Air pasang pagi ini lebih tinggi dari biasanya.
Kami tahu karena Saraswati sudah berdiri di tepi pantai sejak fajar menyingsing, dengan sepatu botnya yang sudah usang terendam setengah betis oleh air yang dingin dan asin. Ia tidak perlu melihat jam untuk mengetahui waktunya — gelombang yang menghantam karang dengan ritme yang semakin cepat sudah cukup memberitahunya. Tangannya memegang erat mistar ukur besi yang ditancapkan di pasir, ujungnya yang berkarat hampir tersapu ombak. Angka-angka pada mistar itu seperti bekas luka di kulit kota, setiap garis merah menandai batas yang semakin surut.
Kota pelabuhan ini bernapas dengan irama air. Kami mendengarnya dalam tiap desisan ombak yang menjilat dinding rumah-rumah panggung, dalam tiap derit kayu yang mulai lapuk karena garam. Saraswati menunduk, jari-jarinya yang ramping menyentuh permukaan air sebelum akhirnya mencatat angka di buku catatan kulit cokelatnya.
Delapan puluh tujuh koma enam.
Ia menuliskannya dengan rapi, tinta hitam mengering cepat di atas kertas yang sudah mulai menguning.
Lalu ia berhenti.
Kami melihat pena itu menggantung di udara selama beberapa detik, dan kami tahu — meski waktu itu kami belum tahu apa yang kami saksikan — bahwa sesuatu baru saja bergeser di kepala perempuan itu.
Pasang purnama bulan ini.
Ia membalik ke belakang, mencari bulan yang sama tahun lalu, di titik yang sama, dengan mistar yang sama, pada fase bulan yang sama. Halaman itu ada, karena ia sendiri yang menulisnya.
Tujuh puluh lima koma tiga.
Dua belas sentimeter lebih.
Dan laporan tahunan yang ia tanda tangani empat bulan lalu — laporan yang dikirim ke kabupaten, dicetak, diarsipkan — menyebutkan kenaikan nol koma delapan sentimeter dalam satu tahun.
Satu tahun.
Ia berdiri di air setinggi betis, dengan matahari mulai naik di punggungnya, dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun bekerja ia menyadari bahwa ia sudah lama berhenti membaca angka yang ia tulis sendiri.
***
Begini pekerjaan juru ukur air di kota ini, supaya kalian mengerti kenapa hal seperti itu bisa lolos selama itu.
Tiap pagi: turun ke tiga titik — mulut sungai, tiang dermaga kedua, dan tong ukur kayu di tanjung. Catat. Tiga angka, tiga kolom, satu buku.
Tiap bulan: salin ke formulir, kirim ke kantor kabupaten.
Tiap tahun: satu laporan, satu angka rata-rata, satu tanda tangan.
Dan di antara catatan harian dan angka tahunan itu ada sebuah ruangan yang tidak pernah Saraswati masuki — ruangan tempat angka-angka hariannya diolah oleh orang lain, di kantor lain, dengan rumus yang tidak pernah ia lihat.
Ia tidak pernah bertanya. Tidak ada yang bertanya. Angka tahunan keluar dari sana seperti hujan keluar dari langit: ada, sudah selalu ada, tidak perlu dipersoalkan.
Sampai pagi itu.
***
Saraswati melangkah mundur, pandangannya menyusuri garis pantai yang dulu jadi tempat bermain anak-anak. Sekarang tinggal beberapa batu besar yang menonjol; selebihnya sudah ditelan air. Ia ingat betul, sepuluh tahun lalu, di tempat yang sama, ia bisa berjalan dua puluh langkah lebih jauh sebelum kakinya terendam. Kini pasir yang dulu keras di bawah telapak kakinya sudah berubah jadi lumpur yang lembek, seolah tanah itu sendiri sedang mencoba melarikan diri dari air.
Dua puluh langkah dalam sepuluh tahun.
Ia berhenti berjalan dan menghitungnya di kepala — panjang langkah, kemiringan pantai, tinggi air — dengan cara kasar yang membuatnya malu sendiri karena hasilnya keluar terlalu cepat.
Angkanya tidak mungkin nol koma delapan.
Angkanya bahkan tidak dekat.
Dan yang membuatnya berdiri diam di lumpur itu bukan besarnya selisih.
Melainkan bahwa ia sudah dua tahun mencatat angka harian di buku yang sama, dan tidak sekali pun dalam dua tahun itu ia membalik ke belakang untuk membandingkannya dengan tahun lalu.
***
Kantor pengukuran air berdiri di ujung jalan yang teraspal setengah — separuh sisanya batu dan lumpur, dan tiap musim hujan batas antara keduanya bergeser sedikit ke arah kantor.
Bangunannya kecil: satu ruang kerja, satu gudang alat, satu ruang arsip yang pintunya macet dan harus diangkat sedikit sebelum didorong.
Saraswati membuka gudang alat lebih dulu, memeriksa mistar cadangan, membandingkan garisnya dengan yang ia bawa. Sama. Ia sudah menduga sama, tapi ia perlu memastikan, karena orang yang akan menuduh sesuatu harus lebih dulu memastikan bahwa dirinya sendiri tidak salah.
Lalu ia membuka ruang arsip.
Bau di dalam selalu sama: kertas, debu, dan sedikit bau tikus yang tidak pernah benar-benar hilang meski perangkapnya diganti tiap tahun. Rak-rak besi dari zaman yang lebih makmur, sebagian sudah kosong, sebagian penuh map yang labelnya sudah tidak terbaca.
Dan di rak paling bawah, di sudut, tersusun berdiri seperti buku pelajaran: buku-buku catatan kulit cokelat, satu untuk tiap lima tahun, punggungnya ditulisi tangan dengan tinta yang sudah memudar jadi kecokelatan.
Buku dinas juru ukur sebelum dirinya.
Kakeknya.
***
Saraswati sudah pernah melihat buku-buku itu. Semua orang yang pernah masuk ruangan itu pernah melihatnya. Tapi melihat dan membaca adalah dua hal yang berbeda, dan sampai pagi itu ia tidak pernah punya alasan untuk melakukan yang kedua.
Ia mengambil yang paling tua. Tahun-tahun ketika kakeknya baru mulai bekerja, ketika Saraswati bahkan belum lahir.
Halaman pertama. Angka rapi, tulisan tegak, tiga kolom persis seperti yang ia isi sendiri tiap pagi.
Halaman kedua. Sama.
Ia membalik cepat, mencari pola, dan menemukannya di halaman kedelapan — bukan di kolomnya, tapi di pinggirnya.
Di margin kanan, dengan pensil, kecil-kecil, ada angka lain.
Angka yang berbeda dari yang ada di kolom.
Selalu lebih besar.
***
Ia duduk di lantai ruang arsip itu, dengan pintu terbuka dan matahari pagi masuk membentuk kotak di lantai semen, dan membaca empat puluh tahun.
Bukan seluruhnya. Ia melompat — lima halaman, sepuluh halaman — mencari kapan pola itu mulai dan kapan berhenti.
Mulainya tahun delapan puluh empat.
Dan tidak pernah berhenti.
Di kolom resmi, angka yang tenang. Naik sedikit, turun sedikit, rata-rata yang bisa dijumlahkan jadi nol koma delapan setahun tanpa membuat siapa pun bertanya.
Di margin, dengan pensil, angka yang sebenarnya.
Tiga koma dua. Empat koma satu. Lima koma enam.
Angka-angka yang, kalau dijumlahkan empat puluh tahun, menjelaskan dua puluh langkah pantai yang hilang, menjelaskan lumpur yang dulu pasir, menjelaskan kenapa rumah-rumah di pinggir kota mulai ditinggalkan satu per satu tanpa ada yang menyebutnya mengungsi.
Jari-jari Saraswati menyentuh tulisan tangan kakeknya yang rapi, seolah mencoba merasakan sesuatu dari tinta itu.
Kenapa?
Dan lebih dari itu — pertanyaan yang baru ia sadari jauh belakangan sebagai pertanyaan yang benar:
Kenapa ditulis di pinggirnya?
Orang yang berbohong sepenuhnya tidak menyimpan bukti.
***
Suara langkah di teras membuatnya menoleh.
Rudi berdiri di ambang pintu dengan kantong kertas di tangan dan senyum yang selalu membuat segalanya terasa lebih ringan. "Kamu bengong di depan buku tua lagi?" Ia melemparkan kantong itu ke meja. "Ikan asin dari pelabuhan. Kata orang-orang musim ini ikannya makin sedikit, makin jauh nelayan harus melaut."
Saraswati tidak menjawab. Ia menutup buku catatan itu pelan, seolah takut membangunkan sesuatu.
"Rud."
"Hm."
"Kalau angka di laporan resmi salah, siapa yang bikin?"
Rudi mengangkat alis. Senyumnya memudar sedikit — bukan karena ia mengerti, tapi karena ia mengenali nada itu. "Salah gimana? Salah ketik?"
"Salah banyak."
"Berapa banyak?"
Saraswati menatapnya.
"Empat kali lipat," katanya. "Mungkin lebih."
Rudi duduk di kursi bambu yang berderit, tangan besarnya memegang pinggiran meja. Ia tidak tertawa. Kami menghargai itu, belakangan — bahwa ia tidak tertawa, bahkan tidak sedetik.
"Kamu udah cek dua kali?"
"Tiga."
"Alatnya?"
"Aku bandingin sama yang cadangan pagi ini."
Rudi mengangguk pelan, menatap buku kulit cokelat di meja itu seperti orang menatap sesuatu yang mungkin menggigit.
"Itu punya siapa?"
Saraswati tidak langsung menjawab. Di luar, ombak menyentuh tiang dermaga dengan bunyi yang sudah mereka dengar seumur hidup.
"Kakek," katanya.
***
Rudi pergi menjelang siang, dan sebelum pergi ia mengatakan satu hal yang kemudian sering diulang Saraswati kepada kami, bertahun-tahun sesudahnya, dengan cara orang mengulang kalimat yang menyelamatkannya.
"Sar."
"Hm."
"Kalau kamu mau nanya ke kakekmu, tanya besok. Jangan hari ini."
"Kenapa?"
"Karena hari ini kamu marah," kata Rudi. "Dan orang yang marah nanyanya biar menang. Kamu nggak butuh menang. Kamu butuh tahu."
Ia pergi. Pintu berderit di belakangnya.
Saraswati duduk sendirian di ruang arsip sampai matahari bergeser dan kotak cahaya di lantai semen itu memanjang lalu menghilang.
Di luar, air pasang mulai surut, meninggalkan bekas garis putih di dinding-dinding rumah — garis yang setiap tahun sedikit lebih tinggi dari tahun sebelumnya, yang setiap tahun dicat ulang oleh pemilik rumah supaya tidak terlihat, dan yang setiap tahun muncul lagi.
Ia tahu, besok pagi, air akan kembali. Lebih tinggi dari hari ini.
Dan kalau tidak ada yang berubah, suatu hari nanti garis itu akan sampai ke atap.
Ia memasukkan buku catatan kulit cokelat itu ke dalam tas, mengunci ruang arsip, dan berjalan pulang menyusuri jalan yang teraspal setengah — melewati batas tempat aspal berhenti dan lumpur mulai, batas yang tiap tahun bergeser sedikit, dan yang selama dua tahun ini ia lewati setiap hari tanpa pernah sekali pun menghitungnya.