Rudi sudah duduk di teras sejak fajar, sepotong roti tawar tidak tersentuh di piring plastik. Asap rokoknya naik lurus, tidak terbang ke mana-mana — udara pagi masih diam, menahan napas sebelum kota bangun sepenuhnya.
Ponselnya bergetar di atas meja kayu yang catnya mengelupas. Pesan masuk, tanpa sapaan:
Ruang arsip balai kota. Jam tujuh. Bawa senter.
Ia membacanya dua kali, lalu memasukkan ponsel ke saku, memakai sandal, dan berangkat.
Bukan berlari. Rudi tidak pernah berlari kalau tidak ada yang terbakar. Tapi ia berangkat empat puluh menit lebih awal, dan itu caranya sendiri untuk buru-buru.
***
Jalan setapak ke balai kota melewati warung Pak Darto yang baru membuka setengah pintu, melewati anak-anak yang menunggu ojek sekolah di simpang, melewati tiang bendera yang benderanya tidak berkibar karena talinya putus seminggu lalu dan belum sempat diganti.
Kaki Rudi mengenali setiap lubang, setiap batu licin, setiap akar yang mengangkat aspal.
Tiga puluh tahun di jalan ini. Dan hampir semuanya bersamaan dengan Saraswati — berlari mengejar kucing, berenang di banjir yang oleh orang tua mereka disebut musibah dan oleh mereka disebut liburan, berbagi roti waktu uang saku habis di tanggal dua puluh lima.
Rudi berhenti sebentar di depan warung dan membeli dua bungkus nasi.
Bukan karena ia lapar.
Karena ia tahu Saraswati tidak akan makan.
***
Pintu balai kota tidak terkunci. Belum pernah terkunci pada jam segini. Pak Sodik, petugas keamanan, masih tidur di posnya di belakang, tangannya di atas perut, radio kecil menyala pelan di sebelah kepalanya.
Rudi lewat tanpa suara. Ia mengenal tata ruang gedung ini lebih baik daripada siapa pun kecuali Saraswati — ia yang membantu ayahnya mengecat dinding ruang rapat dua puluh tahun lalu, ia yang menyembunyikan bola kertas di lubang penyejuk ruang keuangan waktu SD, ia yang pernah terkunci di ruang arsip selama dua jam karena main petak umpet dan terlalu gengsi untuk berteriak.
Ruang arsip ada di bawah tanah. Pintunya berat, kayu jati tebal, engselnya berderit tiap kali dibuka.
Rudi mendorongnya pelan dengan bahu.
***
Di dalam, bau kertas tua dan kapur barus menyambut.
Rak-rak kayu tinggi hampir menyentuh langit-langit, penuh sampai ke sudut yang paling gelap. Debu berputar lambat di sinar pagi yang menembus jendela sempit di atas — jendela yang letaknya setinggi tanah di luar, sehingga yang terlihat dari dalam cuma kaki orang yang lewat.
Di tengah ruangan, di meja kayu yang catnya mengelupas, Saraswati sudah duduk.
Punggungnya tegak. Tasnya di lantai, terbuka. Di meja: buku dinas kulit cokelat, buku salinannya sendiri yang bersampul biru, dan setumpuk map dari rak yang sudah ia turunkan sendiri.
Ia tidak menoleh waktu pintu berderit.
"Kamu kepagian," katanya.
"Kamu semalam enggak pulang."
"Kok tahu."
"Bajumu sama kayak kemarin."
Saraswati menoleh. Matanya merah di pinggir, tapi pandangannya tidak goyah.
Rudi meletakkan satu bungkus nasi di atas map yang sedang ia baca — sengaja di atasnya, supaya tidak bisa diabaikan.
"Makan dulu."
"Nanti."
"Sekarang, atau aku enggak bantu."
Saraswati menatapnya. Rudi menatap balik, dengan wajah orang yang tahu persis bahwa ini pertarungan yang bisa ia menangkan karena ia satu-satunya orang di kota ini yang tidak takut membuat Saraswati kesal.
Perempuan itu membuka bungkusnya.
***
Mereka bekerja dua jam tanpa banyak bicara.
Caranya begini, dan Rudi mengagumi caranya meski ia tidak mengatakannya waktu itu:
Saraswati tidak mencari bukti pemalsuan.
Ia mencari bukti bahwa dirinya salah.
"Kalau aku cuma nyari yang mendukung, aku bakal nemu," katanya, sambil menurunkan map tahun sembilan puluh dari rak. "Orang selalu nemu kalau nyarinya cuma satu arah. Jadi aku nyari yang bisa bikin aku keliru."
"Misalnya?"
"Misalnya titik nol dermaga pernah dipindah. Kalau patoknya digeser, semua hitunganku ambruk." Ia membuka map itu. "Atau ada perbaikan dermaga yang bikin dasarnya naik. Atau alat lama beda kalibrasi."
"Terus ketemu?"
"Belum." Ia membalik halaman. "Dan itu yang bikin aku enggak bisa tidur."
Rudi tidak mengerti kalimat terakhir itu sampai bertahun-tahun kemudian.
Orang mengira yang paling menakutkan adalah menemukan bukti bahwa dunia busuk.
Yang paling menakutkan adalah berusaha membuktikan dirimu salah, sekuat tenaga, dengan jujur — dan gagal.
***
Jam sembilan, Rudi menemukan sesuatu.
Bukan di berkas ukur. Di berkas keuangan.
"Sar."
"Hm."
"Kamu tahu tanggul selatan diperbaiki berapa kali?"
"Dua. Sembilan dua sama dua ribu delapan."
"Tiga." Rudi memutar map itu ke arahnya. "Ada satu lagi. Sembilan sembilan. Enggak ada plakatnya, enggak ada beritanya. Cuma ada di sini, di daftar belanja bahan."
Saraswati membacanya.
Semen, besi beton, pasir. Jumlah yang besar. Tanggal pengeluaran tersebar dalam empat bulan, potongan-potongan kecil yang kalau dibaca satu per satu tidak berarti apa-apa, dan kalau dijumlahkan cukup untuk memperbaiki dinding sepanjang tiga puluh meter.
Dan di kolom keterangan, di setiap barisnya, ditulis hal yang sama:
Pemeliharaan rutin.
"Rutin," kata Saraswati pelan. "Empat bulan berturut-turut."
"Rutin itu tiap tahun sekali," kata Rudi. "Aku tukang. Aku tahu bedanya rutin sama darurat."
***
Mereka duduk berhadapan dengan dua tumpukan di antara mereka.
Di kiri: angka air yang dipalsukan.
Di kanan: perbaikan darurat yang disamarkan jadi rutin.
Dan di antara keduanya, satu kesimpulan yang tidak perlu diucapkan siapa pun untuk jadi jelas.
Mereka tahu.
Siapa pun yang menandatangani belanja itu tahu bahwa dindingnya rusak lebih parah daripada yang dilaporkan. Dan mereka memperbaikinya diam-diam, dengan uang yang dicicil supaya tidak masuk ambang pemeriksaan, tanpa satu pun pengumuman.
Bukan cuma menyembunyikan angka.
Menyembunyikan sambil memperbaiki — yang artinya, kata Rudi belakangan, mereka bukan tidak peduli. Mereka peduli. Mereka cuma lebih peduli pada satu hal lain.
"Rud."
"Hm."
"Kalau mereka enggak peduli, mereka biarin aja tanggulnya rusak." Saraswati menatap dua tumpukan itu. "Ini orang yang tiap malam mikirin tanggul ini."
"Iya."
"Terus kenapa dibohongin?"
Rudi mengambil rokok dari saku, ingat di mana ia berada, lalu memasukkannya kembali.
"Karena kalau ngaku, mereka harus ngaku juga yang delapan puluh empat," katanya. "Dan yang delapan puluh empat itu bukan salah kecil."
***
Menjelang siang mereka mengembalikan semua map ke rak, persis di tempat semula, dengan urutan yang persis sama.
Saraswati memfoto halaman-halaman penting dengan ponselnya. Rudi memegangi senter supaya tidak ada bayangan tangan di kertasnya.
"Kamu enggak bawa aslinya?" tanya Rudi.
"Enggak."
"Kenapa? Nanti kalau hilang?"
"Kalau aku bawa, aku maling," kata Saraswati. "Dan begitu aku maling, yang dibahas orang bukan angkanya lagi. Yang dibahas: juru ukur nyolong arsip."
Rudi menurunkan senter.
"Kamu udah mikir sampai situ."
"Aku mikir sampai situ terus, Rud." Suaranya lelah untuk pertama kalinya sejak pagi. "Tiap kali aku mau maju satu langkah, aku harus mikirin gimana caranya orang bakal balikin langkah itu ke muka aku."
***
Mereka keluar lewat pintu samping menjelang pukul dua belas.
Di luar panas, matahari tepat di atas, dan bayangan mereka jatuh pendek di aspal.
Rudi menyalakan rokok yang tadi ia simpan.
"Sar."
"Hm."
"Enam minggu lagi ritual pemeliharaan bendungan."
Saraswati berhenti berjalan.
Ritual itu — kalau boleh disebut ritual, dan di kota ini semua orang menyebutnya begitu — adalah satu hari dalam setahun ketika pintu air dibuka, saluran dibersihkan, dan dinding diperiksa dari dekat oleh orang yang punya kunci. Diadakan tiap tahun sebelum musim hujan. Sudah begitu sejak delapan puluh lima.
Satu-satunya hari ketika siapa pun bisa berdiri di depan dinding selatan dan melihat retakannya dengan mata sendiri.
"Enam minggu," ulang Saraswati.
"Empat puluh dua hari." Rudi mengembuskan asap. "Aku hitung semalam."
Saraswati menatap ke arah bendungan — dari tempat mereka berdiri cuma terlihat garis abu-abu di ujung teluk, rendah dan panjang, sesuatu yang sudah ada di sana seumur hidup mereka sehingga mata berhenti melihatnya.
"Kalau aku mau ngomong," katanya, "aku harus ngomong sebelum hari itu."
"Kenapa sebelum?"
"Karena kalau sesudah, mereka udah sempat nutup retaknya lagi." Ia menoleh ke Rudi. "Dan kalau retaknya udah ditutup, yang tersisa cuma omongan aku lawan omongan mereka."
Rudi menghisap rokoknya sampai habis dan mematikannya di sol sandal.
"Berarti kita punya empat puluh dua hari buat bikin omongan kamu enggak bisa dibantah."
"Kita?"
Rudi menatapnya seperti orang yang baru saja ditanya apakah air itu basah.
"Ya kita," katanya. "Emangnya kamu mau ngangkut map segitu banyak sendirian?"
Dan Saraswati tertawa — pendek, kaget, bunyi yang sudah lama tidak keluar dari mulutnya — dan kami yang mendengarnya dari seberang jalan mencatat hari itu, tanpa tahu kenapa, sebagai hari ketika perempuan itu berhenti mengerjakan semuanya sendirian.