Hari ke-17, dan aku sudah menghitung: tiga belas hari lagi, dua puluh dua episode yang belum punya satu kalimat pun, dan seorang psikolog yang duduk di depanku seperti sedang menonton film yang sudah ia tahu akhirnya.
"Kita mulai dari mana hari ini, Pak Handoko?" tanya Wening, pena di tangan tidak pernah benar-benar menulis, hanya diketuk-ketukkan ke map seperti metronom yang sengaja dibuat mengganggu.
"Dari mana saja, asal cepat," kataku, melirik jam dinding yang detaknya terlalu keras untuk ukuran benda mati. "Saya ada tenggat, Bu Wening. Season lima tidak akan menulis dirinya sendiri."
"Menarik," katanya, tanpa nada tertarik sama sekali. "Karena selama enam belas sesi terakhir, Bapak selalu bilang begitu, tapi belum pernah sekali pun cerita siapa yang pertama kali mendengar suara itu selain Bapak."
CUT. Aku benci kalimat seperti itu, kalimat yang berbentuk pertanyaan tapi sebenarnya sudah tahu jawabannya dan cuma menunggu aku mengaku kalah lebih dulu.
"Ayah saya," jawabku, terlalu cepat, seperti murid yang menghafal jawaban semalam sebelum ujian. "Beliau saksinya. Sebenarnya saya baru saja mau ke sana, ke Bogor, minggu ini."
Itu bohong. Aku belum menjenguk ayahku sejak—aku bahkan tidak ingat sejak kapan, dan justru karena aku tidak ingat, kalimat itu terasa aman untuk diucapkan. Tapi Wening hanya mengangguk, menutup map-nya dengan bunyi yang terlalu puas.
"Bagus," katanya. "Sesi berikutnya kita bahas hasilnya."
Aku keluar dari Klinik Sarasa dengan perasaan orang yang baru saja menandatangani kontrak tanpa membaca pasal-pasalnya, dan satu-satunya cara membuktikan aku tidak berbohong adalah benar-benar berangkat, hari itu juga, ke Bogor.
Wisma Lansia Kasih Damai menyambutku dengan bau kayu putih dan radio dakwah yang volumenya seperti sengaja disetel untuk menenggelamkan pikiran siapa pun yang datang. Ayahku duduk di kursi rotan di kamar nomor 7, jas hitam lusuh terpasang rapi seolah ada jemaat yang akan datang mendengarkannya lagi, tangan bergetar memegang kaset kosong yang sudah tidak ia ingat isinya, atau justru sengaja ia pilih karena kosong.
"Doko," katanya, tanpa menoleh, seperti sudah menunggu sejak pagi. "Kau bawa amplop dari Ibu Mulyani? Untuk zakat fitrah? Atau—tunggu, itu iklan. 'Dengarkan Radio Cahaya Iman, setiap pukul lima, bersama—' siapa itu, Pendeta Yohanes sudah meninggal, kan? Tahun berapa dia meninggal?"
"Bapak," kataku, duduk di kursi plastik yang disediakan untuk pengunjung, "saya mau tanya soal dulu. Sanggar. Tahun sembilan empat."
"Sanggar Terang Sejati," ucapnya, dan untuk sepersekian detik matanya benar-benar fokus, seolah nama itu masih tersimpan di laci yang belum tertutup rapat. "Jemaat banyak sekali waktu itu. 'Barangsiapa yang mendengar suara-Nya dan membuka pintu'—itu Wahyu, ya, atau aku yang karang sendiri? Ibu kau dulu jualan kerupuk di depan sanggar. Rasanya enak. Sudah meninggal juga dia, kan? Atau belum?"
Aku menunggu, sabar seperti sedang menunggu take yang bagus, berharap dari serpihan-serpihan ngawur ini akan keluar satu kalimat yang bisa kujadikan jangkar—bukti bahwa suara itu memang pernah nyata, bahwa aku bukan sekadar anak sembilan tahun yang pandai mengarang di balik gorden.
Dan kemudian, di tengah igauan tentang iklan radio dan nama-nama orang mati, ayahku berhenti sejenak, menatapku dengan mata yang tiba-tiba jernih, kejam justru karena kejernihannya.
"Bapak juga tidak pernah dengar apa-apa, Doko," katanya. "Bapak cuma butuh kau bicara, supaya jemaat percaya."
CUT.
Aku duduk diam, dan untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan itu, radio dakwah terdengar lebih keras daripada semua kata yang pernah kupikir penting.
"Bapak lagi bingung," kataku, kepada diriku sendiri lebih dari kepadanya. "Bapak demensia. Ini bukan jawaban yang valid."
Tapi malam itu, di apartemen, alih-alih membuka naskah season lima yang tenggatnya makin dekat, aku justru menulis ulang adegan sore itu—mengubah kalimat ayahku menjadi lebih panjang, lebih puitis, memberinya sorot lampu dan musik latar yang tak pernah ada, sampai kalimat jujur yang menelanjangiku itu berubah jadi dialog yang, ironisnya, terasa jauh lebih meyakinkan daripada kebenarannya sendiri.
Dua hari kemudian aku berdiri di depan Ruko Mutiara Blok C-11, yang kini menjual balon ulang tahun dan terpal dengan lagu dangdut menggelegar dari speaker sebesar lemari es. Lantai teraso di dalamnya masih sama—aku ingat betul motifnya, karena dulu aku menghafalnya sambil menunggu giliran duduk di balik gorden.
Pemilik toko mengizinkanku memeriksa gudang belakang, kardus-kardus barang lama peninggalan penyewa sebelumnya yang tak sempat diambil. Di antara kabel rusak dan poster rohani yang lengket oleh debu, aku menemukan kaset pita berlabel spidol: 1994.
Aku memutarnya di pemutar tua yang masih ada di sana, entah kenapa masih berfungsi.
Bukan suara ayahku yang keluar. Suara anak lelaki, tinggi dan sedikit gemetar, membacakan kalimat-kalimat yang—aku kenal betul iramanya, karena aku sendiri yang menuliskannya bertahun-tahun kemudian, seolah baru menemukannya.
Suaraku sendiri, umur sembilan tahun, membaca naskah wahyu di balik gorden.
Aku membawa kaset itu ke Klinik Sarasa seperti membawa mayat yang ingin diautopsi orang lain agar aku tidak perlu melakukannya sendiri. Wening memutarnya, lalu, satu per satu, meletakkan empat lembar naskah di meja—empat versi adegan runtuhnya sanggar yang pernah kutulis di empat season berbeda, masing-masing dengan akhir yang berlainan, masing-masing menempatkan ayahku sebagai korban, pahlawan, atau saksi, tak pernah sekali pun sebagai orang yang menyuruh anaknya berbohong.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia membiarkan jam dinding klinik itu berdetak, satu-satunya suara di ruangan, sampai aku sendiri yang akhirnya menunduk, tak sanggup lagi membantah bahwa 'suara Tuhan' yang termasyhur itu, sejak awal, hanya aku.
Aku kembali ke ruang kerja dengan kepala yang terasa disewa orang lain, dan di sana Gilang sudah menunggu dengan laptop terbuka, wajahnya campuran gugup dan bangga.
"Om Han, Pak Bram minta saya coba draf dialog 'suara Tuhan' buat episode pembuka season lima. Biar nggak telat," katanya, menyodorkan layar.
Aku membacanya. Iramanya persis milikku—jeda di tempat yang sama, metafora tentang cahaya dan pintu yang sama—tapi dijahit lebih rapi, tanpa satu pun keraguan yang biasanya kuselipkan tanpa sadar. Bram tersenyum dari sudut ruangan, tiga ponselnya berdering bergantian.
"Kita cuma jaga-jaga, kan, insight-nya kuat," katanya. "Sepakat ya?"
Aku tidak menjawab Bram. Aku marah, tapi bukan pada dia atau pada Gilang yang dulu memujaku dan kini menirukanku tanpa dosa—aku marah karena melihat betapa mudahnya kebohonganku dijual ulang, seolah tidak pernah menyakiti siapa pun untuk dibuat.
Rabu itu aku menelepon Salma, mengatakan jadwal antar-jemput dipindah karena rapat mendadak—bohong, sebenarnya aku hanya kelelahan, tak sanggup duduk di mobil dan berpura-pura baik-baik saja di depan Ranu. Salma hanya berkata, "Baik. Rabu depan, jam yang sama," dengan nada yang selalu terdengar seperti stempel resmi.
Baru dua hari kemudian aku sadar, saat Ranu memperlihatkan perekam biru miliknya sambil bertanya polos, "Ayah mau dengar lagi rekaman kemarin nggak?"—bahwa alat itu menyala sepanjang percakapan sore itu, merekam kebohonganku kepada ibunya kata demi kata, dan Ranu, yang sudah terlalu paham untuk anak seusianya, hanya menatapku sebentar sebelum berkata, "Chelsea menang tadi malam," seolah tidak terjadi apa-apa sama sekali.