Pukul lima pagi ibunya sudah duduk di bibir dipan, dan Larasati tahu itu pertanda buruk.
Kalau Ranti bangun bersama azan, hari itu biasanya baik. Kalau ia bangun sebelum ayam, artinya ada sesuatu yang tidak bisa ia tidurkan di badannya semalaman.
"Bu."
"Hm."
"Kaki lagi?"
"Pinggang." Ranti memindahkan berat badannya sedikit ke kiri. "Sudah, tidur lagi sana."
Laras tidak tidur lagi. Ia menarik buku tulis bersampul plastik biru dari bawah bantal, membuka halaman yang belum penuh, dan menunggu.
Sudah tiga tahun begini. Ibunya paling banyak bicara di jam-jam sebelum terang, waktu badannya terlalu ramai untuk diam. Yang keluar di jam itu biasanya yang lama-lama. Nama orang. Tahun. Jalan yang sudah tidak ada lagi. Laras mencatat. Tidak semuanya; tangannya tidak secepat itu. Ia hanya mencatat yang ia kira tidak akan ibunya ceritakan dua kali.
"Dulu di sini ada pohon asam," kata Ranti ke arah jendela. "Besar. Anak-anak main di bawahnya. Namanya siapa ya, yang jatuh dari situ."
Laras menulis: pohon asam, depan rumah, anak jatuh.
"Sudah ditebang waktu jalan diperlebar." Ranti diam sebentar. "Kamu belum lahir."
Laras menulis itu juga. Kamu belum lahir. Ia selalu mencatat kalimat yang ibunya ucapkan dengan nada seperti itu, walau isinya tidak penting, karena nada itu yang tidak bisa ia tulis dan ia ingin ada tandanya.
Terang datang pelan-pelan, abu-abu dulu, baru kuning. Dari luar terdengar orang menyeret jaring di pasir. Ranti bangkit dengan cara yang sudah lama ia pakai: miring dulu, tahan di siku, baru duduk penuh, baru berdiri. Tiga langkah pertama selalu pendek-pendek.
"Bu, biar aku."
"Kamu ngupas bawang selalu kebanyakan yang kebuang."
Di dapur ibunya duduk di dingklik dan mulai mengupas. Kulit bawang jatuh ke koran. Setelah sebentar Ranti mulai mendengung. Bukan lagu; tidak ada liriknya, tidak jelas juga naik turunnya. Cuma suara di dalam mulut yang tertutup. Ia selalu begitu kalau tangannya sedang mengerjakan yang tidak perlu dipikir.
Laras menjerang air. Ia membuka jeriken minyak tanah, menuang ke kompor, dan berhenti waktu ibunya menoleh.
"Jangan diambil semua," kata Ranti. "Sisakan sedikit buat besok."
"Masih ada satu jeriken lagi di belakang."
"Ya sudah. Tapi jangan diambil semua."
Laras menyisakan seujung jari di dasar jeriken, seperti biasa, karena lebih cepat menurut daripada berdebat sebelum sarapan.
Mereka makan nasi kemarin dengan telur. Ranti makan pelan, dan dua kali berhenti dengan sendok di udara, seperti orang yang mendengar namanya dipanggil dari jauh. Laras pura-pura tidak lihat. Itu juga kebiasaan.
Yang mengetuk pertama hari itu datang jam tujuh kurang.
Bu Marni, dengan anaknya yang nomor tiga. Anak itu sekitar delapan tahun, dan ia menggendong lengan kanannya dengan tangan kiri seperti menggendong barang pecah belah. Dari siku sampai pergelangan kulitnya merah tua dan mengilap, dan di beberapa tempat sudah menggelembung.
"Air panas," kata Bu Marni. Suaranya sudah mau habis. "Semalam. Saya sudah kasih odol, sudah saya kasih minyak, dia nggak bisa tidur, Bu, semalaman dia nggak bisa tidur."
"Duduk," kata Ranti.
Bu Marni duduk. Anak itu tidak mau duduk. Ia berdiri di dekat pintu dengan lengan di depan dada dan mata yang tidak berkedip.
Ranti tidak menyuruhnya mendekat. Ia mengambil dingklik, membawanya sendiri ke dekat pintu, dan duduk di situ sehingga kepalanya lebih rendah daripada kepala anak itu.
"Namanya siapa?"
"Ijal."
"Ijal, ibu nggak akan pegang yang merah."
Anak itu tidak menjawab.
"Ibu pegang di sini." Ranti menunjuk bahu anak itu, di atas kaus, jauh dari luka. "Boleh?"
Butuh waktu. Di luar ada orang lewat menyeret gerobak, dan bunyi rodanya lama sekali sampai hilang. Akhirnya anak itu memiringkan badan sedikit, yang artinya boleh.
Ranti menaruh tangannya di bahu anak itu.
Tidak ada apa-apa yang bisa dilihat. Tidak ada cahaya, tidak ada angin, tidak ada bau. Laras berdiri di dekat meja dengan gelas yang belum ia turunkan, dan yang ia perhatikan cuma dua hal, seperti tiap kali.
Yang pertama: wajah anak itu berubah. Bukan tersenyum. Cuma kendur. Rahangnya turun sedikit, bahunya turun, dan alisnya yang tadi terkunci di tengah lepas satu per satu. Anak itu menoleh ke lengannya sendiri seperti menoleh ke lengan orang lain.
Yang kedua: napas ibunya.
Ranti menarik napas sekali, panjang, dan menahannya lebih lama daripada yang wajar. Waktu ia melepasnya, ia melepasnya lewat hidung, pelan, dibagi-bagi, cara orang mengeluarkan napas kalau mengeluarkannya sekaligus akan jadi suara.
Ia melepaskan tangannya dari bahu anak itu.
"Masih merah, Bu," kata Bu Marni.
"Merahnya nggak ke mana-mana. Merahnya masih punya dia." Ranti mengangkat dingklik dengan tangan kiri dan membawanya kembali ke dapur. "Yang saya ambil yang bikin dia nggak tidur. Luka tetap harus diobati. Jangan dikasih odol lagi."
Bu Marni menangis sedikit, cara orang menangis yang buru-buru dihabiskan supaya tidak merepotkan. Ia menaruh sesuatu di meja dekat pintu — bungkusan koran, kelihatannya ikan — dan bilang terima kasih empat kali. Ijal keluar duluan. Di halaman ia berlari, dan berhenti, dan melihat lengannya lagi, dan berlari lagi.
Laras menutup pintu.
Ibunya sudah kembali ke dingklik. Bawang yang tadi masih setengah.
"Bu, biar aku terusin."
"Sedikit lagi."
Laras melihat tangan kanan ibunya. Kulitnya tidak merah. Tidak ada yang menggelembung. Tidak pernah ada. Tetapi jari-jarinya berhenti di kulit bawang dan tidak melanjutkan, dan setelah beberapa saat Ranti menaruh bawang itu di pangkuannya dan menaruh pisaunya di lantai, pelan-pelan, seperti orang menaruh sesuatu yang bisa pecah.
"Nanti sore," katanya.
"Iya, Bu."
Menjelang siang Laras mencuci tangan ibunya di belakang, di dekat sumur. Ini juga kebiasaan, dan sudah lama tidak ditawarkan lagi; tinggal dikerjakan. Ia menuang sedikit minyak tanah ke telapak tangan ibunya untuk mengangkat bau amis dari bungkusan Bu Marni, menggosoknya sampai ke sela jari, lalu membelah jeruk nipis dan memerasnya di atas tangan itu untuk mengangkat bau minyak tanahnya.
Baunya tidak pernah hilang betul. Yang tinggal selalu campuran keduanya, minyak tanah dan jeruk nipis, dan begitulah tangan ibunya sepanjang ingatan Laras.
"Kamu kebanyakan jeruknya."
"Nggak."
"Sisakan buat masak."
"Masih ada, Bu."
Sore itu ibunya tidak bisa memegang sendok dengan tangan kanan. Ia makan dengan tangan kiri, canggung, dan menertawakan dirinya sendiri sekali, dan tidak menyinggungnya lagi.
Menjelang magrib Pak Wardi datang, tidak masuk, berdiri saja di anak tangga dengan sandal masih di kaki.
"Besok pagi bisa, Bu?"
"Siapa?"
"Menantu saya. Yang bungsu. Sudah tiga malam nggak bisa apa-apa." Ia menggosok tengkuknya. "Bukan yang berat, Bu. Kecil saja."
Laras berdiri di belakang ibunya dan menghitung, karena ia selalu menghitung. Bu Marni tadi pagi. Yang hari Selasa dua orang. Yang Jumat kemarin tiga, dan salah satunya datang dua kali.
"Bisa," kata ibunya.
"Alhamdulillah. Nggak usah lama-lama, Bu, sebentar saja."
"Iya."
Pak Wardi turun, lalu berhenti, lalu menoleh lagi. "Ibu sendiri sehat?"
"Sehat."
"Ya sudah. Besok pagi ya, Bu."
Laras menutup pintu dan bersandar di situ.
"Bu."
"Hm."
"Besok jangan."
Ibunya menoleh, dan wajahnya wajah orang yang tidak mengerti apa yang salah dengan pertanyaan itu.
"Kenapa nggak?"
Laras tidak punya jawaban yang bisa ia ucapkan tanpa terdengar seperti anak kecil. Ia bilang, "Tangan Ibu tadi belum bener."
"Besok sudah bener."
"Kalau belum?"
"Ya pakai kiri." Ibunya sudah berjalan ke dapur. "Sudah, ambilkan garam."
Laras mengambil garam. Ia menaruhnya di meja, di sebelah kanan ibunya, karena tangan kanan ibunya sedang tidak bisa dipakai dan menaruhnya di kiri berarti ibunya harus menyeberangkan tangan yang sakit ke arah yang salah.
Ibunya tidak menyebut apa-apa soal itu, dan tidak pernah menyebut apa-apa soal itu, dan sudah bertahun-tahun begitu.
Malamnya, waktu Laras menyapu, ibunya memanggil dari kamar.
"Nduk."
"Iya."
"Ambilkan itu."
Laras menunggu.
"Yang di lemari," kata Ranti. "Yang buat... yang dipakai kalau hujan."
"Payung?"
"Bukan."
"Jas hujan?"
"Bukan itu." Ranti mengangkat tangan kirinya dan menggerakkannya di udara, membuat bentuk sesuatu yang tidak bisa ditebak Laras. Lalu ia menurunkannya. "Ya sudah. Nggak jadi."
Laras berdiri di ambang pintu dengan sapu di tangan.
"Bu, minyak kayu putih?"
"Bukan." Ranti menoleh ke arahnya. Lampu di kamar itu lima belas watt dan sudah kuning sekali. Ibunya memandanginya cukup lama untuk membuat Laras sadar bahwa ia sedang dipandangi.
"Kamu anaknya siapa?"
Sapu itu tetap di tangan Laras. Ia menghitung dalam hati, karena menghitung membuat ada sesuatu yang bisa dikerjakan. Satu. Dua. Tiga. Empat.
"Laras," kata ibunya. Suaranya biasa saja. "Ya Allah, kenapa kamu bawa sapu ke sini. Sudah malam."
"Iya."
"Sana taruh."
Laras menaruh sapu di belakang pintu dapur, di tempatnya, dengan gagang menghadap ke dalam supaya tidak jatuh. Ia menuang air ke gelas ibunya sampai penuh. Ia mematikan lampu depan. Ia mengunci pintu dan menggoyangnya sekali untuk memastikan, seperti biasa.
Lalu ia duduk di dipannya sendiri dan mengambil buku tulis bersampul plastik biru itu.
Ia membuka halaman baru. Bukan lanjutan yang tadi pagi — halaman baru, yang bersih.
Di baris paling atas ia menulis satu kata, dan ia menulisnya besar-besar, lebih besar daripada tulisannya yang mana pun di buku itu, dengan huruf yang jelas, dengan tekanan yang cukup sampai membekas di halaman berikutnya.
LARASATI.
Di bawahnya, lebih kecil: anak Ibu. Satu-satunya.
Ia menutup bukunya dan menaruhnya di bawah bantal, dan berbaring, dan tidak tidur sampai lama.
Waktu makan malam Laras menghitung sekali lagi, diam-diam, dengan jari di bawah meja. Sebelas orang bulan ini. Bulan lalu sembilan. Bulan sebelumnya ia lupa mencatat, dan lupa itu terasa seperti kelalaian yang tidak bisa ia perbaiki lagi.
"Kenapa?" tanya ibunya.
"Nggak apa-apa."
"Makan yang benar."
Laras makan yang benar.