Rumah lama ibuku menyimpan cahaya sore yang selalu jatuh miring, seolah matahari sendiri enggan menyinari tempat ini secara penuh. Aku duduk di lantai kayu yang berderit, mengamati Damar yang bersandar pada dinding, matanya setengah terpejam, dan tangan kanannya bergerak-gerak seperti punya kehendaknya sendiri di atas lututnya.
"Damar," panggilku pelan, "tanganmu."
Ia membuka mata, menatap tangannya sendiri seakan baru pertama kali melihatnya. Jari-jarinya menari di udara, membentuk garis-garis yang tak kasat mata, seperti sedang menulis sesuatu yang hanya bisa dibaca oleh angin.
"Ini bukan apa-apa," katanya, buru-buru menyembunyikan tangan itu ke balik punggungnya. Senyum lebarnya yang biasa menular kini terlihat dipaksakan, retak di sudut-sudutnya. "Cuma kelelahan. Semalam kita jalan jauh, Ranti."
Aku tahu ia berbohong—bukan karena ingin menipuku, tapi karena ia sendiri terlalu takut untuk percaya pada apa yang terjadi pada tubuhnya. Aku pernah melihat gerakan seperti itu sebelumnya, di buku catatan ibuku, di sudut-sudut halaman yang penuh coretan yang bukan tulisan tangan biasa. Aku pernah membaca tentang ini di antara metafora-metafora tentang akar dan luka tanah: tubuh yang mulai mendengar panggilan sebelum pikiran sempat menolak.
Aku tidak mengatakan itu padanya. Belum saatnya.
Sebagai gantinya, aku meraih buku catatan kulit ibuku dari dalam tasku, membuka halaman-halaman yang sudah kubaca berulang kali sampai hafal setiap lengkungan hurufnya. Di sela dua halaman yang saling menempel—yang selama ini kukira hanya lem waktu yang menuakan kertas—aku menemukan secarik kertas kecil terselip, seolah sengaja disembunyikan dari mata yang tidak cukup sabar mencarinya.
Tulisan di sana pendek, hampir seperti bisikan yang dipaksa menjadi kata:
Mereka bertemu di bawah balai kota. Di bawah tangga arsip lama. Jangan percaya senyum siapa pun yang terlalu sempurna.
Aku membaca kalimat itu tiga kali, membiarkan setiap kata meresap seperti air hujan ke tanah kering. Balai kota. Tempat aku bekerja setiap hari, tempat aku menyusun arsip-arsip lama tanpa pernah curiga bahwa di bawah lantai yang kupijak setiap pagi, ada sesuatu yang menunggu dengan sabar.
"Kita harus ke sana," kataku, lebih pada diriku sendiri daripada pada Damar.
"Ke mana?" Damar mengerjap, mencoba fokus.
"Balai kota. Malam ini." Aku melipat kertas itu, memasukkannya ke saku bersama daftar nama dari Kakek Sumo. "Purnama puncak tinggal semalam lagi, Damar. Aku tidak bisa menunggu sampai seseorang datang menyeretku ke sana. Aku harus tahu siapa yang menuliskan namaku."
Ketakutan di wajah Damar berubah, seperti awan yang bergeser memperlihatkan sesuatu yang lebih tegas di baliknya. "Kalau begitu aku ikut."
"Damar—"
"Aku ikut, Ranti." Suaranya lebih keras dari yang kuduga, meski tangannya masih bergetar di balik punggungnya. "Aku sudah terlalu jauh untuk berhenti sekarang."
Aku menatap matanya lama, mencari alasan untuk menolaknya, tapi tidak menemukan satu pun yang cukup kuat mengalahkan tatapan itu. Maka aku hanya mengangguk, dan rasa cemas yang tadinya mengambang di dadaku perlahan mengeras menjadi sesuatu yang lebih dingin, lebih tajam—tekad yang tidak lagi punya ruang untuk gemetar.
---
Malam menyelimuti Wanasari dengan gelap yang pekat, langit tanpa bintang seolah ikut menahan napas menjelang purnama puncak. Balai kota berdiri di ujung alun-alun, jendela-jendelanya gelap kecuali satu ruangan di lantai dua yang masih menyala—ruang kerja Broto Kusumo, seperti biasa, meski jam sudah menunjukkan lewat tengah malam.
Aku memperhatikan dari balik pohon beringin tua, menghitung jumlah penjaga yang berjalan mondar-mandir di depan pintu utama. Lebih banyak dari biasanya. Jauh lebih banyak.
"Mereka tahu kita akan datang," bisik Damar, suaranya bergetar bukan hanya karena dingin.
"Atau mereka hanya berjaga-jaga untuk malam purnama," jawabku, meski aku sendiri tidak sepenuhnya percaya pada kalimat itu.
Kami menyelinap lewat pintu belakang, jalur darurat yang jarang dipakai selain oleh petugas balai kota sendiri—jalur yang kuhafal dari denah bangunan yang pernah kupelajari saat mengantar dokumen arsip ke sini. Malam ini, lorong yang sama terasa asing, seolah dinding-dindingnya menyempit setiap kali aku menghembuskan napas.
Ruang penyimpanan tua di balai kota itu sunyi, debu mengambang dalam cahaya senter yang kupegang serendah mungkin. Tangga menuju gudang bawah tanah tersembunyi di balik rak-rak kayu yang sudah lama tidak dipindahkan siapa pun—aku tahu itu karena setiap kali mengantar dokumen ke sini, aku tidak pernah sekali pun melihat seseorang membersihkan debu di baliknya.
"Di sini," gumamku, mendorong rak itu perlahan. Engselnya berderit pelan, seperti sesuatu yang terbangun dari tidur panjang.
Damar membantu mendorong dari sisi lain, tapi di tengah usahanya, tubuhnya tiba-tiba kaku. Tangan kanannya terangkat sendiri ke arah dinding kayu di samping rak, jarinya mulai bergerak cepat, menggores sesuatu yang tak terlihat di kegelapan—namun ketika aku menyorotkan senter ke sana, aku bisa melihatnya: simbol-simbol melingkar, seperti akar yang bercabang, muncul dalam goresan tinta hijau redup yang seolah keluar begitu saja dari ujung jarinya.
"Damar!" Aku menangkap tangannya, mencoba menghentikannya, tapi jarinya terus bergerak beberapa detik lagi sebelum akhirnya berhenti, dan tubuhnya limbung ke arahku.
"Aku... aku tidak—" Ia terengah, keringat dingin membasahi dahinya. "Aku tidak melakukan itu, Ranti. Tanganku—"
"Aku tahu," kataku, memeluk bahunya sebentar, menahan tubuhnya agar tidak jatuh. "Aku tahu itu bukan kamu."
Tapi di dalam hati, ketakutan yang lebih dalam mulai tumbuh: jika ini baru permulaan, apa yang akan terjadi pada Damar saat purnama benar-benar mencapai puncaknya?
Aku mendorong rak itu sepenuhnya, mengungkap pintu kayu tua di baliknya, dengan gagang besi yang sudah berkarat namun masih bisa diputar. Aku menoleh pada Damar, yang mengangguk lemah, memberi isyarat bahwa ia sanggup melanjutkan meski wajahnya pucat seperti kertas.
Pintu itu terbuka dengan derit panjang, mengalirkan udara lembap yang berbau tanah basah dan sesuatu yang lebih tua—bau yang sama seperti di dalam gua Hutan Akar Tua, hanya lebih terjebak, lebih pekat, seperti napas yang telah tertahan terlalu lama di ruang tertutup.
---
Tangga batu menurun jauh lebih dalam dari yang kubayangkan, dan cahaya lilin mulai terlihat di ujungnya jauh sebelum kami sampai. Aku menahan napas, memberi isyarat pada Damar untuk melangkah pelan-pelan, setiap anak tangga berderit halus di bawah kaki kami.
Ruangan yang muncul di depan mata membuatku berhenti di anak tangga terakhir.
Ini bukan ruang bawah tanah biasa. Dinding-dindingnya dipenuhi altar-altar kecil yang tersusun dari kertas surat lama—ratusan, mungkin ribuan lembar, dilipat dan disusun seperti sarang burung raksasa yang tumbuh dari lantai hingga langit-langit. Lilin-lilin menyala di antara celah-celah kertas itu, nyalanya aneh tak tergoyahkan meski aku bisa merasakan angin dingin yang menembus dari tangga di belakangku.
Aku melangkah mendekat, menyusuri altar-altar itu dengan mata yang mulai terbiasa dengan cahaya remang. Dan di sanalah aku melihatnya—lembar demi lembar kertas dengan tulisan yang sama, nama yang sama, berulang-ulang seperti mantra yang dipaksa menjadi nyata.
Ranti Wijayanti. Ranti Wijayanti. Ranti Wijayanti.
Tanganku gemetar saat menyentuh salah satu lembar itu. Tinta hijau kehijauan berkilau lemah di bawah cahaya lilin, persis seperti tinta di daftar nama yang kubawa dari Kakek Sumo. Ini bukan sekadar catatan. Ini persembahan. Doa. Rencana yang sudah disusun jauh sebelum aku bahkan tahu namanya sendiri berarti sesuatu bagi siapa pun selain diriku.
"Kau datang lebih cepat dari yang kuduga."
Suara itu menggema dari balik altar tertinggi, tenang dan formal, seperti seseorang yang sedang membaca laporan rapat, bukan menyambut seseorang yang baru saja menemukan namanya sendiri disusun sebagai kurban.
Broto Kusumo melangkah keluar dari bayangan, jasnya masih rapi meski kami berada jauh di bawah tanah, senyumnya terlalu sempurna untuk ruangan seklaustrofobik ini. Tangan kanannya bergetar halus di sisi tubuhnya—getaran yang selama ini kukira hanya kebiasaan seorang pejabat tua yang terlalu banyak menandatangani dokumen.
"Pak Broto," suaraku tercekat.
"Ranti." Ia mengangguk, seolah kami baru saja bertemu di lorong arsip, bukan di ruang bawah tanah penuh altar kertas. "Aku sudah menunggu kedatanganmu. Sejak lama, sebenarnya. Sejak jauh sebelum kau menemukan buku catatan ibumu."
Damar mundur setengah langkah di belakangku, tangannya mencengkeram lenganku, entah untuk menopang dirinya sendiri atau melindungiku. Aku bisa merasakan getaran di jarinya, seperti sesuatu di dalam dirinya sedang berjuang untuk tetap diam.
"Kau yang menulis nama itu," kataku, mencoba menahan suaraku agar tidak gemetar. "Kau yang merencanakan ini semua."
"Aku tidak merencanakan apa-apa, Nak." Broto berjalan mengelilingi altar, jarinya menyusuri lipatan-lipatan kertas dengan kehati-hatian yang hampir menyentuh. "Aku hanya melanjutkan apa yang seharusnya sudah selesai sejak dulu."