Menantu Pak Wardi datang jam tujuh, dan yang dibawanya tidak kelihatan dari luar.
Perempuan itu masih muda, mungkin dua puluh dua, dan ia duduk di kursi dengan punggung yang terlalu lurus. Tangannya di pangkuan, saling menggenggam. Pak Wardi berdiri di belakangnya dan bicara mewakilinya sampai Ranti menyuruhnya diam.
"Biar dia yang cerita."
"Dia nggak mau cerita, Bu, dari kemarin."
"Ya sudah, nggak usah cerita." Ranti menarik dingklik. "Nggak apa-apa nggak cerita."
Perempuan itu menangis begitu Ranti duduk di depannya, sebelum disentuh, sebelum apa pun. Menangis yang tidak bersuara, cuma bahu yang naik turun dan dagu yang dilipat ke dada.
Laras keluar ke dapur karena itu yang selalu ia lakukan kalau yang datang menangis sebelum disentuh. Ia mencuci gelas yang sudah bersih. Dari sana ia mendengar ibunya berkata sesuatu yang pendek, lalu tidak ada apa-apa lagi selama mungkin dua menit.
Waktu ia kembali, perempuan itu sedang minum, dan wajahnya wajah orang yang baru bangun tidur di tempat asing. Pak Wardi menaruh amplop di meja. Ranti tidak melihat amplop itu dan tidak menyuruhnya diambil kembali.
Di pintu, Pak Wardi berhenti seperti kemarin.
"Bu, kalau minggu depan—"
"Minggu depan lihat nanti."
"Iya, Bu. Iya."
Sesudah mereka pergi ibunya duduk agak lama. Lalu ia berdiri dan pergi ke belakang dan Laras mendengar air. Waktu ibunya kembali, tangannya basah dan wangi jeruk nipis, dan ia berkata dengan nada biasa:
"Nduk, pasar sebelah mana ya."
Laras sedang melipat kain. Ia terus melipat sampai lipatannya selesai, karena berhenti mendadak akan membuat ibunya tahu bahwa yang barusan ia tanyakan bukan pertanyaan biasa.
"Kanan, Bu. Lewat jembatan, terus kanan."
"Oh iya." Ibunya mengangguk. "Kanan."
Ranti tidak pergi ke pasar hari itu. Laras yang pergi.
Muara Tulang tidak besar. Sungainya bertemu laut di ujung kampung, dan di titik pertemuan itu airnya berwarna dua macam sepanjang tahun, cokelat dari hulu dan hijau dari luar, dan garis batasnya bergeser tergantung hujan. Rumah-rumah berdiri di sisi sungai, membelakangi laut, karena angin dari laut membawa garam dan garam memakan seng.
Orang di sini mengenal Laras dengan dua cara sekaligus. Mereka menyapanya lebih dulu, selalu, bahkan yang lebih tua. Dan mereka tidak pernah menahannya lama untuk mengobrol.
"Laras! Ibu sehat?"
"Sehat, Bu."
"Alhamdulillah. Salam ya."
Begitu terus, sepanjang jalan, dan tidak ada satu pun yang bertanya apakah Laras sendiri sehat.
Di pasar ia membeli beras, gula, dan minyak tanah. Yang jual minyak tanah menuangkan sampai jeriken penuh dan Laras menahannya di angka yang kurang sedikit.
"Kurang, Ras."
"Cukup."
"Bayarnya sama saja."
"Cukup, Pak."
Di ujung deretan, di bawah terpal biru yang sudah pecah warnanya, Mbah Rus duduk dengan dagangan yang tidak pernah habis dan tidak pernah bertambah: tiga ikat kangkung, sekeranjang kecil cabai, dan garam. Ia sudah terlalu tua untuk berdagang dan semua orang tahu ia berdagang supaya ada alasan keluar rumah.
"Larasati."
"Mbah."
"Sini." Mbah Rus menepuk tikar di sebelahnya. Laras duduk, karena menolak akan lebih lama daripada duduk.
"Ibumu masih nerima orang?"
"Masih."
Mbah Rus mengangguk beberapa kali, terlalu banyak untuk satu jawaban sependek itu.
"Mbahmu dulu juga," katanya. "Mbah Sarni. Ibunya ibumu."
Laras tahu nama itu dari buku birunya, dari halaman yang ditulis dua tahun lalu, tiga baris, dan tidak lebih.
"Orang antre sampai ke jembatan," kata Mbah Rus. "Dulu belum ada puskesmas. Belum ada apa-apa. Kalau anak kejang tengah malam ya ke situ, mau ke mana lagi."
"Terus?"
"Ya terus begitu." Mbah Rus membetulkan ikatan kangkung yang tidak perlu dibetulkan. "Sampai tuanya."
"Tuanya kenapa?"
Perempuan tua itu diam agak lama. Di sebelah, seorang pembeli menawar cabai dan pergi tanpa membeli.
"Sudah nggak kenal siapa-siapa," katanya akhirnya. "Anaknya sendiri dipanggil 'Bu'. Ibumu itu, dipanggil 'Bu' sama ibunya sendiri, sampai meninggal."
Laras memandangi tiga ikat kangkung itu.
"Tapi masih bisa nyanyi," kata Mbah Rus, dan tiba-tiba nadanya berubah, jadi lebih ringan, seperti orang yang baru ingat bagian yang menyenangkan. "Itu yang aneh. Nggak ingat nama, nggak ingat rumah, tapi kalau lagi ngerjain apa-apa dia nyanyi. Nggak ada liriknya. Dengung saja."
"Dengung."
"He'eh. Dengung." Mbah Rus tertawa pendek. "Ibumu juga begitu sekarang, kan?"
Laras berdiri, dan waktu ia berdiri ia menyadari bahwa ia berdiri terlalu cepat.
"Saya duluan, Mbah."
"Ya. Salam ibumu."
"Iya."
"Ras."
Laras berhenti.
"Yang begitu itu nggak bisa berhenti sendiri," kata Mbah Rus, tanpa menoleh, sambil menyusun ulang cabainya. "Harus ada yang menghentikan."
Laras berjalan sampai ke ujung pasar sebelum ia sadar bahwa jeriken itu ia tenteng dengan tangan yang salah. Ia memindahkannya. Tangannya berkeringat dan gagang plastiknya licin, jadi ia berhenti di dekat tiang, mengelap telapak tangannya ke rok, dan mengangkatnya lagi.
Di depan warung, dua anak berebut satu sepeda. Yang kalah menangis dengan cara anak-anak menangis kalau tahu ada yang menonton. Ibunya keluar, memukul pahanya sendiri sekali sebagai isyarat marah, lalu menggendongnya.
Laras berdiri menonton itu lebih lama daripada yang masuk akal untuk ditonton.
Ia membawanya pulang lewat jalan yang lebih jauh, lewat galangan, karena jalan yang lebih dekat lewat depan rumah Pak Wardi dan ia sedang tidak ingin ditanya soal minggu depan.
Bayu sedang mendempul lambung perahu bapaknya, jongkok, dengan kaus yang ditarik ke atas hidung sebagai penahan bau. Ia menurunkan kausnya waktu melihat Laras.
"Berat itu."
"Nggak."
"Sini."
"Nggak usah."
Bayu berdiri, mengambil jeriken itu dari tangan Laras tanpa menunggu izin, dan menaruhnya di bahunya sendiri. Mereka jalan. Ia tidak bertanya soal ibunya. Ia tidak pernah bertanya soal ibunya, dan itu satu-satunya alasan Laras masih mau lewat galangan.
"Kemarin ada yang nyangkut jaring di tiang," kata Bayu. "Bapakku bilang itu jaring Pak Sarju. Pak Sarju bilang bukan. Sekarang mereka nggak ngomong."
"Karena jaring."
"Karena jaring." Bayu memindahkan jeriken ke bahu satunya. "Tiga puluh tahun temenan, terus jaring."
"Jaringnya siapa?"
"Ya Pak Sarju." Bayu menyeringai. "Tapi jangan bilang."
Mereka sampai di pertigaan dan Bayu menurunkan jeriken di situ, seperti biasa, karena Laras tidak pernah mengizinkannya mengantar sampai depan rumah dan Bayu tidak pernah menanyakan kenapa.
"Ras."
"Hm."
"Kalau ibumu capek, bilang saja capek." Ia sudah berbalik waktu mengucapkannya, jadi Laras tidak bisa melihat wajahnya. "Orang sini nggak akan mati kalau nunggu seminggu."
Laras mengangkat jeriken itu sendiri dan pulang.
Di rumah, pintu terbuka dan ibunya tidak ada.
Laras menaruh belanjaan di lantai, tidak di meja, dan keluar lagi. Ia tidak berlari, karena berlari akan membuat orang bertanya, dan orang bertanya akan membuat kabarnya sampai ke Pak Wardi sebelum sore.
Ia menemukan ibunya di ujung jalan, di dekat tikungan, berdiri di tepi jalan aspal yang lebarnya dua kali lebar jalan lama. Ibunya berdiri menghadap ke tempat yang sekarang cuma bahu jalan dan tiang listrik.
"Bu."
Ranti menoleh. Ia tidak kelihatan bingung. Ia kelihatan seperti orang yang sedang menunggu seseorang yang terlambat.
"Pohonnya mana?"
Laras berdiri di sebelahnya dan ikut menghadap ke arah yang sama.
"Sudah ditebang, Bu."
"Kapan?"
"Waktu jalannya diperlebar."
Ranti mengangguk. Ia berdiri sebentar lagi. Sebuah motor lewat dan angin dari motor itu menggerakkan ujung kerudungnya.
"Anak siapa yang jatuh dari situ?"
"Aku nggak tahu, Bu."
"Oh." Ranti membetulkan kerudungnya. "Kirain kamu tahu."
Mereka pulang. Ibunya jalan di sebelah kiri karena sebelah kiri lebih jauh dari selokan, dan Laras selalu mengambil sisi yang dekat selokan tanpa pernah membicarakannya.
Malam itu Laras mengeluarkan buku birunya.
Ia mencari halaman yang tanggalnya kemarin, dan menemukannya, tulisannya sendiri: pohon asam, depan rumah, anak jatuh. Ditebang waktu jalan diperlebar.
Ia membawanya ke kamar ibunya.
"Bu, dengerin."
"Hm."
"Dulu di depan sini ada pohon asam. Besar. Anak-anak main di bawahnya. Ada anak yang jatuh dari situ, Ibu lupa namanya siapa. Terus ditebang waktu jalan diperlebar." Laras berhenti. "Ibu yang cerita. Kemarin pagi."
Ibunya mendengarkan sampai selesai dengan sopan, dengan kepala sedikit miring, cara orang mendengarkan cerita tetangga tentang kampung yang belum pernah ia datangi.
"Wah," katanya. "Sayang ya."
"Bu."
"Iya?"
"Nggak apa-apa."
Laras menutup bukunya.
Ia sudah tahu ini sebelumnya. Ia sudah mencobanya tujuh kali, dan tujuh kali hasilnya sama, dan ia tetap mencoba karena tiap kali ia menemukan alasan kenapa yang ketujuh akan berbeda dari yang keenam. Yang ia tulis bisa dibaca. Yang ia tulis tidak bisa dikembalikan.
Ia menaruh buku itu di bawah bantal dan mematikan lampu.
Dari kamar sebelah terdengar ibunya membetulkan letak bantal, lalu diam, lalu berkata, tanpa ditujukan kepada siapa-siapa:
"Besok Pak Wardi datang lagi ya."
"Kata Ibu minggu depan."
"Oh. Iya. Minggu depan."
Laras berbaring menghadap dinding. Di luar, air pasang naik dan membentur tiang-tiang galangan dengan bunyi yang sudah terlalu lama ia dengar untuk bisa membangunkannya.
Ia menghitung lagi, dengan jari, di bawah selimut. Sebelas orang bulan ini, ditambah menantu Pak Wardi tadi pagi. Dua belas.
Ia berhenti menghitung karena angka itu tidak memberitahunya apa pun yang bisa ia kerjakan besok pagi.
Ibu anak itu menoleh dan melihat Laras, dan senyumnya berubah jadi senyum yang lain, yang lebih sopan dan lebih jauh.
"Laras. Ibu sehat?"
"Sehat, Bu."
"Alhamdulillah."
Perempuan itu masuk lagi ke dalam rumahnya sambil menggendong anaknya, dan pintunya ditutup dengan kaki.
Di dalam, anak itu masih menangis, tetapi tangisnya sudah berubah jadi tangis yang tidak sungguh-sungguh, yang dipelihara sebentar lagi supaya tidak rugi.
Laras memindahkan jeriken ke tangan kanan dan berjalan terus.
Sepanjang jalan pulang tidak ada yang menyapanya lagi, karena jalan itu memang sepi jam segitu, dan Laras menghitung berapa langkah dari tiang listrik ke tiang listrik berikutnya, sesuatu yang sudah ia hitung ratusan kali dan selalu keluar angka yang sedikit berbeda.