Istri Rusdi datang hari Jumat, membawa anaknya yang berumur dua tahun dan sekarung beras.
Namanya Warni. Ia menaruh beras itu di lantai gubuk genset seperti orang membayar utang, lalu duduk di bangku kayu tanpa dipersilakan.
"Saya tidak minta Abang turun lagi," katanya.
Jamal menuang kopi untuknya. Warni tidak menyentuhnya.
"Saya cuma mau tanya satu hal, dan saya mau Abang jawab yang betul, bukan yang enak."
"Tanya."
"Kalau dia sudah tiga minggu di dalam air, masih ada yang bisa dikubur?"
Anak itu merangkak ke arah genset dan Sudi mengangkatnya tanpa bicara, memindahkannya ke pangkuan sendiri.
"Ada," kata Jamal.
"Utuh?"
"Tidak semua."
Warni mengangguk. Ia memandangi tangannya sendiri di pangkuannya, dan Jamal melihat kuku-kukunya pendek sekali, dipotong terlalu dalam, cara orang memotong kuku waktu tidak bisa tidur.
"Ibu Abang tanya terus," kata Warni. "Setiap saya ke sana, dia tanya Rusdi mana. Saya bilang kerja. Sudah tiga minggu saya bilang begitu, dan saya sudah hampir tidak bisa lagi."
"Jangan bilang."
"Saya tahu. Tapi bukan itu yang berat." Ia mengangkat wajahnya. "Yang berat, tiap kali saya bilang 'kerja', dia percaya. Dia percaya betul. Dan saya jadi ingat bahwa Rusdi memang lagi kerja waktu itu."
Di luar hujan mulai lagi. Bukan deras.
"Saya bukan mau Abang berhenti," kata Warni. "Saya mau Abang berhenti berbohong ke saya seperti saya berbohong ke ibu. Kalau Abang sudah tidak akan turun lagi, bilang. Saya bisa terima. Yang saya tidak bisa terima itu menunggu tanpa tahu saya sedang menunggu apa."
Jamal memikirkan dua juta di kantong yang sudah jadi seng.
"Saya turun Senin," katanya. "Sekali. Pompa datang Selasa."
"Sekali berarti sekali?"
"Sekali berarti sekali."
Warni berdiri. Ia mengambil anaknya dari pangkuan Sudi dan menggendongnya di pinggul, dan waktu sampai di pintu ia berhenti sebentar.
"Kemejanya yang mana yang dia pakai hari itu?"
"Yang cokelat. Yang ada tambalan di siku."
"Saya yang tambal," kata Warni, dan keluar.
Sabtu Jamal mengukur tali.
Ia punya empat puluh meter tali nilon, dua puluh meter tali plastik yang sudah keras, dan satu gulung slang. Rongga di dinding utara itu — kalau ia masuk ke sana, tali di pinggangnya tidak lagi lurus ke atas. Talinya akan menyudut, dan tali yang menyudut di dalam air adalah tali yang bisa tersangkut, dan tali yang tersangkut sama saja dengan tidak ada tali.
Ia memikirkannya sepanjang sore, sambil membuka simpul-simpul lama dan mengikatnya lagi.
Sudi memperhatikan dari kursinya.
"Kamu perlu orang di bawah."
"Tidak ada yang mau."
"Ada."
Jamal mengangkat wajahnya.
"Karim," kata Sudi. "Yang menurunkan orang bulan lalu."
"Karim kerja buat Haji Latif."
"Karim yang menurunkan orang itu tanpa tali cadangan, dan orang itu naik dengan tangan patah, dan Karim yang bayar rumah sakitnya sendiri, diam-diam, tidak pakai uang Haji Latif." Sudi mengetuk abu rokoknya. "Orang tidak melakukan itu kalau tidurnya nyenyak."
Minggu pagi Jamal jalan ke rumah Karim.
Karim sedang memperbaiki pompa kecil di halaman, celananya penuh oli, dan ia melihat Jamal datang dari jauh dan tidak berdiri.
"Saya tahu kamu mau apa."
"Bapak tahu jalur di dalam rongga itu."
"Saya tidak pernah masuk."
"Orang Bapak yang masuk."
Karim mengelap tangannya ke celana. Lama.
"Namanya Ipul," katanya akhirnya. "Dia masuk tiga meter dan balik lagi karena talinya tersangkut. Katanya di dalam itu bukan rongga, tapi lorong. Lorong lama. Ada kayu penyangga yang sudah lapuk, artinya orang pernah menggali di situ, dulu sekali, sebelum kita semua."
"Berapa panjang?"
"Ipul tidak tahu. Dia balik."
Jamal berjongkok di samping pompa itu. Mesin kecil, karatan di dua tempat.
"Bapak yang bawa pompa besar Selasa?"
"Iya."
"Bisa ditunda?"
"Tidak." Karim menatapnya. "Dan jangan minta saya menundanya, karena kalau saya tunda, Haji Latif akan panggil orang dari Muara, dan orang Muara tidak akan tanya-tanya apa pun sebelum menyalakan mesin."
Mereka diam. Di dalam rumah ada anak kecil yang menangis lalu berhenti.
"Berapa lama sesudah pompa nyala sebelum dindingnya turun?" tanya Jamal.
"Kalau saya yang pegang keran, saya bisa buat pelan. Sehari, mungkin dua." Karim mengambil kunci pas dan meletakkannya lagi. "Kalau orang Muara yang pegang, tiga jam."
"Berarti Bapak yang pegang."
"Berarti saya yang pegang."
Jamal berdiri.
"Satu lagi," kata Karim. "Kalau kamu masuk lorong itu dan dindingnya turun waktu kamu di dalam, kami tidak akan bisa mengangkat kamu. Kamu paham?"
"Paham."
"Kamu paham betul, atau paham seperti orang yang bilang paham?"
Jamal menyentuh peniti di kerahnya. Ia baru sadar melakukannya waktu Karim melihat ke arah tangannya.
"Peniti ibu saya," katanya, karena rasanya lebih sopan menjelaskan daripada tidak.
Karim mengangguk dan tidak bertanya lagi.
Malam Minggu itu Jamal tidak tidur di gubuk genset. Ia jalan ke kampung dan tidur di rumah ibunya, di kamar belakang yang dulu ia tempati berdua dengan Rusdi. Kasurnya sudah tidak ada; ibunya memakai kamar itu untuk menyimpan kerupuk.
Ia berbaring di lantai beralas tikar.
Sebelum lampu dimatikan, ibunya berdiri di pintu.
"Besok kerja?"
"Besok kerja, Bu."
"Jangan pulang basah."
Jamal berbaring memandangi langit-langit yang sama, di kamar yang sama, dan di sebelahnya tidak ada siapa-siapa untuk mengetuk dua kali cepat dan satu lambat.
Ia mengetuk sendiri, pelan, di lantai.
Dua cepat. Satu lambat.
Lalu ia tidur.