Rumah itu masih berdiri seperti terakhir kali aku melihatnya sepuluh tahun lalu—hanya saja waktu telah menambahkan lapisan-lapisan luka pada tubuhnya. Aku berdiri di ujung jalan setapak yang dulu kutempuh setiap sore pulang sekolah, menatap atap seng berkarat yang menyembul di antara kanopi pohon murbei liar yang tumbuh tak terkendali di sekelilingnya. Akar-akarnya menjalar seperti urat-urat raksasa, sebagian menembus tanah, sebagian lagi merambat naik ke tiang-tiang penyangga rumah panggung itu, seolah pohon dan bangunan telah lama berhenti menjadi dua hal yang terpisah.
Aku menggenggam tas kulit di bahuku lebih erat, merasakan bobot buku catatan lusuh yang kubawa sejak semalam—buku kebiasaanku sendiri, tempat aku mencatat hal-hal kecil yang terjadi dalam hari-hariku, sebuah kebiasaan yang, aku baru sadar, mungkin kuwarisi tanpa kusadari. Angin pagi membawa aroma lembap dedaunan busuk dan sesuatu yang lebih dalam, lebih tua, seperti bau tanah yang telah menyimpan rahasia terlalu lama.
Pintu depan rumah itu masih tergembok, rantai berkarat melilit gagang pintu seperti ular yang tertidur. Aku sudah menduga ini akan terjadi—rumah ini disegel setelah ibu dinyatakan hilang, dan tak ada yang berani mengurusnya lagi setelah itu, seolah kota ini sepakat diam-diam untuk melupakan keberadaannya. Aku melangkah mengitari bangunan, menyusuri sisi rumah yang nyaris tertelan semak, mencari celah yang bisa kumasuki.
Kutemukan itu di sisi barat: sebuah papan dinding yang telah lapuk dimakan usia dan kelembapan, retak memanjang cukup lebar untuk kutembus jika aku menahan napas dan memiringkan tubuh. Aku menyentuh kayu itu, merasakan seratnya yang rapuh di bawah jariku, dan untuk sesaat aku ragu—bukan karena takut terluka, tapi karena aku tahu begitu aku masuk, aku akan berdiri di ruang yang sama tempat ibuku menghirup udara terakhir kalinya sebelum menghilang tanpa jejak.
Aku menarik napas panjang, dan mendorong tubuhku masuk.
Di dalam, cahaya pagi jatuh miring lewat celah-celah dinding kayu, membelah kegelapan menjadi garis-garis keemasan yang seolah membeku di udara, sarat debu yang melayang pelan seperti waktu telah lupa cara berjalan di tempat ini. Aku berdiri di tengah ruang yang dulu adalah ruang tamu, mengenali samar-samar bentuk kursi rotan yang kini nyaris hancur, meja kayu yang permukaannya ditumbuhi lumut tipis, dan bau lembap yang bercampur dengan sesuatu yang manis—getah murbei, mungkin, atau sesuatu yang lebih tua dari itu.
Tekadku yang tadinya dingin dan tajam seperti mata pisau, perlahan luruh menjadi sesuatu yang lebih rapuh. Aku menggigit bibir, menahan getar yang mulai menjalar dari dadaku ke tenggorokan. Sepuluh tahun aku menghindari tempat ini, dan kini aku berdiri di dalamnya, dikelilingi hantu-hantu kenangan yang tak pernah benar-benar kutinggalkan.
---
Aku mulai menggeledah, dimulai dari kamar ibu yang letaknya di ujung lorong sempit. Setiap langkah membuat lantai kayu berderit, dan aku bisa merasakan getaran halus di bawah telapak kakiku—akar-akar murbei yang telah menembus fondasi rumah, merambat di bawah papan lantai seperti pembuluh darah yang masih berdenyut. Aku menyalakan senter ponselku, menyapukan cahayanya ke sudut-sudut ruangan yang dipenuhi sarang laba-laba dan debu setebal beludru.
Laci-laci lemari kosong, hanya menyisakan bau kapur barus yang telah lama menguap. Aku memeriksa di bawah ranjang, di balik cermin retak, di dalam peti kayu tua yang berisi kain-kain usang—tak ada apa pun yang berarti. Rasa putus asa mulai menjalar, lebih berat dari yang kuduga. Mungkin aku memang hanya mengejar hantu, mengejar sesuatu yang sudah lama menguap bersama waktu, sama seperti ibuku sendiri.
Aku hampir menyerah ketika kakiku menyandung papan lantai yang menonjol di sudut ruangan, retak karena akar yang mendorongnya dari bawah. Aku berlutut, menyentuh retakan itu, dan menyadari bahwa papan itu bisa diangkat—sengaja dilonggarkan, bukan sekadar rusak oleh alam. Jantungku berdegup lebih cepat saat aku mencungkilnya dengan jari-jariku yang gemetar.
Di bawahnya, terbungkus kain flanel yang telah menghitam oleh kelembapan, tersembunyi sebuah buku catatan berkulit cokelat tua.
Aku menariknya keluar perlahan, seolah takut buku itu akan hancur di tanganku. Sampulnya lembap namun masih utuh, dijahit dengan benang kasar di bagian tulang punggungnya—persis, persis seperti buku catatan yang selalu kubawa ke mana pun aku pergi, kebiasaan yang kupikir kumiliki sendiri, tanpa pernah bertanya dari mana asalnya.
Aku membuka sampul depan dengan tangan yang tak lagi bisa kukendalikan getarnya.
Di halaman pertama, dengan tinta yang telah memudar menjadi cokelat kehitaman, tertulis sebuah nama yang membuat seluruh tubuhku membeku:
Wening Handayani.
Tulisan tangan itu—guratannya, lekukannya, tekanan penanya di setiap huruf—aku mengenalinya bukan hanya sebagai tulisan ibuku, tapi sebagai tulisan yang sama persis dengan surat-surat yang kutemukan di arsip semalam. Sama persis dengan surat dari tahun 1954. Sama persis dengan yang dari 1971. Tanganku gemetar begitu hebat hingga buku itu nyaris jatuh, dan aku terpaksa duduk di lantai berdebu itu, memeluk buku itu ke dadaku sambil mencoba mengatur napas yang tiba-tiba terasa seperti mencekik.
---
Aku membaca dengan cahaya senter yang mulai meredup, halaman demi halaman yang dipenuhi tulisan tangan ibuku—namun bukan tulisan yang bisa kupahami begitu saja. Kalimat-kalimatnya melompat-lompat seperti mimpi, penuh metafora yang terasa lebih seperti mantra daripada catatan harian biasa.
Akar tidak pernah benar-benar diam. Ia hanya menunggu hujan yang tepat untuk bicara.
Luka tanah tidak sembuh dengan waktu, hanya dengan kata-kata yang cukup pahit untuk ditelan akarnya.
Aku memberi makan sesuatu yang lebih tua dari kota ini. Setiap kali aku menulis, aku merasa sebagian diriku ikut mengalir ke bawah, ke tempat yang tak pernah melihat matahari.
Aku membalik halaman demi halaman, mencari sesuatu yang lebih konkret, lebih masuk akal, tapi yang kutemukan hanyalah pengulangan simbol-simbol aneh—gambar akar yang bercabang seperti sungai, sketsa kasar sebuah pohon besar dengan wajah samar di batangnya, dan satu nama yang muncul berulang-ulang di berbagai halaman, ditulis dengan penekanan yang berbeda-beda, seolah ibuku sendiri tak yakin bagaimana seharusnya menuliskannya:
Akar Tua.
Tak ada penjelasan. Tak ada konteks yang jelas. Hanya nama itu, muncul dan muncul lagi seperti detak jantung yang tak bisa dihentikan, di tengah kalimat-kalimat yang membingungkan tentang hujan, luka, dan sesuatu yang "menunggu di bawah kota".
Aku menutup buku itu dengan kasar, merasa frustrasi menggenang di dadaku bersama rasa takut yang mulai mengendap. Aku telah menemukan sesuatu—tapi sesuatu itu hanya membuka lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Ibuku, sebelum menghilang, telah terobsesi pada sesuatu yang tak masuk akal, sesuatu yang ditulisnya dalam bahasa setengah puisi setengah teka-teki, seolah dia sendiri tak berani menuliskannya secara jelas.
Aku duduk di lantai berdebu itu, memeluk lututku, merasa untuk pertama kalinya sejak masuk ke rumah ini bahwa aku benar-benar sendirian menghadapi kebenaran yang jauh lebih besar dari yang sanggup kutampung sendirian.
---
Suara derit lantai kayu di luar kamar membuatku melonjak, jantungku serasa berhenti sepersekian detik sebelum berdegup liar. Aku bergegas berdiri, menyembunyikan buku catatan itu di balik tasku, dan bersiap menghadapi apa pun yang datang—hantu, penjaga, atau kenyataan yang lebih buruk dari keduanya.
"Halo?" Suara itu terdengar ragu, muda, dan sedikit terengah, seperti pemiliknya baru saja berlari. "Ada orang di dalam?"
Aku mengenali suara itu meskipun belum bisa melihat wajahnya di kegelapan lorong. Damar Prasetyo—tukang pos yang setiap pagi lewat di depan Kantor Arsip dengan sepedanya yang berderit, selalu tersenyum lebar seolah dunia belum pernah mengecewakannya. Ia muncul di ambang pintu kamar, membawa tas kulit besar yang penuh coretan tinta di kedua jarinya, wajahnya sedikit pucat namun matanya menyala penasaran.
"Ranti? Aku lihat sepedamu di depan... kupikir jangan-jangan kau lagi menggali harta karun—atau mayat." Ia mencoba tertawa kecil, tapi suaranya sedikit bergetar saat melirik ke sekeliling kamar yang berantakan, ke papan lantai yang terbongkar, ke wajahku yang pasti terlihat seperti orang yang baru melihat hantu. "Kau baik-baik saja?"
Aku ingin menjawab bahwa aku baik-baik saja, bahwa ini bukan urusannya, bahwa aku tidak butuh bantuan siapa pun untuk menggali masa lalu keluargaku sendiri. Tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan, kalah oleh rasa lelah yang tiba-tiba menghantam seluruh tubuhku. Aku sudah terlalu lama sendirian menanggung pertanyaan-pertanyaan ini.
"Aku menemukan sesuatu," kataku akhirnya, suaraku lebih lemah dari yang kuinginkan. "Sesuatu yang aku tidak mengerti."
Damar melangkah masuk perlahan, seolah menghormati kesunyian rumah yang mencekam ini, dan duduk di lantai berhadapan denganku, tasnya ia letakkan di sampingnya—penuh dengan surat-surat lama yang belum sempat diantarkannya. "Sudah lama aku curiga ada yang aneh dengan surat-surat yang kuantar," katanya, mencoba tersenyum meski suaranya sedikit bergetar. "Kalau kau tanya aku, mungkin aku cuma tukang pos yang kebetulan mengantarkan surat-surat kiriman setan. Lucu, kan?" Ia terkekeh pelan, getir. "Tapi mungkin aku bisa membantu."
---
Aku menceritakan semuanya—surat-surat identik di arsip, inisial ibuku, buku catatan yang baru kutemukan. Damar mendengarkan tanpa memotong, matanya semakin lebar setiap kali aku menyebutkan detail baru, seolah kepingan-kepingan yang selama ini berserakan dalam benaknya mulai menyatu menjadi gambar yang utuh.
"Aku sudah mengantar surat-surat semacam itu bertahun-tahun," katanya, tertawa kecil yang terdengar getir, seolah mencoba menertawakan ketakutannya sendiri. "Rasanya seperti jadi kurir untuk hantu—bayangkan, Ranti, tukang pos paling sial sedunia. Tapi serius, ada yang tidak beres. Beberapa penerima membaca suratnya, lalu menatapku seperti aku baru saja membawakan sesuatu yang mustahil. Mereka bilang mereka tidak ingat menulisnya. Tapi tulisan tangan di amplop itu jelas milik mereka."
Ia membuka tasnya, mengeluarkan beberapa surat lama yang belum sempat diantarkan—entah karena alamat yang salah, atau penerima yang telah pindah. Aku membandingkannya dengan buku catatan ibuku, dan seketika dadaku terasa dingin: guratan yang sama, tekanan pena yang sama, seolah semua surat ini—dari orang yang berbeda, di waktu yang berbeda—ditulis oleh satu tangan yang sama.
"Lihat ini," kataku, menunjuk halaman buku catatan yang bertuliskan Akar Tua berulang kali. "Kau pernah dengar istilah ini sebelumnya?"
Damar terdiam, matanya menerawang seolah menggali ingatan yang telah lama terkubur. "Kakekku dulu pernah bilang sesuatu tentang itu," ujarnya pelan, lalu terkekeh getir. "Tapi aku selalu pikir itu hanya dongeng untuk menakuti anak-anak nakal—termasuk aku, yang dulu suka mancing sembarangan di sana."
Untuk pertama kalinya sejak semalam, aku merasa tidak lagi sendirian menanggung beban ini. Ada solidaritas yang tumbuh cepat antara kami, dua orang asing yang tiba-tiba terikat oleh misteri yang sama—dan di balik solidaritas itu, kengerian yang perlahan mulai menampakkan wajahnya yang sesungguhnya.
---
"Semua surat ini," kata Damar sambil mengangkat salah satu amplop tua dan mengendusnya dengan gaya dramatis, seolah mencoba mencairkan ketegangan dengan lelucon kecilnya sendiri, "ditulis dengan tinta yang sama. Bau khasnya—tajam, kayak besi campur gula gosong. Orang-orang sini nyebutnya tinta akar, dibuat dari air Sungai Ranu."
"Sungai Ranu?" Aku mengingat sungai kecil di pinggir kota itu, tempat dulu ibu sering membawaku bermain sebelum semuanya berubah. "Aku pikir sungai itu sudah lama tidak dipakai."
"Untuk mandi atau minum, memang tidak," katanya. "Tapi beberapa keluarga masih membuat tinta dari airnya, cara lama, turun-temurun. Ayahku juga dulu pernah membuatnya."
Kami saling berpandangan, dan tanpa perlu bicara lebih banyak, kami tahu ke mana harus pergi selanjutnya.
---
Sungai Ranu tidak seperti yang kuingat dari masa kecilku. Permukaannya kini keruh kehitaman, seperti tinta yang tumpah dan tak pernah benar-benar larut, dan meskipun tak ada angin yang bertiup, air itu beriak sendiri—gelombang-gelombang kecil yang muncul dan hilang tanpa pola, seolah sesuatu di bawahnya bergerak pelan, memperhatikan.
Kabut tipis melayang rendah di atas permukaan air, aneh untuk musim kemarau seperti ini. Aku berdiri di tepian bersama Damar, merasakan udara di sekitar sungai ini terasa lebih berat, lebih pekat, seperti tekanan sebelum badai meskipun langit pagi masih cerah.
"Di sinilah orang-orang dulu mengambil air untuk membuat tinta," kata Damar pelan, suaranya nyaris berbisik, seolah takut membangunkan sesuatu. "Direbus bersama empedu pohon oak dari hutan belakang kota—resep warisan, katanya. Meski jujur, aku selalu curiga itu resep buat memanggil sesuatu, bukan bikin tinta."
Aku berjongkok di tepi sungai, menatap air yang gelap itu, mencoba mencari pantulan wajahku sendiri namun hanya menemukan kekosongan hitam yang menatap balik. "Kau pikir air ini yang membuat tulisan tangan orang-orang jadi sama?"
"Aku tidak tahu bagaimana caranya," jawab Damar sambil mencoba tertawa kecil yang gagal terdengar lucu, "tapi aku merasa ini bukan kebetulan. Tidak dengan semua yang sudah kita lihat hari ini."
Rasa ingin tahu ilmiah yang tadinya mendorongku menyusuri sungai ini perlahan berubah menjadi ngeri yang lebih dalam. Ini bukan fenomena alam yang bisa dijelaskan begitu saja. Ada sesuatu yang disengaja di balik semua ini—sesuatu purba yang telah lama bersembunyi di bawah permukaan tenang kota kecil ini, menunggu untuk ditemukan, atau mungkin, menunggu untuk kembali diberi makan.
---
Kami kembali ke rumah lama Wening ketika langit mulai memerah, membawa serta rasa dingin yang menempel di kulit meski udara sore masih hangat. Damar duduk di ruang tamu yang berdebu, menatap buku catatan ibuku yang terbuka di antara kami, sementara aku menyalakan lilin kecil yang kutemukan di salah satu laci—satu-satunya sumber cahaya selain senja yang meredup di luar.
"Kakekku pernah bercerita," kata Damar akhirnya, memecah keheningan yang mulai terasa berat, "tentang leluhur kota ini. Katanya, dulu, waktu Wanasari baru berdiri, ada perjanjian dibuat dengan sesuatu di bawah tanah. Semacam kesepakatan—akar itu akan menahan tanah dari longsor dan banjir, asalkan kota terus memberinya... persembahan kata. Surat-surat yang ditulis warganya."
Aku menatapnya, mencoba menilai apakah ia serius atau hanya mengulang dongeng masa kecil. Tapi wajahnya menunjukkan keraguan yang sama dengan yang kurasakan—setengah percaya, setengah takut untuk percaya.
"Aku selalu pikir itu hanya cerita untuk menjelaskan kenapa kota ini jarang kena bencana," lanjutnya, lalu tersenyum getir, "tapi setelah semua yang kita temukan hari ini, aku pikir dongeng itu mungkin nonfiksi."
Aku menunduk menatap buku catatan ibuku, membaca ulang kalimat yang tadi kulewatkan: Aku memberi makan sesuatu yang lebih tua dari kota ini. Setiap kali aku menulis, aku merasa sebagian diriku ikut mengalir ke bawah.
Kepingan-kepingan itu mulai menyatu dalam benakku, membentuk gambar yang jauh lebih gelap dari yang sanggup kubayangkan. Ibuku tidak menghilang karena kecelakaan, atau karena memutuskan meninggalkan keluarganya seperti yang selama ini kupercaya dalam diam. Ia terlibat dalam sesuatu yang jauh lebih besar—sebuah perjanjian purba, sebuah persembahan yang diminta oleh entitas yang bersembunyi di bawah kota ini, dan surat-surat identik yang kutemukan di arsip mungkin adalah bagian dari persembahan itu sendiri.
Aku menutup buku catatan itu perlahan, merasakan tekad baru tumbuh di dadaku—bukan lagi tekad dingin seperti semalam, melainkan sesuatu yang lebih gelap, lebih berat, penuh kesadaran bahwa kebenaran tentang ibuku, tentang kota ini, jauh lebih berbahaya daripada yang pernah kubayangkan.
Di luar, bulan mulai naik, nyaris bulat sempurna, dan entah kenapa, untuk pertama kalinya aku merasa cahayanya menatap balik kepadaku—seolah kota ini, dan sesuatu yang tersembunyi di bawahnya, telah lama menunggu aku menemukan jalan pulang ke kebenaran yang seharusnya tak pernah kuketahui.