Lilin minyak arwah tidak pernah mati, hanya mengecil menjadi titik api yang menari di atas sumbu kain hitam. Ranti menghitung napasnya dengan irama tenun: tarik, lepas, tarik, lepas. Setiap hembusan menarik aroma kapur, darah kering, dan sesuatu yang lebih tua—bau tulang penenun gagal yang dinding ruangan ini simpan sejak dahulu kala.
Mahkota Setengah Jadi bergerak di pelupuk matanya. Bukan angin, tidak ada angin di Griya Sutrajaya. Kain hitam lebar dua tangan itu mengembang dan mengerut seperti dada yang bernapas, benang merah di tengahnya berdenyut mengikuti irama jantung yang bukan miliknya. Ribuan suara—raja-raja terdahulu, penenun yang mati gila, arwah yang tak pernah menemukan istirahat—bergabung menjadi satu deru rendah yang menggigit tulang tengkoraknya.
Hari ke-satu dari empat puluh.
Angka itu terukir di belakang kelopak matanya, tidak di kalender. Malam purnama tiga bulan lalu—malam Raja Wisanggeni mati, malam dia bertemu Baswara di tepi Telaga Kaca—telah memulai hitungan mundur yang tidak ada yang berani sebutkan.
"Jari-jari kau terlalu keras, Nanti."
Suara Ki Wirosuto datang dari bayangan, tidak dari pintu. Dia tidak pernah berbunyi saat berjalan. Tongkat bambu berukir naga itu bersuara tok di lantai batu saat dia berhenti di samping kursi tenun, cukup dekat agar Ranti mencium bau teh kencur dan abu rokok kretek yang menempel pada jubahnya.
Ranti tidak menoleh. Matanya tetap pada benang hitam yang melilit jaruntuk. "Keras atau lembut, Ki, benang ini tidak peduli. Ia hanya tahu darah."
"Daraha." Wirosuto mengeluarkan sesuatu dari saku jubahnya. Logam emas pudar menangkap cahaya lilin—Jaruntuk Emas, ujungnya tajam cukup untuk menusuk kulit, ukiran naga memelintir ke pangkal pegangan. "Alat ini menunggu kau sejak lahir. Kau tahu aturannya."
Ranti akhirnya menoleh. Mata cokelat tua itu, yang selalu menampakkan usia lebih tua dari dua puluh empat tahunnya, menatap wajah keriput mentornya. "Satu baris per hari. Motif Baswara belum ada. Jika mahkota menolak—"
"Mahkota tidak menolak." Wirosuto meletakkan tongkatnya tepat di samping jari telunjuk Ranti. Kayu bambu berdebu itu terasa seperti pisau di leher. "Mahkota memutuskan. Dan ia sudah menunggu terlalu lama untuk pewaris yang layak. Arwah Raja Wisanggeni baru saja masuk benang bulan lalu. Marahnya masih segar. Kau merasakannya, bukan?"
Ranti diam. Tangan kiri yang beristirahat di pangkuannya menggigil sekali—sedikit, cepat, seperti kucing yang disembunyikan di bawah meja.
"Kau merasakannya," Wirosuto mengulang, nada datar tidak mengandung pertanyaan. "Setiap penenun helam merasakan arwah raja baru. Tapi kau... kau merasakan lebih dari itu. Selalu."
"Karena aku penenun helam." Ranti mengangkat tangan kanan, mengulurkan jari telunjuk ke arah Jaruntuk Emas. "Ini tugasku. Bukan keistimewaan."
Wirosuto tersenyum tipis, tidak sampai ke mata. "Benar. Tugas. Empat puluh hari. Satu baris motif per hari. Jika upacara penobatan tiba dan mahkota belum selesai—"
"Arwah para raja akan bangkit memakan seluruh istana." Ranti menyelesaikan kalimatnya, suara rata. "Aku hafal, Ki. Sudah dua puluh tahun aku mendengar ancaman itu."
"Tapi belum pernah kau menenun mahkota penobatan untuk pangeran yang mungkin—mungkin saja—membunuh ayahnya sendiri."
Jari Ranti menyentuh ujung Jaruntuk Emas. Rasa dingin, tajam, menyusup ke pori-pori. Dia tidak menarik tangan.
"Pangeran Baswara adalah raja yang dipilih mahkota," kata Ranti. "Benang tidak berbohong."
"Benang tidak berbohong," Wirosuto setuju. "Tapi benang punya memori. Dan darah kau... darah kau memanggil memori itu keluar. Semua memori. Termasuk yang seharusnya tetap terkubur."
Dia berbalik pergi, tongkatnya bergema tok-tok-tok menuju pintu baja yang tertutup rapat. Di ambang, dia berhenti sebentar tanpa menoleh kembali.
"Arwah tidak menunggu kelemahan, Nanti. Ingat itu. Tanganmu milik istana, bukan milikmu."
Pintu tertutup. Kunci berdenting. Kembali hanya Ranti, lilin, dan deru ribuan suara yang menggeram di benang.
Dia menarik napas dalam. Mengarahkan Jaruntuk Emas ke benang merah di tengah kain—inti mahkota, jalan darah setiap raja. Ujung logam itu menusuk kulit ujung jarinya. Tajam. Bersih. Seperti ciuman.
Tetes merah pertama jatuh, meresap ke benang merah.
Reaksi datang seketika.
Kain hitam itu menghisap. Bukan menyerap—menghisap, dengan kehausan yang membuat rambut Ranti berdiri. Benang merah di tengah memerah lebih dalam, berdenyut keras, dan bisikan ribuan suara tiba-tiba diam. Hening total. Kemudian satu suara jernih menembus kebisingan, bukan dari telinga tapi langsung ke otak:
—sakit—marah—pengkhianat—darah—
Visinya tidak datang sebagai gambar. Datang sebagai rasa.
Telapak tangan kiri yang kencang memekak leher. Jari-jari meremas tenggorokan sampai tulang rahang berderit. Napas yang tersengal, mata yang membelalak, wajah yang menguning lalu biru. Dan di atas kepala—langit purnama, air tenang memantulkan wajah pria yang tangan ini cekik, wajah yang mirip—
Baswara.
Ranti tersungkur ke belakang, kursi tenun berdentang keras. Napasnya terhenti sejenak, dada seolah dibebani gunung. Jarinya yang tersayat masih menetes darah ke benang, tapi pikirannya sudah di tempat lain.
Telaga Kaca. Malam purnama tiga bulan lalu. Air merah muda memantulkan wajah Baswara—tanpa penyesalan, tanpa ketakutan, hanya kedinginan yang membuat Ranti, yang berdiri di balik pohon cemara itu, merinding sampai ke sumsum.
Dia tidak pernah melihat pembunuhan itu. Dia hanya melihat aftermath: Baswara berdiri di tepi air, tangan berdarah, mata menatap pantulan dirinya sendiri seolah memastikan sesuatu.
Tapi visi ini—visi yang dipaksakan keluar oleh darahnya sendiri—menunjukkan yang lain. Tangan Baswara mencekik. Raja Wisanggeni mati di tangan putranya sendiri.
Mahkota tidak merekam, pikir Ranti, jantung berdebar kencang di telinga. Ia menyaksikan. Dan ia menuntut pengakuan.
Benang merah di tengah kain bergetar lagi. Motif baru mulai terbentuk—bukan motif kekuasaan, bukan naga atau gunung atau bintang yang biasa menghiasi mahkota raja-raja terdahulu. Benang hitam di pinggirnya tergerak, menyusun diri menjadi pola yang Ranti tidak sengaja tenun: dua tangan yang melengkung, jari-jari yang menyentuh leher, garis-garis tekanan di kulit.
Motif cekikan.
Ranti menatap kain itu, tangan gemetar tidak karena sakit tapi karena pemahaman yang dingin merayapi tulang belikatnya. Mahkota tidak meminta dia menenun keagungan Baswara. Ia meminta dia menenun pengakuan pembunuhan.
Jika dia menenun motif lain—motif kekuasaan biasa—mahkota akan menolak Baswara saat penobatan. Benang akan menentang, arwah akan bangkit, seluruh istana akan dimakan api dan amarah raja-raja mati.
Jika dia menenun kebenaran ini—tangan mencekik, pengakuan pembunuhan—Baswara akan mati di tangan arwah saat mahkota diletakkan di kepalanya. Pactum Telaga menjadikan visi ini bukti mutlak. Tidak ada bohong di hadapan air purnama.
Pengenun pasif. Saksi pembunuhan yang tidak boleh ada.
Ranti menutup mata sejenak. Di kegelapan pelupuk mata, deru arwah kembali naik—tapi kali ini tidak lagi acak. Suara itu punya arah. Minta. Tuntut. Paksa.
Dia membuka mata. Jari-jari yang parah cedera jahitan lama itu bergerak cepat, lebih cepat dari pikiran, mengarahkan Jaruntuk Emas ke baris berikutnya di kain. Bukan melanjutkan motif cekikan. Bukan menenun motif kekuasaan.
Dia mulai menenun pola baru. Pola yang tidak pernah ada di mahkota selama tiga ratus tahun.
Garis-garis yang saling menolak. Benang yang memutus sendiri. Motif penolakan.
Di depannya, Mahkota Setengah Jadi bergerak lebih kencang—bernafas lebih cepat, seperti tahu sedang dikhianati.
Pintu baja berdenting.
Ranti tidak menoleh. Dia sudah tahu siapa. Irama tok-tok-tok tongkat bambu itu sudah jadi bagian dari denyut jantungnya sendiri.
"Bisikan berubah nada," kata Wirosuto tanpa basa-basi. Dia berhenti di samping Ranti, menatap kain yang bergerak di bawah jari-jari Ranti. "Tidak lagi deru. Jadi satu suara. Suara Raja Wisanggeni."
Ranti terus menenun. Motif penolakan tumbuh di bawah Jaruntuk Emas, merah-hitam, menentang aliran benang yang sudah ada.
"Kau melihatnya," Wirosuto bukan bertanya. "Darahmu memicu visi. Aku tahu. Selalu tahu."
"Tiga puluh sembilan hari lagi," Ranti menjawab, suara rendah tapi tidak goyah. "Mahkota akan selesai sebelum upacara."
"Jika mahkota tak selesai, arwah raja akan memakan seluruh istana," Wirosuto mengulang ancaman lama, tapi kali ini ada sesuatu di suaranya—kelelahan, mungkin. Atau ketakutan. "Termasuk kau. Termasuk aku. Termasuk pangeran yang kau... kau sayangi?"
Jaruntuk Emas berhenti sejenak. Ranti menahan napas.
"Tanganmu milik istana, bukan milikmu," Wirosuto mengulang kata-katanya tadi, lebih lembut kali ini. Hampir seperti peringatan ibu. Hampir. "Ingat itu, Nanti. Saat kau memilih motif apa yang kau tenun."
Tongkat bambu tok sekali di lantai. Langkah kaki pergi. Pintu terbuka, tertutup. Kunci berdenting.
Kembali hening. Kembali deru arwah yang sekarang punya wajah—wajah Raja Wisanggeni, marah, menuntut, tidak akan tenang sebelum darah pembayar.
Ranti menatap Jaruntuk Emas di tangannya. Emas pudar, basah darahnya sendiri. Alat yang hanya bereaksi pada darah keturunan Penenun Pertama. Bukti yang dia sembunyikan dua puluh empat tahun—bahwa darah di urat nadi ini bukan darah penenun biasa, bukan darah anak yatim yang Ki Wirosuto temukan di pintu istana malam badai.
Daraha adalah kunci memanggil arwah. Juga sebab dia jadi target politik. Satu tetes salah arah dan seluruh Kadaton akan mengetahui siapa sebenarnya Ranti.
Dia menarik napas dalam. Mengarahkan ujung Jaruntuk ke benang merah berikutnya. Motif penolakan menunggu dilanjutkan—garis-garis yang memutus, benang yang menolak diikat.
Bukan nasib, pikirnya saat logam menusuk jari lagi, tetes merah kedua jatuh. Bukan keputusan mahkota. Bukan keputusan Baswara. Bukan keputusan Wirosuto.
Kain hitam di bawah jari-jari bergetar hebat, menolak benang baru ini. Arwah berteriak dalam diam.
Keputusanku.
Ranti mulai menenun baris kedua motif yang tidak pernah ada di sejarah Kadaton. Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan ini dua puluh tahun lalu, dia tidak merasa seperti penenun yang dikutuki.
Dia merasa seperti seseorang yang memulai pemberontakan.