Tangga batu menuju Mercusuar Tanjung Sengkala lebih curam dari yang kuingat. Aku menghitung anak tangganya dulu, waktu kecil, sambil menggenggam tangan Ibu—seratus tujuh puluh tiga, kataku waktu itu, dan Ibu tertawa, bilang aku terlalu suka angka untuk anak seusiaku. Sekarang aku menghitung lagi, bukan karena ingin bernostalgia, tapi karena menghitung adalah satu-satunya cara aku tahu bagaimana membuat tubuhku terus bergerak ke atas.
Empat puluh dua. Empat puluh tiga.
Jurnal ayahku ada di tas selempang, terjepit di antara buku catatanku sendiri seperti dua kesaksian yang tak sepenuhnya sepakat. Aku sudah membaca halaman terakhirnya berkali-kali sepanjang siang, mencoba menempatkannya dalam kerangka yang masuk akal—seorang pria yang depresi, yang lelah, yang memutuskan mengakhiri hidupnya dengan cara yang paling puitis yang bisa ia bayangkan: berjalan menuju laut yang telah mengambil istrinya. Itu penjelasan yang rasional. Itu penjelasan yang bisa kutuliskan di catatanku tanpa perlu menambahkan tanda tanya di akhir kalimat.
Tapi kakiku tidak percaya penjelasan itu. Kakiku terus melangkah ke atas seolah ada sesuatu di puncak yang memanggil, dan aku membenci diriku sendiri karena membiarkan tubuhku berpikir sesuatu yang tak sanggup kupikirkan secara sadar.
Catatan lapangan, kataku dalam hati, mencoba menenangkan diri dengan bahasa yang biasa kupakai. Aku sedang melakukan verifikasi lokasi. Tidak lebih.
Tapi bahkan kalimat itu terdengar seperti kebohongan yang kususun untuk diriku sendiri.
Matahari sudah rendah ketika aku mencapai anak tangga terakhir—seratus tujuh puluh tiga, tepat seperti ingatanku, seolah waktu tujuh tahun tak mengubah apa pun kecuali orang-orang yang menaikinya. Pintu ruang lampu tidak terkunci. Aku ragu sesaat sebelum mendorongnya, setengah berharap menemukan ruangan yang berdebu dan usang, sesuatu yang bisa kufoto sebagai bukti bahwa tempat ini sudah lama ditinggalkan, tak lebih dari reruntuhan sentimental.
Yang kutemukan justru sebaliknya.
Lensa kaca lampu itu bersih. Bukan bersih yang menandakan seseorang baru saja membersihkannya—tidak ada bau minyak pembersih, tidak ada kain lap tergantung di sudut—tapi bersih seperti debu memang tak pernah berani hinggap di sana. Sumbu lampu masih terpasang rapi di tempatnya, minyak masih terisi di reservoir kaca seolah menunggu untuk dipakai malam ini juga, bukan tujuh tahun yang lalu.
Aku berdiri di ambang pintu, dan untuk pertama kalinya sejak aku memutuskan mendaki tebing ini, aku merasakan sesuatu yang tak bisa kujelaskan dengan logika apa pun yang kumiliki: ruangan ini terasa seperti sedang menunggu.
Matahari mulai tenggelam di belakangku, mewarnai dinding batu ruang lampu dengan jingga yang perlahan berubah ungu. Aku tahu, dari semua yang telah kubaca, bahwa nyala harus dinyalakan sebelum senja benar-benar hilang. Aku tahu itu sebagai fakta antropologis, sebagai kepercayaan lokal yang menarik untuk dicatat. Aku tidak tahu—tidak pernah benar-benar mempercayai—bahwa itu berarti sesuatu bagiku secara pribadi.
Tapi aku berjalan mendekati sumbu lampu itu juga.
*
Korek api di tanganku terasa lebih berat dari yang seharusnya. Aku menyalakannya dua kali, dan dua kali padam sebelum mencapai sumbu, meski tak ada angin di ruangan tertutup itu yang bisa menjelaskan mengapa apinya mati begitu cepat. Pada percobaan ketiga, tanganku gemetar begitu hebat hingga aku harus menahannya dengan tangan yang lain, seperti anak kecil yang baru belajar menulis namanya sendiri.
Aku berhenti sejenak, korek menyala di antara jariku, dan bertanya pada diriku sendiri pertanyaan yang telah kuhindari sepanjang hari: apa yang sebenarnya kulakukan di sini?
Jika aku menyalakan api ini, aku mengakui—setidaknya pada diriku sendiri—bahwa ada sesuatu untuk diakui. Bahwa Darah Penjaga bukan sekadar takhayul yang diwariskan orang-orang pesisir yang kesepian untuk memberi makna pada tragedi yang tak masuk akal. Bahwa ayahku, ketika ia menulis tentang menjaga sesuatu di Palung Sunyi, mungkin tidak sedang berhalusinasi.
Seluruh proyekku—buku catatan ini, wawancara-wawancara yang kurekam, jurnal yang kubaca dengan mata seorang peneliti—semuanya dibangun di atas satu keyakinan dasar: bahwa ada penjelasan yang rasional untuk setiap hal yang terjadi pada keluargaku. Bahwa ayahku sakit, bukan terkutuk. Bahwa ibuku tenggelam karena kelalaian manusia, bukan karena sesuatu yang lebih besar menuntutnya.
Menyalakan api ini dengan tanganku sendiri terasa seperti mengkhianati proyek itu.
Tapi aku menyalakannya juga.
Sumbu itu menyambar api lebih cepat dari yang seharusnya mungkin—aku tahu itu, karena aku sudah pernah menyalakan lilin dan lampu minyak sebelumnya, tahu berapa detik yang biasanya dibutuhkan sumbu basah minyak untuk benar-benar menyala penuh. Ini tidak seperti itu. Api itu menyambar seperti sudah menunggu, seperti sudah tahu tanganku akan datang, dan dalam sepersekian detik ruang lampu itu dipenuhi cahaya yang jauh lebih terang dari yang bisa dihasilkan sumbu sekecil itu.
Aku melangkah mundur, jantungku berdebar dengan cara yang tak bisa kucatat dalam bahasa ilmiah mana pun.
Ini hanya kebetulan fisika yang belum kupahami, kataku pada diriku sendiri. Tapi kalimat itu, untuk pertama kalinya sejak aku mulai menulis catatan-catatanku, terdengar kosong bahkan di telingaku sendiri.
*
Aku memutuskan untuk keluar ke balkon, mencari udara yang lebih jujur dari ruangan yang baru saja membuatku meragukan diriku sendiri.
Laut di bawah sana gelap sempurna, hanya diterangi jalur cahaya dari lampu yang baru kunyalakan, memanjang seperti jalan yang mengarah ke satu titik di kejauhan—titik yang, menurut peta yang tak pernah kupercaya sepenuhnya, adalah lokasi Palung Sunyi.
Aku membuka buku catatanku, memaksa diriku menuliskan sesuatu yang objektif. 20:47. Api dinyalakan pukul 18:32. Cuaca cerah, angin tenggara, kecepatan sedang. Kalimat-kalimat itu terasa aman, seperti mantra yang bisa melindungiku dari apa pun yang mungkin terjadi setelahnya.
Lalu aku mendengarnya.
Bukan deru ombak biasa—aku sudah mendengar suara laut sepanjang hidupku, cukup untuk tahu perbedaan antara gemuruh air yang menabrak karang dan sesuatu yang lain. Suara ini datang dari arah yang sama dengan jalur cahaya lampu, berirama, seperti bisikan yang diulang-ulang tanpa henti, terlalu jauh untuk kupahami katanya namun terlalu dekat untuk kuabaikan.
Aku menajamkan pendengaran, mencari penjelasan. Mungkin angin melewati celah karang tertentu. Mungkin ada gua di bawah tebing yang menciptakan resonansi aneh. Aku menuliskan kemungkinan-kemungkinan itu di buku catatanku, satu per satu, seperti daftar belanja rasionalitas.
Permukaan laut di bawah jalur cahaya mulai beriak—bukan riak biasa yang mengikuti arah angin, tapi pola yang bergerak melawannya, seperti sesuatu di bawah permukaan sedang bernapas.
Aku menulis itu juga. Tanganku bergerak cepat, berusaha menangkap setiap detail sebelum ingatanku mengkhianatiku dengan berlebihan, tapi ketika aku membaca ulang kalimat yang baru kutulis, aku menyadari sesuatu yang belum pernah kurasakan sepanjang karierku sebagai pencatat fakta: aku tidak percaya pada tulisanku sendiri.
Bukan karena aku pikir aku berbohong. Tapi karena untuk pertama kalinya, aku tidak yakin apakah yang kutulis adalah pengamatan atau ketakutan yang menyamar sebagai pengamatan. Garis antara keduanya, yang selama ini kubayangkan setebal tembok, tiba-tiba terasa setipis kertas jurnal yang kubawa dalam tasku.
*
Aku kembali ke dalam ruang lampu tengah malam, mencoba mencari perlindungan dalam rutinitas—memeriksa sumbu, mencatat level minyak, apa pun yang bisa membuat tanganku sibuk dengan sesuatu yang terukur dan pasti.
Jurnal ayahku masih terbuka di meja kerja tempat aku meninggalkannya siang tadi, di halaman yang kukira adalah halaman terakhir. Tapi ketika aku duduk kembali untuk memeriksanya, jariku menemukan sesuatu yang tak kusadari sebelumnya—halaman berikutnya tidak benar-benar kosong. Ada lipatan kecil di sudut kertas, seperti dua halaman yang menempel karena kelembapan lama, dan ketika aku memisahkannya dengan hati-hati, aku menemukan tulisan yang belum pernah kubaca.
Tintanya lebih pudar dari halaman-halaman sebelumnya, seolah ditulis dengan pena yang hampir kehabisan tinta, atau dengan tangan yang menulis dalam gelap.
Utang telah dibayar.
Hanya itu, di baris pertama. Aku menahan napas, membaca ulang kalimat itu tiga kali sebelum melanjutkan ke baris berikutnya, karena sesuatu dalam diriku sudah tahu—entah bagaimana, entah dari mana pengetahuan itu datang—bahwa apa yang akan kubaca selanjutnya bukan sekadar tulisan biasa.
Wulan, jika kau membaca ini, berarti kau sudah menaiki tangga itu. Aku tahu kau akan datang, meski aku tak pernah bisa menjelaskan bagaimana aku tahu. Mungkin karena aku mengenal keras kepalamu lebih baik dari yang kau kira. Mungkin karena perjanjian ini sudah tahu siapa yang akan menggantikanku, jauh sebelum aku sendiri memahaminya.
Tanganku berhenti bergerak. Bukan gemetar—berhenti sepenuhnya, seperti otot-ototku lupa cara bekerja.
Aku menunggu suara di kepalaku—suara skeptis yang biasa muncul otomatis setiap kali aku membaca sesuatu yang terlalu ganjil untuk diterima begitu saja, suara yang biasanya berkata, ini bisa jadi kebetulan, ini bisa jadi proyeksi, ini bisa jadi— Tapi suara itu tidak datang. Untuk pertama kalinya sejak aku mulai membaca jurnal ini, aku tidak punya kalimat untuk menetralkan apa yang baru saja kubaca.
Aku hanya duduk di sana, di ruang lampu yang diterangi api yang menyala dengan caranya sendiri, memegang jurnal ayahku yang seolah menulis surat untuk seseorang yang belum ada ketika ia menuliskannya—dan menyadari bahwa ketakutan yang kurasakan sekarang bukan ketakutan seorang peneliti yang menemukan data yang mengganggu hipotesisnya.
Ini ketakutan seorang anak yang menyadari ayahnya mungkin tahu sesuatu tentang dirinya yang bahkan tak pernah ia ketahui sendiri.
*
Aku turun ke tebing di luar mercusuar menjelang dini hari, membutuhkan udara yang lebih luas dari ruangan yang telah menghimpitku dengan begitu banyak hal yang tak bisa kujelaskan.
Palung Sunyi terbentang di bawah sana, gelap dan tenang, dengan jalur cahaya dari mercusuar memotongnya menjadi dua bagian yang tak sama. Aku mencari bayangan yang tadi kulihat dari balkon, dan untuk sesaat aku pikir aku melihatnya lagi—sesuatu yang bergerak di bawah permukaan, terlalu besar untuk ikan, terlalu teratur untuk arus biasa. Tapi ketika aku mengedipkan mata dan menatap lebih fokus, hanya ada air, hitam dan diam, memantulkan cahaya lampu seperti cermin yang sedikit retak.
Aku tidak tahu lagi mana yang nyata.
Suara Kakek Broto kembali terngiang di kepalaku—perjanjian ini menuntut sesuatu yang hilang dari keluarga penjaga sendiri—bercampur dengan potongan-potongan kalimat ibuku yang kubaca dari surat-surat lamanya, kalimat yang dulu kubaca sebagai metafora puitis tentang kesepian seorang istri penjaga mercusuar, tapi sekarang terdengar seperti sesuatu yang jauh lebih literal. Ada malam-malam ketika aku merasa laut ini menatap balik, tulis ibuku suatu kali, dan aku dulu mencatatnya sebagai contoh gaya bahasa yang indah namun tak berarti apa-apa secara faktual.
Sekarang aku tidak yakin mana ingatan, mana rekaan, mana fakta yang kucatat dan mana ketakutan yang menyamar sebagai fakta.
Tanganku mencari bekas luka di pergelangan kiriku—kebiasaan lama yang muncul setiap kali dunia terasa terlalu tak terkendali untuk kupahami, jariku menyusuri garis tipis itu seperti mencari sesuatu yang nyata untuk dipegang, sesuatu yang benar-benar milikku dan bukan warisan siapa pun.
Tapi bahkan luka itu, kusadari malam itu, adalah bagian dari sejarah yang tak pernah kujelaskan pada siapa pun—termasuk pada diriku sendiri.
Aku berdiri di tepi tebing itu untuk waktu yang lama, cukup lama hingga dingin malam menusuk melalui jaketku, mencoba mencari jawaban yang tak kunjung datang. Dan perlahan, aku menyadari sesuatu yang lebih menakutkan dari semua suara dan bayangan yang telah kusaksikan malam ini: aku mungkin tidak akan pernah tahu kebenarannya. Tidak dengan cara yang bisa kucatat, kuverifikasi, kubuktikan pada siapa pun yang bertanya.
*
Fajar mulai mendekat ketika aku kembali ke ruang lampu, dan aku tahu aku harus memutuskan sesuatu sebelum cahaya pertama menyentuh cakrawala.
Aku bisa membiarkan api ini padam. Aku bisa berjalan menuruni seratus tujuh puluh tiga anak tangga itu, kembali ke kota, menyelesaikan buku catatanku dengan kesimpulan yang membingungkan namun aman: bahwa keluarga Ardaya adalah korban trauma turun-temurun, delusi kolektif yang diperkuat oleh isolasi geografis dan kesedihan yang tak terselesaikan. Aku bisa menutup pintu mercusuar ini selamanya, mengakhiri garis keturunan penjaga tanpa pernah tahu apakah ada sesuatu yang sebenarnya perlu dijaga.
Atau aku bisa memilih untuk tidak tahu—memilih untuk terus menyalakan api ini malam demi malam, tanpa pernah benar-benar yakin apakah aku sedang mempertahankan perjanjian yang nyata atau sekadar melanjutkan kegilaan yang diwariskan dari darah ke darah.
Tidak ada bukti yang bisa kupegang untuk memilih salah satu. Itulah yang paling menyiksa—bahwa setelah semua wawancara, semua catatan, semua usaha kerasku untuk menjadi peneliti yang objektif, aku tetap harus memutuskan sesuatu berdasarkan ketidaktahuan murni.
Jika perjanjian itu nyata, dan aku membiarkan api ini padam, apa yang akan terjadi pada desa yang selama ini bahkan enggan mengakui secara terbuka bahwa mereka mempercayainya? Aku memikirkan wajah-wajah yang kutemui sejak kedatanganku—kesopanan dingin mereka, cara mereka menghindari topik ini seperti menghindari luka lama. Mereka mungkin tidak percaya, tapi mereka juga tidak berani tidak percaya. Bagaimana jika ketakutan mereka yang tak terucap itu berdasar?
Dan jika itu hanya kegilaan, jika aku memilih untuk terus menyalakan api ini, bukankah aku hanya menyerahkan hidupku pada delusi yang sama yang menghancurkan ayah dan ibuku—duduk sendirian di puncak tebing ini malam demi malam, berbicara pada laut yang tak pernah menjawab, menunggu utang yang tak pernah benar-benar ada?
Aku tidak tahu jawabannya. Aku sadar, dengan kepahitan yang aneh tenangnya, bahwa aku tidak akan pernah tahu.
Tapi aku juga tahu satu hal lain: aku tidak sanggup menanggung risiko jika aku salah.
Bukan karena aku yakin perjanjian itu nyata. Tapi karena ketidaktahuanku sendiri terlalu berbahaya untuk dijadikan alasan meninggalkan sesuatu yang mungkin—hanya mungkin—menjaga lebih banyak nyawa daripada sekadar nyawaku sendiri.
Aku menyalakan sumbu itu lagi malam berikutnya. Bukan karena aku percaya. Tapi karena aku tidak bisa lagi berpura-pura bahwa ketidakpercayaanku cukup kuat untuk menanggung akibatnya jika aku keliru.
*
Pagi datang dengan cahaya lembut yang menyusup melalui jendela ruang lampu, menghapus warna jingga api yang sepanjang malam telah menjadi satu-satunya teman bagiku di puncak mercusuar ini. Aku memadamkannya perlahan, seperti yang kubaca di jurnal ayahku harus dilakukan—bukan ditiup begitu saja, tapi dibiarkan meredup dengan sendirinya seiring datangnya terang matahari, seolah api itu tahu kapan tugasnya selesai untuk sementara.
Aku duduk di kursi kayu tua yang mungkin pernah diduduki ayahku, kakeknya, dan entah berapa generasi sebelum mereka, menatap jurnal yang masih terbuka di halaman terakhir yang berisi namaku sendiri.
Aku tidak menutup buku itu untuk mencari penjelasan lebih lanjut. Aku sudah berhenti berharap menemukan penjelasan.
Sepanjang hidupku, aku membangun identitasku di atas kemampuan mencatat fakta dengan presisi—setiap detail diverifikasi, setiap klaim diuji, setiap kesimpulan didukung bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Itulah caraku bertahan setelah kehilangan ibuku, setelah kehilangan ayahku dua kali—sekali ketika ia menghilang secara fisik, dan sekali lagi ketika desa mulai menyebutnya gila. Menjadi pencatat fakta adalah caraku menolak menjadi bagian dari cerita yang tak masuk akal itu.
Tapi duduk di sini sekarang, dengan tubuh lelah setelah semalam penuh, aku menyadari bahwa sebagian besar hidup keluargaku—hidup ayahku, hidup ibuku, dan mungkin sekarang hidupku sendiri—akan selamanya berada di luar jangkauan pembuktian. Tidak semua yang nyata bisa diverifikasi. Tidak semua kebenaran mau menyerahkan dirinya pada metode ilmiah, sekeras apa pun aku memaksanya.
Aku menutup jurnal itu perlahan, menaruhnya kembali di rak kayu di sudut ruang lampu, di sebelah buku catatanku sendiri yang kini penuh dengan pengamatan yang tak sepenuhnya bisa kupercaya sebagai fakta murni. Dua buku itu berdampingan sekarang—catatan ayah yang kacau dan penuh kontradiksi, serta catatanku yang kubangun dengan begitu banyak usaha untuk tetap dingin dan objektif, namun berakhir dengan keraguan yang sama.
Aku tidak tahu apakah aku akan pernah bisa membuktikan bahwa ayahku bukan orang gila. Aku tidak tahu apakah aku akan pernah bisa membuktikan bahwa kematian ibuku murni kecelakaan, atau bahwa mercusuar ini benar-benar menahan sesuatu di dasar Palung Sunyi, atau bahwa aku sendiri, dengan darah yang mengalir dalam tubuhku, benar-benar memiliki kuasa yang diklaim jurnal ini sebagai warisan.
Tapi aku akan kembali malam ini. Dan malam berikutnya.
Bukan karena aku telah menemukan jawaban.
Tapi karena aku akhirnya memahami bahwa sebagian kebenaran—mungkin yang paling penting dari semuanya—tidak pernah dimaksudkan untuk dibuktikan.
Hanya untuk dijalani.