Yang datang malam itu bukan orang yang punya janji.
Pintu digedor jam sebelas lewat, dan yang menggedor tidak berhenti menggedor walau lampu sudah dinyalakan, karena orang yang menggedor jam segitu sudah kehabisan cara sopan. Laras membuka pintu dan yang berdiri di situ Bu Ipah, dan di belakangnya suaminya menggendong anak laki-laki yang badannya melengkung ke belakang.
"Ibumu, Ras. Ibumu mana."
Anak itu kejang. Kakinya menendang udara dengan irama yang salah, dan matanya terbuka tetapi tidak melihat apa-apa, dan dari mulutnya keluar bunyi yang bukan tangis dan bukan batuk.
"Sudah dibawa ke puskesmas?"
"Tutup. Yang jaga pulang. Ras, tolong—"
"Masuk."
Laras masuk ke kamar ibunya dan menyalakan lampu.
Ibunya sudah bangun, duduk, tetapi duduknya tidak benar. Ia duduk menghadap dinding. Waktu Laras memegang bahunya, ibunya menoleh dengan kecepatan orang yang dibangunkan dari mimpi yang dalam.
"Bu, ada anak kejang."
"Siapa?"
"Anak Bu Ipah. Kejang, Bu."
Ranti menatapnya. Lalu ia berkata, dengan sopan, dengan nada orang yang berbicara kepada tamu:
"Ibu saya lagi keluar. Nanti kalau sudah pulang saya sampaikan."
Laras berdiri di situ selama dua detik yang panjang.
"Bu."
"Iya."
"Ini aku."
"Iya," kata ibunya, dan mengangguk, dan tersenyum sedikit, dan tidak ada apa pun di balik senyum itu.
Dari ruang depan terdengar Bu Ipah memanggil namanya. Bukan nama ibunya. Namanya.
Laras kembali ke depan.
Anak itu dibaringkan di tikar. Bu Ipah memegangi kepalanya, suaminya memegangi kakinya, dan keduanya memegangi dengan cara yang salah, terlalu kuat, seperti orang memegangi sesuatu yang mau lari.
"Jangan ditahan," kata Laras. "Miringkan. Miringkan badannya."
"Ibumu mana, Ras?"
"Miringkan dulu, Bu."
Mereka memiringkannya. Laras menyingkirkan gelas dari dekat kepala anak itu dan menarik bantal ke bawahnya. Ia pernah melihat ibunya melakukan ini, dan ia hafal urutannya seperti orang hafal jalan pulang.
Kejangnya berhenti sendiri sebelum satu menit. Yang tinggal sesudahnya lebih buruk: anak itu diam, matanya setengah terbuka, napasnya cepat dan dangkal, dan sekujur badannya mengeras dengan cara yang membuat Bu Ipah mulai menyebut nama Tuhan berkali-kali dengan suara yang makin lama makin tidak berbentuk.
"Ras. Ibumu."
"Ibu saya nggak bisa malam ini."
"Ras—"
"Nggak bisa, Bu."
Bu Ipah menangis. Suaminya diam saja dan memandangi lantai dengan cara yang jauh lebih menakutkan daripada tangisan istrinya.
Laras duduk di sebelah anak itu.
Ia belum pernah melakukannya. Ia tidak pernah diajari, dan ibunya tidak pernah menawarkan untuk mengajari, dan ia tidak pernah bertanya. Yang ia tahu cuma dua hal yang ia lihat berkali-kali: ibunya selalu menyentuh di tempat yang tidak sakit, dan ibunya selalu menarik napas sebelum melepas.
Ia menaruh telapak tangannya di dada anak itu, di atas kaus, di tempat yang tidak sakit.
Tidak terjadi apa-apa.
Ia menunggu. Bu Ipah menunggu. Kipas angin di sudut berputar dan menghantam udara dengan bunyi yang sama seperti sepanjang malam ini dan sepanjang malam-malam sebelumnya.
Tidak terjadi apa-apa.
Laras memindahkan tangannya ke bahu anak itu, karena di situ tempat ibunya menaruh tangan tadi pagi, dan ia berpikir mungkin tempatnya yang salah.
Lalu ia berhenti berpikir dan hanya memperhatikan anak itu.
Ia memperhatikan bahwa jari kelingking anak itu bergerak sedikit. Ia memperhatikan bahwa ada bekas gigitan nyamuk di pelipisnya. Ia memperhatikan bahwa kaus anak itu bergambar mobil, dan mobil itu sudah pecah gambarnya karena terlalu sering dicuci, dan seseorang telah mencuci kaus ini berkali-kali dan menjemurnya dan melipatnya dan memakaikannya lagi.
Sesuatu berpindah.
Bukan seperti listrik. Bukan panas, bukan dingin. Yang paling mendekati: seperti waktu menuang air dari ember penuh ke ember kosong, dan yang terasa cuma beratnya yang berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain, dan tangan yang menerima tahu lebih dulu daripada mata.
Laras menarik napas.
Ia menahannya. Ia menahannya lebih lama daripada yang ia kira sanggup. Dan waktu ia melepasnya, ia melepasnya lewat hidung, pelan, dibagi-bagi, karena mengeluarkannya sekaligus akan jadi suara.
Anak itu mengedip.
Badannya kendur. Bukan lemas — kendur, seperti tali yang dilepas. Napasnya melambat dan mendalam dan ia menoleh mencari ibunya, dan begitu menemukannya ia menangis dengan tangis anak-anak yang biasa, keras dan sehat dan menuntut, dan Bu Ipah menjatuhkan dirinya ke atas anak itu.
"Ya Allah. Ya Allah, Ras."
Laras berdiri.
Ia berdiri terlalu cepat dan harus memegang kusen pintu, tetapi tidak ada yang melihat karena semua orang sedang melihat anak itu. Ia berjalan ke dapur dan menuang air ke gelas dan meminumnya sampai habis dan menuang lagi.
Mereka pulang jam dua belas lewat. Suami Bu Ipah menaruh uang di meja dan Laras mengembalikannya, dan lelaki itu menaruhnya lagi, dan Laras mengembalikannya lagi, dan akhirnya lelaki itu memasukkannya ke saku dengan wajah orang yang merasa berutang lebih banyak daripada sebelum ia datang.
Di pintu, Bu Ipah memegang tangan Laras dengan dua tangan.
"Ibumu ngajarin kamu ya."
"Iya, Bu."
Ia mengunci pintu dan menggoyangnya sekali untuk memastikan.
Rumah itu diam. Dari kamar ibunya terdengar napas orang tidur.
Laras mencuci gelas yang tadi ia pakai, dan mencuci gelas lain yang sebenarnya sudah bersih, dan mengelap meja, dan menyapu lantai depan yang tidak kotor. Baru sesudah itu ia duduk di dipannya dan mengeluarkan buku birunya, karena ia harus menuliskan ini, karena ini yang paling penting yang pernah terjadi padanya.
Ia membuka halaman kosong.
Ia menulis tanggal.
Lalu ia berhenti, karena ia ingin memulainya dengan menulis kapan pertama kali ia melihat ibunya melakukan itu — hari waktu ia masih kecil, di dapur, waktu ibunya memegang tangan seseorang dan Laras berdiri di ambang pintu memegang gelas. Ia ingat pernah menulis itu. Ia ingat menulisnya di tahun pertama, di halaman-halaman awal, waktu tulisannya masih rapi.
Ia membalik ke belakang dan menemukannya di halaman kesembilan. Tulisannya sendiri, empat baris.
Ia membacanya.
Ia membacanya lagi.
Kalimat-kalimat itu jelas. Tempatnya disebut, tanggalnya disebut, bahkan warna gelas yang ia pegang disebut. Semuanya ada di situ, ditulis oleh tangannya sendiri, dengan tinta yang sudah agak memudar di ujung baris.
Dan tidak ada apa pun di kepalanya yang menyahut.
Laras menutup buku itu.
Ia duduk cukup lama. Lalu ia membukanya lagi, ke halaman kosong yang tadi, dan di bawah tanggal ia menulis satu baris:
Anak Bu Ipah. Kejang. Malam. Aku yang ambil.
Ia memandangi kalimat itu.
Lalu ia menambahkan, di bawahnya, dengan huruf yang lebih kecil:
Halaman 9 sudah tidak ada di kepalaku. Tulisannya masih ada.
Ia menaruh buku itu di bawah bantal.
Di kamar sebelah ibunya bergerak, lalu diam, lalu mulai mendengung. Pelan, tanpa lirik, tanpa naik turun yang jelas — suara di dalam mulut yang tertutup, yang keluar sendiri kalau tangan sedang mengerjakan sesuatu yang tidak perlu dipikir, atau kalau tidak ada lagi yang perlu dipikir sama sekali.
Laras berbaring mendengarkan sampai dengung itu berhenti.
Ia tidak menyadari bahwa sejak tadi ia ikut mendengung.
Paginya ibunya sudah kembali.
Laras tahu dari cara ibunya menyebut namanya sebelum ia kelihatan — "Nduk, itu air sudah mendidih dari tadi" — kalimat panjang, lengkap, dengan keluhan di dalamnya. Ibunya cuma mengeluh kalau sedang ada.
"Iya, Bu."
Laras mengangkat panci. Ia menuang air ke termos, dan sebagian tumpah ke meja karena tangannya lebih lambat daripada biasanya, dan ia mengelapnya sebelum ibunya sempat melihat.
Ranti duduk di dingklik dan menarik baskom berisi kacang panjang ke pangkuannya. Ia mulai memotong. Setelah beberapa saat ia mulai mendengung.
Laras, yang berdiri membelakanginya di depan kompor, ikut mendengung.
Ia tidak menyadarinya. Yang ia sadari cuma bahwa dengung di belakangnya berhenti.
Ia menoleh.
Ibunya sedang memandanginya. Pisau di tangannya berhenti di tengah kacang panjang, tidak diangkat, tidak diturunkan. Wajahnya bukan wajah orang yang lupa. Justru sebaliknya.
"Semalam ada yang datang," kata Ranti.
"Nggak ada, Bu."
"Ada." Ranti menaruh pisau di dalam baskom. "Tikarnya berubah tempat."
Laras memandangi tikar itu. Tikar itu memang bergeser sejengkal ke kiri, dan ia tidak mengembalikannya semalam karena jam dua belas lewat dan ia sudah tidak sanggup memikirkan tikar.
"Anak Bu Ipah," katanya. "Kejang."
"Terus?"
"Terus berhenti."
"Berhenti sendiri?"
Laras tidak menjawab.
Ibunya berdiri. Ia berdiri dengan cara yang sudah lama ia pakai — miring dulu, tahan di siku — tetapi kali ini ia melakukannya cepat, terlalu cepat, dan ia harus berpegangan sebentar di tepi meja.
Ia berjalan ke arah Laras dan mengambil kedua tangan anaknya dan membaliknya, telapak menghadap ke atas, seperti orang memeriksa apakah ada luka.
Tidak ada apa-apa di situ. Tidak pernah ada apa-apa di situ.
Ranti memegangi tangan itu agak lama. Ibu jarinya bergerak sekali di pergelangan Laras, ke depan dan ke belakang, satu kali.
"Cuci tangan," katanya.
"Sudah, Bu."
"Cuci lagi."
Di belakang, di dekat sumur, ibunya menuang minyak tanah ke telapak tangan Laras dan menggosoknya sampai ke sela jari. Lalu ia membelah jeruk nipis dan memerasnya di atas tangan itu. Airnya masuk ke bawah kuku dan perih sedikit.
Laras berdiri diam dan membiarkannya.
Ia sudah delapan belas tahun dan tangannya tidak amis dan tidak ada satu pun alasan masuk akal untuk ini, dan ibunya menggosoknya seperti menggosok tangan anak kecil yang baru main di selokan, dan tidak ada satu pun dari mereka yang menyebut kenapa.
"Bu."
"Hm."
"Ibu marah?"
Ranti tidak menjawab. Ia memeras setengah jeruk yang kedua, yang sebenarnya tidak perlu.
"Kamu tahu itu diambil dari mana?" katanya akhirnya.
"Nggak."
"Nah." Ibunya menaruh kulit jeruk itu di tepi sumur. "Ibu juga nggak tahu. Ibu sudah tiga puluh tahun nggak tahu."
Ia mengangkat tangan Laras dan menciumnya sebentar, punggung tangannya, dua kali, cepat, seperti orang yang buru-buru menyelesaikan sesuatu sebelum berubah pikiran.
"Sekali-sekali boleh," kata Ranti. "Jangan tiap kali."
"Kenapa?"
"Sisakan sedikit buat besok."
Laras menarik tangannya pelan-pelan dan mengeringkannya di rok.
Baunya tidak hilang. Minyak tanah dan jeruk nipis, dua-duanya, bercampur, seperti tangan ibunya sepanjang ingatan Laras — kecuali sekarang bau itu ada di tangannya sendiri, dan ia mengangkatnya ke dekat hidungnya waktu ibunya sudah masuk ke dalam, dan ia berdiri di dekat sumur mencium tangannya sendiri cukup lama.
Dari dalam terdengar ibunya memanggil.
"Nduk, kacangnya kurang."
"Iya, Bu."
"Ambil di belakang. Jangan diambil semua."
"Iya, Bu."