Saraswati mengukur ulang selama tujuh hari, dan itu tujuh hari yang mengubah segalanya — bukan karena apa yang ia temukan, tapi karena cara ia menemukannya.
Ia mulai Senin subuh, jam empat lewat, dua jam lebih awal dari jadwal biasanya. Kami melihat lampu senternya bergerak di sepanjang dermaga ketika sebagian besar kota masih tidur dan nelayan pertama baru mulai menghidupkan mesin.
Tiga titik. Mulut sungai, tiang dermaga kedua, tong ukur kayu di tanjung.
Tapi kali ini ia tidak mencatat satu angka per titik.
Ia mencatat lima.
Satu di puncak pasang, satu dua puluh menit sebelumnya, satu dua puluh menit sesudahnya, dan dua lagi di titik yang ia pilih acak supaya ia tidak bisa menipu dirinya sendiri dengan mengulang jam yang sama.
Lima belas angka sehari. Seratus lima angka dalam seminggu.
Ia melakukannya karena satu kalimat yang dikatakan kakeknya bertahun-tahun lalu, waktu ia masih belasan dan ikut ke dermaga sambil membawa termos: Kalau kamu cuma ukur sekali, kamu bukan mengukur. Kamu cuma menebak dengan alat.
***
Hari ketiga, ia mulai kedinginan dengan cara yang tidak wajar.
Bukan karena airnya. Karena kurang tidur, karena ia mengukur subuh lalu bekerja seharian lalu menyalin catatan sampai lewat tengah malam. Rudi menemukannya di kantor hari Rabu sore, tertidur di meja dengan pensil masih di tangan.
Ia tidak membangunkannya. Ia menaruh nasi bungkus di sebelah kepalanya, dan pergi.
Saraswati bangun jam sembilan malam, melihat nasi yang sudah dingin, dan memakannya sampai habis sambil berdiri.
***
Hari kelima, ia melakukan sesuatu yang tidak ada di rencananya.
Ia berjalan ke rumah-rumah di baris paling depan — baris yang paling dekat laut, yang tiangnya paling pendek — dan bertanya kepada penghuninya satu pertanyaan yang sama:
"Bu, dulu waktu rumah ini dibangun, air pasang tertingginya sampai mana?"
Ia tidak menjelaskan kenapa. Orang-orang menjawab saja, karena Saraswati anak juru ukur dan cucu juru ukur, dan di kota ini itu berarti ia berhak bertanya soal air.
Bu Nur menunjukkan bekas garis di tiang, setinggi lutut anaknya waktu itu.
Pak Salim menunjukkan takik pisau di tiang dapur, dibuat ayahnya tahun tujuh puluh sembilan.
Seorang perempuan tua yang namanya tidak sempat ia catat cuma menunjuk lantai dan berkata, "Dulu tidak pernah sampai lantai, Nak. Sekarang tiap purnama."
Sembilan rumah. Sembilan tanda.
Saraswati mengukur semuanya, dan malam itu, di kantor, ia menggambar sesuatu yang belum pernah ada di kota ini: grafik kenaikan air laut yang dibuat bukan dari laporan, melainkan dari ingatan orang dan takik di tiang rumah.
Garisnya naik.
Dan yang membuat tengkuknya dingin bukan bahwa garis itu naik.
Yang membuat tengkuknya dingin adalah bahwa garis itu *melengkung*.
***
Begini artinya, dan Saraswati butuh dua jam untuk berani menuliskannya:
Kalau air naik dengan kecepatan tetap, grafiknya lurus. Naik terus, tapi lurus.
Grafik dari sembilan tiang rumah itu tidak lurus. Awalnya landai — tujuh puluhan, delapan puluhan, kenaikannya kecil. Lalu mulai sembilan puluhan garis itu menanjak, dan sepuluh tahun terakhir ia menanjak jauh lebih curam dari tiga puluh tahun sebelumnya digabung.
Bukan naik.
Makin cepat naik.
Saraswati menulis satu kata di sudut kertas, dengan huruf kecil, seperti orang yang tidak yakin boleh menuliskannya:
percepatan.
Lalu ia mencoretnya, lalu menulisnya lagi.
***
Hari ketujuh, Minggu subuh, ia menyelesaikan pengukuran terakhir dan duduk di ujung dermaga dengan seratus lima angka di pangkuannya.
Ia menghitungnya di sana, di tempat itu juga, karena ia tidak sanggup menunggu sampai pulang.
Rata-rata, disesuaikan dengan pasang, dibandingkan dengan titik nol dermaga yang dipatok tahun enam puluh delapan dan tidak pernah bergeser:
*Dua belas koma tiga sentimeter dalam satu tahun.*
Ia menatap angka itu lama sekali.
Laporan resmi yang ia tanda tangani sendiri empat bulan lalu menyebutkan *nol koma delapan*.
Bukan meleset. Bukan salah baca. Lima belas kali lipat.
Dan angka dua belas koma tiga itu — ia mengeceknya tiga kali untuk memastikan — persis sama dengan angka yang ditulis pensil di margin buku kakeknya, di halaman terakhir yang terisi.
Kakeknya tahu.
Kakeknya tahu, dan menuliskannya, dan tidak memberitahu siapa pun.
***
Kami tidak akan berbohong soal apa yang terjadi sesudah itu.
Saraswati tidak berlari ke rumah kakeknya. Ia tidak menangis di dermaga. Ia tidak melakukan satu pun hal yang biasanya dilakukan orang di dalam cerita.
Yang ia lakukan: ia pulang, mandi, mengganti baju, dan pergi ke kantor kecamatan untuk mengambil salinan laporan tahunan lima tahun terakhir — permintaan yang biasa, yang ia ajukan dengan nada biasa, dengan formulir biasa.
Petugasnya bertanya untuk apa.
"Pencocokan arsip," kata Saraswati. "Rutin."
Dan ia menyadari, sambil mengucapkannya, bahwa itu kalimat bohong pertamanya sejak semua ini dimulai — dan bahwa ia mengucapkannya tanpa kesulitan sama sekali.
Itu yang membuatnya takut sepanjang perjalanan pulang. Bukan angka dua belas koma tiga.
Betapa mudahnya berbohong ketika kau merasa punya alasan bagus.
***
Di kantor kecamatan itu, di dinding ruang tunggu, ada foto.
Foto lama, dicetak besar, dibingkai kayu yang catnya sudah retak di sudut. Sekelompok orang berdiri di atas tanggul yang baru selesai dibangun, dengan latar belakang kota yang atapnya masih seng semua.
Di bawahnya tertulis: Peresmian Tanggul Pelabuhan, 1985.
Dan di tengah barisan itu, satu-satunya yang tidak memakai peci, berdiri seorang laki-laki muda dengan kemeja lengan panjang digulung sampai siku, tangan di pinggang, wajah yang jelas sedang menahan senyum.
Saraswati sudah lewat di depan foto itu ratusan kali.
Ia berhenti untuk pertama kalinya.
Karena di barisan kedua, agak ke pinggir, hampir tertutup bahu orang lain, ada laki-laki lain yang ia kenal.
Lebih muda empat puluh tahun. Rambut masih hitam semua. Tapi cara berdirinya sama persis — bahu sedikit turun, tangan di depan, seperti orang yang lebih suka tidak difoto.
Kakeknya.
Saraswati menatap dua orang itu di dalam satu bingkai, dan sesuatu yang selama ini terpisah di kepalanya mulai bergerak saling mendekat.
"Itu Pak Harun," kata petugas di belakangnya, tanpa ditanya, dengan nada bangga yang otomatis. "Yang tengah. Penyelamat kota."
"Yang mana?"
"Yang enggak pakai peci. Beliau yang bangun tanggul itu. Kalau enggak ada beliau, tahun sembilan puluh dua kota ini habis."
Saraswati mengangguk pelan.
"Yang di belakangnya siapa?"
Petugas itu menyipitkan mata ke foto. "Wah, yang itu saya kurang tahu, Mbak. Orang lama semua."
***
Malam itu Saraswati menggelar semuanya di lantai ruang kerjanya, bukan di meja, karena mejanya tidak cukup.
Seratus lima angka hasil pengukurannya sendiri.
Grafik dari sembilan tiang rumah.
Salinan laporan resmi lima tahun.
Buku dinas kakeknya, terbuka di halaman 1984.
Dan selembar kertas kosong yang ia taruh di tengah, di mana ia menulis tiga baris:
1. Angkanya salah. Terbukti.
2. Yang menulis salah itu kakek. Terbukti.
3. Kenapa?
Ia menatap baris ketiga itu sampai lampu di luar mulai dimatikan satu per satu.
Dan sesudah itu ia menambahkan baris keempat, dengan tulisan yang lebih kecil, seperti orang yang sedang menuliskan sesuatu yang ia tidak ingin benar:
4. Kalau kakek tidak sendirian, siapa lagi?
***
Ia pergi ke rumah kakeknya keesokan sorenya.
Orang tua itu sedang duduk di kursi rotan seperti biasa, dengan pisang seperti biasa, dan tidak menoleh ketika pintu dibuka.
"Sudah selesai ukurnya?" tanyanya.
"Sudah."
"Berapa?"
Saraswati berdiri di tengah ruangan. Ia tidak duduk kali ini.
"Dua belas koma tiga," katanya.
Dan kami — yang menonton dari luar, dari sela dinding papan yang sudah renggang, dari halaman tempat pohon jambu tua itu berdiri — kami melihat sesuatu yang tidak dilihat Saraswati karena ia berdiri di sisi yang salah.
Kami melihat wajah orang tua itu.
Selama tiga detik penuh, sebelum ia sempat menutupinya, yang ada di wajah kakek Saraswati bukan kaget, bukan bersalah, bukan takut.
Yang ada di wajahnya adalah *lega*.
Lalu tiga detik itu habis, dan ia berkata dengan suara datar:
"Alatmu perlu ditera ulang."
"Kek."
"Bawa ke kabupaten. Ada yang bisa tera di sana."
"Kek, aku ukur seratus lima kali. Aku tanya sembilan rumah. Aku—"
"Kalau angkanya beda jauh dari laporan resmi," potong orang tua itu, dan untuk pertama kalinya sore itu ia menoleh, dan matanya keras dengan cara yang belum pernah dilihat Saraswati seumur hidupnya, "yang pertama kali diperiksa orang bukan laporannya. Yang pertama kali diperiksa *kamu*."
Ia berhenti. Napasnya agak pendek.
"Jadi sebelum kamu bawa itu ke mana pun," katanya, lebih pelan, "pastikan tidak ada satu celah pun di angkamu. Satu saja. Karena mereka cuma butuh satu."
Saraswati berdiri diam.
"Mereka siapa, Kek?"
Orang tua itu mengambil pisang dari piring, dan mulai mengupasnya lagi, dan tidak menjawab.
Tapi kami yang di luar mendengar apa yang tidak didengar Saraswati: bahwa tangan yang memegang pisang itu bergetar, dan bahwa orang tua itu menunggu sampai cucunya keluar dan pintu tertutup sebelum ia meletakkannya kembali tanpa dimakan.