Gaji pertama Tarjo dibayarkan hari Jumat, dan anak itu datang ke meja ibunya sebelum pulang ke rumah.
"Bu."
Marni sedang mengelem sol. Ia tidak boleh berhenti di tengah mengelem; lem kontak punya waktunya sendiri, dan kalau lewat, ia tidak akan menempel lagi selamanya. Jadi ia terus menekan, dan bicara sambil menekan.
"Berapa?"
"Seratus enam belas ribu."
"Dipotong apa?"
"Kesehatan. Sama koperasi."
Marni mengangguk ke arah sol yang sedang ditekannya. Seratus enam belas ribu. Sebulan. Kalau dibagi tiga puluh, sekitar empat ribu sehari, dan sehari itu berarti delapan jam berdiri di ruang perekatan yang panasnya membuat kepala pusing sampai jam sembilan malam.
Tarjo menaruh sesuatu di meja.
Lima lembar seribuan, dilipat rapi, ditumpuk.
Marni melihatnya tanpa mengangkat kepala.
"Itu apa?"
"Sepatu saya. Yang Ibu jahit."
"Oh."
"Ibu bilang lima ribu."
"Iya."
Anak itu berdiri di situ, menunggu sesuatu lagi, dan lagi-lagi Marni tidak memberikannya. Ia menekan sol itu tiga puluh detik lagi sampai lemnya mengunci, baru melepaskannya, baru mengambil lima lembar itu, baru menghitungnya di depan anaknya satu per satu seperti menghitung uang orang asing.
"Lima ribu. Pas."
"Ya iyalah pas."
"Kalau kurang saya tagih."
Tarjo tertawa dan Marni hampir ikut tertawa dan berhasil menahannya. Ia membuka kaleng Khong Guan dan menyelipkan lima lembar itu ke lipatan kanan — modal, bukan uang belanja. Anaknya melihat itu.
"Kenapa ke situ, Bu? Bukannya itu buat karet?"
Marni menutup kalengnya. Dua ketukan logam sebelum rapat.
"Kamu perhatiin juga ternyata."
"Ibu ngelakuin itu tiap hari di depan saya."
"Ya sudah, berarti kamu belajar sesuatu."
Ia tidak menjelaskan kenapa. Uang dari anaknya bukan uang belanja. Uang dari anaknya adalah uang yang harus jadi sesuatu, dan sesuatu itu belum ia tahu apa.
Sabtu sore mereka ke pasar berdua, dan hari itu adalah hari terbaik dalam tiga bulan.
Bukan karena mereka membeli banyak. Justru sedikit: setengah kilo daging tetelan, seikat kangkung, dua bungkus mi, dan satu botol kecil sirup merah yang harganya membuat Marni berdiri lama di depan raknya sebelum mengambilnya.
Yang membuat hari itu baik adalah Tarjo menawar.
Anak itu belum pernah menawar seumur hidupnya. Di depan tukang daging ia bilang "empat ribu ya, Pak" dengan suara yang terlalu sopan untuk sebuah tawaran, dan tukang daging itu tertawa terbahak-bahak dan memberinya empat ribu lima ratus, dan Tarjo pulang sambil membawa kantong itu seperti membawa piala.
"Bu, saya nawar."
"Saya lihat."
"Berhasil."
"Setengahnya berhasil."
"Setengah juga berhasil."
Di rumah, Marni memasak tetelan itu lama sekali, sampai kuahnya keruh dan tulangnya lepas sendiri dari dagingnya. Mereka makan di lantai, di depan pintu yang dibuka supaya ada angin. Sirup merah dicampur air dingin dan dibagi dua gelas, dan gelas Tarjo lebih penuh karena Marni menuangnya lebih dulu untuk anaknya dan lupa menyisakan yang cukup untuk dirinya.
Waktu tulangnya sudah lepas semua, Marni menyendok bagian yang paling banyak dagingnya ke mangkuk anaknya dan bagian yang paling banyak tulangnya ke mangkuknya sendiri, dan melakukannya dengan punggung membelakangi meja supaya tidak kelihatan.
Tarjo tahu. Anak itu sudah tahu sejak umur sembilan tahun. Ia tidak pernah mengatakannya karena mengatakannya akan membuat ibunya berhenti melakukannya, dan ia lebih memilih ibunya tetap melakukannya daripada ibunya kehilangan satu-satunya cara yang ia punya untuk mengatakan sesuatu.
"Bu."
"Hm."
"Nanti kalau saya sudah tiga bulan, saya pindah jahit."
"Kalau."
"Pasti."
"Kalau."
Tarjo menyeruput sirupnya. "Ibu nggak pernah bilang pasti."
Marni memandang gelasnya sendiri, yang isinya dua jari. "Bapak saya juga nggak pernah."
"Terus Ibu belajar dari mana kalau semuanya kalau?"
Pertanyaan itu jujur, bukan sindiran, dan justru karena jujur ia menusuk. Marni menaruh gelasnya.
"Dari sepatu," katanya akhirnya. "Kalau kamu bilang pasti ke sepatu, sepatunya nggak dengar. Kamu tetap harus lihat jahitannya satu-satu."
Tarjo memikirkan itu, lalu mengangkat bahu, lalu menghabiskan sirupnya. Anak muda tidak membutuhkan jawaban selama malamnya enak.
Malam itu Marni mengeluarkan jarum bapaknya dan mengasah ujungnya di batu kecil yang selalu ia simpan di dasar kaleng. Bukan karena tumpul. Jarum itu tidak pernah tumpul kalau dipakai benar. Ia mengasahnya karena tangannya butuh sesuatu untuk dikerjakan sementara kepalanya menghitung.
Seratus enam belas ribu. Beras seribu dua ratus sekilo, naik dari seribu bulan lalu. Kalau naik seratus perak lagi tiap dua minggu, empat bulan lagi jadi dua ribu.
Ia berhenti menghitung di situ, karena angka berikutnya tidak ada gunanya diketahui.
Jarum itu ia bungkus lagi dengan kain flanel, dan kain flanel itu ia masukkan ke kaleng, dan kaleng itu ia taruh di rak paling atas — lebih tinggi dari biasanya, tanpa ia sadari kenapa.
Senin, kertas di kaca pos satpam bertambah satu lembar.
Marni tidak membacanya. Ia tidak pernah membaca kertas di kaca itu; matanya tidak sanggup dari jarak sepuluh meter dan ia tidak mau berdiri terlalu dekat seperti orang yang menunggu kabar buruk. Ia tahu isinya dari cara orang berjalan sesudah membacanya.
Hari itu tiga orang berjalan menjauh dengan langkah yang sama: cepat di sepuluh langkah pertama, lalu melambat, lalu berhenti sama sekali di dekat tiang listrik dan berdiri di situ tanpa alasan.
Salah satunya Pak Endang, bagian gudang, yang sepatunya sudah tiga minggu di rak paling belakang.
Marni tahu sepatu itu tanpa melihat orangnya, tentu saja. Ia menjahitnya sendiri tiga minggu lalu. Ia tahu berapa lubang yang ia buat, dan ia tahu benangnya warna apa, dan ia tahu bahwa sepatu itu sekarang ada di rak tunggu di belakang punggungnya sementara pemiliknya berdiri sepuluh meter jauhnya membaca kertas di kaca.
Ada satu hal yang tidak diketahui orang tentang pekerjaan ini: tukang sol tahu lebih banyak tentang keadaan orang daripada yang mau ia ketahui. Sepatu yang datang dengan sol menipis di satu sisi berarti orangnya menyeret kaki. Sepatu yang datang dua kali dalam sebulan berarti orangnya tidak punya cadangan. Sepatu yang tidak diambil berarti tiga ribu perak sekarang lebih berharga daripada bisa berjalan dengan nyaman.
Marni tidak pernah menceritakan hal-hal itu kepada siapa pun. Menceritakannya sama dengan mengumumkan isi lemari orang.
Marni menunduk lebih dalam ke pekerjaannya. Kalau ia menyapa sekarang, orang itu harus menjawab, dan menjawab berarti mengatakannya dengan suara, dan Marni tidak mau memaksa seseorang mengatakan hal seperti itu dengan suara di trotoar umum.
Pak Endang berdiri di situ hampir dua menit. Lalu ia berjalan lagi, melewati meja Marni, dan tidak menoleh.
Sore, waktu Marni membereskan, sepatu kulit cokelat ukuran empat puluh dua itu masih di rak paling belakang.
Ia mengeluarkannya. Membersihkan debunya dengan lap. Memeriksa jahitannya sekali lagi meski ia tahu jahitannya baik-baik saja.
Sepatu itu ringan sekarang. Lebih ringan dari waktu pertama datang, karena sol lamanya sudah ia buang dan sol barunya karet yang lebih tipis. Orang tidak pernah menyadari sepatunya jadi lebih ringan sesudah diperbaiki; yang mereka rasakan cuma bahwa jalannya enak lagi.
Marni menimbangnya di tangan sebentar, seperti orang menimbang buah di pasar, lalu meletakkannya di meja.
Lalu ia membungkusnya dengan kantong plastik hitam, mengikatnya, dan menaruhnya di dalam kardus alatnya — bukan di rak.
Kalau orangnya datang bulan depan, sepatunya masih ada. Kalau orangnya datang tahun depan, sepatunya masih ada. Rak tunggu bisa penuh, kardus tidak akan pernah ia biarkan penuh.
Ia menuliskan nama Pak Endang di kertas bungkus rokok dan menyelipkannya ke dalam kantong plastik itu, di antara sepatu kiri dan kanan. Tulisannya jelek — ia jarang menulis — tapi terbaca.
Bukan supaya ia ingat. Ia tidak akan lupa. Supaya kalau suatu hari ia tidak ada dan orang lain yang membuka kardus itu, orang itu tahu sepatu ini punya nama.
Bu Sri menghapus satu nama dari papan tulisnya malam itu.
"Lunas?"
"Pindah." Bu Sri menyeka papan itu dengan lap basah, dan bekas kapurnya masih samar kelihatan meski sudah dihapus. "Pulang kampung. Katanya di Wonogiri masih bisa nanam."
"Utangnya?"
"Ya sudah."
"Bu—"
"Ni." Bu Sri memeras lapnya. "Kalau orang sudah pulang kampung, itu artinya dia sudah bayar dengan hal lain."
"Lagipula," Bu Sri menggantung lapnya, "aku juga masih ngutang ke tukang sayur. Dia juga ngutang ke yang di pasar induk. Kalau semua orang nagih barengan, yang jatuh bukan satu orang."
"Terus siapa yang jatuh?"
"Ya semuanya. Cuma barengan, jadi kelihatannya nggak ada yang jatuh."
Marni tidak membantah. Ia memandang papan itu, sepuluh nama tersisa, dan angka-angka kecil di sebelah tiap nama yang ditulis dengan tulisan Bu Sri yang miring ke kanan.
Jalan pulang, ia menghitung jemuran di gang belakang.
Dua puluh dua.
Ia berhenti sebentar di ujung gang, tanpa alasan yang bisa ia sebutkan, dan menghitungnya sekali lagi dari arah sebaliknya.
Tetap dua puluh dua.
Ia tidak tahu kenapa ia menghitungnya dari dua arah. Bapaknya juga begitu waktu menghitung uang, dan Marni dulu menganggap itu kebiasaan orang tua yang tidak percaya pada tangannya sendiri.
Di rumah, Tarjo sudah tidur, dan kali ini ia sudah pindah ke kasur, dan sepatu kanvasnya berjajar rapi di dekat pintu dengan ujung yang menghadap ke luar — cara orang menaruh sepatu kalau ia berencana bangun pagi dan pergi.
Marni membetulkan letaknya sedikit. Menyejajarkannya. Lalu ia duduk di lantai dekat pintu itu lebih lama dari yang ia rencanakan, memegang lututnya sendiri, mendengarkan mesin pabrik yang masih berdengung dari kejauhan.
Ada debu di ujung kanan, sedikit, bekas trotoar. Ia menghapusnya dengan ibu jari.
Jahitannya masih rapi. Dua baris. Benang hitam. Belum ada yang lepas.
Shift malam masih jalan. Dengungnya sedikit lebih tipis dari biasanya, atau mungkin cuma anginnya yang berubah arah malam itu, dan Marni memutuskan untuk percaya yang kedua.
Untuk sekarang.