Kabar di Muara Tulang tidak berjalan, ia menetes.
Bu Ipah tidak mengumumkan apa-apa. Ia cuma bercerita kepada adiknya, dan adiknya bercerita kepada tetangganya sambil menunggu ikan digoreng, dan tetangganya menyebutnya sekali di pengajian dengan nada yang tidak yakin, dan seminggu kemudian seorang perempuan yang tidak pernah Laras lihat berdiri di depan pintu jam enam pagi sambil menggendong bayi.
"Yang bisa itu anaknya, kan?" tanyanya. Bukan kepada Laras. Kepada Ranti.
"Anak saya belum bisa apa-apa," kata Ranti.
Perempuan itu memandangi Laras dari balik bahu ibunya, cukup lama, lalu menunduk.
"Maaf, Bu. Saya salah dengar."
Ranti menangani bayi itu sendiri, dan sesudahnya ia harus duduk lebih lama daripada biasanya, dan sesudahnya lagi ia menanyakan pukul berapa sekarang tiga kali dalam satu jam.
Malamnya ia memanggil Laras.
"Kalau ada yang cari kamu, bilang kamu nggak bisa."
"Kenapa?"
"Karena kamu memang nggak bisa."
"Bu—"
"Bilang saja." Ibunya membetulkan selimutnya sendiri. "Kalau sudah ada dua orang yang tahu, seminggu lagi ada dua puluh. Ibu sudah lihat itu terjadi sama ibu Ibu."
Laras berdiri di ambang pintu.
"Terus Ibu gimana?"
"Ibu masih kuat."
"Ibu tadi nanya jam tiga kali."
Ranti menoleh, dan untuk sesaat wajahnya bukan wajah ibu yang sedang menutup pembicaraan, melainkan wajah orang yang baru saja diberi tahu sesuatu tentang dirinya sendiri yang tidak ia ketahui.
"Ya sudah," katanya. "Besok Ibu nggak nanya."
Yang terjadi berikutnya berjalan pelan, dan karena pelan maka tidak ada satu hari pun yang bisa ditunjuk sebagai hari ketika keadaan berubah.
Yang datang tetap datang kepada Ranti. Laras tetap membuatkan teh, tetap keluar ke dapur kalau yang datang menangis sebelum disentuh, tetap mencuci tangan ibunya dengan minyak tanah dan jeruk nipis sesudahnya. Tetapi sekarang, kalau ibunya sedang tidak bisa — dan "tidak bisa" makin lama makin sering berarti ibunya sedang tidak ada di dalam dirinya sendiri — Laras akan berkata bahwa ibunya sedang istirahat, dan menyuruh mereka kembali besok, dan menutup pintu.
Lalu ia berdiri di balik pintu itu dan mendengarkan langkah orang menjauh.
Ada yang kembali besoknya. Ada yang tidak.
Yang tidak kembali itu yang menempel di kepalanya.
Bayu tahu duluan, sebelum siapa pun, dan Bayu tahu bukan karena diberi tahu.
Sore itu Laras lewat galangan dan Bayu sedang mengecat nama di lambung perahu, jongkok, dengan kuas kecil, mengerjakan huruf A dengan kesabaran yang tidak pernah ia tunjukkan untuk hal lain.
"Ras."
"Hm."
"Berhenti dulu."
Laras berhenti.
"Nggak," kata Bayu. "Maksudku dengungnya."
Laras merasa wajahnya sendiri berubah dan ia tidak sempat mencegahnya.
"Dari tadi," kata Bayu. Ia tidak mengangkat wajahnya dari huruf A itu. "Dari kamu masih di ujung sana."
"Kebiasaan."
"Kebiasaan siapa?"
Laras tidak menjawab. Bayu mencelupkan kuasnya, menghapus kelebihan cat di bibir kaleng, dan meneruskan huruf A-nya.
"Bapakku bilang ibumu dulu suka nyanyi waktu masih muda," katanya. "Beneran nyanyi. Ada liriknya. Di kawinan, di tujuh belasan."
"Sekarang nggak."
"Iya. Sekarang nggak."
Ia menyelesaikan huruf itu dan mundur setapak untuk melihat hasilnya, dan hasilnya miring, dan ia membiarkannya miring.
"Ras, aku nggak akan tanya," katanya. "Tapi kalau kamu mau cerita, aku di sini tiap hari sampai magrib."
"Aku tahu."
"Ya sudah."
Ia jongkok lagi dan mulai mengerjakan huruf berikutnya.
Laras berdiri di situ lebih lama daripada yang perlu untuk sekadar lewat. Angin dari muara membawa bau dempul dan solar dan ikan yang dijemur, dan di bawahnya, tipis, bau cat yang baru.
"Bay."
"Hm."
"Kalau ada orang minta tolong, terus kamu bisa nolong, terus kamu nggak nolong—"
"Kamu jahat," kata Bayu, tanpa mengangkat kepala.
"Iya."
"Tapi kalau kamu nolong terus kamu mati, kamu bodoh." Ia mencelup kuasnya lagi. "Nggak ada yang bener. Jadi pilih yang mana yang kamu sanggup."
"Itu jawaban paling nggak berguna yang pernah aku dengar."
"Iya." Bayu menyeringai ke arah perahu. "Bapakku juga bilang gitu."
Laras pulang lewat jalan yang lebih jauh lagi hari itu, memutar lewat belakang masjid, karena ia belum mau sampai di rumah.
Bulan berikutnya ibunya mulai keluar rumah tanpa memberi tahu.
Pertama kali cuma sampai warung. Kedua kali sampai jembatan, dan yang membawanya pulang anak Pak Sarju yang menemukannya berdiri di tengah jembatan menghadap ke hulu. Ketiga kali Laras menemukannya duduk di bangku depan puskesmas yang tutup, jam setengah enam pagi, dengan kerudung yang dipakai terbalik.
"Bu, ngapain di sini?"
"Antre."
"Antre apa?"
Ibunya memandanginya. Lalu ia berkata, "Kamu tahu nggak, orang-orang itu antre sampai ke jembatan."
"Iya, Bu."
"Ibu saya capek."
Laras duduk di sebelahnya di bangku besi itu, dan bangku itu dingin, dan mereka duduk berdua menghadap pintu puskesmas yang digembok sampai matahari naik cukup tinggi untuk membuat duduk di situ tidak nyaman lagi.
Dalam perjalanan pulang ibunya berhenti di depan rumah orang lain dan hendak masuk, dan Laras memeganginya, dan ibunya melepaskan tangannya dengan kasar untuk pertama kalinya seumur hidup Laras.
"Jangan pegang-pegang."
"Bu, ini bukan rumah kita."
"Saya tahu rumah saya."
"Bu—"
"Kamu siapa?"
Di teras rumah itu, seorang perempuan tua keluar dan berdiri memandangi mereka, lalu masuk lagi tanpa berkata apa-apa, dan menutup pintunya pelan-pelan, dan itu lebih baik daripada apa pun yang bisa ia katakan.
Laras menuntun ibunya pulang dengan memegang siku, bukan tangan, karena siku terasa lebih seperti membantu dan kurang seperti menangkap.
Malamnya ia mengeluarkan buku birunya dan membuka halaman baru dan menulis tanggal dan berhenti.
Ia membalik ke depan, ke halaman sembilan, dan membaca empat baris itu lagi seperti ia membacanya hampir tiap malam sejak malam itu, mencari apakah ada satu kata pun yang mulai terasa seperti miliknya.
Tidak ada.
Ia menutup buku itu dan menaruhnya di bawah bantal dan berbaring.
Di kamar sebelah, ibunya sedang mendengung.
Laras menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan, dan menahannya di situ, dan tidur dengan tangan masih di situ.
Perempuan yang menggendong bayi itu kembali di hari Kamis.
Kali ini ia tidak bertanya siapa yang bisa. Ia berdiri di anak tangga dan menunggu sampai Laras yang membuka pintu, dan begitu pintu terbuka ia langsung berkata, "Bu Ranti ada?"
"Ibu saya lagi istirahat."
"Saya tunggu."
"Nggak bisa hari ini, Bu."
Perempuan itu tidak beranjak. Bayinya diam, dan diamnya itu yang salah — bayi seusia itu tidak diam selama itu di siang bolong. Kepalanya bersandar di leher ibunya dengan cara yang membuat leher itu basah.
"Panas dari kemarin lusa," katanya. "Sudah dikasih obat dari puskesmas. Turun, terus naik lagi."
"Dibawa ke kota, Bu."
"Ongkosnya."
Laras memegang gagang pintu.
Di dalam, dari kamar, terdengar ibunya berbicara kepada seseorang yang tidak ada di sana. Suaranya ramah dan panjang dan sopan, dan ia menyebut nama yang Laras tidak kenal.
Perempuan itu ikut mendengarnya. Ia menunduk dan memperbaiki gendongannya.
"Ya sudah," katanya. "Maaf ya, saya ganggu."
"Bu."
"Nggak apa-apa. Nggak apa-apa." Ia sudah turun satu anak tangga. "Kalau Bu Ranti sudah enakan, boleh saya ke sini lagi?"
"Boleh."
"Iya. Makasih."
Laras menutup pintu.
Ia berdiri di balik pintu itu dan mendengarkan langkah perempuan itu menjauh, dan langkahnya lambat karena menggendong, dan bunyi sandalnya di tanah masih terdengar lama sesudah orangnya tidak kelihatan.
Ia bisa. Ia tahu ia bisa.
Ia berdiri di situ sampai bunyi sandal itu habis.
Kabarnya sampai empat hari kemudian, lewat jalan yang biasa: adik ke tetangga, tetangga ke pasar, pasar ke mana-mana. Bayi itu dibawa ke kota hari Jumat subuh dengan menyewa mobil bak, dan sampai di sana masih hidup, dan dirawat enam hari, dan pulang.
Pulang. Hidup. Sembuh.
Yang tidak pulang: perahu bapaknya, yang dijual di hari kelima.
Laras mendengarnya dari Bayu, yang menyebutnya sambil lalu, sambil menggulung tali, sebagai kabar galangan biasa — perahu siapa pindah tangan ke siapa, berapa, dan kepada siapa utangnya.
"Perahu yang mana?"
"Yang biru. Yang mesinnya sering mati itu." Bayu melempar gulungan tali ke atas tumpukan. "Kasihan sih. Tapi anaknya selamat."
"Iya."
"Ras?"
"Hm."
"Nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa."
Ia berjalan pulang lewat jalan yang biasa hari itu, bukan yang memutar, karena memutar pun tidak ada gunanya.
Di depan rumah Pak Wardi ada orang berkumpul, dan Laras memperlambat langkah tanpa berhenti, dan salah satu dari mereka menyapanya seperti biasa.
"Laras! Ibu sehat?"
"Sehat, Bu."
"Alhamdulillah. Salam ya."
Di rumah, ibunya sedang duduk di dingklik, mengupas bawang, dan mendengung.
Laras menaruh belanjaan. Ia mencuci tangan. Ia mengambil pisau kedua dan duduk di lantai di seberang ibunya dan ikut mengupas, dan mereka mengupas berdua tanpa bicara sampai bawangnya habis, dan sepanjang itu ibunya mendengung dan sepanjang itu Laras tidak ikut.
"Bu."
"Hm."
"Kalau Ibu nggak bisa, terus ada yang datang—"
"Suruh besok."
"Kalau besok Ibu juga nggak bisa?"
Ibunya berhenti mengupas. Ia memandangi bawang di tangannya cukup lama sehingga Laras mengira pertanyaannya sudah hilang di jalan, seperti banyak pertanyaan lain akhir-akhir ini.
"Nduk."
"Iya."
"Ibu nggak bisa jawab yang begitu." Ia meneruskan mengupas. "Ibu dulu juga nanya itu ke ibu Ibu. Nggak dijawab juga."
"Terus Ibu gimana?"
"Ibu jawab sendiri, tiap hari, sampai sekarang." Ia melempar kulit bawang ke koran. "Dan tiap hari jawabannya beda."
Malam itu Laras tidak membuka buku birunya.
Ia berbaring dan memandangi langit-langit dan mendengarkan air pasang, dan di kamar sebelah ibunya mendengung, dan Laras berbaring dengan mulut yang ia katupkan rapat-rapat, dan ia tidak tahu apakah yang ia lakukan itu menahan diri atau menghukum diri.
Menjelang subuh ia bangun karena ibunya berdiri di ambang pintu kamarnya, memandanginya, entah sudah berapa lama.
"Bu?"
"Kamu belum tidur?"
"Sudah, Bu. Ini tidur."
"Oh." Ibunya masih berdiri di situ. "Ibu kira kamu nangis."
"Nggak."
"Ya sudah."
Ibunya berbalik, lalu berhenti, dan berkata ke arah lorong, bukan ke arah Laras:
"Perahunya nanti bisa dibeli lagi."
Laras duduk.
Tetapi ibunya sudah masuk ke kamarnya sendiri, dan waktu Laras menyusul, ibunya sudah berbaring miring menghadap dinding, dan napasnya sudah napas orang tidur, dan pagi harinya ia tidak ingat pernah bangun.