Mesin jahit ayahnya berbunyi seperti orang yang sedang menghitung. Tik-tik-tik, berhenti, tik-tik-tik lagi. Ratri hafal jedanya. Kalau jedanya panjang, ayahnya sedang membetulkan letak kain. Kalau bunyinya jadi cepat dan tidak berhenti-henti, sebentar lagi selesai, dan sesudah itu ayahnya akan berdiri, meregangkan punggung, lalu keluar merokok di depan los sambil melihat orang lewat.
Ratri duduk di kursi plastik di sebelah mesin, memilah kancing di dalam kotak permen. Kancing putih ke kiri, kancing bening ke kanan, kancing yang tidak jelas warnanya ditaruh di tengah dan diurus belakangan. Ada empat puluh tiga kancing putih. Ia tahu karena sudah menghitungnya kemarin, dan kemarinnya lagi.
"Ratri."
"Ya."
"Ambilkan yang gunting kecil."
Ia berdiri tanpa melihat, tangannya sudah tahu laci mana. Gunting kecil ada di laci kedua, di bawah pita ukur yang ujungnya sudah tidak ada angkanya. Ia menyerahkannya dengan gagang lebih dulu, seperti biasa, karena pernah sekali ia menyerahkannya dengan mata pisau lebih dulu dan ayahnya diam agak lama sebelum menerimanya.
Los mereka nomor 14, blok C, berhadapan dengan penjual plastik. Lebarnya dua setengah meter. Di dalamnya muat satu mesin jahit, satu mesin obras yang lebih sering dipakai jadi meja, satu lemari kaca berisi benang, dan dua kursi. Di dinding sebelah kiri ada kalender dari pabrik cat, masih di bulan Maret padahal sekarang Agustus. Ayahnya bilang gambarnya bagus, jadi tidak usah disobek.
Bau di dalam los itu selalu sama. Minyak mesin, kain baru, dan sedikit bau apak dari kardus yang ditumpuk di bawah meja. Ratri tidak bisa mencium bau minyak mesin di tempat lain tanpa langsung merasa sedang duduk di kursi plastik itu.
Pukul sembilan, Bu Nah datang membawa dua celana panjang anaknya.
"Dipendekkan lima senti, Pak. Yang ini juga."
"Sepuluh ribu satu."
"Kemarin delapan."
"Kemarin belum naik benang."
Bu Nah tertawa dan menaruh celananya di meja. Ayah Ratri menuliskan nama di kertas kecil, menyematkannya ke celana dengan peniti, lalu menaruhnya di keranjang. Kertas itu warnanya merah muda, dari blok nota yang dibeli setahun sekali di toko fotokopi ujung pasar.
"Anaknya sudah kelas berapa, Pak?"
"Satu SMA."
"Wah. Cepat, ya." Bu Nah melihat Ratri. "Sudah bisa jahit?"
"Belum," kata Ratri.
"Belum," ayahnya mengulang, tanpa mengangkat kepala. "Nanti kalau sudah rapi."
Bu Nah mengangguk seolah itu jawaban yang masuk akal, lalu pergi. Ratri kembali ke kancingnya. Kalimat itu sudah lama dipakai ayahnya untuk banyak hal. Nanti kalau sudah rapi kita pasang papan nama di depan. Nanti kalau sudah rapi kita ganti lampunya yang terang. Nanti kalau sudah rapi kita beli mesin yang bisa bikin lubang kancing sendiri. Nanti kalau sudah rapi.
Ratri tidak pernah tahu rapi yang mana yang dimaksud.
Siang, pasar jadi lebih sepi. Penjual plastik di seberang menggelar tikar dan tidur dengan koran di wajahnya. Ayah Ratri makan nasi bungkus di kursi, setengah menghadap keluar. Ratri makan di kursi satunya. Mereka tidak banyak bicara saat makan, bukan karena marah, tapi karena memang begitu.
"Sekolah besok jam berapa?"
"Setengah tujuh."
"Ya sudah."
Setelah makan ayahnya kembali menjahit. Ratri mengeluarkan buku dan mengerjakan soal matematika di atas mesin obras yang jadi meja. Angka-angkanya kecil karena kertasnya sudah dipakai dua kali. Kalau ada pelanggan datang, ia menutup bukunya dan berdiri.
Pukul empat mereka mulai membereskan. Kain sisa dimasukkan ke kardus, gunting dikembalikan ke laci, mesin ditutup kain batik yang sudah pudar. Ayahnya mengunci gembok, menariknya dua kali untuk memastikan, seperti selalu.
Di rumah, Ratri menjerang air lebih dulu, baru mandi. Rumah mereka kecil, satu kamar dipakai ayahnya, satu ruang depan yang malam hari jadi kamar Ratri. Di sudut ruang depan ada lemari kayu dengan pintu yang tidak bisa menutup penuh. Di rak paling atas lemari itu ada kaleng biskuit bulat warna biru, yang tutupnya sudah tidak pas lagi sejak dulu, sehingga kalau diangkat harus dua tangan.
Ratri mengangkatnya dua tangan.
Di dalamnya ada kertas-kertas. Semuanya kertas kecil dari tempat pengiriman uang, sebagian sudah menguning, sebagian tintanya mulai hilang di bagian bawah. Yang paling lama tanggalnya November tiga tahun lalu. Yang paling baru tanggalnya minggu kemarin.
Ratri mengeluarkan yang paling baru dari saku roknya, kertas yang tadi pagi diberikan ayahnya sesudah dari bank, dan menaruhnya di atas tumpukan. Ia tidak menghitungnya. Ia tahu jumlahnya empat puluh satu.
Ia menutup kaleng, menekan tutupnya dengan telapak tangan sampai bunyi, dan mengembalikannya ke rak paling atas.
Malam, ayahnya menonton televisi tetangga dari depan pintu, berdiri, tangan di pinggang, sepuluh menit lalu masuk lagi. Ratri menggelar kasur tipis di ruang depan.
"Ratri."
"Ya."
"Besok bawa yang kemeja Pak Har. Bapak lupa taruh di keranjang."
"Iya."
"Jangan lupa."
"Iya."
Lampu dimatikan. Dari luar terdengar suara motor lewat, lalu tidak ada apa-apa lagi.
Ratri berbaring menghadap lemari. Dari posisinya ia bisa melihat garis tipis cahaya jalan yang masuk lewat sela pintu lemari yang tidak bisa menutup penuh, dan di atasnya, bayangan bulat kaleng biskuit.
Ia menghitung sesuatu di kepalanya sampai tertidur. Bukan kancing.
Besoknya, hari Sabtu, ayahnya tidak enak badan.
Ratri tahu sebelum ayahnya bilang apa-apa, karena air panas yang ia jerang tidak diambil, dan karena pukul enam ayahnya masih di kasur.
"Bapak tidur dulu sebentar," kata ayahnya dari dalam. Suaranya biasa saja. "Kamu buka los-nya. Kunci di paku."
"Aku?"
"Ya kamu. Duduk saja. Kalau ada yang antar kain, terima, tulis namanya. Jangan janji tanggal."
"Kalau ada yang ambil?"
"Lihat kertasnya. Kalau namanya cocok, kasih."
Ratri berdiri di ambang pintu kamar sebentar. Di dalam gelap, dan ia hanya bisa melihat bentuk punggung ayahnya menghadap dinding.
"Pak."
"Hm."
"Nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa. Berangkat sana, keburu siang."
Ratri mengambil kunci dari paku, memasukkannya ke saku, lalu mengambil kemeja Pak Har dari gantungan di belakang pintu karena hampir lupa lagi.
Pasar pagi itu sama seperti biasa. Bau ikan di blok A, bau gorengan di mulut gang, seorang ibu menawar cabai dengan suara yang terdengar sampai jauh. Ratri berjalan dengan kunci di dalam genggamannya, bukan di dalam saku, dan baru menyadarinya ketika telapak tangannya berkeringat.
Gembok los nomor 14 keras kalau diputar pertama kali. Ratri harus menariknya sedikit ke atas dulu, baru kuncinya mau berputar. Ia tahu itu karena sudah ratusan kali melihat ayahnya melakukannya, tapi ini pertama kalinya tangannya sendiri yang melakukan.
Pintu terbuka. Bau minyak mesin keluar menemuinya.
Ratri masuk, menaruh kemeja Pak Har di meja, dan berdiri di tengah los yang lebarnya dua setengah meter itu, memandangi mesin yang masih tertutup kain batik pudar.
Ia tidak duduk di kursi plastik yang biasa.
Ia duduk di kursi ayahnya.
Kursinya lebih rendah dari yang ia kira. Dari situ, meja mesin ada tepat di depan dada, bukan di bawah dagu seperti kalau ia duduk di kursi plastik. Pedalnya terasa di bawah telapak kaki kanan sebelum ia sempat mencarinya.
Ratri tidak menyalakan apa-apa. Ia hanya duduk.
Pukul delapan lewat, seseorang berdiri di mulut los. Ratri berdiri terlalu cepat sampai kursinya bergeser dan berbunyi di lantai semen.
"Bapaknya mana?"
"Sakit."
Orang itu laki-laki, umur lima puluhan, memakai kaus berkerah yang lehernya sudah longgar. Ia melihat ke dalam los, ke keranjang, lalu ke Ratri lagi.
"Saya mau ambil kemeja. Har."
"Oh." Ratri mengambil kemeja yang tadi ia taruh di meja. Kertas merah muda masih tersemat di kerahnya. Ia membaca namanya, walaupun ia tahu, lalu menyerahkannya. "Ini."
Pak Har menerimanya, membuka lipatannya sedikit, melihat jahitan di bagian bahu.
"Berapa?"
Ratri diam.
Ia tidak tahu. Ayahnya tidak bilang. Kertas merah muda itu hanya ada nama, tidak ada angka.
"Lima belas," kata Pak Har. "Biasanya lima belas."
"Iya," kata Ratri. "Lima belas."
Pak Har mengeluarkan uang dari saku belakang, dua lembar sepuluh ribu, dan Ratri harus mencari kembalian di laci pertama yang isinya bukan uang, lalu di laci kedua, lalu akhirnya di kaleng kecil di bawah mesin obras yang ternyata memang tempat uang. Tangannya bergerak lebih lambat dari yang ia mau. Pak Har menunggu tanpa berkata apa-apa, melihat ke arah penjual plastik di seberang.
"Ini." Ratri menyerahkan lima ribu.
"Sudah." Pak Har menyelipkan kemeja ke ketiaknya. Ia sudah berbalik ketika berkata, tidak menoleh, "Bilang sama bapakmu, jahitannya makin bagus."
Lalu ia pergi.
Ratri berdiri agak lama di tempat yang sama. Kaleng uang masih terbuka di tangannya. Ia menutupnya dan menaruhnya kembali di bawah mesin obras, di posisi yang persis sama, walaupun tidak ada yang akan memeriksa.
Sisa pagi itu tidak ada siapa-siapa lagi.
Ratri menarik kain batik pudar dari atas mesin, melipatnya di pangkuannya, dan menaruhnya di kursi plastik. Mesin itu warnanya hitam, dengan tulisan emas yang catnya sudah terkelupas di huruf kedua. Bagian yang paling sering disentuh ayahnya, roda di samping kanan, warnanya lebih terang daripada bagian lain.
Ratri menaruh telapak tangannya di atas meja mesin. Kayunya dingin di pagi hari.
Ia tidak memutar rodanya.
Ia duduk di sana sampai pukul sebelas, menerima dua orang yang mengantar kain dan menulis namanya dengan huruf yang terlalu besar di kertas merah muda, lalu mengunci los dan pulang lebih awal karena ayahnya belum makan apa-apa dari pagi.
Di jalan pulang ia melewati toko fotokopi ujung pasar. Di etalasenya ada blok nota merah muda ditumpuk lima.
Ratri berhenti sebentar di depan etalase itu, lalu jalan lagi.