Senin subuh air lubang dua belas naik empat senti dari kemarin.
Karim datang jam lima, bawa dua orang dan satu gulung tali baru yang masih kaku. Sudi menyalakan genset lebih pagi dari biasanya. Tidak ada yang bicara banyak. Orang-orang di Serapat tahu kalau ada yang mau turun, dan mereka datang berdiri agak jauh, tidak menonton persis, tapi juga tidak pergi.
Warni tidak datang. Jamal bersyukur untuk itu.
"Tali utama di pinggang," kata Karim. "Tali kedua saya ikat di pergelangan kaki kiri. Kalau tali pinggangmu tersangkut, kami tarik yang kaki."
"Kalau dua-duanya tersangkut?"
Karim tidak menjawab.
Jamal melepas bajunya dan melipatnya dan menaruhnya di batu, dan sebelum meletakkannya ia melepas peniti dari kerah dan menyematkannya di celana, di dekat pinggang, di tempat yang bisa ia sentuh.
Ia turun.
Delapan meter kering. Batas air. Tiga tarikan napas.
Air.
Slang merah. Satu depa. Dua depa. Lumpur. Ke kanan.
Rongga itu masih di sana, dan sekarang lebih lebar dari kemarin.
Itu bukan kabar baik. Rongga yang melebar berarti ada yang jatuh lagi di dalam sana, dan yang jatuh itu jatuh ke suatu tempat.
Jamal masuk.
Di dalam lorong air lebih dingin dan bergerak, dan gerakan itu menariknya pelan ke satu arah. Ia merambat dengan siku, tidak dengan tangan, karena tangan perlu untuk meraba. Kayu penyangga yang dibilang Karim ada di sana — Jamal menyentuhnya dan kayu itu lunak seperti roti basah.
Tiga meter. Empat.
Tali di pinggangnya mulai menahan.
Ia berhenti. Ia menarik tali sedikit, lalu menariknya lebih keras, dan tali itu tidak mau ikut. Tersangkut di mulut lorong, di kayu, atau di batu.
Paru-parunya sudah menghitung.
Ada dua pilihan dan Jamal tahu keduanya sebelum sempat memikirkannya. Mundur mengikuti tali, keluar, mulai lagi besok — tapi besok pompa sudah nyala. Atau lepas tali pinggang, maju dengan tali kaki saja, dan berharap yang di atas mengerti kalau ia menarik.
Ia melepas tali pinggangnya.
Lorong itu menyempit lalu melebar lagi. Tangannya menyentuh sesuatu yang bukan batu, bukan kayu, bukan lumpur. Sesuatu yang keras dan dingin dan punya sudut.
Kotak.
Kotak kayu, sebesar peti amunisi, terikat ke dinding dengan kawat. Jamal merabanya sampai ketemu sisi yang terbuka dan memasukkan tangan. Di dalamnya ada benda-benda kecil, berat, licin. Ia mengambil segenggam.
Paru-parunya berhenti menghitung dan mulai berteriak.
Ia menarik tali kakinya tiga kali dan mundur, dan mundur, dan lorong itu jadi lebih panjang waktu mundur daripada waktu maju seperti selalu begitu, dan di suatu titik ia tidak yakin lagi ke arah mana ia menghadap.
Ia berhenti bergerak. Ia membiarkan air memberitahunya.
Air di lorong bergerak ke luar. Ia mengikuti gerakan itu.
Waktu kepalanya keluar dari mulut lorong ia menabrak dinding lubang dengan bahu dan tidak merasakan apa-apa. Ia naik. Delapan meter. Tangan Karim menariknya di ujung.
Jamal terbaring di tanah cukup lama sebelum ada yang berani bicara.
"Talimu?" kata Karim.
Jamal membuka tangan kanannya.
Di telapaknya ada empat butir logam sebesar biji jagung, hitam kotor, tapi di satu sisi tergores kuning.
Orang-orang yang berdiri agak jauh tadi sekarang tidak berdiri agak jauh lagi.
"Ada peti di dalam," kata Jamal. Suaranya serak. "Terikat kawat ke dinding. Isinya penuh."
Karim memandangi butiran di tangan Jamal dan wajahnya berubah — bukan gembira. Sebaliknya.
"Siapa yang tahu soal peti ini?"
"Tidak ada."
"Jamal." Karim menurunkan suaranya. "Kalau ada peti terikat kawat di dalam lorong yang tidak dipakai orang, itu bukan orang lupa. Itu orang menyimpan."
Jamal duduk.
"Haji Latif?"
"Saya tidak bilang begitu."
"Bapak memikirkan itu."
Karim mengambil butiran itu dari telapak Jamal dan memasukkannya ke saku Jamal sendiri, bukan ke sakunya, dan menutup jari-jari Jamal di atasnya.
"Simpan. Jangan tunjukkan ke siapa-siapa. Dan jangan bilang di mana."
"Kenapa?"
"Karena besok pompa nyala," kata Karim, "dan sekarang saya tidak tahu lagi apakah pompa itu untuk menyusutkan air, atau untuk menutup lorong itu."
Di belakang mereka, di mulut lubang, tali pinggang Jamal masih menjulur ke dalam air, tegang, tersangkut di sesuatu yang tidak akan melepaskannya.