Saraswati mendorong pintu kayu yang sudah keropos, langkahnya terhenti di ambang, dan kakeknya tahu — sebelum cucunya sempat mengucapkan satu kata pun — bahwa hari yang sudah ia tunggu empat puluh tahun akhirnya datang juga.
Ia tahu dari cara pintu itu dibuka.
Saraswati selalu mendorongnya dengan bahu, terburu-buru, sambil berteriak Kek! dari halaman sebelum daun pintunya sempat terbuka penuh. Sejak umur enam tahun begitu. Sore itu ia mendorongnya dengan tangan, pelan, menahannya supaya engselnya tidak berbunyi, lalu berdiri di ambang tanpa masuk.
Orang yang berdiri di ambang berarti membawa sesuatu yang ia tidak yakin boleh dibawa masuk.
"Kek."
"Masuk. Anginnya bawa garam."
Saraswati masuk. Ia meletakkan sesuatu di meja, dan kakeknya tidak perlu menoleh untuk mengenali bunyinya — bunyi kulit yang menyentuh kayu, agak berat, dengan tali yang jatuh menyusul di sisinya.
Kami melihat orang tua itu menarik napas satu kali. Panjang. Lalu ia meneruskan mengupas pisang seolah tidak terjadi apa-apa, karena empat puluh tahun berlatih tidak ada gunanya kalau dilepas di detik pertama.
***
Rumah itu sudah lama berhenti berubah.
Meja yang sama, kursi rotan yang anyamannya sudah longgar di sandaran kiri, kalender pupuk tahun lalu yang tidak pernah diganti karena angkanya toh masih cocok untuk hari Senin sampai Minggu. Di dinding ada dua foto: satu foto pernikahan yang warnanya sudah menguning jadi kecokelatan, satu lagi foto anak laki-laki berumur belasan memegang ikan yang terlalu besar untuk tubuhnya.
Foto kedua itu tidak pernah diturunkan dan tidak pernah dibicarakan.
Saraswati duduk di kursi seberang, kursi yang biasa ia duduki sejak kecil, dan untuk beberapa saat mereka berdua tidak mengatakan apa-apa. Di luar, ombak menyentuh tiang-tiang rumah panggung dengan bunyi yang di kota ini sama biasanya dengan detak jam dinding.
"Kakek makan?" tanya Saraswati akhirnya.
"Ini lagi."
"Pisang bukan makan."
"Buat Kakek iya."
Itu sudah jadi percakapan tetap mereka, dan biasanya berakhir di situ, dengan Saraswati ke dapur dan pulang membawa piring kosong. Sore itu ia tidak ke dapur.
***
"Ini punya Kakek?"
"Iya."
"Kenapa ada di kantor?"
"Karena itu buku dinas." Ia meletakkan kulit pisang di tepi piring, rapi, seperti selalu, dilipat dua supaya tidak menetes. "Buku dinas tinggal di kantor. Yang pergi orangnya."
Saraswati membuka buku itu. Kakeknya mendengar halaman-halaman itu dibalik — bunyi yang ia hafal sampai ke jumlah lembarnya, karena ia yang mengisi setiap satu di antaranya, satu baris sebulan, empat puluh delapan baris setahun, selama lebih dari separuh hidupnya.
"Aku baca yang tahun kemarin," kata Saraswati. "Sama persis dengan laporan resmi. Nol koma delapan."
"Ya."
"Terus aku baca yang lebih tua."
Pisau di tangan orang tua itu berhenti, sebentar saja, dan ia membenci dirinya karena berhenti.
"Halaman berapa?"
"Yang tulisannya di pinggir. Yang kecil-kecil, pakai pensil."
***
Begini yang tidak diketahui Saraswati sore itu, dan yang kami baru tahu jauh belakangan:
Kakeknya sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini sejak tahun sembilan puluh delapan.
Bukan satu jawaban. Tiga.
Jawaban pertama untuk kalau yang bertanya orang kantor: itu coretan pribadi, tidak resmi, saya buang saja besok.
Jawaban kedua untuk kalau yang bertanya wartawan atau orang provinsi: saya sudah tua, saya tidak ingat, silakan tanya arsip.
Jawaban ketiga ia siapkan untuk anaknya. Ia menyusunnya berkali-kali di kepala, memperbaiki kalimatnya, memilih di ruangan mana ia akan mengatakannya. Lalu anaknya keburu mati, dan sejak itu jawaban ketiga tergeletak di kepalanya seperti kunci untuk pintu yang rumahnya sudah dibongkar.
Sekarang cucunya yang bertanya, dan tidak satu pun dari tiga jawaban itu muat.
"Itu hitungan kasar," katanya akhirnya. "Waktu alat belum bagus. Kadang meleset."
"Meleset berapa?"
"Ya, meleset."
"Kek." Saraswati membalik buku itu ke arahnya, membuka di halaman yang sudah ia tandai dengan jari telunjuk. "Ini di pinggirnya tulis tiga koma dua. Di kolom resminya nol koma delapan. Itu bukan meleset. Itu empat kali lipat."
Orang tua itu menatap halaman yang tidak bisa lagi ia baca dengan jelas, dan tidak perlu membacanya, karena ia hafal.
"Alatnya beda."
"Alatnya sama. Aku pakai mistar yang sama sampai sekarang. Yang gagangnya ada bekas gigitan anjing."
"Cara bacanya beda."
"Kakek yang ngajarin aku cara bacanya."
Dan di situ, untuk pertama kalinya sore itu, orang tua itu diam terlalu lama.
***
Kami ingin mengatakan bahwa ia hampir mengaku.
Itu tidak benar, dan kami sudah berjanji tidak akan memperhalus apa pun dalam cerita ini.
Yang sebenarnya terjadi: ia menghitung. Cepat, dengan cara yang sudah jadi refleks, seperti orang tua yang menghitung anak tangga sebelum menuruninya di gelap.
Kalau ia bicara sekarang, cucunya akan pergi ke kantor besok pagi.
Kalau cucunya pergi ke kantor, Harun akan tahu dalam tiga hari — Harun selalu tahu dalam tiga hari.
Kalau Harun tahu, cucunya kehilangan pekerjaan yang butuh dua tahun untuk didapat dan yang di kota ini cuma ada satu.
Dan sesudah itu tidak akan ada juru ukur di kota ini yang mencatat apa pun, bahkan yang salah.
Itu hitungan yang sama persis, dengan urutan yang sama persis, yang ia pakai tahun delapan puluh empat di ruangan yang berbeda dengan orang yang berbeda.
Dan itu yang paling membuat kami sedih ketika akhirnya kami tahu: bukan bahwa ia berbohong, melainkan bahwa ia berbohong dengan alasan yang sama seperti empat puluh tahun lalu — dan alasan itu masih terdengar masuk akal di kepalanya, masih terdengar seperti melindungi.
***
"Sar."
"Iya."
"Buku itu balikin ke kantor."
Saraswati tidak bergerak.
"Kenapa?"
"Karena itu bukan punya kamu."
"Kakek yang nulis."
"Dan Kakek yang tinggalin." Suaranya keluar lebih keras dari yang ia mau, dan ia melihat cucunya berkedip satu kali, cara Saraswati berkedip sejak kecil kalau ditegur, dan ia membenci itu juga. "Ada hal yang ditinggal karena memang harus ditinggal."
"Terus kenapa Kakek nulis di pinggirnya?"
Pertanyaan itu masuk lebih dalam daripada yang cucunya sadari.
Karena itu pertanyaan yang benar. Bukan kenapa angkanya beda — itu bisa dijawab dengan alat dan cara baca. Yang tidak bisa dijawab adalah kenapa seseorang repot-repot menulis angka yang benar di pinggir halaman, dengan pensil, kecil-kecil, kalau ia sudah memutuskan untuk berbohong di kolom utamanya.
Orang yang berbohong sepenuhnya tidak menyimpan bukti.
Yang menyimpan bukti adalah orang yang masih ingin, suatu hari, ada yang menemukannya.
"Kebiasaan," katanya.
Dan itu, kami pikir, kebohongan paling kecil yang pernah ia ucapkan, dan paling tidak dimaafkannya sendiri.
***
Saraswati berdiri. Ia mengambil buku itu dari meja, dan kakeknya sempat mengira ia menang.
Lalu cucunya memasukkannya ke dalam tas.
"Aku enggak balikin," katanya. "Aku mau ukur ulang. Minggu ini, tiap hari, di titik yang sama kayak yang Kakek tulis. Kalau angkanya keluar nol koma delapan, aku balikin bukunya dan aku minta maaf."
"Dan kalau bukan?"
Saraswati berhenti di ambang, di tempat yang sama seperti waktu ia datang.
"Kalau bukan, aku balik ke sini," katanya. "Dan Kakek jawab yang bener."
Orang tua itu ingin mengatakan sesuatu. Kami melihat mulutnya bergerak setengah kata.
Yang keluar cuma: "Hati-hati di dermaga. Papannya lapuk yang ketiga dari ujung."
Saraswati mengangguk. Pintu kayu keropos itu ditutup pelan-pelan, dengan tangan, sama seperti waktu dibuka.
***
Orang tua itu duduk sendirian sampai gelap.
Pisangnya tidak ia makan. Lampu tidak ia nyalakan. Ia mendengar langkah cucunya menjauh di jalan berbatu, berhenti sebentar di ujung — mungkin membetulkan tas — lalu hilang.
Di luar, air pasang datang seperti biasa, menyentuh tiang-tiang rumah panggung dengan bunyi yang sudah menemaninya sejak ia lahir. Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun ia mendengarkannya benar-benar. Bukan sebagai latar. Sebagai hitungan.
Enam minggu lagi musim hujan.
Ia tahu berapa tinggi tanggulnya, karena ia yang ikut membangunnya. Ia tahu berapa tinggi lantai rumah cucunya, karena ia yang mengukur tanahnya waktu rumah itu dibangun. Ia sudah tahu selisihnya sejak lama, dan sudah lama pula berhenti menuliskannya di mana pun — bahkan di margin, bahkan dengan pensil.
Itu satu-satunya angka yang tidak pernah ia catat.
Ia bangkit, meraba dinding sampai ketemu saklar, lalu menurunkan tangannya lagi tanpa menyalakan.
"Ukur, Nak," katanya, ke ruangan kosong. "Ukur sampai ketemu."
Dan kami tidak tahu, sampai sekarang, apakah itu doa, atau permintaan maaf, atau cuma cara seorang pengecut menyerahkan pekerjaan yang tidak berani ia selesaikan sendiri kepada orang yang paling ia sayangi di dunia.