Yang pertama berubah bukan harga. Yang pertama berubah adalah tumit.
Marni menyadarinya di minggu ketiga, waktu tiga pasang sepatu berturut-turut datang dengan keausan yang sama: tumit belakang miring ke luar, karet solnya tergerus sampai kelihatan lapisan dalamnya, padahal sepatunya belum setahun. Ia membalik yang ketiga, mengukur dengan ibu jari, dan menaruhnya di meja.
"Bapak sekarang jalan kaki dari mana?"
Orang itu menoleh cepat, seolah ketahuan sesuatu.
"Dari Cimone."
"Tiap hari?"
"Tiap hari."
Marni mengangguk dan tidak bertanya lagi. Cimone ke sini empat kilometer. Ongkos angkot tiga ratus perak sekali jalan, enam ratus pulang pergi, tiga ribu enam ratus seminggu. Orang tidak berjalan empat kilometer di bawah matahari kalau ada pilihan lain.
Radio Bu Sri sudah dua minggu ini menyebut-nyebut dolar. Marni tidak mengerti dolar dan tidak berusaha mengerti. Yang ia mengerti adalah karet sol yang tergerus di sisi luar, dan yang ia mengerti adalah bahwa tumit tidak pernah berbohong.
Koh Aliong datang hari Kamis, seperti biasa, membawa gulungan sol karet dan kaleng lem di boncengan motornya. Yang tidak seperti biasa adalah ia turun dari motor lebih lama, seperti orang yang menyiapkan kalimat.
"Ni."
"Berapa sekarang?"
Koh Aliong tertawa satu kali, tanpa bunyi. "Kamu nggak nanya kabar dulu."
"Kabarnya kelihatan dari cara Koh turun dari motor."
Ia menaruh gulungan karet itu di meja. Lembaran cokelat, tebal empat milimeter, biasanya cukup untuk dua puluh pasang.
"Naik tujuh ribu. Yang lem naik dua ribu."
Marni memegang gulungan itu. Baunya sama. Beratnya sama.
"Bulan lalu naik lima."
"Iya."
"Bulan depan?"
"Ni." Koh Aliong menyeka lehernya. "Saya beli dari orang yang beli dari orang yang beli dari luar. Yang di luar itu minta dolar. Saya bayar pakai rupiah. Selebihnya saya juga nggak ngerti."
Ia membeli dua gulung. Biasanya tiga. Koh Aliong melihat itu, tidak berkomentar, dan menghitung kembaliannya dengan teliti seolah ketelitian itu bisa jadi permintaan maaf.
Malamnya Marni menghitung ulang di bawah lampu dapur, di atas kertas bungkus nasi yang sudah dilicinkan dengan telapak tangan.
Satu gulung sol karet: dua puluh pasang. Ongkos per pasang naik tiga ratus lima puluh. Kalau ia menaikkan harga sol dari lima ribu jadi enam ribu, ia balik seperti semula.
Ia menulis angka enam ribu. Melihatnya lama. Lalu mencoretnya dan menulis lima ribu lima ratus.
Bukan karena ia tidak bisa berhitung. Karena ia tahu persis siapa yang menaruh sepatu di mejanya, dan ia tahu berapa gaji mereka, dan ia tahu bahwa lima ratus perak masih bisa dibilang "naik sedikit" sedangkan seribu sudah terdengar seperti orang yang memanfaatkan keadaan.
Bapaknya dulu bilang begitu juga, kira-kira. Bukan dengan kalimat. Dengan cara menolak menaikkan harga waktu pasar Cikokol kebakaran dan semua orang butuh sepatu baru.
Bu Sri memasang papan tulis kecil di warungnya minggu itu. Papan bekas anaknya, masih ada sisa kapur pelajaran matematika di sudut.
"Buat apa, Bu?"
"Catatan."
"Catatan apa?"
Bu Sri menyeka papan itu dengan lap basah. "Ada yang belum bayar. Kalau di kepala saya, nanti saya lupa, terus saya sungkan nagih. Kalau di papan, dia yang lihat sendiri."
Sampai akhir minggu ada empat nama di papan itu. Sampai akhir bulan ada sebelas.
Marni tidak punya papan. Ia punya rak tunggu, dan rak tunggu itu punya cara sendiri untuk mencatat.
Tarjo pulang malam-malam dengan tangan yang baunya tidak hilang meski sudah dicuci tiga kali. Bau lem perekat, tajam, agak manis, menempel di sela kuku.
"Panas, Bu."
"Sudah dibilang."
"Bukan panasnya." Anak itu duduk di lantai, menyandar ke kaki meja. "Baunya. Kepala saya pusing sampai jam sembilan."
Marni mengambil tangan anaknya, membalikkannya ke arah lampu. Ada bekas merah memanjang di punggung tangan kanan, selebar korek api.
"Ini apa?"
"Kena mesin press. Sedikit."
"Sedikit."
"Iya sedikit."
Ia melepas tangan itu, berdiri, mengambil minyak kelapa dari rak, dan mengoleskannya tanpa berkata apa-apa. Tarjo diam saja. Waktu selesai, anak itu memandang punggung tangannya sendiri seperti memandang benda milik orang lain.
"Bu, di dalam itu sepatunya bagus-bagus."
"Ya iyalah, orang dibuat baru."
"Bukan. Maksud saya—" Tarjo mencari kata. "Yang saya lem itu satu pasang harganya lebih mahal dari gaji saya sebulan. Saya baru tahu kemarin. Ada yang bilang."
Marni menutup botol minyak kelapa. Memutar tutupnya sampai rapat, lalu memutarnya sedikit lagi.
"Terus?"
"Nggak terus apa-apa." Tarjo mengangkat bahu. "Cuma aneh aja."
"Yang aneh itu kalau kamu nggak merasa aneh."
Anak itu tertawa, lalu menguap, lalu tidur di lantai sebelum sempat pindah ke kasur. Marni membiarkannya. Ia mengambil kaleng Khong Guan, menghitung uang hari itu — delapan belas ribu, turun dari dua puluh tiga — melipatnya dua, dan menyelipkannya ke sudut.
Sejak minggu itu uang di kaleng dilipat jadi dua bagian, bukan satu.
Lipatan sebelah kiri untuk beras dan minyak. Lipatan sebelah kanan untuk karet dan lem — modal, bukan uang. Marni tidak pernah menuliskannya di mana pun. Ia cuma menyelipkan potongan kardus tipis di antara keduanya, supaya kalau tangannya masuk waktu gelap, jarinya tahu ia sedang menyentuh yang mana.
Malam itu lipatan kanan lebih tebal dari kiri, dan ia membiarkannya begitu.
Bapaknya akan bilang itu benar. Sol dulu, baru atasnya: kalau alatnya habis, tidak ada lagi yang bisa dikerjakan besok, dan lapar sehari masih bisa ditahan sedangkan kehilangan pekerjaan tidak. Marni tahu itu masuk akal.
Ia tetap tidur dengan perut yang berbunyi, dan tetap tidak memindahkan satu lembar pun.
Hari Sabtu ada sepasang sepatu yang tidak diambil.
Sepatu kulit cokelat, ukuran empat puluh dua, solnya sudah Marni ganti dengan karet baru, jahitannya sudah rapi. Pemiliknya bernama Pak Endang, bagian gudang, orang yang selalu membayar di muka dan selalu mengambil tepat pada hari yang dijanjikan.
Sabtu itu ia tidak datang. Senin juga tidak.
Marni memindahkan sepatu itu ke rak paling belakang, di tempat yang tidak kelihatan dari jalan.
Rabu, Bu Sri lewat sambil membawa termos.
"Ni, kamu dengar nggak?"
"Apa."
"Bagian gudang dikurangi. Katanya."
Marni sedang memasang mata itik pada sepatu bot, dan ia menyelesaikan mata itik itu dulu sebelum menjawab. Palunya turun tiga kali, mantap, dan lubangnya rapi.
"Katanya siapa?"
"Katanya orang."
"Ya sudah."
Bu Sri berdiri di situ sebentar. "Ni."
"Hm."
"Anakmu bagian apa?"
"Perekatan."
"Oh." Bu Sri mengangguk beberapa kali, terlalu banyak untuk satu kabar sederhana. "Perekatan mah aman. Perekatan itu inti."
Ia pergi. Marni memasang mata itik berikutnya.
Pak Ridwan datang lagi hari Kamis, dan Marni mendengar langkahnya sebelum melihatnya, dan yang ia dengar membuatnya berhenti sebentar.
Tumit kanan masih lebih berat. Tapi jaraknya berubah. Dulu dua langkah dari meja, selalu dua. Sekarang berhenti di empat, lalu maju dua lagi, seperti orang yang sempat berpikir untuk lewat saja.
"Ni."
"Pak."
Ia menaruh pantofel yang sama. Yang kiri sudah dijahit Marni bulan lalu, dua baris, rapi. Sekarang yang kanan yang menganga.
"Berapa?"
"Tiga ribu."
Pak Ridwan mengangguk. Tidak menawar.
Justru itu yang membuat Marni mengangkat kepala. Delapan tahun orang ini menawar. Menawar dua ratus perak pun ia lakukan, bukan karena pelit, karena begitulah cara orang mengobrol di trotoar.
"Sebentar." Marni membalik sepatu itu, memeriksa bagian dalamnya, menekan alas dalamnya dengan jempol. "Ini bukan cuma jahitannya."
"Kenapa?"
"Alas dalamnya sudah tipis. Bapak jalan jauh, ya."
"Sedikit."
"Kalau alas dalamnya tipis, kaki Bapak yang jadi solnya. Nanti panas, terus melepuh, terus Bapak nggak bisa jalan sama sekali."
Pak Ridwan tidak menjawab.
Marni membuka laci di bawah mejanya dan mengeluarkan potongan kulit domba, sisa dari pesanan orang yang tidak jadi diambil enam bulan lalu. Ia menggunting dua bentuk telapak, mengoleskan lem tipis-tipis, dan menekannya ke dalam sepatu itu dengan pangkal telapak tangannya sendiri.
"Ini berapa?"
"Ini nggak dihitung."
"Ni—"
"Sisa, Pak. Kalau nggak dipakai malah keras sendiri di laci."
Bohong yang kedua hari itu, dan yang ini merugikan seseorang: dirinya. Kulit domba itu masih bagus dan ia tahu persis harganya kalau dijual.
Pak Ridwan berdiri di situ, memegang uang tiga ribu yang sudah ia siapkan di tangan, seperti orang yang kehilangan tempat untuk menaruh sesuatu.
"Taruh di meja, Pak. Saya lagi kerja."
Ia menaruhnya dan pergi. Marni mendengarkan langkahnya menjauh — berat di kanan, dan sekarang sedikit lebih pelan di tiga langkah pertama, seperti orang yang menguji apakah alas barunya benar-benar ada di situ.
Ia menyelesaikan jahitan itu dan menaruh sepatu di rak tunggu, di depan, bukan di belakang.
Sore, waktu sirene berbunyi dan trotoar berubah jadi sungai, Marni memejamkan mata seperti biasa dan mendengarkan.
Sandal jepit yang menampar. Sepatu kanvas yang berdesir. Hak rendah bagian administrasi yang mengetuk pendek-pendek.
Dan di bawah semua itu, tipis tapi ada, bunyi yang tidak pernah ia dengar sebelumnya di jam ini: langkah-langkah yang melambat menjelang pagar. Orang-orang yang tidak buru-buru pulang.
Ia membuka mata dan melihat mereka. Berdiri berkelompok di dekat pos satpam, tidak melakukan apa-apa, membaca sesuatu yang ditempel di kaca.
Salah satu dari mereka melepas topinya dan memakainya lagi. Lalu melepasnya lagi. Marni pernah melihat orang melakukan itu di depan ruang jenazah rumah sakit, bertahun-tahun lalu, dan sejak itu ia tahu bahwa tangan orang selalu lebih dulu tahu daripada mulutnya.
Marni tidak berdiri. Ia menunduk kembali ke sepatu di pangkuannya, memasang mata itik yang terakhir, dan memukulnya tiga kali.
Malam itu ia menghitung jemuran di gang belakang seperti biasa.
Dua puluh enam.
Ia menghitungnya dua kali untuk memastikan, dan hasilnya tetap dua puluh enam, dan ia berjalan pulang tanpa mempercepat langkah. Minggu lalu ada tiga puluh satu, dan minggu sebelumnya ia belum merasa perlu mengingatnya.