Lilin minyak arwah hanya cukup menerangi wajah Putri Sekarwangi separuh—separuh lain diserahkan pada bayangan, tempat ia paling nyaman. Meja kayu jati di depannya berjejak tinta dan kertas robek, peta istana dengan titik-titik merah menandai posisi setiap pengawal, setiap pelayan, setiap lubang ventilasi yang cukup lebar untuk memasukkan seekor tikus atau seekor mata-mata.
Wirasthana berlutut di ambang pintu, bahu tegak meski lututnya pasti berderick setelah menunggu tiga jam di lorong dingin. "Pangeran Baswara keluar Griya Sutrajaya jam dua belas malam. Tidak sendirian. Penenun helam berjalan di sampingnya, jaraknya tiga langkah—tidak di belakang seperti pelayan, tidak di depan seperti tamu. Sama."
Sekarwangi tidak mengangkat wajah. Jari-jarinya menepuk-nepuk meja, ritmis, tenang. "Dan?"
"Mereka berbelok ke Pasar Kembang. Warung teh di ujung selatan, yang biasa dipakai pedagang gagal seleksi istana untuk jual obat tidur dan racun." Wirasthana menaruh selembar kertas lipat di meja. "Pelayan kami—Ratna, yang memasang kening palsu—melihat cincin di jari penenun. Perak. Batu biru. Kilau saat lilin terang."
Jari Sekarwangi berhenti menepuk. Mata tajamnya melirik ke kertas, lalu ke wajah Wirasthana. "Cincin Telaga Kaca."
"Bukan hadiah biasa, Putri. Baswara tidak pernah memberi cincin pada siapa pun. Bahkan tidak pada ibu kandungnya."
"Tidak," kata Sekarwangi, suara datar seperti pisau yang baru diasah. "Dia memberi pada penenun yang menenun mahkota penobatannya. Penenun yang mengetahui dia mencekik ayahnya sendiri di Telaga Kaca."
Wirasthana diam. Dia tahu kapan harus bicara, kapan harus hanya mendengar.
"Hari ke-lima belas," Sekarwangi melanjutkan, akhirnya menoleh ke peta. "Mahkota belum rampung. Baswara sudah kehabisan sabar—atau sudah kehabisan alibi. Dia pergi ke pasar malam membeli keheningan untuk penenunnya. Obat tidur. Racun." Ia tersenyum tipis, tidak sampai ke mata. "Kita punya celah. Dan celah itu berbentuk cincin perak di jari penenun buta."
"Ibu memerintahkan pengawasan terus-menerus?"
"Pengawasan sudah ada. Sekarang... tekanan." Sekarwangi menarik kertas peta, menggores garis merah dari Griya Sutrajaya ke Pasar Kembang, lalu ke paviliun pribadinya. "Ratna tetap di warung teh. Wirasthana, kau turun ke gudang bawah. Rapatkan Komandan Tentara dan Menteri Pajang. Malam ini."
***
Gudang di bawah Pasar Kembang berbau kayu lapuk, rempah murah, dan keringat pria-pria yang terlalu lama duduk di atas kekuasaan tanpa pernah menyentuh tanah. Pangeran Wijayakrama, Komandan Tentara, berdiri di dekat dinding batu, lengan disilangkan, pedangnya tidak terikat tapi tangan selalu dekat gagang. Raden Tumenggung, Menteri Pajang, duduk di atas peti kayu, jari-jari manikam menggosok-gosok batang kipas tangan yang tidak pernah terbuka.
"Putri Sekarwangi," Wijayakrama mulai, suara bergema di ruang rendah. "Kita sudah menunggu lima belas hari. Mahkota belum jadi. Pangeran Baswara menghabiskan malam di pasar dengan penenun buta. Apa yang kau mau? Kita mengacaukan istana berdasarkan curahan hatimu?"
Sekarwangi berjalan pelan mengelilingi meja batu di tengah, kain batik Parang Rusak merah tua mengikuti langkahnya seperti darah yang mengalir. "Bukan curahan hati, Komandan. Bukti." Ia menepuk meja—selembar kertas, sekilas gambar cincin perak dengan batu biru. "Cincin ini ada di jari penenun helam. Baswara memberikannya malam purnama merah. Malam Raja Wisanggeni mati."
Wijayakrama mendekat, memengar gambar itu. "Cincin perak. Batu biru. Ini... cincin Telaga Kaca?"
"Telaga yang tidak pernah berbohong," Tumenggung mencampuri, kipas tangan akhirnya terbuka dengan suara clack tajam. "Jika Baswara memberikannya pada penenun... berarti dia percaya padanya. Atau dia takut padanya."
"Keduanya," kata Sekarwangi. "Dia takut pada apa yang penenun itu tahu. Dan dia percaya penenun itu tidak akan membocorkannya—karena cinta, atau karena darah." Ia menatap keduanya bergantian. "Penenun helam bukan penenun biasa. Dia menenun motif penolakan hari ini. Garis-garis yang menentang aliran mahkota. Wirosuto sendiri yang mengonfirmasinya."
"Wirosuto tidak akan membiarkan penenunnya berkhianat," Wijayakrama berkata, tapi keyakinannya goyah.
"Wirosuto membutuhkan mahkota jadi sebelum H-10," Sekarwangi menjawab. "Dia akan mengorbankan siapa pun. Termasuk penenunnya sendiri. Tapi Baswara..." Ia mendekat ke Wijayakrama, suara turun menjadi bisikan beracun. "Baswara tidak akan mengorbankan dia. Dia sudah membuktikannya malam ini—memberi uang tunai untuk obat tidur dan racun, memaksa penenun menerimanya meski ditolak. 'Aku tidak akan biarkan siapa pun menyingkirkanmu,' kata dia. Ratna mendengarnya jelas."
Tumenggung tersenyum tipis. "Cinta sang pangeran pada penenun buta. Senjata yang sempurna."
"Atau kelemahan yang mematikan," Wijayakrama mengoreksi, tapi matanya sudah berkedip—kalkulasi militer menggantikan keskeptisan. "Jika kita ancam membuka identitas penenun helam asli ke publik... jika kita tunjukkan bukti dia mengetahui pembunuhan raja..."
"Mahkota akan menolak Baswara," Tumenggung melengkapi. "Arwah raja akan bangkit. Istana hancur. Dan kita..." Ia menatap Sekarwangi. "Kita yang memegang sisa-sisa."
"Kita memegang tahta," Sekarwangi menegas. "Tanpa Baswara. Tanpa penenun buta. Tanpa mahkota yang haus darah." Ia mengulurkan tangan. "Sepakat?"
Wijayakrama menatap tangannya sejenak. Lalu menggenggamnya. "Sepakat. Tapi jika Baswara menolak... jika dia memilih perang..."
"Maka peranglah," kata Sekarwangi. "Aku sudah menyiapkan api. Dia tinggal memutuskan apakah ingin terbakar bersamanya."
***
Asap teh dan bau racun menempel di baju Ratna saat dia melapor di warung teh tersembunyi, tapi Sekarwangi sudah tidak di sana. Ia sudah bergerak—melintasi lorong gelap Pasar Kembang seperti bayangan yang tidak punya kaki, naik tangga kayu gersang ke paviliun pribadinya di atas toko batik tua.
Baswara sudah menunggu.
Dia duduk di kursi rotan di dekat jendela, jubah hitamnya tanpa kerutan meski mata kiri merah dan borok di bagian dalam telapak tangan terlihat di cahaya fajar yang menyusup. Mahkota warisan—kain benang emas hitam yang hidup—terlipat rapi di tangannya, berbisik halus seperti ular di rumput.
"Kau datang sendiri," kata Sekarwangi, menutup pintu pelan. "Tanpa pengawal. Tanpa Wirosuto. Berani."
Baswara tidak bangun. Matanya menempel pada kain di tangannya. "Kau memanggil, aku datang. Itu saja."
"Tidak 'itu saja'. Kau datang karena aku punya surat ini." Sekarwangi melemparkan amplop hitam ke meja kecil di antara mereka. "Baca."
Baswara mengambilnya, jari-jari gemetar—bukan takut, Sekarwangi kenal gemetaran itu. Marah pada diri sendiri. Amarah yang ditujukan ke dalam, tidak keluar. Ia membuka amplop, membaca surat yang ditulis tangan Sekarwangi sendiri: Penenun helam mengetahui kau membunuh Raja Wisanggeni di Telaga Kaca. Jika Mahkota Penobatan tidak diserahkan tanpa campur tangan penenun buta tersebut, bukti ini akan kubocorkan ke publik H-20. Mahkota akan menolakmu. Arwah ayahmu akan bangkit.
Surat singkat. Tegas. Tidak ada ancaman berlebihan—karena kebenaran sendiri sudah cukup menakutkan.
Baswara menglipat surat itu pelan, menyimpannya ke saku dalam jubah. "Batas waktunya?"
"H-25 penobatan," jawab Sekarwangi, duduk di kursi di hadapannya. "Mahkota harus jadi. Tanpa dia."
"Tanpa dia..." Baswara mengulang, suaranya halus tapi ada sesuatu di belakangnya—batu di bawah air. "Mahkota tidak akan diterima tanpa darah penenun helam. Kau tahu itu."
"Wirosuto tahu itu. Dia akan memaksa penenun lain. Atau dia akan memaksa dia sendiri—Ranti—menyelesaikannya meski mati." Sekarwangi mendekat, suara manis beracun. "Kau punya pilihan, Baswara. Serahkan dia ke pengadilan istana. Biarkan dia jadi kambing hitam keterlambatan tenunan. Kau bersih. Tahta aman. Faksi Kembang Merah mendukungmu."
"Dan jika aku menolak?"
"Maka aku bocorkan dia mengetahui pembunuhan raja. Seluruh Kadaton akan tahu pangeran melindungi penenun yang menyaksikan patricide. Faksi-faksi lain akan merebut celah itu. Mahkota akan menolakmu karena kau melindungi 'penenun berkhianat'. Arwah raja akan bangkit. Istana hancur. Kau kehilangan semuanya."
Baswara diam lama. Benang emas hitam di tangannya bergerak, mengeluarkan suara bisikan yang hanya Sekarwangi dan dia yang bisa dengar. Dar darah... darah pembayar...
"Aku tidak akan menyerahkannya," kata Baswara akhirnya, suara datar. "Tapi aku juga tidak akan membiarkan kau menggunakannya."
"Kau tidak punya pilihan," Sekarwangi menjawab, bangun. "H-25. Mahkota jadi. Tanpa dia. Atau aku hancurkan kau berdua."
Baswara bangun juga, lebih tinggi, bahunya kaku tapi punggung tegak. Dia menatap Sekarwangi—tidak dengan kebencian, tidak dengan ketakutan. Hanya dengan kelelahan seorang pria yang sudah terlalu lama berperang dengan bayangan sendiri.
"Kau tidak akan menghancurkanku, Sekar," kata dia, menggunakan nama panggilan masa kecil yang tidak pernah ia gunakan di hadapan orang lain. "Kau akan menghancurkan dirimu sendiri mencoba."
Dia pergi tanpa janji. Tanpa bantahan. Tapi juga tanpa kalah.
Sekarwangi menatap pintu tertutup, lalu menatap tangannya sendiri. Jari-jari yang tadi memegang surat, kini menggosok-gosok batang cincin perak biasa di jari manisnya—bukan Telaga Kaca, hanya perak polos warisan ibunya.
"Kita akan lihat," bisiknya ke ruang sunyi. "Siapa yang hancur duluan."
***
Griya Sutrajaya siang hari ke-16 berbau minyak arwah, keringat, dan ketakutan yang sudah menempel di dinding selama berabad-abad. Ki Wirosuto berdiri di depan alat tenun raksasa, tongkat bambu berukir naga di tangannya kiri, tangan kanan menyentuh benang merah yang bergerak seperti napas. Mahkota Setengah Jadi berkilau hitam di bawah cahaya lilin—motif penolakan sudah tiga baris, garis-garis acak yang menentang aliran, benang merah memutus sendiri di ujung-ujungnya.
Ranti duduk di sudut ruangan, Jaruntuk Emas di pangkuannya, jari-jari terbalut kain kotor dari menusuk sendiri berulang kali. Dia tidak menoleh saat Sekarwangi masuk—hanya mendengar, seperti biasa.
"Ki Wirosuto," Sekarwangi bersuara lembut, langkahnya tidak ber suara di lantai batu. "Progresnya... mengecewakan. Tiga baris motif penolakan dalam lima belas hari. Pada saat ini seharusnya sudah motif penobatan minimal sepuluh baris."
Wirosuto tidak menoleh. Jari gemetarnya berhenti sejenak pada benang merah—hanya sekejap, tapi Sekarwangi menangkapnya. "Mahkota menenun dirinya sendiri, Putri. Aku hanya penuntun."
"Penuntun yang memberi Jaruntuk Emas pada penenun buta," Sekarwangi melanjutkan, mendekat ke alat tenun. "Alat yang hanya bereaksi pada darah keturunan Penenun Pertama. Darah murni. Darah yang bisa memanggil arwah keluar dari benang."
Ruangan sunyi. Bisikan mahkota terdengar lebih keras—dar darah... darah pembayar...
Wirosuto menoleh. Wajah kuburnya datar, mata keriput menatap Sekarwangi tanpa emosi. "Kau banyak bicara untuk seseorang yang tidak pernah menenun satu benang pun."
"Dan kau terlalu diam untuk seseorang yang tahu siapa sebenarnya Ranti," Sekarwangi menjawab, tidak mundur. "Dua puluh empat tahun kau simpan rahasia itu. Dua puluh empat tahun kau biarkan dia hidup sebagai penenun biasa, sambil menunggu mahkota butuh darahnya."
"Rahasia itu milik istana," Wirosuto berkata, suara seperti batu digosok batu. "Bukan milikku. Bukan milikmu."
"Tapi keputusannya milikmu, Ki." Sekarwangi menatap Ranti di sudut—yang diam, yang tidak terkejut, yang sudah mengetahui. "Mahkota harus rampung H-10. Atau apa?"
Wirosuto memutar tongkat bambunya, ujung naga menunjuk ke Ranti. "Tiga shift seharian. Tidur dua jam. Makan di tempat duduk. Jika mahkota tak rampung H-10... aku sendiri yang menusuk jarinya sampai mahkota puas."
Ranti tidak bergerak. Tidak menatap Wirosuto, tidak menatap Sekarwangi. Hanya mengangkat Jaruntuk Emas, menusuk ujung jari telunjuk, tetes merah jatuh ke benang hitam di pangkuannya.
Mahkota bergetar hebat. Arwah berteriak dalam diam.
Keputusanku, pikir Ranti—dan Sekarwangi almost yakin dia mendengarnya. Bukan nasib.
Wirosuto menatap tetes darah meresap ke benang, lalu menatap Sekarwangi. "Kau sudah dapat yang kau mau, Putri. Pergi."
Sekarwangi tersenyum, pertama kali hari ini sampai ke mata. "Sudah. Aku hanya mau memastikan... kau benar-benar akan mengorbankannya. Demi tradisi."
"Tradisi adalah satu-satunya yang abadi," Wirosuto menjawab. "Manusia—termasuk kau, termasuk dia, termasuk pangeranmu—hanya debu di atas benang."
Sekarwangi berbalik, berjalan keluar. Di ambang pintu, dia berhenti sejenak. "Debu yang terbang tinggi... kadang jadi abu yang membakar."
Dia keluar. Pintu baja berdenting. Kunci berdenting.
***
Sore hari ke-16. Cahaya matahari merayap ke lorong gelap menuju Griya Sutrajaya, mewarnai debu emas di udara. Sekarwangi berdiri di jendela paviliun yang menghadap ke arah ruang tenunan—jauh, tapi cukup dekat untuk melihat.
Ranti keluar dari pintu baja, tubuh kurus dibungkus kain tenunan abu-abu, langkah lambat tapi tidak goyah. Di ambang pintu, tergeletar di antara batu-batu lampu: sebunga mawar merah, kelopaknya masih segar, batangnya terpotong rapi.
Simbol Kembang Merah. Simbol faksinya. Simbol peringatan.
Ranti berhenti. Menatap bunga itu. Tidak terkejut. Tidak marah. Hanya... menghitung.
Dia membungkuk pelan, mengambil bunga itu, menyimpulkan ke saku kain di dadanya. Seperti menyimpan surat. Seperti menyimpan senjata.
Dari lorong gelap, Baswara muncul—tidak dari arah istana, tapi dari arah Pasar Kembang, jubah hitamnya berdebu, wajah lelah tapi mata tajam. Dia berhenti di sisi Ranti, menatap saku kain di mana bunga tersimpan.
"Mereka mulai menancapkan bunga di ambang pintu," kata Baswara, suara rendah. "Perang terbuka."
Ranti menoleh, mata cokelat tua menatap wajahnya. "Perang berarti ada dua pihak. Kita hanya punya satu mahkota."
"Maka aku akan jadi pihak kedua," Baswara menjawab. Ia mengulurkan tangan, tapi tidak menyentuh Ranti—hanya mengambil satu kelopak mawar yang jatuh di batu, meremukkannya di telapak tangannya hingga jadi lumpur merah. "Aku akan beli seluruh Pasar Kembang jika harus. Semua bunga. Semua racun. Semua pelayan. Semua mata-mata. Biarkan mereka mencari celah di tempat lain."
Ranti menatap tangannya—jari-jari yang parah cedera jahitan lama, Jaruntuk Emas di pangkuan, saku kain yang menyimpan bunga merah dan cincin perak.
"Kau tidak bisa membeli ketenangan, Pangeran," kata dia, suara ringkas. "Hanya mahkota yang bisa memberikannya. Dan mahkota... mahkota tidak dijual."
Baswara tersenyum—tipis, tidak sampai ke mata kiri yang selalu sedikit menutup. "Maka aku akan menenunnya sendiri. Jika harus."
Dia berbalik pergi, meninggalkan Ranti di ambang pintu, meninggalkan bunga merah di saku kain, meninggalkan Sekarwangi di jendela paviliun yang menatap semuanya dengan rasa puas yang mengerikan.
Perang terbuka. Kekacauan. Peluang.
Mahkota menolak Baswara. Atau tidak.
Sekarwangi tidak peduli keduanya. Yang ia pedulikan... hanyalah api.
Dan api sudah menyala.
Dia menarik nafas dalam, merasakan hangat cincin perak di jari manisnya. Warisan ibu. Pengingat.
"Kita akan lihat," bisiknya ke kaca jendela—pantulan wajahnya sendiri, setengah terang, setengah bayangan. "Siapa yang terbakar duluan."