Yang datang bukan pengumuman. Yang datang adalah truk.
Truk boks putih, mundur ke gerbang gudang pukul tujuh pagi, dan orang-orang di trotoar berhenti menonton karena truk masuk ke pabrik setiap hari dan itu bukan tontonan. Yang membuat Marni mengangkat kepala adalah bahwa truk itu keluar lagi empat puluh menit kemudian, penuh, dan tidak ada truk lain yang menggantikannya.
Biasanya ada tiga. Kadang lima.
Hari itu satu.
Sopirnya turun, merokok di dekat pos satpam, dan Marni memperhatikan sepatunya karena Marni selalu memperhatikan sepatu. Sepatu bot karet, murah, sol datar tanpa alur. Sopir truk memakai bot begitu supaya kakinya kering, bukan supaya nyaman.
Orang itu menghabiskan rokoknya sampai pendek sekali, menginjaknya, lalu berdiri di situ beberapa saat lagi tanpa merokok.
Menunggu muatan yang tidak cukup penuh selalu lebih lama daripada menunggu muatan yang penuh. Marni tahu itu tanpa pernah bekerja di gudang mana pun, sama seperti ia tahu banyak hal tanpa pernah diberitahu.
Ia menghitung pelanggan hari itu tanpa berniat menghitung. Sebelas. Minggu lalu tujuh belas. Bulan lalu, di hari Selasa yang sama, dua puluh empat.
"Sepi ya, Ni?"
Bu Sri berdiri di depan warungnya dengan tangan di pinggang, memandang trotoar yang terlalu banyak ruang kosongnya.
"Sepi."
"Aku juga. Nasi tinggal setengah bakul jam segini."
"Kurangi masaknya."
"Sudah aku kurangi minggu lalu." Bu Sri masuk ke warungnya, lalu keluar lagi tanpa membawa apa-apa, gerakan orang yang tidak tahu harus mengerjakan apa dengan tangannya. "Kalau kukurangi lagi, nanti yang datang jam dua nggak kebagian. Terus dia nggak datang lagi besoknya."
"Terus kamu masak berapa sekarang?"
"Sama seperti kemarin." Bu Sri mengibaskan lap ke arah lalat yang tidak ada. "Sisanya aku makan sendiri malam-malam sampai bosan. Tapi warungnya nggak boleh kelihatan kosong, Ni. Warung kosong itu kelihatan seperti warung yang mau tutup, terus orang beneran berhenti datang."
Marni memikirkan rak tunggunya sendiri, yang sekarang isinya lebih banyak sepatu yang tidak diambil daripada sepatu yang menunggu dikerjakan, dan bagaimana dari jalan kedua hal itu kelihatan persis sama: rak yang penuh.
Pukul sepuluh datang orang yang tidak Marni kenal. Perempuan, kira-kira seumurnya, membawa tas plastik.
"Ini bisa dijahit nggak?"
Yang ia keluarkan bukan sepatu. Tas sekolah biru, talinya putus di pangkal kanan, kainnya sudah tipis di sudut-sudutnya.
Marni memegangnya. Kain, bukan kulit. Jarumnya beda, benangnya beda, dan pangkal tali itu ditopang oleh tiga lapis kain yang sudah semuanya robek.
"Saya tukang sepatu, Bu."
"Iya, saya tahu."
Mereka berdua diam sebentar.
"Anak saya masuk besok," kata perempuan itu. "Tas barunya lima belas ribu."
Marni membalik tas itu, memeriksa pangkal talinya dari dalam. Kalau ia menjahitnya dengan benang nilon sepatu, jahitannya akan lebih kuat dari kainnya sendiri, dan bulan depan yang robek adalah kain di sebelahnya, bukan jahitannya.
Ia mengambil jarum yang lebih kecil, bukan jarum bapaknya.
"Dua ribu."
"Berapa lama?"
"Duduk saja."
Perempuan itu duduk di kursi plastik yang biasanya dipakai pelanggan menunggu, dan selama dua puluh menit ia tidak mengatakan apa-apa, dan Marni juga tidak. Bunyi yang ada cuma benang yang ditarik lewat kain.
Waktu selesai, perempuan itu memeriksa jahitannya dengan menariknya keras-keras, dua kali, seperti orang yang tidak percaya sesuatu bisa sekuat itu.
"Kuat."
"Jangan digantung di satu tali. Bergantian kanan kiri."
"Iya."
"Kalau yang kiri putus, bawa lagi ke sini."
Perempuan itu mengangguk, membayar dua ribu, dan pergi. Marni menyimpan jarum kecil itu di kaleng, di sebelah jarum bapaknya, dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun kedua jarum itu ada di dalam kaleng yang sama dengan tujuan yang berbeda.
Bapaknya tidak pernah menjahit apa pun selain sepatu. Bukan karena tidak bisa. Marni pernah bertanya sekali, waktu tetangga membawa jok motor yang sobek, dan bapaknya menolak dengan satu kalimat.
"Nanti orang datang bawa apa saja."
Waktu itu Marni pikir bapaknya sombong. Sekarang ia mengerti: kalau kau menjahit apa saja, orang berhenti melihatmu sebagai tukang sepatu, dan pekerjaanmu berubah jadi belas kasihan yang dibayar.
Ia menutup kaleng itu dan tidak memindahkan jarum kecilnya keluar.
Siang, Bu Warsih lewat dan tidak berhenti.
Ia memang tidak selalu berhenti. Tapi hari itu ia lewat di seberang jalan, padahal trotoar sebelah sini teduh dan trotoar sebelah sana kena matahari penuh, dan Bu Warsih berjalan di matahari penuh sambil melihat lurus ke depan.
Marni menunduk ke pekerjaannya lebih cepat dari yang perlu.
Ia bisa saja memanggil. "Bu Warsih, sepatunya sudah lama jadi." Empat kata.
Empat kata itu akan membuat perempuan itu berhenti di tengah matahari, menyeberang, dan berdiri di depan mejanya untuk mengatakan sesuatu yang sudah jelas dari cara ia memilih trotoar.
Jadi Marni menunduk, dan bunyi langkah di seberang jalan itu lewat, dan tidak ada yang perlu dikatakan siapa pun.
Sepatu sekolah yang ia lebarkan bulan lalu masih di rak tunggu. Sudah tiga minggu. Dua ribu perak.
Marni memindahkannya ke kardus sore itu, bersama sepatu Pak Endang, dan menulis nama Bu Warsih di kertas bungkus rokok dengan tulisannya yang jelek. Kardus itu sekarang berisi dua pasang. Masih muat banyak, dan itu bukan hal yang menyenangkan untuk disadari.
Sore, waktu sirene berbunyi, sungai di trotoar itu lebih sempit.
Marni tidak perlu memejamkan mata untuk mendengarnya. Bunyinya lebih tipis, jeda antar-langkahnya lebih lebar, dan ada suara baru yang tidak pernah ada sebelumnya: orang berjalan sambil membawa sesuatu. Kardus, tas kresek, satu orang membawa kipas angin meja dengan kabel yang menjuntai sampai menyapu aspal.
Orang tidak membawa pulang barang dari tempat kerja kalau ia berencana kembali besok.
Marni menghitung yang membawa barang. Sembilan. Dari dua ribu.
Sembilan itu angka kecil. Ia mengulanginya di kepalanya beberapa kali sepanjang sore — sembilan dari dua ribu, sembilan dari dua ribu — sampai angka itu berhenti terdengar kecil.
Pak Ridwan berhenti di mejanya. Empat langkah, lalu dua.
"Ni."
"Pak."
Ia tidak membawa sepatu. Ia memakainya — pantofel yang sama, yang sudah dijahit dua kali dan diberi alas kulit domba.
"Bisa dilihat nggak? Rasanya ada yang mengganjal."
Marni menyuruhnya duduk. Ia melepas sepatu itu sendiri, memeriksanya, dan menemukan penyebabnya dalam sepuluh detik: alas kulit dombanya bergeser, menggulung sedikit di bagian tumit, karena lemnya tidak kuat menahan kaki yang berjalan empat kilometer dua kali sehari.
"Ini harus dilem ulang. Kering dulu, baru saya tempel."
"Berapa lama?"
"Sejam."
Pak Ridwan melihat jam di pergelangannya. Lalu melihat ke arah pagar. Lalu ke jalan.
"Nggak bisa sekarang?"
"Bisa sekarang, tapi nggak akan tahan seminggu."
"Ya sudah, yang nggak tahan seminggu saja."
Marni menaruh sepatu itu di pangkuannya dan tidak langsung mengerjakannya.
"Pak."
"Hm."
"Kalau saya kerjakan yang bener, sejam. Bapak bisa tunggu di warung Bu Sri, ada kursi."
"Ni." Pak Ridwan tersenyum, dan senyum itu yang membuat Marni berhenti bicara. "Sejam itu saya bisa ke tiga tempat."
Ia tidak menjelaskan tiga tempat apa. Marni tidak bertanya.
Ia mengelem alas itu ulang dengan cara yang ia tahu tidak akan tahan seminggu, menekannya tiga puluh detik, dan menyerahkannya kembali.
"Berapa?"
"Nggak usah."
"Ni—"
"Bapak sudah bayar minggu lalu buat yang ini. Ini pekerjaan saya yang kurang bagus."
Bohong ketiga. Pekerjaannya tidak kurang bagus; lemnya yang kalah oleh delapan kilometer sehari.
Pak Ridwan memakai sepatunya, berdiri, dan berjalan beberapa langkah untuk mencobanya. Marni mendengarkan. Tumit kanan masih lebih berat. Tapi sekarang ada bunyi tambahan yang tipis di setiap langkah kanan — bunyi kulit yang tidak menempel sempurna, bunyi yang akan hilang begitu lemnya benar-benar lepas.
Pak Ridwan tidak menyadarinya. Orang tidak mendengar sepatunya sendiri.
Yang mendengar sepatu orang lain cuma dua: tukang sol, dan orang yang berjalan di belakangnya.
Malam itu Marni membuka kaleng dan memindahkan uang dari lipatan kanan ke lipatan kiri untuk pertama kalinya.
Tiga lembar ribuan. Modal jadi beras.
Ia melakukannya cepat, tanpa menghitung dua kali, karena kalau ia menghitung dua kali ia akan berhenti.
Potongan kardus pemisah itu ia biarkan di tempatnya. Kalau dipindahkan, batasnya hilang, dan kalau batasnya hilang ia tidak akan tahu lagi kapan ia sedang memakan modalnya sendiri.
Batas itu tetap ada. Yang berubah cuma isinya.
Tarjo pulang dan menaruh kartu pengenalnya di meja seperti biasa, dan hari itu ia menaruhnya dengan sisi foto menghadap ke bawah.
"Bagaimana?"
"Perekatan dikurangi satu regu."
Marni menutup kalengnya. Dua ketukan.
"Kamu?"
"Saya masih."
"Ya sudah."
"Bu."
"Apa."
Tarjo duduk di lantai, dan lama sekali sebelum ia bicara lagi, dan waktu ia bicara suaranya lebih pelan dari yang perlu untuk rumah sekecil itu.
"Yang dikurangi itu yang paling lama kerjanya. Yang sudah sepuluh tahun."
"Kenapa yang lama?"
"Gajinya paling besar."
Marni memandang kaleng di tangannya. Cat merahnya yang pudar. Gambar keluarga yang tinggal separuh.
"Berarti kamu aman karena kamu murah," katanya.
Kalimat itu keluar lebih datar dari yang ia maksud. Ia tidak berniat kejam. Ia cuma sedang menyebutkan bentuk sesuatu, seperti menyebutkan bahwa sol ini karet dan yang itu kulit.
Tapi Tarjo mendengarnya sebagai hal lain, dan Marni tahu itu dari cara anaknya berhenti menggerakkan kakinya di lantai.
Tarjo tidak menjawab.
Ia meletakkan kaleng itu di rak paling atas, dan malam itu ia tidak menghitung jemuran di gang belakang, dan ia menyadari di tengah jalan bahwa ia sengaja tidak menghitungnya.
Ia berhenti di tengah gang, memaksa dirinya berbalik, dan menghitungnya.
Sembilan belas.
Ia berdiri di situ sebentar dengan kardus di pinggul, di antara kaus-kaus biru yang menggantung terbalik supaya tidak melar di bahu, dan tidak ada satu pun dari kaus itu yang tahu ia sedang dihitung.