Gorden di apartemenku sudah tiga hari tidak dibuka, dan aku ingin kalian tahu itu bukan karena aku takut cahaya. Itu karena unit di seberang punya jendela yang menghadap tepat ke jendelaku, dan aku curiga—bukan tanpa alasan, catat itu—ada orang di sana yang memegang ponsel lebih lama daripada wajar untuk sekadar mengecek waktu. Empat juta orang sudah menghafal wajahku. Empat juta. Aku bisa menyebut angka itu tanpa gemetar sekarang, meski di hari pertama aku muntah dua kali hanya karena membaca kata "trending".
Baiklah. Mari kita luruskan dari awal, supaya kalian tidak termakan versi yang beredar di internet, yang katanya aku "mengamuk". Aku tidak mengamuk. Aku, pada malam itu, di episode tiga ratus, sedang berdiri di depan replika masjid yang temboknya dari tripleks dicat putih, dan lampu—dengar baik-baik—lampu itu mati sendiri. Padam total. Semua orang di lokasi bisa bersaksi… oke, tidak semua orang, karena setelah aku cek ulang rekamannya lampu itu tetap menyala terang benderang sepanjang dua belas menit, tapi izinkan aku menyelesaikan versi ini dulu. CUT. Ambil dua.
Lampu tidak mati. Tapi ada sesuatu yang mati di dalam diriku, semacam mati yang lebih dramatis, dan pada saat itulah mikrofon di tangan pemeran utama—Bagas, anak baik, tidak bersalah, semoga karier improvisasinya baik-baik saja—mikrofon itu, aku bersumpah, seperti menyerahkan diri ke tanganku. Ia tidak merampas. Ia diminta. Ada suara yang menyuruhku bicara, suara yang selama dua puluh dua tahun selalu datang tepat sebelum aku menulis kalimat yang paling bagus di setiap season, suara yang—
CUT.
Sticky note di dinding kiriku, yang bertuliskan tanggal insiden dengan tinta merah dan garis bawah dua kali, sialnya menempel persis di atas sticky note lain yang kutulis dua minggu sebelumnya, yang isinya: "cari tahu kenapa suara itu belum datang lagi sejak Maret." Jadi mana yang benar? Suara itu datang malam itu, atau suara itu sudah lama pergi dan yang berteriak di depan empat juta orang cuma aku, sendirian, dengan mikrofon yang memang sedang kupegang karena aku merampasnya?
Aku menatap kalender di meja. Ada dua kolom bulan yang tertumpuk—entah kenapa aku selalu lupa merobek yang lama—dan tanggal-tanggalnya tidak pernah cocok satu sama lain. Untuk pertama kalinya aku merasa itu bukan lelucon.
Studio 3 Cakrawala Sinema menyambutku dengan bau seng panas dan AC yang menyerah kalah melawan Depok. Bram Sutedja berdiri di depan pintu hanggar dengan tiga ponsel di tangannya seperti orang yang baru saja memenangkan lotre, padahal yang ia menangkan adalah aku.
"Om Han," katanya, memakai she senyum yang sama persis dengan senyum ketika ia menaikkan rating musim lalu. "Kita sudah insight-kan semalaman. Ini bukan krisis. Ini konten yang kuat."
Aku ingin membalas dengan sesuatu yang cerdas, tapi mataku menangkap monitor di belakangnya, di mana sebuah folder terbuka bertuliskan JANGAN DIHAPUS, dan di dalamnya—aku bisa melihat thumbnail-nya dari sini—ada wajahku, mulut menganga, mikrofon di tangan, dua belas menit paling jujur dalam hidupku yang sekarang menjadi aset digital rumah produksi.
"Kita sepakat ya," lanjut Bram, tidak menunggu jawabanku, "tiga puluh hari. Terapi tuntas, naskah season lima selesai. Kalau tidak, kontrak dua miliar itu—" ia membuat gerakan tangan seperti menyiram bunga yang sudah mati, "—selesai juga."
Di belakangnya, Gilang berdiri dengan laptop terbuka, mengetik entah apa, sesekali mendongak untuk menatapku dengan mata seorang murid yang baru sadar gurunya bisa jatuh.
"Om Han oke kan?" tanyanya, sopan seperti biasa, seolah pertanyaan itu bukan pisau.
Aku menandatangani kertas yang disodorkan tanpa membacanya sampai selesai, karena membaca sampai selesai butuh waktu, dan aku sedang tidak punya cukup harga diri untuk berdiri lama-lama di ruangan itu sambil pura-pura mengerti klausa hukum.
Klinik Sarasa berbau kayu tua dan sedikit apak, jenis bau yang membuatku otomatis ingin bercerita tentang masa kecil yang penuh hujan dan surau. Aku sudah menyiapkan ceritanya sejak di taksi: ayahku, seorang pendeta di kampung kecil di Jawa Tengah—atau, izinkan aku koreksi, seorang yang dipanggil pendeta oleh warga meski tak pernah ditahbiskan siapa pun—membisikkan sesuatu ke telingaku saat aku berusia sembilan tahun, di bawah pohon mangga, tentang suara yang akan selalu datang jika aku "mendengarkan dengan hati yang bersih".
Dokter Wening Prameswari mendengarkan tanpa mencatat apa pun, yang membuatku curiga sejak awal. Rambutnya dipotong pendek seperti orang yang sedang buru-buru membenci penata rambutnya, dan kuku hitamnya mengelupas di ujung ketika ia mengangkat satu lembar kertas dari tumpukan di meja.
"Pohon mangga," katanya, datar, "usia sembilan tahun. Hati yang bersih."
"Betul," kataku, mulai bangga.
Ia menempelkan kertas itu di tembok, di antara puluhan halaman lain yang sudah penuh coretan stabilo warna-warni seperti peta perang. Lalu ia membaca, dengan suara yang sama datarnya, kalimat yang tertulis di sana: "Di bawah pohon mangga, Ayah membisikkan, dengarkan dengan hati yang bersih, maka suara itu akan datang."
Episode 14, season 2.
"Itu ingatan," tanyanya, "atau episode 14?"
Aku tertawa, karena itu satu-satunya hal yang bisa kulakukan satu detik sebelum sesuatu di dadaku runtuh. "Bisa saja kebetulan. Saya menulis dari pengalaman, Dokter, itu wajar—"
"Season satu juga ada adegan yang sama. Season tiga, dialognya diubah sedikit, jadi 'hati yang tulus'. Anda mengarang ulang ingatan Anda sendiri empat kali dalam empat musim, Pak Handoko."
Aku tidak menjawab. Di sudut ruangan, lampu kecil merah pada sebuah kotak hitam berkedip pelan, dan baru saat itu aku sadar ia menyala sejak aku masuk.
"Itu direkam?" tanyaku, dan suaraku terdengar lebih kecil dari yang kuinginkan.
"Semua sesi direkam, untuk laporan ke rumah produksi," katanya, tanpa nada permintaan maaf sedikit pun. "Dan sah dijadikan bukti di proses hukum apa pun. Termasuk," ia berhenti sebentar, seolah sengaja, "hak asuh."
Aku menatap kotak hitam itu seperti menatap mulut yang menganga, siap menelan setiap kata yang keluar dariku dan menyimpannya untuk digunakan kelak, oleh orang lain, di ruangan lain, di depan hakim lain.
Rabu sore aku menjemput—maaf, mengantar, aku selalu tertukar sekarang—Ranu ke sekolah, satu ritual yang masih sepenuhnya milikku, satu jam di mana aku bukan penulis skenario yang runtuh, hanya ayah yang menyetir terlalu pelan supaya obrolan lebih lama.
Salma sudah menunggu di depan gerbang, blus krem, sanggul kecil, seperti biasa tanpa cela, memegang map plastik biru yang langsung ia sodorkan begitu aku turun dari mobil.
"Nomor satu sampai dua belas," katanya, "tangkapan layar dari siaran langsung. Sidang mediasi tanggal dua puluh sembilan, jam sembilan pagi."
Aku menghitung dalam kepala—hari ke-30-ku, tanggal yang sama, jam yang sama dengan tenggat naskahku—dan untuk sekali ini aku tidak bisa mengarang kalimat pembelaan secepat biasanya.
"Ranu," kataku, mencoba tersenyum, "gimana sekolah?"
Ranu, yang sejak tadi diam memegang perekam suara mainannya, mendongak. "Ayah beneran dengar suara Tuhan waktu di studio?"
"Itu—cerita panjang, Nak."
"Oke," katanya, lalu, tanpa jeda, "Chelsea kalah lagi semalam." Ia memasukkan perekam itu ke saku, dan aku tidak sempat bertanya kapan tepatnya alat itu menyala.
Malam itu, sendirian di apartemen, aku membuka buku catatan bersampul kado bekas yang sudah dua puluh dua tahun kubawa ke mana-mana, bertuliskan di depannya, dengan tinta yang mulai pudar: SUARA TUHAN — JANGAN DIBACA. Aku mencari satu halaman, satu wahyu yang paling kupercaya benar-benar bukan karanganku, tentang malam sebelum aku menulis pilot season satu.
Aku menemukan tanggalnya ditulis dua kali. Sekali dengan tulisan tanganku sendiri, sekali dengan tulisan yang lebih miring, lebih tua, yang selalu kuyakini milik ayahku—atau, aku tidak lagi yakin, mungkin hanya tiruanku sendiri yang sudah kupraktikkan begitu lama hingga aku sendiri percaya itu asli.
Aku menutup buku itu tanpa menemukan jawaban apa pun, duduk di lantai di antara sticky note yang tidak pernah cocok tanggalnya, dan untuk pertama kalinya sejak insiden itu, aku tidak tertawa satu detik pun sebelum air mataku hampir keluar. Hari ke-30 sudah dimulai, entah sejak kapan persisnya, dan aku sama sekali tidak tahu siapa yang selama ini bicara di kepalaku.