Ruang kerja Saraswati di kantor pengukuran air selalu berbau kertas lama dan tinta. Malam itu aromanya terasa lebih pekat, bercampur bau kopi dingin yang terlupakan di pojok meja.
Lampu meja menyorotkan lingkaran cahaya kuning ke atas buku catatan kulit cokelat yang terbuka lebar. Di sebelahnya, laporan resmi lima tahun terakhir — dicetak, dijilid, dengan grafik yang garisnya naik pelan dan rapi seperti tangga anak-anak.
Saraswati sudah tiga jam di sana dan belum menyalakan lampu yang di langit-langit.
***
Ia mengerjakannya dengan cara yang diajarkan kepadanya, dan itu bagian yang paling membuat kami sedih ketika mengingatnya sekarang: ia membongkar pekerjaan kakeknya memakai metode kakeknya sendiri.
Satu halaman, satu tahun, dua kolom di kertas kosong.
Kiri: angka margin, yang ditulis pensil.
Kanan: angka kolom resmi, yang ditulis tinta.
Dan di kolom ketiga yang ia buat sendiri: selisihnya.
Tahun delapan puluh empat: selisih dua koma empat.
Delapan puluh lima: dua koma satu.
Delapan puluh enam: dua koma tiga.
Ia berhenti di situ dan menatap ketiga angka itu lama sekali, karena ada sesuatu yang mengganggu dan ia belum bisa menyebutkannya.
Lalu ia menyadarinya.
Selisihnya terlalu rapi.
Orang yang salah ukur menghasilkan selisih yang berantakan — kadang jauh, kadang dekat, kadang terbalik. Selisih yang konsisten di angka dua koma sekian selama tiga tahun berturut-turut bukan kesalahan.
Itu rumus.
Seseorang mengambil angka yang benar, memasukkannya ke dalam sesuatu, dan mengeluarkan angka lain.
***
Ia butuh dua jam lagi untuk menemukan rumusnya, dan ketika ketemu, ia hampir tertawa karena betapa sederhananya.
Dikurangi dua koma dua. Dibulatkan ke satu angka di belakang koma.
Tiga koma dua jadi nol koma delapan. Lima koma enam jadi dua koma dua, lalu dua koma dua ditulis dua koma nol. Empat koma satu jadi satu koma enam.
Setiap tahun, selama empat puluh tahun, seseorang mengambil kenyataan lalu memotongnya dua koma dua sentimeter.
Saraswati menuliskan rumus itu di sudut kertas, dan menatapnya, dan merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya terhadap angka: jijik.
Bukan karena angkanya salah.
Karena angkanya dipikirkan. Ada orang yang duduk, mungkin di ruangan ini juga, dan memutuskan bahwa dua koma dua adalah potongan yang pas — cukup kecil supaya warga tenang, cukup besar supaya tidak ada yang curiga.
Dua koma dua adalah angka yang dipilih dengan hati-hati oleh seseorang yang tahu persis apa yang ia lakukan.
***
Empat ratus delapan puluh baris.
Itu yang ia salin malam itu, satu per satu, ke buku catatannya sendiri — bukan buku dinas, buku pribadi bersampul biru yang ia beli sendiri. Tinta menghitamkan sisi telapak tangannya dan ia tidak peduli.
Menjelang pukul dua pagi ia sampai di tahun sembilan puluh delapan, dan di situ tulisan margin berubah.
Bukan angkanya. Tulisannya.
Sampai tahun sembilan puluh tujuh, angka pensil di margin ditulis kecil, miring, seperti orang menulis buru-buru dan diam-diam.
Mulai sembilan puluh delapan, angka itu ditulis tegak. Rapi. Dengan ukuran yang hampir sama dengan angka di kolom resmi.
Seolah orang yang menulisnya berhenti bersembunyi.
Atau berhenti peduli.
Saraswati menandai halaman itu dengan sobekan kertas, dan bertahun-tahun kemudian ia mengatakan kepada kami bahwa itulah satu-satunya halaman yang ia tandai malam itu, dan bahwa ia tidak tahu kenapa, dan bahwa ia baru mengerti kenapa jauh sesudah kakeknya meninggal.
***
Menjelang jam setengah tiga ia melakukan sesuatu yang ia sendiri anggap konyol pada saat itu.
Ia berdiri, mengambil mistar cadangan dari gudang alat, dan mengukur mistar itu dengan meteran jahit ibunya yang kebetulan ada di tasnya.
Seratus sentimeter. Tepat.
Lalu ia mengukur mistar yang ia pakai setiap hari.
Seratus sentimeter. Tepat.
Lalu — dan ini bagian yang membuatnya tertawa sendirian di ruangan kosong jam setengah tiga pagi — ia mengukur meteran jahit itu dengan kedua mistar tadi.
Cocok.
Ia duduk kembali dan menatap ketiga alat itu berjajar di mejanya dan menyadari apa yang barusan ia lakukan: ia sedang mencari alasan supaya angkanya salah.
Bukan supaya benar.
Supaya salah.
Karena kalau alatnya rusak, ia bisa pulang, tidur, dan besok pagi mengganti alatnya dan semuanya selesai.
Dan sesudah ketiganya cocok, tidak ada lagi tempat untuk pulang.
***
Ia memikirkan kakeknya untuk pertama kalinya malam itu bukan sebagai kakek.
Sebagai pegawai.
Sebagai orang berumur empat puluh dua tahun yang duduk di ruangan ini juga — ruangan yang sama, mungkin di kursi yang sama, karena kursi kantor pemerintah tidak pernah diganti — dan yang setiap tahun menulis dua angka di dua tempat berbeda.
Ia mencoba membayangkan wajahnya waktu melakukan itu.
Dan ia tidak bisa, dan itu yang membuatnya akhirnya menaruh pensil.
Karena wajah yang muncul di kepalanya cuma satu: orang tua di teras, dengan sarung dan tongkat, yang setiap sore bertanya sudah makan belum.
Dua orang itu tidak mau menyatu di kepalanya.
Dan Saraswati duduk di kursi kantor itu jam setengah tiga pagi dengan tiga alat ukur berjajar di depannya dan mengerti, untuk pertama kalinya, bahwa yang akan paling sulit dalam seluruh urusan ini bukan membuktikan angkanya.
Yang akan paling sulit adalah menyatukan dua orang itu jadi satu orang.
***
Jam tiga, ia berhenti karena tangannya kram.
Ia berdiri, membuka jendela, dan kota di luar sana gelap kecuali dua tempat: lampu jaga di mulut bendungan, dan lampu depan rumah kakeknya di ujung jalan.
Saraswati menatap lampu itu cukup lama.
Kami tahu apa yang ia pikirkan malam itu, karena ia menceritakannya berkali-kali sesudahnya, selalu dengan urutan yang sama.
Ia berpikir: kakek yang mengajari aku.
Ia berpikir: kakek yang bilang angka tidak berbohong, tapi orang yang menulisnya bisa.
Dan ia berpikir, dengan cara yang membuatnya berdiri diam di depan jendela terbuka selama hampir sepuluh menit di udara yang dingin: kalau dia yang ngajarin aku kalimat itu, berarti dia sudah tahu kalimat itu berlaku buat dirinya sendiri, dan dia tetap ngajarin aku.
Orang tidak mengajarkan pisau kepada anak kecuali ia ingin, suatu hari, anak itu memegangnya.
***
Menjelang subuh, ponselnya bergetar.
Pesan dari Rudi, dikirim jam empat kurang, yang berarti Rudi juga tidak tidur:
Pak Lurah nanya tadi sore kenapa kamu buka ruang arsip lama. Aku bilang buat laporan tahunan. Dia terima. Tapi dia nanya dua kali.
Saraswati menatap layar itu.
Dia nanya dua kali.
Itu tiga kata yang mengubah seluruh sisa malam, karena sampai detik itu Saraswati mengira ia sedang menghadapi sebuah kesalahan lama — sesuatu yang sudah mati, yang tinggal digali dan ditunjukkan.
Orang tidak bertanya dua kali tentang sesuatu yang sudah mati.
Ia mematikan ponselnya. Lalu menyalakannya lagi, dan mengetik:
Jangan bilang apa-apa lagi ke siapa pun. Aku serius, Rud.
Balasannya datang dalam tujuh detik.
Ya.
Dan sesudah itu, beberapa detik kemudian:
Kamu makan belum?
Saraswati membaca dua kata terakhir itu dan menangis — sebentar, tidak lama, dengan cara yang membuatnya kesal pada dirinya sendiri — karena ia sudah lima jam berhadapan dengan bukti bahwa orang yang paling ia percaya berbohong selama empat puluh tahun, dan yang akhirnya mematahkannya justru pertanyaan paling sepele di dunia.
***
Ia memasukkan semuanya ke dalam tas sebelum matahari naik: buku dinas kakeknya, buku salinannya sendiri, kertas berisi rumus dikurangi dua koma dua.
Lalu ia berdiri di ruang kerja itu, memandangi meja yang sudah dua tahun ia pakai, dan menyadari sesuatu yang membuat tengkuknya dingin.
Meja itu meja kakeknya.
Kursi itu kursi kakeknya.
Ruangan ini, jendela ini, pemandangan lampu bendungan dari jendela ini — semuanya sudah dilihat oleh orang yang menulis angka di margin itu, tiap malam, selama empat puluh tahun.
Ia duduk di kursi itu sekali lagi, pelan, dan mencoba membayangkan bagaimana rasanya menulis angka yang benar dengan pensil, lalu menutupnya dengan angka yang salah memakai tinta, lalu pulang, lalu tidur, lalu bangun besok dan melakukannya lagi.
Empat ratus delapan puluh kali.
Ia tidak bisa membayangkannya.
Dan itulah, kami pikir, sebabnya ia tidak langsung membenci kakeknya malam itu — bukan karena ia memaafkan, tapi karena ada jarak yang terlalu jauh antara orang yang ia kenal dan orang yang melakukan itu, dan otaknya menolak menaruh keduanya di ruangan yang sama.
Jarak itu baru tertutup sepenuhnya berbulan-bulan kemudian, di sebuah ruang tamu yang hanya diterangi lilin.
***
Subuh sudah masuk lewat jendela ketika Saraswati mengunci pintu kantor.
Di luar, kota mulai bergerak: satu-dua perahu berangkat, seseorang menyapu teras, radio di warung mulai bunyi. Semuanya persis seperti kemarin dan kemarinnya lagi.
Itu yang paling aneh, katanya kepada kami belakangan. Bukan angkanya. Yang paling aneh adalah keluar dari ruangan itu dan mendapati bahwa tidak ada yang berubah di luar — bahwa kota ini terus melakukan hal-hal biasa di atas tanah yang sudah empat puluh tahun turun tanpa ada yang memberitahunya.
Ia berdiri sebentar di depan kantor, menghadap ke ujung jalan.
Lampu depan rumah kakeknya masih menyala.
Selalu menyala.
Saraswati menggeser tali tas ke bahu, dan mulai berjalan ke arah itu — dan kemudian berhenti, dan mengingat apa yang dikatakan Rudi siang tadi, dan berbalik pulang.
Kamu nggak butuh menang. Kamu butuh tahu.
Besok, katanya dalam hati. Besok.
Dan besok itu, kami sekarang tahu, adalah hari ketika ia berdiri di ambang pintu rumah kakeknya tanpa masuk — dan hari ketika orang tua itu, dari cara pintu dibuka saja, langsung tahu bahwa waktunya sudah habis.