Pompa itu datang jam tujuh pagi Selasa, diangkut dua orang di bak pikap, dan bunyinya waktu dinyalakan lebih halus dari yang Jamal bayangkan.
Air mulai turun jam delapan.
Orang-orang berkumpul lebih banyak dari kemarin. Ada yang bawa anak. Bu Sanah datang juga, berdiri paling belakang, dan Jamal tahu perempuan itu datang bukan untuk melihat air, melainkan untuk melihat apakah ada orang lain yang akan mengalami hari seperti hari dia.
Haji Latif datang jam sembilan.
Ia berdiri di dekat pompa, mengobrol dengan Karim tentang bahan bakar, dan sekali-sekali menoleh ke arah Jamal tanpa menyapanya. Jamal duduk di batu tempat kopi dulu ditaruh Sudi.
Jam sepuluh air sudah turun setengah meter dan dinding lubang mulai bersuara.
Bukan suara keras. Suara seperti orang menggeser lemari di kamar sebelah.
"Kecilkan," kata Karim ke orangnya.
Jam sebelas Warni datang, dan bersamanya ibu Jamal.
Jamal berdiri begitu melihat mereka.
Ibunya jalan pelan, dipapah Warni, memakai kerudung yang biasa dipakai kalau ke pengajian. Ia berhenti di depan Jamal dan memandangi lubang dan pompa dan orang banyak.
"Warni bilang Rusdi di dalam sini," katanya.
Jamal memandang Warni. Warni tidak menghindari pandangannya.
"Saya sudah tidak bisa, Bang," kata Warni pelan. "Maaf."
Ibunya masih memandangi lubang.
"Sudah berapa lama?"
Jamal membuka mulut dan tidak ada yang keluar.
"Sudah berapa lama, Mal?"
"Tiga minggu, Bu. Empat hari."
Ibunya mengangguk, sekali, seperti orang menerima kembalian yang kurang dan tidak mau ribut.
"Kamu tiap minggu ke rumah."
"Iya."
"Kamu duduk di tangga dan lihat saya jemur kerupuk."
"Iya."
"Dan kamu bilang dia kerja."
Angin berputar dan bau dari arah lubang datang — solar dari genset, kuat, bercampur kopi dari gubuk Sudi yang tidak pernah tidak ada. Bau itu bau tempat Jamal tidur selama tiga minggu terakhir, bau yang sudah masuk ke bajunya dan tidak bisa dicuci hilang, dan sekarang ibunya berdiri di dalam bau itu.
"Ada yang mau saya katakan," kata Jamal.
Ibunya menunggu.
"Haji Latif bayar saya dua juta supaya berhenti mencari."
Orang-orang di dekat situ berhenti bicara. Jamal tidak menoleh untuk melihat siapa saja.
"Saya ambil uangnya."
Ibunya tidak bergerak.
"Saya beli seng buat atap rumah Ibu. Yang bocor tiga tempat itu. Sudah dipasang minggu lalu."
Di belakang, pompa masih bekerja.
"Jadi atap saya," kata ibunya.
"Iya, Bu."
"Atap saya dari uang berhenti mencari adikmu."
"Iya."
Ibunya melihat ke atas, ke arah langit, lalu ke bawah lagi. Ia melepas tangannya dari lengan Warni dan berdiri sendiri.
"Antar saya pulang," katanya ke Warni.
"Bu—" kata Jamal.
"Saya tidak marah." Ia tidak menoleh waktu mengatakannya. "Saya cuma tidak mau berdiri di sini."
Mereka jalan pelan ke arah jalan setapak. Jamal tidak mengikuti. Ia berdiri di tempatnya sampai dua orang itu hilang di balik pohon karet, dan sesudah itu ia masih berdiri di situ.
Sudi datang membawa gelas dan menaruhnya di batu, dan tidak bicara, dan pergi lagi.
Jamal tidak meminumnya.
Jam satu siang dinding utara turun.
Bunyinya kali ini keras. Air di permukaan berpusar sekali, seperti ada yang menarik dari bawah, lalu diam lagi. Karim mematikan pompa dan semua orang menunggu, dan tidak ada yang terjadi lagi.
Karim menurunkan tali bertanda dan mengukur.
"Naik lagi," katanya. "Air naik dua puluh senti dari tadi."
"Kenapa naik?"
"Karena ada ruang yang tertutup di bawah sana. Airnya keluar dari situ."
Jamal berdiri di bibir lubang dan memandangi air yang sekarang lebih tinggi daripada pagi tadi.
Lorong itu tertutup.
Peti itu di dalam. Ableh di dalam. Dan kalau Rusdi ada di lorong itu — Rusdi juga di dalam.
Haji Latif sudah tidak ada di tempatnya. Jamal baru sadar setelah lama, dan waktu ia bertanya, orang bilang Haji Latif pulang sejak sebelum dinding turun.