Hari Senin ayahnya sudah bisa duduk, tapi berjalannya pelan, dan sesudah dari kamar mandi ia berhenti dulu di kursi ruang depan sebelum melanjutkan ke pintu.
"Sudah sehat?" tanya Ratri.
"Sudah. Kemarin cuma masuk angin."
Ratri tidak bertanya lagi. Ia mengambil tas dan berangkat sekolah.
Di kelas, Bu Warni membahas soal cerita tentang dua kereta yang berangkat dari kota berbeda. Ratri menyalin soalnya dengan rapi dan tidak mengerjakannya. Di halaman belakang bukunya ia menulis: lima belas. Lalu di bawahnya: kertas merah muda tidak ada angkanya.
Temannya, Ipah, melihat dari samping.
"Itu apa?"
"Bukan apa-apa."
Ipah mengangkat bahu dan kembali menyalin. Ipah anak penjual ayam di blok B, dan mereka berteman sejak SD karena sama-sama pulang lewat jalan yang sama, bukan karena pernah memutuskan untuk berteman.
Pukul satu Ratri sampai di los. Ayahnya sedang menjahit, dan jedanya panjang-panjang.
"Sudah makan?" tanya ayahnya.
"Sudah."
Belum, tapi kalau bilang belum ayahnya akan berhenti menjahit dan menyuruhnya beli nasi, dan Ratri tahu berapa sisa uang di kaleng bawah mesin obras karena kemarin ia yang membukanya.
Ia menaruh tas di kursi plastik dan mengambil keranjang. Ada empat kertas merah muda yang belum dikerjakan. Ia menyusunnya berdasarkan tanggal, yang paling lama di atas, seperti yang selalu dilakukan ayahnya tanpa pernah menyuruhnya melakukan itu.
"Ratri."
"Ya."
"Cari kapur di laci bawah. Yang buat garis."
Laci bawah adalah laci yang paling jarang dibuka karena macet di tengah dan harus diangkat sedikit. Ratri mengangkatnya sedikit. Di dalamnya ada kaleng seng bekas obat, ada resleting yang masih dalam plastik, ada tiga jarum mesin yang sudah tumpul dan tidak dibuang.
Dan ada kapur.
Bentuknya pipih seperti segitiga yang ujungnya sudah aus jadi bulat. Warnanya kuning pucat. Setengahnya sudah habis, dan di bagian yang habis itu permukaannya halus, licin, seperti sabun yang lama dipakai.
Ratri membawanya ke meja.
Ayahnya menerimanya tanpa melihat, menggores kain dua kali, lalu menaruhnya di sebelah gunting. Ia menjahit lagi.
Ratri berdiri di sana.
"Pak."
"Hm."
"Kapurnya kok tinggal separuh."
Mesin berhenti. Ayahnya melihat kapur itu sebentar, seperti baru menyadari benda itu ada.
"Itu punya ibumu," katanya.
Lalu ia menjahit lagi.
Ratri menunggu kalimat berikutnya sampai bunyi mesin jadi cepat dan tidak berhenti-henti, dan ketika itu terjadi ia tahu tidak akan ada kalimat berikutnya.
Sore, sebelum membereskan, ayahnya menyuruhnya menyimpan kapur itu ke laci bawah lagi.
Ratri memasukkannya ke saku roknya.
Ia tidak berbohong. Ayahnya tidak bertanya.
Di rumah malam itu, sesudah piring dicuci dan ayahnya sudah masuk kamar, Ratri mengambil kain sisa dari kardus yang ia bawa pulang. Kain katun kembang kecil, sisa potongan daster, kira-kira selebar dua telapak tangan.
Ia menggelarnya di lantai.
Ia mengeluarkan kapur dari saku dan memegangnya seperti tadi ayahnya memegangnya, di antara jempol dan telunjuk, agak miring.
Ia menarik satu garis.
Garisnya bengkok di bagian tengah.
Ia menariknya lagi di sebelahnya. Bengkok juga, tapi bengkoknya di tempat berbeda.
Ratri menarik garis sepanjang malam itu di kain sisa yang sama sampai kainnya penuh dan hampir tidak ada tempat kosong lagi, dan garis yang keempat belas hampir lurus.
Ia tidak menggunting apa pun.
Sebelum tidur ia mengelap kain itu dengan telapak tangan sampai kapurnya hilang, melipatnya, dan menaruhnya di bawah kasur tipisnya.
Kapur itu sekarang lebih pendek dari tadi pagi.
Ratri memandanginya di bawah cahaya jalan yang masuk lewat sela pintu lemari.
Besok ia akan menariknya lebih pelan.
Selasa siang pasar sepi karena hujan sejak pukul sebelas. Air masuk sedikit lewat celah seng di depan los, dan ayahnya menaruh ember di situ tanpa berkata apa-apa, seperti sudah dijadwalkan.
Ratri duduk di kursi plastik dengan buku sejarah terbuka di pangkuan. Ia sudah membaca halaman yang sama tiga kali.
"Bosan?" tanya ayahnya.
"Nggak."
Ayahnya menjahit lagi. Ember di depan berbunyi tik, agak lama, tik.
Pukul dua, Bu Nah datang lagi, kali ini tanpa membawa apa-apa, hanya berteduh. Ia berdiri di mulut los sambil mengibas-ngibaskan kerudungnya yang basah di bagian bahu.
"Ramai, Pak?"
"Begini saja."
"Sama. Dari pagi cuma tiga orang." Bu Nah melihat ke dalam, ke Ratri, lalu ke mesin. "Bapaknya kemarin sakit, ya? Saya lihat losnya tutup."
"Buka, kok," kata ayahnya. "Anak saya yang jaga."
Bu Nah menoleh ke Ratri dengan cara yang membuat Ratri menunduk ke bukunya.
"Wah. Sudah bisa jaga sendiri."
"Jaga saja," kata ayahnya. "Belum bisa apa-apa."
Kalimat itu diucapkan dengan nada yang sama seperti kalau ayahnya bilang benang habis, atau hujan deras. Bukan untuk melukai. Ratri tetap menunduk ke bukunya sampai Bu Nah pergi.
Sesudah itu ayahnya berdiri, meregangkan punggung, dan keluar merokok di bawah tritisan. Ratri melihat punggungnya dari dalam, bahu yang agak turun sebelah, asap yang langsung dibawa angin.
Ia menutup buku sejarahnya.
Di keranjang ada rok seragam SMP yang harus dikecilkan pinggangnya. Kertas merah muda bertuliskan Rina, dengan angka 3 di bawahnya yang artinya tiga sentimeter, tulisan tangan ayahnya.
Ratri mengeluarkan kapur dari saku.
Ia membalik rok itu, mencari jahitan sampingnya, dan menaruh pita ukur di pinggang seperti yang sudah ratusan kali ia lihat. Tiga sentimeter dari jahitan lama. Ia menandainya dengan kapur.
Garisnya lurus.
Ia melihatnya agak lama.
Lalu ia menandai yang sebelah, dan garis itu juga lurus, dan ia menaruh rok itu kembali ke keranjang persis seperti semula, dengan kertas merah mudanya di posisi yang sama, dan duduk kembali di kursi plastik dan membuka buku sejarahnya di halaman yang sama.
Ayahnya masuk sambil menepis air dari lengan.
Ia mengambil rok Rina dari keranjang, membaliknya, dan berhenti.
Ratri tidak mengangkat kepala dari bukunya. Ia mendengar ayahnya menaruh rok itu di meja. Ia mendengar laci kedua dibuka, gunting diambil. Ia mendengar mesin dinyalakan.
Ayahnya tidak menghapus garis itu.
Ia menjahit persis di atasnya.
Sore hari hujan berhenti dan pasar mulai berbau tanah. Mereka membereskan seperti biasa. Ayahnya mengunci gembok, menariknya dua kali.
Di jalan pulang mereka berjalan beriringan, ayahnya sedikit di depan, dan tidak ada yang bicara sampai simpang tempat penjual gorengan biasanya mangkal.
"Ratri."
"Ya."
"Yang rok tadi, tiga senti itu dari jahitan lama, bukan dari pinggir kain."
"Iya."
"Ya sudah. Kamu sudah benar."
Ayahnya jalan lagi.
Ratri mengikuti setengah langkah di belakangnya sepanjang sisa jalan, dan tidak berkata apa-apa lagi, dan tidak ada yang perlu dikatakan.
Di rumah, sebelum tidur, ia mengeluarkan kain sisa dari bawah kasur dan menariknya sekali lagi dengan kapur, satu garis saja, di ruang kosong yang masih tersisa di pinggir.
Garisnya lurus.
Ia mengelapnya sampai hilang, seperti biasa.
Lalu ia berbaring dan menghadap lemari, dan di rak paling atas bayangan bulat kaleng biskuit itu masih di tempatnya, dan Ratri tidak memikirkannya sama sekali malam itu.
Ia tertidur lebih cepat dari biasanya.
Rabu, jam istirahat, Ipah membuka bekalnya di bangku belakang dan menyodorkan setengah tempe goreng ke arah Ratri tanpa menawarkan.
"Ibumu kapan pulang?"
Ratri mengambil tempe itu.
"Belum tahu."
"Ibuku bilang, katanya kalau kontraknya habis biasanya boleh pulang dulu sebulan."
"Hm."
"Kontraknya kapan habis?"
"Belum tahu."
Ipah mengunyah. Di lapangan ada anak laki-laki berteriak karena bola masuk got.
"Kamu nggak nanya?"
"Nanya," kata Ratri.
Itu benar. Ia pernah bertanya. Dua kali, mungkin tiga. Yang ia ingat, jawabannya selalu berupa kalimat yang bentuknya seperti jawaban tapi kalau dipikir lagi tidak menjelaskan apa-apa. Nanti kalau sudah waktunya. Doakan saja. Ibu juga kepingin.
Ipah tidak bertanya lagi karena bel berbunyi, dan sesudah itu ada ulangan biologi yang tidak diberitahu sebelumnya, dan sesudah itu semua orang lupa membicarakan apa pun kecuali ulangan biologi.
Sepulang sekolah Ratri lewat wartel di dekat simpang. Sekarang orang jarang ke wartel, dan tempat itu setengahnya sudah jadi toko pulsa, tapi dua bilik kayunya masih ada di belakang dengan pintu lipat yang catnya mengelupas.
Ratri berhenti di depannya.
Ia masih ingat nomor yang dulu ditempel ayahnya di dinding rumah dengan selotip, angkanya panjang dan diawali kode yang tidak sama dengan nomor mana pun di sekitar sini. Kertas itu sudah lama dicopot. Ratri masih hafal.
Ia berdiri di depan bilik itu cukup lama sampai penjaga toko pulsa mengangkat kepala dan melihatnya.
"Mau telepon, Dek?"
"Nggak," kata Ratri. "Salah lihat."
Ia berjalan lagi.
Sampai di los, ayahnya sedang memasang benang ke jarum, memicingkan mata, gagal, mencoba lagi.
"Sini," kata Ratri.
Ayahnya menyerahkan jarum dan benangnya tanpa berdebat, yang tidak biasa.
Ratri memasukkan benang itu sekali jadi. Ia mengembalikannya.
"Matamu masih bagus," kata ayahnya.
"Masih."
"Ya sudah. Nanti kalau bapak sudah nggak bisa lihat, kamu yang masukin benang."
Ia bilang begitu sambil tertawa kecil, seperti orang yang sedang bercanda tentang hal yang tidak lucu tapi juga tidak menakutkan, lalu menjahit lagi.
Ratri duduk di kursi plastik dan tidak membuka bukunya.
Ia melihat tangan ayahnya di atas kain. Kuku jempolnya ada garis putih memanjang, dan buku jari yang paling besar warnanya lebih gelap dari sekitarnya karena sudah puluhan tahun bersandar di meja mesin di titik yang sama.
Bunyi mesin jedanya panjang-panjang sore itu.
Ratri menghitungnya tanpa sengaja. Sampai dua puluh, lalu ia berhenti menghitung.