Yang membuat Laras akhirnya mulai bukan orang sakit. Yang membuatnya mulai adalah kalender.
Di dinding dapur tergantung kalender bank yang tanggalnya sudah lewat delapan bulan, dan tidak ada yang menurunkannya karena di baliknya ada bekas tempelan yang tidak enak dilihat. Suatu sore Laras mendapati ibunya berdiri di depan kalender itu, memegang pensil, dan menandai tanggal.
"Bu, itu kalender tahun lalu."
"Iya," kata ibunya. "Ibu tahu."
"Terus kenapa ditandai?"
"Biar Ibu tahu ini hari apa."
Laras memandangi tanda-tanda pensil itu. Ada belasan, di kotak-kotak yang tanggalnya tidak berurutan, sebagian menumpuk dua tiga kali di kotak yang sama.
Malam itu ia menurunkan kalender bank itu dan menggantinya dengan kalender yang benar, yang ia beli di pasar seharga tiga ribu, dan ia menulis hari besar-besar di kotak hari ini, dan besoknya ibunya berdiri di depan kalender baru itu selama hampir semenit lalu berkata, "Ini punya siapa?"
Laras mulai pekan itu juga.
Ia tidak mengumumkannya. Ia cuma berhenti mengatakan "ibu saya lagi istirahat" dan mulai mengatakan "sini, duduk".
Yang pertama Pak Wardi, yang datang untuk dirinya sendiri kali ini, dengan punggung yang sudah tiga minggu tidak bisa diluruskan. Ia duduk di kursi dan memandangi Laras dengan curiga yang tidak ia sembunyikan, dan Laras menaruh tangannya di bahu lelaki itu, dan sesudah itu Pak Wardi berdiri dan memutar badannya ke kiri dan ke kanan dua kali dan duduk lagi karena kakinya lemas.
"Ya Allah," katanya. "Ya Allah, Ras."
"Jangan angkat yang berat dulu seminggu."
"Iya. Iya."
Ia menaruh amplop. Laras tidak mengembalikannya, karena ia sudah menghitung beras di karung pagi itu.
Yang kedua datang besoknya. Yang ketiga dan keempat datang lusa, berdua, kakak beradik. Dalam sebelas hari yang datang kepada Laras lebih banyak daripada yang datang kepada ibunya dalam sebulan terakhir, karena Laras muda dan Laras selalu ada dan Laras tidak pernah menyuruh kembali besok.
Dan karena Laras cepat.
Ibunya butuh duduk berhadapan, butuh bertanya nama, butuh menunggu sampai orangnya siap. Laras tidak. Laras bisa menaruh tangan di bahu orang sambil orang itu masih menjelaskan keluhannya, dan selesai sebelum kalimatnya habis.
Yang hilang tiap kali tidak pernah yang sedang ia pegang.
Yang hilang selalu yang lama.
Ia menemukan lubang-lubangnya pada waktu yang aneh. Sedang menjemur kain, dan ia tidak bisa mengingat nama guru kelas empatnya, dan menghabiskan setengah jam mencoba dan gagal. Sedang mengaduk sayur, dan sadar bahwa ia tidak lagi tahu bagaimana bunyi suara bapaknya, cuma tahu bahwa dulu ia tahu.
Ia mencatat tiap lubang di buku birunya, di halaman khusus di belakang, dengan garis mendatar sebagai pemisah.
Daftar itu lebih panjang daripada yang ia sangka.
Yang membuatnya berhenti sebentar bukan panjangnya daftar itu, melainkan satu baris di tengahnya yang ia tidak ingat pernah menulisnya.
Bayu berhenti menyapanya lebih dulu di minggu ketiga.
Laras baru sadar tiga hari kemudian, waktu ia lewat galangan dan tidak ada yang memanggil, dan ia berhenti dan menoleh dan Bayu memang di situ, membelakanginya, mengamplas sesuatu.
"Bay."
"Hm."
"Kamu marah?"
"Nggak."
"Bay."
Bayu berhenti mengamplas. Ia meniup debu dari kayu itu, memeriksanya dengan ibu jari, dan mengamplas lagi.
"Kemarin kamu nanya aku dua kali," katanya.
"Nanya apa?"
"Nah."
Laras berdiri diam.
"Kamu nanya perahu Pak Sarju jadi dijual apa nggak," kata Bayu. "Jumat kamu nanya, aku jawab. Sabtu kamu nanya lagi, persis sama, sampai kalimatnya sama. Aku jawab lagi." Ia masih tidak menoleh. "Terus kamu bilang 'oh' dengan cara yang sama."
"Aku lupa."
"Iya." Bayu mengangguk ke arah kayunya. "Itu dia."
Laras mendekat dan duduk di atas balok yang biasa, dan Bayu tidak menyuruhnya pergi, dan itu sudah cukup untuk dianggap izin.
"Ibumu dulu berapa lama?" tanya Bayu.
"Nggak tahu."
"Tanya."
"Nggak bisa ditanya lagi."
Bayu meletakkan amplasnya.
"Ras, aku nggak akan nyuruh kamu berhenti," katanya. "Aku tahu kamu nggak akan berhenti kalau disuruh."
"Terus?"
"Terus aku minta satu hal saja." Ia akhirnya menoleh. "Tulis aku."
"Apa?"
"Di buku kamu itu." Bayu mengangkat dagunya ke arah tas kain Laras. "Tulis aku di situ. Namanya, mukanya, apa saja. Yang jelas-jelas."
Laras menertawakannya, satu kali, dan tawanya berhenti sendiri di tengah.
"Kenapa?"
"Ya biar ada."
"Biar ada gimana?"
"Ya biar ada," kata Bayu, dan mengambil amplasnya lagi. "Sudah, sana. Aku mau selesaikan ini sebelum magrib."
Laras pulang dan menunggu sampai ibunya tidur.
Lalu ia menyalakan lampu kecil dan membuka buku birunya di halaman yang masih kosong dan menulis satu nama di paling atas.
BAYU.
Di bawahnya ia menulis: anak Pak Har, galangan. Rambut depannya selalu berdiri sebelah. Kalau ngecat, lidahnya keluar sedikit. Bilang "nah" kalau dia benar dan nggak mau bilang begitu.
Ia berhenti. Ia menambahkan: Nggak pernah nanya soal Ibu. Sengaja.
Ia memandangi halaman itu.
Lalu ia membalik ke halaman paling depan, ke halaman kesembilan, dan membaca empat baris yang sudah bukan miliknya itu, dan untuk pertama kalinya ia membacanya bukan untuk mencari apakah ingatannya kembali.
Ia membacanya seperti orang membaca surat dari orang mati.
Ia menutup buku itu dan mematikan lampu dan berbaring, dan di kamar sebelah ibunya mendengung, dan Laras mendengung, dan kali ini ia mendengarnya sendiri dan tidak menghentikannya.
Ibunya menemukan buku itu di hari Selasa.
Laras pulang dari pasar dan mendapati ibunya duduk di dipan Laras, bukan dipannya sendiri, dengan buku biru itu terbuka di pangkuannya. Bantal Laras teronggok di lantai.
"Bu."
Ranti tidak mengangkat wajahnya.
"Bu, itu punya saya."
"Ibu tahu."
Laras berdiri di ambang pintu dengan belanjaan masih di tangan. Plastiknya berbunyi karena tangannya bergerak, jadi ia menaruhnya di lantai.
Ibunya sedang di halaman belakang. Halaman daftar.
"Ini apa?" tanya Ranti.
"Bukan apa-apa."
"Ini apa, Laras."
Ia menyebut nama lengkapnya. Ibunya tidak pernah menyebut nama lengkapnya kecuali dua kali seumur hidup, dan dua-duanya waktu Laras masih sekolah dasar.
"Yang hilang," kata Laras.
"Punya siapa?"
"Punya saya."
Ranti menunduk lagi ke halaman itu. Jarinya bergerak menyusuri garis-garis mendatar itu, satu per satu, pelan, seperti orang menghitung uang.
"Ada berapa?"
"Saya nggak hitung."
"Hitung."
"Bu—"
"Hitung."
Laras menyeberangi kamar dan duduk di lantai di depan dipannya sendiri, dan mengambil buku itu dari pangkuan ibunya, dan menghitung. Ia menghitung dengan suara, karena ibunya memintanya begitu dengan cara memintanya tadi.
"Satu. Dua. Tiga."
Ia berhenti di dua puluh tiga.
Ibunya menerima buku itu kembali dan menutupnya dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas sampul plastik biru itu.
Lalu ia menangis.
Laras belum pernah melihatnya. Delapan belas tahun, dan tidak sekali pun. Ibunya menangis tanpa menutup wajahnya, tanpa suara, dengan mata yang tetap terbuka dan tetap menghadap ke depan, dan air itu jatuh ke sampul plastik dan tidak diserap, cuma menggenang di situ dalam titik-titik kecil.
Laras mengambil ujung kerudung ibunya dan mengeringkan pipi itu, karena tidak ada kain lain dalam jangkauan.
"Bu."
"Berapa yang Ibu punya?" kata Ranti.
"Apa?"
"Daftar Ibu. Berapa panjang." Ia menoleh. "Kamu nggak pernah bikinin Ibu daftar."
"Nggak, Bu."
"Kenapa nggak?"
Laras tidak bisa menjawabnya. Jawabannya ada, dan jawabannya adalah bahwa ia takut melihat panjangnya, tetapi kalimat itu tidak bisa keluar dari mulutnya dalam bentuk apa pun yang tidak melukai.
Ranti mengangguk seperti sudah mendengar jawabannya.
"Ambil pensil," katanya.
"Bu—"
"Ambil pensil, Nduk. Sekarang, mumpung Ibu masih ada."
Laras mengambil pensil dari meja dan membuka halaman kosong.
Dan ibunya mulai bicara.
Ia bicara selama hampir dua jam. Ia menyebut nama-nama orang yang tidak Laras kenal dan menjelaskan siapa mereka. Ia menyebut tahun. Ia menyebut nama bapak Laras dan bagaimana mereka bertemu dan apa pekerjaan lelaki itu dan bagaimana bunyi suaranya — "seperti orang yang lagi mau ketawa, padahal enggak" — dan Laras menulis itu persis seperti yang diucapkan, kata per kata, tanpa merapikan.
Ia menyebut hari Laras lahir dan jam berapa dan siapa yang menolong.
Ia menyebut apa yang ia rasakan hari itu, dan Laras menulisnya, dan tangannya tidak berhenti walau tulisannya makin lama makin jelek.
Menjelang magrib ibunya berhenti sendiri, di tengah kalimat, dan memandangi jendela.
"Bu?"
"Hm?"
"Tadi Ibu lagi cerita soal—"
"Iya." Ibunya masih memandangi jendela. "Nanti Ibu terusin."
"Terusin sekarang, Bu."
"Nanti." Ranti berdiri, dan berdirinya lambat, dan Laras tidak membantunya karena tahu tidak boleh. "Ibu mau masak dulu. Kamu belum makan dari tadi."
Ia tidak pernah meneruskannya.
Laras menunggu tiga hari, lalu bertanya, dan ibunya menjawab, "Cerita apa?" dengan wajah yang benar-benar ingin tahu, dengan wajah orang yang senang ditanya sesuatu.
Malam itu Laras menghitung halaman yang terisi hari Selasa itu.
Sembilan belas halaman. Tulisan tangan yang makin lama makin jelek, dua kali robek karena pensil ditekan terlalu keras, dan di halaman terakhir kalimat yang berhenti di tengah:
Waktu itu bapakmu bilang kalau anaknya perempuan namanya
Laras menutup buku itu.
Ia menaruhnya di bawah bantal seperti biasa. Lalu ia mengambilnya lagi, dan membungkusnya dengan kantong plastik, dan menaruhnya kembali, karena atap dapur bocor kalau hujan besar dan ia baru memikirkan itu sekarang.
Besoknya ia membeli buku tulis kedua di pasar, yang sampulnya merah, dan menulis di halaman pertama: RANTI. Ibu.
Ia mengisinya tiap malam sesudah itu, sedikit-sedikit, apa pun yang sempat ia tangkap di siang hari — cara ibunya menaruh pisau, kalimat-kalimat yang diulang, urutan berdiri dari dipan.
Ia tidak pernah membacakannya kepada ibunya.
Ia sudah tahu bahwa itu tidak berguna. Ia menulisnya bukan untuk ibunya.