Pukul empat lewat sepuluh, dan aku sudah bangun sejak tiga—atau mungkin aku memang belum tidur, aku tidak yakin lagi bagaimana cara membedakan keduanya sejak sticky note di dinding apartemenku mulai saling membantah sendiri, tanggal yang satu menimpa tanggal yang lain seperti dua saksi yang tidak sepakat soal kapan kejahatan terjadi.
Dua map ada di meja. Yang satu tipis, rapi, sampulnya masih licin karena baru dicetak semalam—punya Gilang, judulnya "EPISODE PEMBUKA S5 – DRAFT FINAL (ACC BRAM)". Yang satu lagi lecek, penuh coretan, beberapa halamannya kubuang lalu kupungut lagi dari tempat sampah karena aku menyesal membuangnya. Tidak ada judul di map itu. Aku bahkan takut memberinya judul, karena judul adalah janji, dan aku sudah terlalu banyak berjanji dengan huruf kapital.
Aku membaca ulang punyaku sekali lagi, meski aku hafal setiap katanya, karena aku yang menulis, kalimat demi kalimat, jam dua pagi, dengan tangan yang gemetar bukan karena kedinginan. Satu adegan. Seorang ayah tua di kursi rotan, seorang anak lelaki paruh baya duduk di sampingnya, dan tidak ada satu kalimat pun tentang cahaya yang datang dari pintu, tidak ada metafora tentang suara yang membisikkan jalan. Hanya seorang lelaki yang berkata, "Bapak tidak tahu, Nak. Bapak cuma butuh kamu bicara." Itu saja. Dua puluh dua episode yang belum kutulis, dan yang berhasil kuselesaikan cuma satu adegan tanpa Tuhan sama sekali.
Aku menghitung ulang, seperti orang yang tidak percaya pada kalkulator tapi tetap menekan tombol yang sama tiga kali. Hari ke-30. Tidak ada hari ke-31 untuk berpikir ulang. Sidang mediasi jam sembilan, penyerahan naskah sebelum itu—Bram bilang "biar selesai duluan, biar hati kita tenang di ruang sidang," seolah hatinya yang perlu ditenangkan.
Aku memasukkan draf Gilang ke dalam tas dulu, terlipat rapi di bagian bawah, seperti orang yang menyimpan payung padahal berharap tidak hujan. Lalu, dengan tangan yang aku sendiri tidak percaya beraninya, aku menyelipkan naskahku di atasnya—paling atas, paling mudah diambil, seolah aku ingin tangan siapa pun yang membuka tas itu duluan menyentuh yang jujur dulu sebelum yang aman. Bukan keputusan penuh. Setengah keputusan yang gemetar, seperti orang yang melompat dari ketinggian tapi masih memegang tali.
Studio 3 pagi itu lebih bising dari biasanya, seperti selalu setiap kali sesuatu penting akan diputuskan oleh orang yang tidak menulisnya. Gilang sudah di sana, berdiri di dekat meja produksi dengan pena di tangan, wajahnya seperti orang yang disuruh menandatangani surat kematian orang lain dengan namanya sendiri.
"Om Han," katanya, tidak menatapku, menatap kertas. "Pak Bram bilang ini harus atas nama saya. Biar—biar kalau ada apa-apa, bukan Om Han yang kena lagi."
"Kalau ada apa-apa," ulangku, "maksudnya kalau ketahuan bohong."
Gilang diam. Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak kuduga akan dilakukan seorang murid yang selama tiga tahun menyalin iramaku sampai ke titik komanya: ia meletakkan pena itu di tanganku, bukan di kertas.
"Saya nggak bisa, Om. Ini bukan suara saya. Saya cuma niru punya Om Han." Ia menarik napas seperti orang yang baru selesai lari. "Kalau mau ditandatangani, biar Om yang tanda tangan sendiri punya Om. Yang asli."
Bram, yang sejak tadi berdiri agak jauh dengan dua ponsel menempel di masing-masing telinga seolah kepalanya adalah menara operator, mendekat begitu mendengar kata "yang asli" seperti anjing mendengar bel makan.
"Yang asli gimana?" tanyanya, senyumnya sudah menyala duluan sebelum ia tahu jawabannya.
Aku mengeluarkan naskahku dari tas—yang paling atas, yang paling gampang diambil—dan menyerahkannya begitu saja, tanpa pidato, tanpa CUT, karena aku sudah kehabisan tenaga untuk berpura-pura tenang. Bram membacanya cepat, bibirnya bergerak tanpa suara mengikuti kalimat demi kalimat, sampai ke baris "Bapak tidak tahu, Nak." Ia mendongak.
"Ini... nggak ada 'suara Tuhan'-nya sama sekali."
"Nggak ada," kataku. "Karena memang nggak ada."
Aku menunggu ia marah, menunggu ia menyebut kata kontrak, dua miliar, atau setidaknya kata "sayang sekali." Tapi Bram malah tersenyum lebih lebar, jenis senyum yang biasanya ia pasang saat rating naik dua digit.
"Ini justru kuat," katanya, hampir bersemangat, seperti orang menemukan uang di jaket lama. "Penulis yang selama ini bikin kita percaya sama suara Tuhan, sekarang ngaku nggak tahu apa-apa—ini konten yang kuat, Han. Kita tayangin ini." Ia sudah mengetik sesuatu di salah satu ponselnya sebelum aku sempat menjawab. "Kita sepakat ya?"
Aku tidak menjawab, tapi ia sudah menganggapnya sepakat, karena bagi Bram diam selalu berarti setuju, terutama kalau diam itu menguntungkan dia. Aku merasa lega—naskahku akan tayang apa adanya, tanpa disunat—tapi kelegaan itu punya rasa aneh di lidah, seperti kemenangan yang ternyata dijual di toko yang sama dengan kekalahan.
Klinik Sarasa siang itu terasa berbeda sejak aku masuk pintu depannya yang catnya mengelupas seperti biasa, tapi kali ini Wening tidak duduk di kursinya yang biasa, dengan map di pangkuan dan pertanyaan yang sudah disiapkan. Ia berdiri di depan tembok penuh halaman naskah lamaku yang distabilo warna-warni, membelakangiku, seolah sedang membaca ulang sesuatu untuk terakhir kali.
"Saya kira ini hari saya dapat diagnosis," kataku, mencoba melucu satu detik sebelum sesuatu yang lebih berat datang, seperti biasanya.
"Ini bukan hari diagnosis," katanya, masih membelakangiku. "Ini hari saya ngaku."
Ia berbalik. Wajahnya tidak seperti biasa—biasanya rapi dalam cara yang membuatku merasa dibedah tanpa bius, tapi sekarang ada sesuatu yang lelah di sana, sesuatu yang manusiawi.
"Bapak saya juga pendeta," katanya pelan. "Bukan gadungan seperti Bapak Anda. Tapi saya menghabiskan sepuluh tahun berpikir dia orang suci, sampai saya pakai naskah Anda—naskah 'Assalamualaikum Cinta'—buat bantu saya lihat dia sebagai manusia biasa. Setiap kali saya bedah adegan Anda, sebetulnya saya sedang bedah dia."
Aku tidak tahu harus bilang apa. Untuk pertama kalinya dalam tujuh belas—atau dua puluh sembilan, aku sudah lupa hitungannya—hari terapi ini, aku bukan satu-satunya orang di ruangan yang sedang mengarang versi paling enak didengar tentang ayahnya sendiri.
"Trauma nggak sembuh karena Anda ngaku," lanjutnya. "Sembuh karena Anda berhenti mengarang versi yang paling enak didengar. Itu saja. Nggak ada rumus lain."
Ia mengambil sesuatu dari lacinya—kaset 1994, dan sebuah flashdisk kecil. "Semua rekaman sesi kita. Saya nggak kunci apa-apa. Kalau Anda mau hapus, hapus. Kalau Anda mau kasih ke pengacara Salma buat bukti, itu juga hak Anda. Saya cuma psikolog, Pak Handoko. Bukan penjaga kebenaran Anda."
Aku memegang kaset itu seperti memegang bayi yang sudah tiga puluh tahun tidak diberi nama.
Ruang mediasi jam sembilan berbau kertas baru dan pendingin ruangan yang disetel terlalu dingin, jenis dingin yang dipakai orang untuk membuat semua orang merasa harus berbicara pendek-pendek. Salma duduk tegak, blus krem, sanggul kecilnya tidak bergerak sedikit pun meski kipas AC mengarah tepat ke atas kepalanya. Map biru sudah terbuka di depannya sebelum aku sempat duduk sempurna.
"Ini tanggal 14, jam 19.42," katanya, menggeser satu lembar tangkapan layar. "Bapak bilang rapat mendadak. Tidak ada rapat di kalender produksi hari itu." Ia menggeser lembar berikutnya. "Ini tanggal 22, jam 08.03, video insiden live yang sudah ditonton empat juta kali."
Kuasa hukumnya, lelaki berkacamata dengan map lebih tebal dari Salma, menambahkan dengan nada yang berusaha terdengar berat, "Kami juga mengajukan rekaman dari perekam suara anak, sebagai bukti tambahan pola komunikasi yang tidak konsisten antara Termohon dan anak."
Aku menunggu diriku sendiri membuka mulut dengan sesuatu yang biasa kulakukan—kalimat berformat naskah, CUT, adegan berikutnya, sebuah lawakan satu detik sebelum menangis. Tidak ada yang keluar. Untuk pertama kalinya di ruangan seperti ini, aku hanya diam, dan diam itu terasa seperti berdiri telanjang di depan kamera yang, untunglah, kali ini tidak menyala.
Ranu duduk di sudut, memegang perekam birunya di pangkuan, sopan seperti biasa, terlalu sopan untuk anak sebelas tahun. Ia menunggu jeda, lalu bertanya, dengan nada yang sama datarnya seperti menanyakan cuaca, "Ayah pernah beneran dengar suara Tuhan, nggak?"
Ruangan itu diam. Salma tidak menyela. Kuasa hukumnya berhenti menulis.
Aku bisa saja mengarang. Aku sudah punya jawaban itu sejak dua puluh dua tahun lalu, jawaban yang selalu berhasil, tentang cahaya dan pintu dan bisikan tepat sebelum kalimat terbaik. Tapi aku melihat perekam biru itu, dan aku melihat mata Ranu yang tidak sedang menjebakku—ia benar-benar hanya ingin tahu.
"Saya tidak tahu," kataku. Tidak ada CUT setelahnya. "Saya nggak pernah bisa mastiin, Nak. Mungkin cuma saya yang ngomong ke diri saya sendiri, terus saya percaya itu suara lain." Aku berhenti, lalu menambahkan satu hal yang benar, satu-satunya tanggal yang tidak pernah kubantah dua kali: "Tanggal 9 Maret, waktu kamu operasi amandel, Ayah nggak datang. Ayah lagi syuting adegan Tuhan ngomong ke orang lain di sinetron. Itu yang beneran terjadi."
Ranu menatapku lama. Lalu, tanpa ekspresi dramatis apa pun, ia menekan tombol di perekamnya—aku dengar bunyi klik kecil yang aku tahu artinya hapus—dan berkata, "Chelsea kalah tadi malam. Tiga-satu."
Salma menatap anaknya, lalu menatapku, lama sekali, seperti sedang membaca sesuatu yang tidak tertulis di map birunya. Kuasa hukumnya membuka mulut untuk melanjutkan poin tentang perekam sebagai bukti, tapi Salma mengangkat tangan sedikit, cukup untuk membuatnya diam.
Ia menarik satu berkas dari tumpukannya—aku tidak tahu isinya apa, dan sampai sekarang aku tidak pernah bertanya—dan menyisakan satu lembar di meja.
"Rabu," katanya, kalimat pendek seperti biasa. "Kamu boleh jemput Rabu. Tapi kamu harus datang. Bukan telepon, bukan kirim orang, bukan naskah yang kamu titip ke siapa pun. Datang."
Malam itu aku duduk di kursi plastik pengunjung, di kamar nomor 7 yang berbau kayu putih, sementara ayahku duduk di kursi rotannya dengan jas hitam lusuh yang diminta dipakaikan tiap pagi, menonton televisi kecil yang gambarnya sedikit bergaris. Episodeku tayang—episode tanpa satu kalimat pun tentang suara Tuhan, hanya seorang ayah tua yang berkata ia tidak tahu apa-apa.
Aku menunggu. Setengah berharap, setengah takut, mendengar sesuatu datang seperti biasa—dengung yang naik dari dalam kepalaku sendiri, suara yang selalu muncul tepat sebelum aku menyusun kebohongan yang bagus. Tapi malam itu yang terdengar hanya dengung kulkas dari dapur wisma, jauh di ujung lorong, dan suara napas ayahku yang perlahan, dan radio dakwah yang untuk sekali ini dimatikan.
Ayahku menatap layar, lalu menatapku, matanya jernih sesaat, seperti cahaya yang menyala sebentar sebelum listrik padam lagi.
"Bagus, Doko," katanya. "Bagus, nggak ada Tuhan-Tuhanan."
Aku mengeluarkan naskahku dari tas—map lecek yang sudah kubuang dan kupungut lagi—dan aku menandatangani lembar terakhirnya di situ, di kamar nomor 7, disaksikan seorang lelaki yang mungkin besok pagi sudah lupa aku pernah datang. Bukan tanda tangan untuk Bram, bukan untuk kontrak dua miliar, bukan bahkan untuk Ranu yang sudah menghapus rekamannya sendiri. Tanda tangan itu, untuk pertama kalinya, hanya untukku—pengakuan yang tidak kukarang untuk siapa-siapa.