Bau kertas lembab selalu datang lebih dulu daripada cahaya, setiap kali aku membuka pintu besi Kantor Arsip Kota Wanasari. Ia menyusup ke hidung seperti sesuatu yang hidup, bercampur dengan aroma tinta besi yang entah kenapa selalu terasa lebih menyengat di pagi hari, seolah semalaman rak-rak itu bernapas sendirian di kegelapan, mengeluarkan sisa-sisa napas yang tertahan sejak zaman kolonial. Aku sudah terbiasa. Delapan tahun bekerja di sini membuat hidungku sendiri barangkali sudah berubah menjadi bagian dari arsip itu—diam, berdebu, dan setia pada rutinitas yang sama setiap hari.
Pagi itu aku duduk di meja panjang di lantai dua, dikelilingi kotak-kotak karton berisi surat-surat lama yang harus kukatalogkan sebelum akhir minggu. Target harian: dua ratus lembar. Kadang aku berhasil melampauinya, kadang tidak, tapi aku selalu memaksakan diri untuk teliti—memeriksa tanggal, nama pengirim, kondisi kertas, sampai jenis lipatan amplop—karena kebiasaan itu sudah menjadi semacam kompas dalam hidupku yang datar. Orang-orang bilang aku terlalu obsesif untuk pekerjaan yang tak seorang pun peduli hasilnya. Tapi bagiku, ketelitian adalah satu-satunya cara untuk merasa bahwa waktu tidak sepenuhnya sia-sia.
Sudah pukul sebelas ketika aku membuka kotak bertuliskan 1954–1956, tulisan tangan petugas arsip lama yang sudah pudar menjadi abu-abu pucat. Di dalamnya, surat-surat berjejer rapi, sebagian besar surat resmi antarkantor kelurahan, beberapa surat pribadi warga yang entah kenapa ikut tersimpan—mungkin karena dulu arsip kota menerima apa saja yang dianggap "penting bagi sejarah kota", walau kriteria penting itu tak pernah jelas.
Salah satu surat menarik perhatianku. Bukan isinya—hanya permintaan izin membangun gudang kopra di tepi Sungai Ranu—melainkan guratan tangannya. Ada sesuatu yang aneh familiar dalam cara huruf-hurufnya melengkung, terutama pada huruf g dan y yang ekornya memanjang ke bawah seperti akar yang menjalar. Aku menatapnya cukup lama, mencoba mengingat di mana aku pernah melihat gaya tulisan semacam itu. Tapi tidak ada jawaban yang muncul, hanya rasa penasaran kecil yang lewat begitu saja, seperti bau asing yang tercium sekilas lalu hilang ditelan angin. Aku menuliskan nomor katalog di sudut kanan atas, memasukkannya ke map plastik, dan lanjut ke surat berikutnya.
Namun rasa penasaran itu, sekali muncul, tidak benar-benar pergi. Ia menempel seperti debu di ujung jari.
Setengah jam kemudian, saat aku membuka kotak lain—kali ini berlabel 1971–1973—aku menemukan surat lain yang, entah kenapa, membuatku berhenti sejenak. Surat itu ditulis oleh seorang perempuan bernama Sarmi, melaporkan kematian suaminya kepada kantor catatan sipil. Isinya sederhana, penuh duka yang ditulis dengan bahasa formal khas masa itu. Tapi lagi-lagi, guratan hurufnya—kemiringan yang sama, ekor huruf g yang melengkung serupa akar—membuat bulu tanganku meremang tanpa alasan jelas.
Aku menaruh kedua surat itu berdampingan di atas meja.
Identik.
Bukan mirip. Bukan sekadar gaya penulisan sezaman yang diajarkan di sekolah rakyat dulu. Ini identik sampai ke lekukan tekanan pena, sampai ke jarak antar-kata yang konsisten, sampai ke cara huruf t disilang dengan sedikit miring ke kiri—kebiasaan tangan yang unik, yang menurut logika grafologi seharusnya mustahil ditiru dua orang berbeda, apalagi dipisahkan oleh tujuh belas tahun dan dua kejadian yang sama sekali tidak berkaitan.
Aku menggeleng pelan, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa mataku hanya lelah. Mungkin pencahayaan lampu neon yang berkedip di atas kepalaku sedang mempermainkan persepsiku. Untuk memastikan firasat itu salah, aku bangkit dan menarik lebih banyak kotak dari rak-rak di sekitarku—1962, 1980, 1994, bahkan satu kotak dari awal 2000-an yang jarang disentuh karena isinya kebanyakan formulir pajak yang membosankan.
Satu per satu, kubandingkan surat-surat itu di atas meja panjang, menyusunnya seperti kartu tarot yang meramalkan sesuatu yang tak ingin kudengar. Semakin banyak yang kutarik, semakin banyak pula kemiripan yang muncul—bukan sekadar kemiripan, melainkan kesamaan sempurna, seakan seluruh surat itu keluar dari tangan yang sama, di waktu yang sama, meski tertulis nama pengirim yang berbeda-beda dan tanggal yang terpaut puluhan tahun.
Aku merasa dadaku mulai berdebar tidak nyaman. Bukan debar ketakutan—belum sampai ke sana—tapi debar seorang arsiparis yang tiba-tiba menyadari bahwa dunia arsip yang selama ini kupercaya rapi dan logis, ternyata menyimpan sesuatu yang tidak semestinya ada.
"Mungkin ada satu juru tulis," gumamku pelan pada diri sendiri, mencoba menenangkan pikiran dengan penjelasan yang paling masuk akal. Di masa lalu, sering kali kantor kelurahan mempekerjakan satu orang juru tulis resmi untuk menyalin ulang surat-surat warga yang buta huruf, terutama di daerah seperti Wanasari yang jauh dari pusat pemerintahan. Bisa saja satu orang itu bekerja selama beberapa dekade, mewariskan gaya tulisannya sendiri ke ribuan dokumen.
Aku bangkit, menuju rak arsip administrasi kepegawaian kantor kelurahan lama—dokumen yang mencatat siapa saja yang pernah bekerja sebagai juru tulis resmi sejak zaman kolonial hingga awal kemerdekaan. Dengan jantung yang mulai berdegup tak sabar, kubuka map demi map, mencari nama yang mungkin muncul berulang di sepanjang periode 1950 hingga 2000-an.
Tidak ada.
Tidak ada satu nama pun yang bertahan lebih dari sepuluh tahun sebagai juru tulis. Bahkan lebih mengerikan lagi, ketika aku memeriksa catatan kematian warga—kebiasaan arsip kota yang rapi mencatat siapa meninggal kapan—aku menemukan bahwa Sarmi, perempuan yang menulis surat kematian suaminya tahun 1971, sendiri telah meninggal dunia pada 1968. Tiga tahun sebelum suratnya ditulis.
Aku membaca ulang catatan itu tiga kali, berharap mataku salah menangkap angka. Tapi angka itu tetap sama, dingin dan tak berbelas kasih di atas kertas yang menguning.
Logikaku, yang selama ini menjadi fondasi segala hal dalam hidupku, mulai retak seperti kaca yang terkena air panas mendadak. Aku duduk kembali, menatap tumpukan surat di depanku dengan perasaan campur aduk antara frustrasi dan sesuatu yang lebih dingin—rasa takut yang belum punya nama, menyusup pelan-pelan ke tengkukku.
Jam dinding tua di sudut ruangan berdentang tiga kali. Petugas kebersihan sudah lama pulang. Lampu-lampu di lantai bawah dimatikan satu demi satu oleh penjaga malam yang rutinitasnya bahkan lebih membosankan daripada pekerjaanku sendiri. Tapi aku tidak bisa berhenti. Ada sesuatu yang menarikku lebih dalam, seperti benang tak kasat mata yang mengikat pergelangan tanganku dan menyeretnya menuju rak-rak di sudut paling belakang lantai tiga—area yang jarang disentuh siapa pun, tempat kotak-kotak tertua kota disimpan, berdebu tebal, beberapa di antaranya berkarat hingga sulit dibuka.
Aku menyalakan senter kecil dari ponselku karena lampu di area itu sudah lama mati dan tak pernah diperbaiki—toh, siapa yang butuh cahaya untuk sesuatu yang dianggap tidak penting lagi? Rak-rak besi berderit protes ketika kudorong, mengeluarkan suara panjang yang menggema aneh di ruangan sepi itu, seperti erangan sesuatu yang terganggu tidurnya. Debu beterbangan, menari-nari dalam cahaya senter, dan bau tinta besi yang menyengat tiba-tiba terasa jauh lebih kuat di sini, seolah sumbernya justru berasal dari kedalaman rak-rak tua ini.
Tanganku meraba kotak-kotak yang labelnya sudah tak terbaca, sebagian besar hanya angka tahun yang nyaris hilang termakan waktu—1930-an, mungkin lebih tua. Ketika jariku menyentuh sebuah kotak kayu kecil yang tersembunyi di balik tumpukan kotak karton yang lebih besar, aku merasakan sesuatu yang berbeda: kotak itu terasa hangat, sedikit lembap, seperti baru saja disentuh seseorang, padahal jelas-jelas berdebu tebal dan tak tersentuh bertahun-tahun.
Aku membukanya perlahan. Di dalamnya, hanya ada satu amplop lusuh, warnanya kecokelatan karena usia, dengan sudut-sudut yang mulai rapuh dan nyaris hancur ketika kusentuh. Tidak ada label kotak, tidak ada nomor katalog, tidak ada apa pun yang menjelaskan mengapa amplop ini disimpan terpisah, tersembunyi, seolah sengaja disingkirkan dari mata siapa pun yang mungkin mencarinya.
Kubuka amplop itu dengan hati-hati, jariku gemetar entah karena dingin ruangan atau sesuatu yang lain yang belum bisa kupahami.
Surat di dalamnya pendek. Tulisannya—tentu saja—identik dengan semua yang telah kutemukan sepanjang malam ini: guratan miring yang sama, ekor huruf g yang melengkung seperti akar. Tapi bukan itu yang membuat napasku tercekat.
Di bagian bawah surat, tertulis dua huruf inisial yang begitu familiar hingga rasanya seperti seseorang baru saja menampar wajahku dengan telapak tangan dingin.
W.H.
Wening Handayani.
Nama ibuku.
Aku menatap huruf-huruf itu lama sekali, seakan dengan menatapnya cukup lama aku bisa membuatnya berubah menjadi inisial lain, nama lain, siapa pun selain perempuan yang menghilang sepuluh tahun lalu tanpa jejak, tanpa penjelasan, meninggalkan aku yang saat itu baru berusia sembilan belas tahun sendirian dengan pertanyaan yang tak pernah terjawab hingga sekarang.
Aku mencoba menenangkan diri. Wening bukan nama yang aneh di kota ini—bisa jadi ada perempuan lain bermarga H, hidup di masa lalu, kebetulan memiliki inisial yang sama. Kebetulan. Hanya kebetulan. Kupaksa diriku mengulang kata itu seperti mantra, berharap ia bisa menenangkan detak jantungku yang mulai berpacu liar.
Tapi ketika aku membaca isi suratnya, penyangkalan itu runtuh seketika.
Untuk anak perempuanku, yang suatu hari akan menemukan ini—maafkan aku karena tidak bisa menjelaskan kenapa aku harus pergi. Ada sesuatu di bawah kota ini yang lebih tua dari kita semua, dan ia butuh kata-kata untuk terus tenang. Jangan cari aku di tempat yang biasa orang mencari orang hilang. Carilah aku di tempat di mana kata-kata disimpan.
Tanganku gemetar hebat sekarang, sampai kertas itu berbunyi gemerisik pelan di antara jari-jariku. Nada surat itu begitu personal, begitu jelas ditujukan pada seseorang tertentu—pada anak perempuan si penulis—hingga mustahil untuk kuanggap sekadar kebetulan administratif semata. Kata-kata itu seperti menembus waktu, melompati sepuluh tahun kesunyian, dan mendarat tepat di dadaku dengan bobot yang nyaris tak sanggup kutopang sendirian.
Carilah aku di tempat di mana kata-kata disimpan.
Aku sedang berdiri di tempat itu. Kantor Arsip Kota Wanasari—tempat di mana kata-kata, sejak zaman kolonial hingga sekarang, dikumpulkan dan disimpan seperti benda suci yang tak pernah benar-benar dipahami maknanya oleh siapa pun yang menyimpannya, termasuk aku sendiri, selama delapan tahun ini.
Untuk pertama kalinya sejak aku mulai bekerja di sini, aku merasa bahwa pekerjaanku bukan sekadar rutinitas mencatat masa lalu orang lain. Ia adalah sesuatu yang jauh lebih pribadi, jauh lebih berbahaya, dan entah bagaimana caranya, berkaitan langsung dengan luka yang selama ini kusimpan rapat-rapat di dasar dadaku—luka seorang anak yang ditinggal ibunya tanpa kata perpisahan.
Aku menatap tumpukan surat di sekelilingku: surat-surat dari tahun 1950-an hingga 2000-an, ditulis tangan yang sama, oleh orang-orang yang seharusnya tak mungkin saling terhubung, sebagian bahkan sudah wafat sebelum surat lain ditulis. Dan di tengah semua itu, satu amplop lusuh berisi kata-kata ibuku sendiri, tersembunyi di sudut paling gelap dari gedung ini selama entah berapa lama.
Aku tahu, sesuai protokol, semua dokumen ini adalah milik negara. Tidak boleh dibawa keluar tanpa izin resmi, apalagi digandakan atau dipindahtangankan untuk kepentingan pribadi. Aku sudah menandatangani perjanjian kerahasiaan bertahun-tahun lalu, memahami betul konsekuensinya—pemecatan, mungkin tuntutan hukum, jika ketahuan mencuri arsip kota.
Tapi malam itu, berdiri sendirian di lantai tiga yang gelap dan sunyi, dikelilingi bau tinta besi yang seolah semakin menyengat seiring detik berlalu, aku tahu aku tidak akan sanggup meninggalkan surat-surat ini di sini. Tidak setelah apa yang baru saja kubaca. Tidak setelah sepuluh tahun bertanya-tanya tanpa jawaban.
Dengan tangan yang masih gemetar, aku mulai memasukkan surat demi surat ke dalam tasku—yang dari 1954, yang dari 1971, beberapa lainnya dari dekade-dekade berbeda, dan yang paling penting, amplop lusuh berinisial W.H. itu, kulipat hati-hati dan kuselipkan di kantong dalam tasku, paling dekat dengan dadaku, seolah dengan begitu aku bisa melindunginya sekaligus melindungi diriku sendiri dari apa pun yang akan datang setelah ini.
Aku memadamkan senter ponselku, membiarkan kegelapan menelan rak-rak besi berkarat itu kembali, dan berjalan menuruni tangga kayu yang berderit di setiap injakan, seolah gedung tua ini sedang berbisik memperingatkanku untuk berhenti, untuk kembali, untuk melupakan apa yang baru saja kutemukan.
Tapi aku tidak berhenti.
Ketika aku melangkah keluar dari pintu besi Kantor Arsip Kota Wanasari, udara malam menyambutku dengan dingin yang menusuk, membawa serta aroma samar air sungai bercampur sesuatu yang lebih tajam—bau tinta akar, kata orang-orang tua di kota ini, yang katanya selalu lebih kuat menjelang purnama. Aku menatap ke langit, mencari bulan, dan menemukannya nyaris bulat sempurna, tergantung pucat di antara awan tipis yang bergerak pelan seperti asap.
Aku tidak tahu apa yang menantiku di rumah, dengan tumpukan surat curian di dalam tasku dan pertanyaan-pertanyaan yang tak lagi bisa kuabaikan. Tapi untuk pertama kalinya sejak sepuluh tahun terakhir, aku merasa seperti sedang bergerak menuju sesuatu, bukan sekadar menunggu tanpa arah di tengah rak-rak berdebu yang menyimpan masa lalu orang lain.
Malam itu, langkahku terasa lebih berat sekaligus lebih ringan dari biasanya—berat karena beban surat-surat yang kubawa, dan ringan karena, akhirnya, setelah bertahun-tahun menjadi pencatat pasif bagi kisah-kisah orang lain, aku mulai menulis babak pertama dari pencarianku sendiri.