama tujuh tahun, sugesti dari membaca jurnal seorang pria yang mungkin memang mengalami gangguan jiwa—semua ini bisa menciptakan pengalaman-pengalaman yang terasa nyata namun sesungguhnya hanyalah proyeksi dari pikiranku sendiri yang lelah dan rentan.
Tapi ada sesuatu yang mengganjal di dasar pikiranku, sesuatu yang menolak untuk sepenuhnya percaya pada penjelasan rasional itu. Aku datang ke sini untuk membuktikan bahwa ayahku bukan orang gila yang lalai membiarkan ibuku mati. Aku datang dengan keyakinan bahwa kebenaran, betapa pun kelam dan menyakitkan, akan selalu lebih masuk akal daripada mitos-mitos yang diwariskan turun-temurun oleh sebuah desa nelayan yang penuh takhayul.
Namun sekarang, duduk sendirian di ruangan yang dulu adalah kerajaan kecil ayahku, dengan jurnal penuh kalimat-kalimat yang seharusnya kusebut delusi namun terasa terlalu presisi untuk itu, dan dengan bekas lembap yang masih terasa di jari-jariku dari selendang yang seharusnya sudah kering selama tujuh tahun—aku mulai mempertanyakan apakah kebenaran yang kucari benar-benar akan lebih mudah kuterima daripada kegilaan yang selama ini kutuduhkan padanya.
Aku memutuskan untuk tetap tinggal malam ini di rumah itu, meski setiap serat rasionalku berteriak bahwa aku seharusnya kembali ke penginapan di desa, ke tempat yang lebih... normal.
Aku membuka kembali jurnal itu ke halaman yang tadi kutinggalkan, menyalakan lilin kedua agar cahayanya cukup untuk membaca, dan mulai membaca lagi entri-entri berikutnya, meski tanganku—untuk pertama kalinya sejak aku bisa mengingat—tidak sepenuhnya berhenti gemetar.
Di luar jendela, angin laut mulai bertiup lebih kencang, membawa suara debur ombak yang memukul karang di bawah tebing—suara yang, entah kenapa, malam ini terdengar lebih seperti sesuatu yang sedang bernapas daripada sekadar gerakan air yang biasa.
Aku menutup jurnal itu sejenak, menatap nyala lilin yang berkedip pelan, dan untuk pertama kalinya sejak aku memutuskan untuk kembali ke Ujung Karang, aku membiarkan diriku bertanya—hanya dalam hati, hanya sekali, karena aku terlalu takut untuk menuliskannya di buku catatanku sendiri—apakah aku sedang mencari kebenaran, atau sedang berjalan mendekati sesuatu yang seharusnya tetap tertidur di dasar laut.