Marni tahu sepatu Pak Ridwan sebelum melihat orangnya. Tumit kanan lebih berat, seret sedikit di ubin trotoar, lalu berhenti dua langkah dari meja. Selalu dua langkah. Orang itu tidak pernah mau berdiri terlalu dekat kalau sepatunya kotor.
"Belum sarapan, Ni?"
"Sudah, Pak."
Bohong yang tidak merugikan siapa-siapa. Marni menaruh sepatu yang sedang dipegangnya, menyeka tangan di lap yang tergantung di paku, lalu menerima sepasang pantofel hitam yang sudah menganga di ujung kiri.
"Kena apa ini?"
"Kehujanan. Terus saya jemur di atas mesin."
"Jangan di atas mesin." Marni membalik sepatu itu, menekan bagian yang menganga dengan ibu jari. Lemnya sudah mati. Kulitnya mengeras seperti kerupuk. "Panas mesin bikin lem lepas, terus kulitnya melengkung. Sekarang harus dijahit, bukan dilem lagi."
"Berapa?"
"Tiga ribu."
"Dua setengah."
"Tiga ribu, Pak. Saya jahit dua baris."
Pak Ridwan menghela, tapi menaruh sepatunya. Semua orang menawar dan semua orang akhirnya menaruh sepatunya. Marni sudah delapan tahun di trotoar ini dan belum pernah kehilangan satu pun karena harga.
Ia menarik kursi plastik lebih dekat ke matahari. Pagi masih muda, bayangan pagar pabrik masih panjang, dan dari dalam sana terdengar dengung mesin yang tidak pernah benar-benar berhenti sejak subuh. Sepuluh meter dari mejanya, di balik pagar besi itu, dua ribu orang membuat sepatu baru setiap hari. Sepatu olahraga, warna-warna terang, kotaknya ditumpuk sampai ke langit-langit gudang. Sepatu-sepatu itu tidak pernah sampai ke tangannya. Yang sampai ke tangannya adalah sepatu yang dipakai orang-orang itu untuk berjalan ke pabrik.
Marni membuka kaleng biskuit Khong Guan di sisi kirinya. Cat merahnya sudah lama pudar, gambar keluarga yang duduk di ruang tamu itu tinggal separuh. Di dalamnya: gulungan benang nilon, sepotong lilin, tiga jarum, dan uang kembalian yang dilipat dua di sudut. Ia mengambil jarum yang paling tebal — yang bengkoknya paling tajam, gagangnya sudah hitam kena keringat bertahun-tahun.
Jarum itu punya bapaknya.
Bapaknya menambal sepatu di pasar Cikokol sampai matanya tidak sanggup lagi mengikuti benang. Sebelum menyerahkan kotak alatnya, orang tua itu cuma bilang satu hal, dan bilangnya sambil tidak menoleh, seperti sedang menerangkan cara memasang genteng.
"Sol dulu, baru atasnya."
Waktu itu Marni tujuh belas dan menganggap itu petunjuk kerja biasa. Ia menjawab iya. Tidak bertanya kenapa.
Ia menusukkan jarum ke kulit pantofel Pak Ridwan. Kulit lama selalu melawan di tusukan pertama, lalu menyerah. Benang ditarik, ditekan, ditarik lagi. Dua puluh menit untuk dua baris jahitan yang rapi. Orang mengira pekerjaannya menambal. Sebenarnya pekerjaannya membaca — dari mana orang berjalan, ke mana ia menumpu, di mana ia menyerah lebih dulu.
Bu Sri lewat membawa panci, dari warungnya yang cuma berjarak satu tiang listrik.
"Ni, kemarin ada yang nanya kamu."
"Siapa?"
"Nggak tahu. Orang baru. Nanya, tukang sol yang bisa jahit tangan itu yang mana." Bu Sri menaruh panci di kursi, mengipas lehernya dengan telapak. "Kubilang yang perempuan itu."
"Terus?"
"Terus dia bilang, oh." Bu Sri tertawa satu kali, pendek. "Aku nggak suka nadanya."
"Nada apa?"
"Nada orang yang mikir perempuan nggak kuat narik benang."
Marni tidak menjawab. Ia menarik benang, mengencangkannya dengan satu sentakan pergelangan, dan benang itu masuk ke kulit tanpa suara.
Pukul sembilan datang Bu Warsih, membawa sepasang sepatu sekolah hitam yang ukurannya sudah tidak lagi cocok untuk siapa pun yang tumbuh.
"Bisa dilebarin, Ni?"
Marni memegangnya. Ringan sekali di tangan. Sepatu anak kelas empat, mungkin lima, dengan bagian depan yang sudah menggembung dari dalam — bentuk jempol kaki yang mendorong bertahun-tahun.
"Bisa. Tapi dilebarin cuma tahan sebulan dua bulan. Habis itu kakinya nambah lagi."
"Sebulan dua bulan juga nggak apa."
Marni memasukkan acuan kayu ke dalam sepatu itu, memutar sekrupnya pelan-pelan. Kulit yang sudah tua harus dipaksa dengan sabar; kalau terburu-buru, ia robek di tempat yang tidak kelihatan, dan robeknya baru ketahuan seminggu kemudian, di tengah jalan, waktu anaknya sedang berjalan pulang.
"Dua ribu."
"Ni—"
"Dua ribu."
Bu Warsih menaruh uangnya di meja, seribu lembaran dan seribu koin, dan tidak menghitung ulang karena tahu Marni juga tidak akan menghitung ulang.
Marni menaruh sepatu itu di rak tunggu, di antara sepatu-sepatu lain yang menunggu diambil. Empat belas pasang pagi itu. Ia hafal semuanya tanpa melihat catatan: yang mana yang solnya lepas, yang mana yang cuma minta dibersihkan karena besok anaknya wisuda, yang mana yang sudah dua minggu tidak diambil karena pemiliknya belum punya uang dan malu lewat.
Yang terakhir itu selalu ia taruh paling belakang. Bukan supaya tersembunyi. Supaya orangnya tidak perlu menunduk waktu mengambilnya.
Menjelang pukul dua belas sirene pabrik berbunyi. Bunyinya panjang, sedikit sumbang di ujung, seperti orang tua yang kehabisan napas di akhir kalimat. Pagar dibuka. Dan dalam tiga menit trotoar itu berubah jadi sungai.
Marni suka jam ini. Bukan karena pelanggan — jam istirahat justru sedikit yang menambal. Ia suka karena bunyinya. Dua ribu pasang kaki di aspal panas punya irama sendiri: sandal jepit yang menampar, sepatu kanvas yang berdesir, hak rendah bagian administrasi yang mengetuk pendek-pendek. Kalau matanya dipejamkan, ia bisa tahu siapa yang lewat sebelum orangnya sampai.
Dan hari itu ada satu langkah yang membuatnya membuka mata lebih cepat.
Cepat, agak melompat di kaki kiri, sepatu terlalu besar sehingga menyeret sedikit sebelum menapak. Marni mengenal langkah itu sejak anak itu belajar berjalan.
"Bu."
Tarjo berdiri di depan mejanya, masih dengan kartu tanda pengenal menggantung di leher. Plastiknya baru, masih ada bekas lipatan pabrik. Foto di dalamnya diambil kemarin, dan di foto itu anaknya tidak tersenyum karena Marni bilang orang yang tersenyum di foto kerja kelihatan tidak serius.
Marni melihat kartu itu. Lalu melihat anaknya. Lalu kembali ke sepatu di pangkuannya.
"Bagian apa?"
"Perekatan. Sementara. Kalau tiga bulan bagus, katanya bisa pindah ke jahit."
"Perekatan itu panas."
"Iya."
"Minum yang banyak."
"Iya."
Ia menusukkan jarum, menarik benang, menekan. Anaknya masih berdiri di situ. Dari ujung matanya Marni tahu anak itu menunggu sesuatu, dan ia tahu persis apa, dan ia tidak memberikannya. Bukan karena tidak mau. Karena kalau ia berhenti menjahit sekarang, tangannya akan gemetar dan Tarjo akan melihatnya.
"Sepatumu," katanya akhirnya.
Tarjo menunduk ke kakinya sendiri. Sepatu kanvas hitam, warisan sepupunya, sudah menganga sedikit di jahitan kelingking kanan.
"Nanti aja, Bu. Masih kuat."
"Sini."
"Nanti—"
"Sini."
Tarjo melepas sepatunya dan berdiri dengan kaus kaki di trotoar panas, berpindah-pindah tumpuan seperti ayam. Marni membalik sepatu itu. Solnya masih tebal. Bagus. Jahitan atasnya yang lepas, itu gampang.
Ia mengambil jarum bapaknya.
"Lima ribu," katanya.
Tarjo mengangkat kepala. "Apa?"
"Lima ribu. Bayar dari gaji pertama."
"Bu, saya anak Ibu."
"Justru." Marni menusuk kulit kanvas itu, dan kali ini kulitnya menyerah di tusukan pertama karena masih muda. "Kalau kamu bisa dapat gratis dari ibumu, kamu nggak akan pernah tahu sepatu itu harganya berapa. Nanti kamu buang. Lima ribu."
Anaknya berdiri di situ, satu kaki di atas kaki yang lain, dan tidak membantah lagi.
Sepuluh menit. Marni menjahit lebih lambat dari biasanya, dan ia tahu ia sedang melakukannya, dan ia tetap melakukannya.
Waktu ia menyerahkan sepatu itu kembali, Tarjo memakainya berdiri, tidak duduk, seperti orang yang buru-buru padahal tidak.
"Bagus, Bu."
"Ya iyalah."
Anak itu tertawa. Lalu berjalan lima langkah ke arah pagar, berhenti, dan kembali.
"Bu."
"Apa."
"Nanti kalau saya sudah di bagian jahit, saya bisa bikin sepatu."
Marni mengangkat kepala.
"Sepatu untuk Ibu," kata Tarjo. "Yang beneran. Bukan sandal."
Sirene berbunyi lagi, tanda istirahat habis, dan anak itu berlari sebelum sempat mendengar jawabannya. Bagus juga, karena Marni tidak punya jawaban. Ia menunduk kembali ke pantofel Pak Ridwan, mencari tempat jarumnya tadi berhenti, dan butuh waktu lebih lama dari biasanya untuk menemukannya.
Sore, waktu sirene kedua berbunyi dan sungai itu mengalir ke arah sebaliknya, Marni mulai membereskan. Palu, landasan besi, gulungan sol karet, semuanya masuk ke kardus. Jarum-jarum masuk ke kaleng Khong Guan. Uang hari itu dihitung dua kali — dua puluh tiga ribu, lumayan — lalu dilipat dua dan diselipkan ke sudut kaleng, di bawah gulungan benang, tempat yang sama sejak delapan tahun.
Bu Sri menutup warungnya lebih cepat.
"Ni, beras naik lagi."
"Berapa?"
"Seribu seratus. Kemarin masih seribu."
Marni menutup kaleng itu. Bunyinya seperti biasa, dua ketukan logam sebelum rapat.
"Seratus perak," katanya.
"Iya, seratus perak." Bu Sri menyandarkan pintu warungnya. "Tapi kemarin juga naik seratus."
Mereka berdua berdiri sebentar di trotoar yang mulai gelap, memandang pagar pabrik yang lampunya baru dinyalakan. Di dalam sana mesin masih berdengung. Shift malam baru masuk. Sepatu-sepatu baru masih dibuat, ditumpuk, dikirim ke tempat-tempat yang tidak pernah mereka lihat.
"Anakmu jadi masuk?"
"Jadi."
"Alhamdulillah." Bu Sri menepuk lengannya sekali. "Sudah, ya."
Marni mengangkat kardusnya. Berat sebelah, seperti biasa, karena landasan besi selalu ditaruh di sisi kanan.
Jalan pulang lewat belakang pabrik, di gang yang sempit itu, dan di sepanjang gang ia melewati jemuran orang-orang yang bekerja di dalam. Kaus seragam biru, digantung terbalik supaya tidak melar di bahu. Ia menghitungnya tanpa sengaja, seperti selalu. Malam itu ada tiga puluh satu.
Di rumah, Tarjo sudah tidur, kartu pengenalnya masih menggantung di leher. Marni melepasnya pelan-pelan dan menaruhnya di meja. Ia melihat sepatu kanvas anak itu di dekat pintu — jahitannya rapi, dua baris, benang hitam.
Lalu ia melihat sepatunya sendiri.
Sandal karet, sudah tipis di tumit kiri, sudah lama tipis. Ia belum sempat. Selalu ada sepatu orang lain di pangkuannya lebih dulu.
Ia menaruh kaleng Khong Guan di rak, mematikan lampu, dan tidur tanpa memikirkan itu terlalu lama.