Air Telaga Kaca tidak memantulkan bintang. Ia memantulkan wajahnya—wajah Pangeran Baswara, tapi bukan wajah yang ia kenal. Hidung patah di tengah, bibir bengkak, alis berkelindan di atas mata kiri yang selalu sedikit menutup, bekas panah masa kecil yang tidak pernah hilang. Kulit pucat, berminyak, bermata gelap seperti dua lubang sumur.
Tangannya terasa asing. Jari-jari menggaruk lumpur tepi air, kuku-kuku hitam darah kering. Darah siapa? Tidak ingat. Kepala berdecit setiap kali ia mencoba menarik benang memori, tapi benang itu putus-putus, tergeletak acak di dasar pikiran seperti benang sisa yang dibuang penenun.
Purnama merah menggantung di atas kepala, bulat sempurna, mencair ke dalam air seperti darah yang tertumpah di kain putih. Bisikan naik dari permukaan—ribuan suara, satu suara, suara ayahnya.
Baswara...
Bukan suara telinga. Suara yang meresap ke tulang, melewati kulit, daging, sumsum, menepi otak langsung.
Dia mencoba bangun. Otot kaku menolak. Perut mual, lidah kering. Tiga bulan—tidak, tiga jam? Tiga detik? Waktu melar di sini. Telaga tidak punya jam. Telaga hanya punya kebenaran.
Ayah sudah mati. Itu satu-satunya benang yang utuh di kepalanya. Raja Wisanggeni mati. Di ruang tidur. Tangan-tangan mencekik lehernya. Dan Baswara...
Dia menemukan ayah. Atau ayah menemukan dia. Atau mahkota—mahkota warisan singkat yang selalu digenggam ayah, benang emas hitam yang dipakai hanya saat upacara besar—mahkota itu yang menemukan dia.
Jari kanannya terasa berat. Ada sesuatu di pangkal telapak, sensasi kain halus, benang yang mengigil. Mahkota. Dia masih memegangnya. Kain itu tidak jatuh saat ia tersungkur ke lumpur. Seperti menempel pada kulit. Seperti akar.
Kau yang mencekik.
Bisikan itu tidak dari telaga. Dari kain di tangannya. Benang emas hitam bergetar di antara jengkalnya, hidup, bernapas.
Baswara menarik napas tajam, akhirnya berhasil duduk tegak. Lumpur menempel di lutut jubah hitamnya. Tidak peduli. Dia menatap pantulan air lagi. Wajah itu—wajah pembunuh? Atau wajah korban?
"Kau tidak seharusnya di sini."
Suara datar. Tidak kaget. Tidak takut. Baswara tidak menoleh—sudah tahu siapa. Irama napas itu, ringan tapi dalam. Bau minyak arwah dan kapur di jari-jari. Bau ruang tenunan.
Ranti.
Dia berdiri di tepi air, kain basah tergulung di lengannya, rambut hitam disimpul rapi, jari-jari parah cedera jahitan lama menguatkan pegangan pada kain. Matanya cermin air: tenang, menunggu. Tidak menanyakan. Tidak menuntut.
Baswara merasa sesuatu di dada—bukan amarah, bukan malu. Rasa terhutang. Sebuah utang yang tidak ia minta, diberikan oleh orang yang tidak seharusnya kuat menarik pangeran dari air.
"Kau menarikku," kata Baswara, suaranya kasar. "Dari air."
Ranti tidak menjawab. Hanya mengulurkan kain basah itu. Tawaran. Atau perintah.
Baswara menerima. Kain basah, dingin, berat di tangannya. Pertama kali dalam dua puluh delapan tahun hidupnya, ia berhutang budi pada orang 'biasa'. Atau yang ia kira biasa.
"Kenapa?" tanyanya, mengusap kain ke wajah.
"Air tidak suka orang tenggelam di malam purnama," jawab Ranti, matanya tidak lepas dari matanya. "Telaga punya aturan sendiri."
Pactum Telaga. Hukum kuno. Telaga Kaca adalah cermin dunia arwah; apa yang terpantul di air malam purnama adalah kebenaran mutlak—bohong tidak bisa tersimpan di sana.
Baswara merasakan air bergolak di depannya. Tidak ada angin. Tidak ada ikan. Hanya pantulan bulan merah yang bergerak-gerak seperti jantung yang dikunci di dalam tengkorak.
Kau menemukan ayah sudah mati. Tanganmu berdarah karena mencoba membuka cekikan. Tapi kau tahu siapa yang benar-benar mencekik.
Suara itu datang dari mana? Dari air? Dari kain di tangannya? Dari kepalanya sendiri?
"Dia sudah mati saat aku sampai," kata Baswara, suara rata, terlatih berbohong di hadapan menteri dan duta. "Aku mencoba membebaskan lehernya. Kuku-kukunya... kuku ayah menempel di kulitku. Darahnya di tanganku."
Air tenang. Bulan merah diam.
Boong.
Kata itu tidak terdengar. Dirasa. Seperti pukulan di perut.
Baswara menggenggam kain basah lebih keras. Kuku-kukunya—kukunya sendiri—menembus kain, menusuk kulit telapak. Rasa sakit menyalurkan kejutan ke otak, membangunkannya dari kabut.
"Mahkota..." gumamnya. "Mahkota warisan di tanganku. Ia... ia berbicara."
Ranti diam. Matanya tidak berkedip. Di gelap, pupilanya besar, menelan cahaya bulan.
"Katanya," lanjut Baswara, suaranya lebih rendah sekarang, seperti berbicara dengan diri sendiri, "katanya aku yang mencekik."
"Mahkota suka bercanda," jawab Ranti datar. "Atau kau suka bercanda pada dirimu sendiri, Pangeran."
Air tiba-tiba bergolak hebat. Gelombang kecil memecah ke tepi, membasahi sepatu keduanya. Bisikan naik jadi deru—ribuan suara raja-raja terdahulu, arwah yang terjebak di benang mahkota, menuntut, marah, lapar.
Dar darah... darah pembayar... siapa yang berbohong... siapa yang berbohong...
Baswara merasakan tekakan di tenggorokannya sendiri. Bukan tangan fisik. Benang. Benang tak terlihat yang melilit lehernya, menarik, menekan.
Dia menutup mata. Mencoba mengendalikan napas. Pangeran Baswara tidak panik. Pangeran Baswara menguasai ruang tanpa bersuara keras. Tapi ruang ini tidak punya dinding. Ruang ini adalah telaga, adalah bulan, adalah mahkota di tangannya, adalah mata penenun yang menatapnya seolah menatap benang yang menunggu dipotong.
"Berhenti," bisiknya. "Aku tidak berbohong. Aku menemukan ayah mati. Itu yang kulihat. Itu yang kuingat."
Ingatanmu dipotong. Seperti benang. Siapa yang memotong?
"Tidak tahu."
Maka kau tidak pantas tahta. Mahkota tidak menerima pengkhianat. Mahkota tidak menerima pembunuh ayah sendiri.
"Mahkota tidak punya mulut," Baswara menjawab, mata terbuka, menatap Ranti. "Hanya benang. Dan penenun yang menenunnya."
Ranti menahan napas. Baswara melihatnya—gerakan halus di lehernya, denyut nadi di pergelangan tangan yang menguatkan kain basah. Dia tahu. Dia tahu lebih dari yang diakuinya.
Darnya. Darah keturunan Penenun Pertama. Baswara tidak tahu itu—belum. Tapi ia merasakannya. Cara udara berubah di sekitarnya. Cara bisikan arwah tiba-tiba fokus, arahkan, tidak lagi acak.
Dia bisa memanggil kami. Dia bisa menarik kami keluar. Darahnya... darah nenek moyang...
Ranti menoleh. Tidak ke Baswara. Ke jalan setapak yang melengkung ke Griya Sutrajaya.
"Air tidak berbohong, Pangeran," kata dia, suaranya diterjang angin malam. "Tapi air juga tidak bicara. Manusia yang bicara. Manusia yang memilih apa yang didengar."
Dia berjalan. Tidak menunggu jawaban. Tidak menunggu izin.
Baswara diam sejenak. Menatap punggungnya—ramping, tegak, tidak goyah meski kain basah di lengannya pasti berat. Jari-jari yang parah cedera. Mata yang menampakkan usia lebih tua dari waktunya—dua puluh empat tahun, katakan catatan istana. Anak yatim yang Ki Wirosuto temukan di pintu istana malam badai.
Dua puluh empat tahun. Sama umurnya saat Baswara pertama kali memegang panah dan menembak mati ayahnya—bukan ayah biologis, tapi ayah angkat, pelatih panah, di latihan yang salah. Mata kiri tidak pernah sama lagi.
Kedua belah pihak punya luka yang tidak terlihat.
"Pangeran."
Suara rendah dari bayangan pohon cemara. Prajurit Bayangan—unit elit istana yang keberadaannya tidak dicatat di buku mana pun. Topi lebar menutupi wajah, senapan pamor di pundak.
Baswara tidak menoleh. "Awal."
"Faksi Putri Sekarwangi mulai bergerak. Menteri Pajang dan Komandan Tentara bertemu di ruang utara. Mereka menanyakan keberadaan Pangeran malam ini."
"Kabarkan kalau aku di Griya Sutrajaya. Memeriksa kemajuan mahkota. Jangan biarkan mereka mendekati penenun."
"Penenun... Ranti?"
"Hidup," kata Baswara, akhirnya menoleh ke arah Ranti yang sudah menghilang di kegelapan. "Dia harus hidup. Setidaknya sampai penobatan selesai. Mungkin... mungkin lebih lama."
"Dan jika dia tahu terlalu banyak?"
Baswara tersenyum tipis. Ekspresi yang jarang sampai ke matanya. "Maka aku harus memastikan dia memilih sisi yang benar. Atau... aku yang memilih untuknya."
Dia melangkah mengikuti jejak Ranti, kain basah masih di tangannya, mahkota warisan masih terasa di pangkal telapak—denyut kedua, jantung yang tidak miliknya.
***
Griya Sutrajaya menghampar di bawah tanah, ruang tenunan tanpa jendela, hanya lilin minyak arwah yang menari-nari di dinding. Alat tenun raksasa dari kayu jati hitam menunggu di tengah, seperti monumen kuno. Di atasnya: Mahkota Setengah Jadi. Kain hitam lebar dua tangan, benang merah di tengahnya bergerak seperti bernapas.
Ranti duduk di depannya. Jaruntuk Emas di tangannya—emas pudar, ujungnya tajam. Jari-jarinya bergerak dengan ritme yang sudah jadi bagian darahnya: tok, tarik, tok, tarik.
Pintu baja berdenting.
Ranti tidak menoleh. Tidak perlu. Irama tok-tok-tok tongkat bambu itu sudah jadi bagian dari denyut jantungnya sendiri. Tapi hari ini irama itu berbeda. Lebih berat. Lebih lambat. Bukan Ki Wirosuto.
Baswara masuk. Jubah hitam tanpa hiasan. Punggung tegak meski bahu sedikit kaku. Mata kiri sedikit menutup. Dia tidak membawa pengawal. Tidak membawa menteri. Hanya dirinya—dan mahkota warisan yang tersembunyi di dalam lengan kanan jubahnya, Baswara yakin.
"Hari pertama," kata Baswara, suara halus, puisi tersembunyi. "Biasanya penenun masih menyiapkan benang. Memilih warna. Mendoakan lilin."
"Biasanya penenun tidak menenun motif penolakan," jawab Ranti, tidak berhenti. Tok, tarik. Tok, tarik.
Baswara mendekat. Berhenti di sampingnya. Menatap kain di bawah jari-jari Ranti.
Motif cekikan—garis-garis merah yang melilit seperti tangan mencekik leher—sudah lenyap. Diganti pola acak: garis-garis yang saling menolak, benang yang memutus sendiri, merah-hitam berantakan, menentang aliran tenunan yang sudah ada.
"Ini pemberontakan," kata Baswara, jari-jari menyentuh tepi kain—tidak menyentuh benang, hanya dekat, merasakan denyutnya. "Atau peringatan."
"Ini kejujuran," Ranti menjawab, akhirnya berhenti. Dia menoleh. Mata cokelat tua menatap matanya—satu cokelat, satu gelap abu-abu di balik kelopak yang menutup separuh. "Mahkota tidak mau menenun kebohongan, Pangeran. Mahkota mau kebenaran. Tapi kebenaran mana yang kau mau? Kebenaran ayah? Atau kebenaranmu?"
Baswara diam. Jari kanannya—jari yang memegang mahkota warisan tiga malam lalu—gerak halus di samping kain. Seperti ingin menenun sendiri. Seperti ingin memperbaiki.
"Kau memilih sisi yang salah, Penenun," bisiknya, cukup keras agar hanya Ranti yang mendengar. "Sisi kebenaran itu berbahaya. Kebenaran membunuh. Kebohongan... kebohongan menjaga tahta tegak."
Ranti menatapnya lama. Tidak ada ketakutan. Tidak ada kebencian. Hanya... pengukuran. Seperti penenun mengukur panjang benang sebelum memotong.
"Kebohongan membutuhkan benang pendamping," jawabnya. "Dan benang pendamping itu harus diketahui oleh siapa yang menenun. Siapa yang memotong. Siapa yang memutus."
"Dan siapa memutus di sini? Kau? Atau mahkota?"
"Keduanya. Atau tidak satupun."
Baswara tertawa pelan. Suara rendah, bergema di ruang bawah tanah. "Kau selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Sifat penenun, atau sifat Ranti?"
"Sifat orang yang hidup lebih lama di antara benang daripada di antara manusia."
Mata Baswara melirik ke lengan kanan Ranti—di mana lengan baju menutupi pergelangan tangan. Di malam purnama, di tepi telaga, ia melihat bekas gigitan air. Luka yang bukan luka. Tanda yang tidak bisa dijelaskan.
"Kau basah malam itu," kata Baswara, bukan tanya. "Tapi bukan air telaga yang membasahi kau. Apa yang kau tarik dari air selain aku?"
Ranti menatap Jaruntuk Emas di tangannya. Emas pudar. Basah darahnya sendiri—dari menusuk jari tadi pagi, atau dari malam purnama tiga bulan lalu?
"Hanya kau, Pangeran," jawabnya datar. "Hanya kau."
Baswara menahan napas. Seperti ditusuk panah—bukan di mata, tapi di tempat yang lebih dalam. Dia mendekatkan wajah, suaranya mendadak serius, hilang puisi tersembunyi.
"Jika kau tahu siapa pembunuh sebenarnya... jika kau bisa memanggil arwah ayah untuk bersaksi... apa yang kau lakukan?"
Ranti diam. Detak jantung ruang tenunan—denyut benang mahkota—membesar di telinganya. Dar darah... darah pembayar...
"Mahkota tidak milikku," kata dia akhirnya. "Aku hanya penenun. Tanganku milik istana, bukan milikku."
"Kata Wirosuto."
"Kata kenyataan."
Baswara menatapnya satu detik lagi. Dua. Tiga. Lalu dia berbalik, berjalan ke pintu, tongkat bambu Ki Wirosuto tidak ada di tangannya—tapi ia bergerak seperti membawa tongkat tak terlihat, kekuasaan tak terlihat.
"Empat puluh hari, Penenun," kata dia di ambang pintu, tidak menoleh. "Mahkota harus selesai. Motif penolakan... biarkan. Tapi pastikan motif penobatan muncul sebelum upacara. Atau..."
"Atau arwah raja akan memakan seluruh istana," Ranti melengkapkan, suara datar. "Termasuk kau. Termasuk aku. Termasuk pangeran yang..."
Dia berhenti. Tidak melanjutkan.
Baswara sudah pergi. Pintu baja berdenting tertutup. Kunci berdenting.
Ranti menarik napas dalam. Mengarahkan ujung Jaruntuk ke benang merah berikutnya. Logam menusuk jari. Tetes merah jatuh ke kain hitam.
Mahkota bergetar hebat. Arwah berteriak dalam diam.
Keputusanku, pikir Ranti, menenun baris ketiga motif penolakan. Bukan nasib. Bukan keputusan mahkota. Bukan keputusan Baswara. Bukan keputusan Wirosuto.
Di luar ruangan, di lorong gelap menuju ke ruang tamu istana, Pangeran Baswara menghentikan langkah. Dia menatap tangannya sendiri—jari-jari yang tadi menyentuh tepi kain, jari-jari yang memegang mahkota warisan, jari-jari yang pernah... mungkin... mencekik leher ayahnya.
Atau tidak.
Dia tidak ingat. Dan itu yang paling menakutkan.
"Baswara."
Suara dari bayangan. Menteri Pajang. Komandan Tentara. Faksi Putri Sekarwangi tidak sabar menunggu empat puluh hari.
"Kemajuan mahkota?" tanya Menteri Pajang, wajah terang lilin.
Baswara menyesuaikan jubah hitamnya. Matanya datar. Suaranya halus, puisi tersembunyi.
"Mahkota menenun dirinya sendiri, Menteri. Kita hanya menunggu... dan berdoa agar motif yang keluar bukan motif kematian kita semua."
Dia melangkah maju, meninggalkan Griya Sutrajaya, meninggalkan Ranti, meninggalkan benang-benang yang sudah mulai menenun nasib mereka sendiri—tanpa izin siapa pun.