Hari Minggu pasar tetap buka tapi setengahnya saja, dan los jahit termasuk yang buka karena orang justru datang di hari libur.
Ayah Ratri sedang menjahit lengan kemeja ketika jarumnya patah.
Bunyinya pendek, seperti sesuatu yang putus di dalam kaleng. Mesin berhenti. Ayahnya menarik kain, melihat ke bawah sepatu mesin, lalu mendorong kursinya ke belakang.
"Jarumnya."
Ia membuka laci kedua, mencari, tidak menemukan, membuka laci pertama, juga tidak.
"Ratri. Yang di laci bawah, tiga jarum itu masih ada?"
"Ada. Tapi tumpul."
"Ya sudah, ambil satu."
Ratri mengambilnya. Ayahnya memasangnya, menyalakan mesin, menjahit dua senti, dan berhenti lagi. Benangnya putus di tempat yang sama.
Ia melepaskan jarum itu dan menaruhnya di meja, di sebelah dua kawannya yang sama tumpulnya.
"Kamu ke toko Bu Sri. Beli jarum nomor empat belas, satu bungkus. Dua puluh ribu, kembaliannya buat kamu."
"Nggak usah."
"Ya sudah, kembaliannya taruh kaleng."
Toko Bu Sri di blok A, dekat penjual ikan, dan sepanjang jalan ke sana lantainya basah karena es dari kotak ikan mencair dan mengalir ke tengah lorong. Ratri berjalan di tepi.
Di toko itu ada tiga rak: benang, resleting, dan segala yang kecil-kecil. Ratri menyebut nomor empat belas dan Bu Sri mengambilnya tanpa bertanya apa-apa, seperti orang yang sudah lima ratus kali mengambil barang yang sama.
"Buat bapakmu?"
"Iya."
"Bilang, benang gulung besar sudah masuk. Yang hitam."
"Iya."
Di jalan pulang Ratri memegang bungkus jarum itu di dalam genggaman. Bungkusnya kertas tipis dengan gambar mesin jahit tua di depannya, gambar yang sudah tidak mirip mesin mana pun yang masih dipakai orang.
Sampai di los, ayahnya sedang duduk menghadap keluar, merokok, kemeja yang belum selesai tergantung di sandaran kursi.
"Ini."
Ayahnya mematikan rokoknya di lantai, masuk, memasang jarum baru. Mesin menyala dan bunyinya kembali seperti orang yang menghitung.
Ratri duduk di kursi plastik.
Ia duduk di situ dua jam sampai kemeja itu selesai, dan sesudah itu ada rok, dan sesudah itu tidak ada apa-apa lagi di keranjang.
Los jadi sepi. Penjual plastik di seberang sudah tutup dari tadi.
Ayahnya mendorong kursinya ke belakang dan berdiri.
"Sini."
Ratri mengangkat kepala.
"Sini," ayahnya mengulang, dan menunjuk kursinya dengan dagu.
Ratri berdiri dan duduk di kursi ayahnya untuk kedua kali dalam hidupnya. Kali ini ayahnya berdiri di sampingnya, satu tangan bersandar di meja mesin.
"Kain sisa mana."
Ratri mengambilnya dari kardus. Kain katun polos, sisa seragam, dua lapis.
"Taruh di bawah sepatu. Jangan ditekan. Turunkan tuasnya."
Tuasnya ada di belakang kanan, kecil, dan Ratri harus mencari dengan jari. Sepatu mesin turun dan menjepit kain.
"Sekarang injak pelan."
Ratri menginjak.
Mesin melompat. Kain tertarik terlalu cepat dan jahitannya melenceng sepuluh senti dalam waktu kurang dari satu detik, dan Ratri mengangkat kakinya seperti orang menginjak sesuatu yang panas.
Ayahnya tidak berkata apa-apa.
"Lagi," katanya sesudah beberapa saat.
Ratri menginjak lagi, lebih pelan. Mesin berjalan tiga senti dan berhenti karena ia mengangkat kakinya lagi.
"Jangan diangkat. Tahan saja segitu."
Kali ketiga mesin berjalan pelan dan tidak berhenti, dan Ratri menahannya sampai ujung kain, dan jahitannya bengkok tapi tidak putus dan tidak melompat.
Ia mengangkat kakinya. Mesin diam.
Ayahnya mengambil kain itu, membaliknya, melihat sisi belakangnya, dan menaruhnya kembali di meja.
"Bengkok," katanya.
"Iya."
"Tapi jaraknya sama. Itu yang susah." Ia mengambil rokoknya dari saku dan tidak menyalakannya. "Bengkok gampang dibetulkan. Jarak nggak."
Ia keluar.
Ratri duduk di kursi itu sendirian, dengan kain sisa di depannya dan satu garis jahitan bengkok yang jaraknya sama.
Ia menariknya dengan jari, merasakan benang yang naik turun di antara dua lapis kain.
Sore itu mereka membereskan lebih lambat dari biasanya karena Ratri menjahit tujuh garis lagi di kain sisa yang sama, dan ayahnya tidak menyuruhnya berhenti, hanya duduk di kursi plastik menghadap keluar sampai matahari kena kaki mejanya.
Waktu mengunci gembok, ayahnya menariknya dua kali seperti biasa.
"Besok sekolah."
"Iya."
"Bawa yang celana Pak Dedi, ketinggalan di kursi."
"Iya."
Di rumah Ratri menaruh kain sisa itu di bawah kasur, di sebelah kain yang satunya, yang penuh garis kapur yang sudah dihapus.
Yang ini tidak bisa dihapus.
Ia meninggalkannya begitu saja.
Senin pagi Ratri bangun sebelum alarm karena tangannya kaku.
Bukan sakit. Hanya kaku, di pangkal jempol kanan dan di betis kanan, tempat yang kemarin menahan pedal terlalu lama. Ia meremas-remasnya di bawah selimut sampai hilang.
Di sekolah, waktu ulangan matematika, ia menulis dengan tangan yang sama dan menyadari bahwa tulisannya hari itu lebih kecil dari biasanya.
"Kamu kenapa?" tanya Ipah waktu istirahat.
"Nggak apa-apa."
"Tanganmu gemetar."
"Nggak."
Ipah memegang pergelangan tangannya sebentar, seperti orang memeriksa demam, lalu melepaskannya.
"Ya sudah."
Siang di los, keranjang penuh. Ada empat celana sekolah, dua rok, satu seragam pramuka yang lengannya harus disambung karena anaknya kelewat cepat besar.
Ayahnya menjahit dari pukul satu sampai pukul empat tanpa berdiri sekali pun.
Ratri memasukkan benang ke jarum tiga kali sore itu, tanpa disuruh, karena ia mulai bisa menebak kapan gulungan akan habis dari bunyinya.
Pukul empat, ayahnya berhenti dan meregangkan punggungnya lebih lama dari biasanya, dua kali, sambil menekan pinggang dengan telapak tangan.
"Pak."
"Hm."
"Yang pramuka biar aku yang setrika."
Ayahnya melihatnya sebentar.
"Setrikanya panas. Jangan yang bagian kancing."
"Iya."
Setrika mereka yang lama, yang kalau sudah panas harus dicabut karena tidak ada pengaturnya. Ratri menyetrika seragam pramuka itu di atas papan yang dilapisi kain handuk, pelan-pelan, menghindari kancing, membalik lengannya seperti yang sudah ratusan kali ia lihat.
Ayahnya menonton dari kursi.
"Yang kerah dulu."
"Iya."
"Baru bahu."
"Iya."
Ketika selesai, seragam itu digantung di gantungan kawat dan lipatan lengannya lurus dan tajam, dan Ratri melihatnya dengan cara yang membuat ayahnya tertawa pendek.
"Apa?"
"Nggak," kata Ratri.
Mereka mengunci los pukul setengah lima.
Di jalan, mereka lewat toko fotokopi ujung pasar. Ratri melihat ke etalase seperti biasa. Blok nota merah muda masih ditumpuk lima.
"Pak."
"Hm."
"Kertas nota kita hampir habis."
Ayahnya berhenti berjalan.
Ia menoleh ke etalase itu, lalu ke Ratri, dan wajahnya waktu itu adalah wajah orang yang sedang menghitung sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kertas nota.
"Iya," katanya. "Nanti."
Mereka jalan lagi.
Malam itu ayahnya masuk kamar lebih awal dari biasanya. Ratri mendengar suara kasur, lalu tidak ada apa-apa.
Ia menggelar kasur tipisnya, mematikan lampu, dan berbaring.
Dari posisinya ia bisa melihat lemari, dan di rak paling atas, kaleng biskuit itu.
Ratri berbaring memandanginya cukup lama.
Lalu ia berbalik menghadap dinding, dan yang ia pikirkan sampai tertidur bukan kaleng itu, melainkan bagaimana caranya menahan pedal supaya mesin jalan pelan tanpa berhenti.
Kamis, Ipah datang ke los sepulang sekolah, hal yang jarang ia lakukan.
Ia berdiri di mulut los dengan tas masih di punggung dan melihat ke dalam seperti orang yang belum pernah melihat tempat itu, padahal sudah sering.
"Kenapa?" tanya Ratri.
"Rok seragamku sobek. Di sini." Ipah memutar badan dan menunjuk jahitan belakang, dekat pinggang. "Ibuku nyuruh ke sini. Katanya jangan mahal-mahal."
Ayah Ratri melihat dari mesin.
"Lepas dulu di belakang. Pakai yang olahraga."
Ipah masuk ke belakang lemari kaca, tempat yang biasanya dipakai orang mengganti baju, dan keluar dengan rok di tangan.
Ayah Ratri menerimanya, membaliknya, melihat sobekannya.
Lalu ia menyerahkannya ke Ratri.
"Lurus saja. Ikuti jahitan lama."
Ipah melihat Ratri. Ratri melihat ayahnya. Ayahnya sudah kembali ke kemejanya sendiri dan tidak melihat siapa-siapa.
Ratri duduk di kursi itu.
Ia menaruh rok Ipah di bawah sepatu mesin, mencari jahitan lamanya dengan ujung jari, menurunkan tuas, dan menginjak pedal sepelan yang ia bisa.
Mesin berjalan.
Ipah berdiri di sampingnya, terlalu dekat.
"Jangan di situ," kata Ratri. "Menghalangi cahaya."
Ipah pindah.
Jahitan itu selesai dalam waktu kurang dari satu menit. Ratri mengangkat sepatu mesin, menarik kainnya, dan memotong benang dengan gunting kecil, dan waktu ia membaliknya jahitannya mengikuti garis lama dengan selisih yang tidak sampai selebar benang, kecuali di dua senti terakhir, di mana garisnya naik sedikit.
Ia melihat dua senti itu agak lama.
"Sudah?" tanya Ipah.
"Sudah."
Ipah mengambilnya, membaliknya di depan matanya, dan tidak melihat apa pun yang salah karena memang tidak ada yang salah kalau kau bukan orang yang menjahitnya.
"Berapa?"
Ratri membuka mulut dan menutupnya lagi.
"Lima ribu," kata ayahnya dari mesin, tanpa menoleh.
Ipah membayar, memakai roknya lagi di belakang lemari, dan pergi sambil bilang besok mereka piket bareng.
Los sepi lagi.
Ratri masih duduk di kursi ayahnya. Uang lima ribu itu ada di tangannya.
Ia berdiri, membuka kaleng di bawah mesin obras, dan memasukkannya.
"Ratri."
"Ya."
"Yang dua senti terakhir naik."
Ratri berhenti dengan tangan masih di kaleng.
"Iya," katanya.
"Karena kamu buru-buru di ujung. Semua orang buru-buru di ujung." Ayahnya menjahit lagi. "Besok kalau ada lagi, kerjakan."
Ratri menutup kaleng dan menaruhnya kembali di posisi yang persis sama.
Sore itu, waktu membereskan, ia menutup mesin dengan kain batik pudar seperti yang biasa dilakukan ayahnya, dan ayahnya membiarkannya.