Peta kasar yang kutemukan di antara halaman-halaman terakhir buku catatan Ibu tidak menunjukkan jalan, melainkan luka. Garis-garisnya menyerupai sayatan yang sengaja dibuat kasar, seolah tangan yang menggambarnya sedang menahan sesuatu—rasa sakit, atau mungkin rasa takut ditemukan. Di sudut kanan bawah, tertulis satu kalimat kecil dengan tinta yang sudah memudar: pintu itu hanya terbuka untuk yang berani lupa jalan pulang.
Aku tidak sepenuhnya memahami kalimat itu sampai Damar dan aku berdiri di depan celah batu yang nyaris tak kasat mata, tersembunyi di balik rimbunan akar murbei tua di kedalaman hutan kota, tak jauh dari batas yang resmi tercatat di peta administratif Wanasari. Tidak ada plang. Tidak ada jalan setapak yang jelas. Hanya tanah yang menurun tajam, seakan pernah longsor bertahun-tahun lalu dan tak pernah benar-benar berhenti bergerak.
"Kau yakin ini benar?" bisik Damar, tas kulitnya ia dekap seperti perisai. Jari-jarinya, yang biasanya lincah membuka amplop dan menyortir surat, kini gemetar memegang senter kecil.
"Tidak," jawabku jujur. "Tapi ini satu-satunya petunjuk yang kupunya."
Kami melangkah mendekat, dan tanah di bawah sepatuku terasa aneh—bukan lembap seperti tanah hutan biasa, melainkan hangat, seolah ada sesuatu yang bernapas tepat di bawah permukaannya. Akar-akar di sekeliling celah itu bergerak pelan, seperti ular yang menyadari ada mangsa mendekat. Aku bersumpah salah satu ujung akar menoleh ke arah kami—meski aku tahu akar tidak punya mata, tidak punya cara untuk menoleh.
"Ranti," Damar berbisik lagi, suaranya lebih kecil dari biasanya, "aku punya firasat buruk soal ini."
"Kau selalu punya firasat buruk soal segalanya."
"Kali ini beda. Ini seperti..." ia berhenti, mencari kata yang tepat, "...seperti tempat ini tahu nama kita."
Aku tidak menjawab, karena aku merasakan hal yang sama—sensasi diawasi oleh sesuatu yang tidak memiliki mata, namun entah bagaimana mengenali kehadiran kami lebih baik daripada cermin mengenali wajah sendiri.
Celah batu itu cukup lebar untuk satu orang menyelinap masuk dengan menyamping. Aku menyalakan senter, mengarahkannya ke bawah, dan yang kulihat bukan gua biasa. Dinding-dindingnya berkilau lemah, ditumbuhi jaringan akar sebesar lengan orang dewasa yang menjalar turun ke kedalaman yang tak terlihat ujungnya. Dan tepat saat aku melangkah masuk, suara itu datang—panjang, dalam, bergema dari batu-batu di sekelilingku, seperti seseorang menarik napas dari paru-paru sebesar katedral.
Damar membeku di belakangku. "Itu—itu tadi..."
"Aku dengar," kataku, meski suaraku sendiri terasa asing di telingaku. "Ayo. Kita sudah sejauh ini."
Kami turun ke dalam kegelapan yang menyambut kami bukan dengan dingin, melainkan dengan kehangatan yang salah tempat—kehangatan tubuh, bukan kehangatan tanah.
---
Lorong-lorong di dalam gua itu tidak mengikuti logika apa pun yang pernah kupelajari tentang arsitektur bawah tanah. Mereka melengkung, menyempit, lalu tiba-tiba melebar menjadi ruang seluas aula, semuanya diterangi oleh cahaya biru kehijauan yang memancar dari urat-urat akar raksasa yang menempel di dinding seperti pembuluh darah pada kulit tipis. Cahaya itu berdenyut—naik dan turun, naik dan turun—dengan ritme yang membuatku merasa seperti berjalan di dalam dada seseorang.
"Kau lihat itu?" Damar menunjuk ke salah satu dinding, di mana denyut cahaya tampak semakin cepat setiap kali kami mendekat. "Itu seperti... detak jantung."
"Jangan sentuh," kataku, meski aku sendiri tidak yakin kenapa aku memperingatkannya. Naluri saja.
Tapi semakin dalam kami berjalan, semakin sulit aku memusatkan pikiran. Cahaya itu punya cara aneh untuk membengkokkan persepsi jarak—satu lorong yang seharusnya pendek terasa memanjang selamanya, sementara lorong lain yang tampak jauh tiba-tiba berakhir dalam tiga langkah. Damar mulai terhuyung di sampingku, tangannya menyentuh dahi.
"Kepalaku," gumamnya. "Rasanya seperti... ada yang berdenyut di dalam sini juga."
"Kita istirahat sebentar—"
Kalimatku terputus ketika senterku menangkap sesuatu yang tersangkut di antara jalinan akar setinggi pinggang, beberapa meter di depan kami. Kain. Warnanya sudah pudar menjadi abu-abu kusam, tapi motif bunga kecil yang dulu ditenun di ujungnya masih bisa kukenali—selendang yang sama yang pernah kulihat di foto lama, terikat di leher seorang perempuan muda yang tersenyum sambil menggendongku waktu bayi.
Kakiku bergerak sebelum otakku sempat memutuskan. Aku berlutut di depan jalinan akar itu, jariku menelusuri kain yang setengah membatu, setengah masih lembut seperti baru ditenun kemarin. Dan di sebelahnya, tertanam di antara dua akar yang saling melilit seperti jari-jari yang menggenggam, sebuah pena kayu tua—pena yang sama yang selalu kulihat tergeletak di meja tulis Ibu setiap kali aku mengintip dari balik pintu kamarnya, bertahun-tahun lalu, sebelum semuanya menghilang.
"Ranti..." Damar berjongkok di sampingku, suaranya melembut. "Itu—"
"Ibuku," kataku, dan kata itu keluar lebih kecil dari yang kubayangkan, seperti napas terakhir sebelum tenggelam. "Dia pernah ada di sini."
Aku menggenggam selendang itu erat-erat, merasakan seratnya yang rapuh nyaris hancur dalam kepalan tanganku, dan untuk sesaat aku lupa caranya bernapas.
---
"Kalian tidak seharusnya ada di sini."
Suara itu muncul dari kegelapan seperti gema yang datang lebih dulu daripada sumbernya. Aku dan Damar berbalik serentak, senter kami menyorot ke arah suara, dan yang kami temukan adalah sosok bungkuk yang berdiri bersandar pada tongkat dari akar hidup—akar yang, aku bisa bersumpah, bergerak sendiri, melilit pelan di sekitar jemari sosok itu seperti ular peliharaan yang setia.
Kulitnya penuh bercak cokelat kehijauan, tekstur yang lebih menyerupai kulit kayu ketimbang kulit manusia. Tapi matanya—hijau lumut pucat, menyala redup dalam kegelapan seperti dua kunang-kunang yang kelelahan—matanya jelas manusia. Penuh usia. Penuh sesuatu yang lebih berat dari sekadar waktu.
"Pergi," katanya, suaranya serak seperti daun kering diinjak. "Tempat ini bukan untuk kalian. Bukan untuk siapa pun yang masih bisa pulang."
"Aku mencari ibuku," kataku, berdiri tegak meski lututku gemetar. "Namanya Wening. Aku menemukan barang-barangnya di sini—selendangnya, penanya. Aku tidak akan pergi sampai aku tahu apa yang terjadi padanya."
Sosok itu—yang kemudian kuketahui bernama Kakek Sumo—terdiam lama. Matanya menyipit, mengamatiku dari ujung rambut hingga ujung sepatu, seperti sedang membandingkan sesuatu dalam ingatannya yang sudah usang dimakan waktu.
"Wening," ia mengulang nama itu pelan, seolah mengunyah rasa yang sudah lama tak ia kecap. "Kau punya matanya."
"Tolong," kataku, suaraku pecah tanpa bisa kucegah. "Aku hanya ingin tahu kebenarannya. Aku sudah membawa buku catatannya—" aku mengeluarkan buku kulit itu dari tasku, memegangnya di depan dada seperti tameng, atau mungkin seperti persembahan. "Dia menulis tentang tempat ini. Tentang Akar Tua. Aku perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya."
Kakek Sumo menatap buku itu lama sekali. Cukup lama hingga aku merasa waktu di dalam gua ini berhenti berdenyut, menunggu bersama kami. Lalu, perlahan, bahunya yang bungkuk turun sedikit—bukan karena lelah, tapi karena menyerah pada sesuatu yang lebih besar dari kehendaknya sendiri.
"Baiklah," katanya akhirnya, suaranya lebih lembut, hampir seperti kasihan. "Kalau kau ingin tahu, ikut aku. Tapi aku peringatkan—kebenaran di tempat ini tidak pernah datang tanpa harga."
---
Kami mengikutinya menyusuri lorong yang semakin menyempit, hingga akhirnya terbuka ke sebuah ruang yang membuatku berhenti bernapas selama beberapa detik.
Di tengah ruang itu, jalinan akar raksasa menyatu menjadi satu bongkah yang menyerupai jantung sebesar rumah, berdenyut dengan cahaya hijau yang begitu terang hingga bayangan kami sendiri terlihat berdenyut mengikutinya di dinding batu. Suara napas yang kami dengar di mulut gua kini jauh lebih jelas—naik turun, naik turun, seperti sesuatu yang sangat tua sedang tertidur, atau sedang menunggu.
"Ini Akar Tua," kata Kakek Sumo, tongkatnya mengetuk lantai batu dengan bunyi yang bergema jauh lebih lama dari yang seharusnya. "Jantung dari perjanjian yang dibuat leluhur kota kalian ratusan tahun lalu. Ia menahan tanah dari longsor, menahan sungai bawah tanah dari meledak ke permukaan. Sebagai imbalannya, kota memberi makan."
"Memberi makan apa?" tanya Damar, suaranya bergetar.
"Kata," jawab Kakek Sumo pelan. "Surat-surat. Persembahan dari jiwa yang menulis kejujurannya sendiri. Itu makanan bagi kesadarannya."
Aku menggenggam buku catatan Ibu lebih erat. "Dan ibuku?"
Kakek Sumo menatapku lama, dan untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu yang menyerupai belas kasihan di mata hijau lumutnya.
"Ibumu tidak sekadar hilang, Nak," katanya, tiap kata keluar seperti batu yang berat diangkat dari dasar sungai. "Ada pepatah tua di tanah ini: akar yang haus tak pernah meminta, ia hanya mengambil yang paling dekat dengan hatinya. Sekitar sepuluh tahun lalu, akar ini kehausan—terlalu lama tanpa persembahan yang cukup kuat, terlalu banyak warga yang berhenti percaya, berhenti menulis dengan jujur. Tanah di bawah alun-alun mulai retak seperti kulit yang terlalu lama kering, dan sungai di bawahnya mengancam pecah seperti kendi yang penuh sesak."
Ia terdiam sejenak, matanya menerawang jauh ke jalinan akar di hadapan kami.
"Ibumu melihat retak itu sebelum orang lain sempat melihatnya. Dia keturunan pendiri kota, pembawa noda tinta di jarinya seperti dirimu—" ia menunjuk telunjuk kananku tanpa perlu kutunjukkan, dan aku menyadari noda kehitaman di sana seolah ikut berdenyut, dipanggil namanya sendiri. "Pohon tua tak pernah mencuri dahannya sendiri, Nak—dahan itu yang memilih jatuh, agar batangnya tetap berdiri. Begitu pula ibumu. Ia melebur ke dalam jaringan akar bukan karena dicuri, bukan karena celaka. Kaki yang melangkah sendiri ke sungai tidak bisa disebut hanyut."
Tubuhku terasa seperti tanah yang baru saja dijelaskan—retak, nyaris longsor.
"Dia meninggalkan kami," kataku, suaraku nyaris tak terdengar bahkan bagi diriku sendiri. "Dia memilih... ini?"
"Dia memilih kalian," Kakek Sumo membetulkan, suaranya lebih tegas sekarang. "Kota ini, orang-orang di dalamnya—termasuk kau, yang saat itu masih kecil. Jika ia tidak melakukan itu, tidak akan ada kota untuk kau tumbuh besar di dalamnya. Perjanjian Darah Wanasari membutuhkan lebih dari sekadar surat setiap kali kesadarannya melemah begitu parah. Ia butuh sesuatu yang lebih hidup. Ibumu memberikan itu—dirinya sendiri—agar akar bisa bertahan lebih lama."
Air mataku jatuh sebelum aku sempat menyadarinya, membasahi sampul kulit buku catatan Ibu yang kupeluk erat-erat. Damar mendekat, tangannya ragu-ragu menyentuh bahuku, seolah takut menyentuh kesedihan yang begitu besar akan memecahkannya menjadi serpihan lebih kecil.
"Dia masih... di sini?" tanyaku, suaraku pecah. "Di dalam akar ini?"
Kakek Sumo menatap jalinan akar raksasa di depan kami, cahayanya berdenyut pelan seperti menjawab pertanyaanku sendiri.
"Sebagian darinya," katanya lirih. "Kesadarannya menyatu dengan kesadaran akar. Ia bukan lagi manusia sepenuhnya, tapi ia juga tidak benar-benar mati. Ia ada di sini, dalam setiap denyut, dalam setiap napas yang kau dengar."
---
Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di sana, menatap jalinan akar itu, mencoba mencari wajah ibuku dalam pola cahaya yang berdenyut tanpa henti. Mungkin beberapa menit. Mungkin lebih lama. Waktu terasa longgar di tempat ini, seperti benang yang sudah terlalu lama ditarik.
Damar berdiri di sampingku, diam, membiarkan aku menangis tanpa mencoba menghentikannya dengan kata-kata penghiburan yang biasanya orang lontarkan tanpa arti. Aku menghargainya untuk itu—untuk diamnya yang penuh, bukan diam yang kosong.
Tapi kemudian aku menyadari sesuatu yang salah.
Tangan Damar, yang tadinya diam di sisi tubuhnya, mulai bergerak. Pelan awalnya—jari-jarinya menggores udara seperti sedang menulis sesuatu yang tak kasat mata. Lalu gerakannya semakin nyata, semakin terarah, hingga ia berjongkok tanpa sadar dan mulai menggores simbol-simbol aneh di atas tanah berdebu dengan ujung jarinya—simbol yang tidak kukenali, melengkung dan bersudut seperti tulisan dalam bahasa yang lebih tua dari bahasa apa pun yang pernah kupelajari.
"Damar?" Aku berlutut di sampingnya, mengguncang bahunya. "Damar, kau dengar aku?"
Matanya kosong, terpaku pada tanah, jari-jarinya terus bergerak dengan kecepatan yang tak wajar, seolah dikendalikan oleh sesuatu yang bukan dirinya.
"Bawa dia keluar!" Suara Kakek Sumo tiba-tiba berubah panik, tongkatnya diketuk-ketukkan ke lantai batu dengan cemas. "Cepat! Ia sudah terlalu lama di sini—spora sudah masuk terlalu dalam!"
"Apa yang terjadi padanya?!" jeritku, mencoba menarik Damar berdiri, tapi tubuhnya kaku seperti akar yang mengeras.
"Ia mulai terhubung," kata Kakek Sumo cepat, matanya melebar penuh kekhawatiran yang jarang kulihat dari sosok setua dirinya. "Setiap orang yang terlalu lama terpapar napas akar bisa mengalami ini—tubuhnya mulai menulis untuk kesadaran akar, seperti tangan yang dipinjam. Jika dibiarkan terlalu lama, kesadarannya sendiri bisa tertelan, seperti—" ia berhenti, tidak perlu menyelesaikan kalimat itu. Aku sudah tahu seperti apa.
Seperti ibuku.
"Damar!" Aku mencengkeram wajahnya, memaksa matanya bertemu dengan mataku. "Damar, kembali! Dengar suaraku!"
Untuk sesaat yang menakutkan, tidak ada respons apa pun. Hanya jari-jarinya yang terus menggores tanah, simbol demi simbol, semakin cepat, semakin dalam.
Lalu, seperti seseorang yang tersedak air dan tiba-tiba muncul ke permukaan, matanya berkedip cepat, dan kesadaran kembali mengalir ke dalamnya.
"Ranti?" suaranya serak, bingung. "Apa—kenapa aku berlutut? Kenapa tanganku—" ia menatap ujung jarinya yang kotor tanah, luka-luka kecil tergores di sana dari gerakan yang tak ia sadari sendiri.
"Kita harus keluar. Sekarang," kata Kakek Sumo, suaranya mendesak. "Sebelum akar mengklaimnya lebih jauh."
---
Kami bergegas menyusuri lorong menuju mulut gua, Damar terhuyung di antara kami berdua, kepalanya masih berdenyut linglung. Kakek Sumo memimpin dengan tongkatnya yang seolah tahu jalan tanpa perlu cahaya, akar-akar di dinding menyingkir memberi jalan seperti tirai yang dibukakan tangan tak terlihat.
"Kakek Sumo," panggilku di tengah perjalanan, napasku terengah, "kau bilang Ibu melebur untuk menunda keruntuhan. Berapa lama waktu yang ia beli?"
Wajah tua itu mengeras. "Sekitar sepuluh tahun. Tapi akar melemah lagi. Sudah beberapa bulan ini aku merasakannya—denyutnya semakin tidak teratur, seperti jantung yang lelah berdetak."
"Artinya... kota butuh persembahan lagi?" Perutku mendingin membayangkan kelanjutan kalimat itu.
Kakek Sumo berhenti melangkah, menatapku dengan mata hijau lumutnya yang kini dipenuhi kekhawatiran yang lebih dalam dari sebelumnya.
"Ada seseorang di kotamu," katanya pelan, "seseorang berpengaruh, yang sudah lama tahu tentang perjanjian ini. Dan aku takut ia berencana melakukan sesuatu yang jauh lebih kejam daripada yang dilakukan ibumu—bukan pengorbanan sukarela, tapi paksaan."
Ia merogoh balik jubah kasarnya, mengeluarkan secarik kertas tua yang lipatannya sudah rapuh dimakan waktu, hampir hancur di ujung-ujungnya.
"Aku menemukan ini terselip di antara akar beberapa purnama lalu—entah bagaimana bisa sampai ke sini, mungkin dibawa angin, mungkin sengaja ditinggalkan sebagai peringatan oleh seseorang yang masih punya nurani. Aku tidak berani membawanya ke permukaan sendiri. Aku sudah terlalu lama di sini, terlalu terhubung dengan akar untuk dipercaya siapa pun di kota. Tapi kau—" ia menyerahkan kertas itu ke tanganku, jari-jarinya yang bertekstur kulit kayu menggetar sedikit— "kau masih punya satu kaki di dunia manusia. Bawa ini. Cari tahu siapa yang merencanakannya."
Aku menerima kertas itu dengan tangan gemetar, tidak berani membukanya di tengah kegelapan lorong.
"Berhati-hatilah, Nak," kata Kakek Sumo, suaranya melembut untuk terakhir kalinya. "Kau punya darah yang sama dengan ibumu. Darah yang membuatmu berharga bagi akar ini—dan bagi siapa pun yang ingin memanfaatkannya."
---
Fajar baru saja merekah ketika kami keluar dari celah batu, udara pagi yang dingin menampar wajahku seperti kenyataan yang tertunda. Bulan masih tergantung pucat di langit yang mulai memerah, dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke dalam gua, aku bisa bernapas tanpa merasakan denyut aneh di dadaku.
Damar duduk bersandar pada batu, masih pucat, tapi kesadarannya sudah kembali penuh. "Aku baik-baik saja," katanya lemah, meski jari-jarinya sesekali masih bergetar tanpa sebab yang jelas.
Aku duduk di sampingnya, kertas dari Kakek Sumo masih kugenggam erat. Dengan tangan gemetar, aku menyalakan senter dan membuka lipatannya perlahan-lahan, takut kertas rapuh itu akan hancur di tanganku.
Di dalamnya, tertulis daftar nama—beberapa sudah luntur, beberapa lainnya masih jelas terbaca. Dan tinta yang digunakan untuk menuliskannya berkilau lemah di bawah cahaya senterku, warna kehijauan yang sama persis dengan tinta pada surat-surat yang telah kupelajari selama berminggu-minggu di kantor arsip—tinta yang menandakan tulisan Sang Penulis yang sesungguhnya.
Mataku menyusuri baris pertama, dan dunia di sekelilingku seolah berhenti berputar.
Nama yang tertulis paling atas, dengan huruf yang goresannya begitu kukenali karena telah kupelajari ribuan kali dalam catatan-catatan lama kota—nama itu adalah namaku sendiri.
Ranti Wijayanti.
Kertas itu gemetar dalam genggamanku, atau mungkin tanganku sendiri yang gemetar. Damar melirik ke arah kertas itu, dan aku melihat wajahnya berubah pucat lebih dari sebelumnya.
"Ranti," bisiknya, "itu—"
"Aku tahu," potongku, suaraku nyaris tak terdengar di antara kicau burung pagi yang mulai bersahutan, terlalu ceria untuk momen sekelam ini. "Namaku ada di sana."
Angin pagi membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang lebih dalam—aroma akar, aroma napas kota yang berdenyut di bawah kaki kami sejak sebelum aku lahir. Aku melipat kertas itu kembali dengan hati-hati, memasukkannya ke dalam saku mantelku, dekat dengan dadaku yang masih berdegup kencang.
Seseorang di kota ini, seseorang yang cukup berpengaruh untuk menyembunyikan rencana sekelam ini selama mungkin, telah menuliskan namaku sebagai persembahan berikutnya bagi Akar Tua.
Dan aku bersumpah pada diriku sendiri, di bawah cahaya bulan yang mulai memudar dan fajar yang mulai menyingsing, bahwa aku tidak akan menjadi seperti ibuku—bukan karena aku menyalahkan pengorbanannya, tapi karena aku tidak akan membiarkan seseorang memutuskan nasibku tanpa aku tahu siapa mereka, dan mengapa.