Sudi tidak bertanya waktu Jamal minta senter yang besar.
"Genset saya matikan jam sebelas," katanya. "Kalau lewat itu, tidak ada lampu di mulut lubang."
"Sebelas cukup."
"Kamu turun sendiri?"
Jamal mengikat tali ke pohon karet di sisi lubang, dua putaran, simpul mati. "Kalau ada yang tahu, mereka akan bilang ke Haji Latif."
Sudi diam sebentar. Lalu ia masuk ke gubuk dan keluar lagi membawa gelas kopi yang masih penuh, dan menaruhnya di batu dekat mulut lubang, seperti orang menaruh sesajen.
"Buat kamu naik nanti," katanya. "Biar ada yang menunggu."
Malam itu air lubang dua belas hitam, bukan cokelat. Warnanya cuma ada kalau ada matahari. Jamal turun delapan meter kering dengan tangan sendiri, tanpa senter, karena senter yang menyala di lubang sempit cuma membuat mata percaya pada sesuatu yang tidak ada.
Di batas air ia berhenti. Ia menghitung sampai tiga. Lalu masuk.
Yang pertama datang selalu dingin di tengkuk. Sesudah itu telinga. Sesudah itu tidak ada lagi yang datang, dan tinggal kerja.
Ia meraba dinding sampai ketemu potongan slang merah. Dari situ turun. Satu depa. Dua depa. Tangannya menyentuh lantai lubang yang bukan lantai, melainkan tumpukan lumpur setinggi lutut, dan di dalam lumpur itu ada benda-benda yang sudah tidak ada namanya lagi.
Ia meraba ke kanan, ke tempat kemarin.
Kain itu masih di sana.
Jamal menariknya pelan. Kain itu tersangkut. Ia menarik lebih keras dan kain itu lepas dan yang ikut terangkat bukan orang, cuma kain — kemeja, lengan panjang, kancingnya tinggal dua.
Ia mengenali kemeja itu.
Bukan Rusdi. Kemeja itu punya Ableh, yang hilang di lubang dua belas sepuluh bulan lalu, jauh sebelum banjir. Orang-orang sudah berhenti membicarakan Ableh karena Ableh tidak punya siapa-siapa yang menanyakannya.
Jamal melipat kemeja itu dan menyelipkannya ke ikat pinggang. Lalu ia meraba lebih ke dalam, ke arah yang belum pernah ia coba, dan tangannya masuk ke sesuatu yang seharusnya tidak ada.
Rongga.
Dinding lubang di sisi utara sudah runtuh, dan runtuhannya membuka celah selebar tubuh orang. Jamal memasukkan kepalanya. Di dalam sana air terasa lain — lebih dingin, dan bergerak sedikit, artinya ada jalan lain yang mengalirkannya.
Ia mundur. Paru-parunya sudah mulai menghitung.
Waktu ia naik, ia menabrak dinding dua kali karena tidak sabar. Ia keluar dari air dan memanjat delapan meter dan duduk di tanah dengan kemeja Ableh masih di ikat pinggangnya. Kopi di batu sudah dingin. Ia meminumnya sampai habis.
Sudi masih terjaga.
"Ada apa?"
"Dinding utara runtuh. Ada celah."
"Runtuh berarti mau runtuh lagi."
"Iya."
Sudi menyalakan rokok dengan tangan yang tidak sepenuhnya diam. "Kalau pompa Pak Karim datang minggu depan dan airnya turun cepat, dindingnya bisa ikut turun. Air yang menahan itu."
Jamal tahu. Semua orang yang pernah turun tahu. Air di dalam lubang bukan cuma yang menenggelamkan; ia juga yang menahan dinding supaya tidak jatuh ke dalam. Menyedotnya keluar terlalu cepat sama saja menutup lubang itu dari dalam.
"Berapa lama kalau pompanya jalan?"
"Dua hari, mungkin tiga."
"Sesudah itu?"
Sudi tidak menjawab, dan tidak perlu.
Jamal duduk sampai subuh. Ia mengeluarkan kemeja Ableh dan membentangkannya di lutut dan membersihkan lumpurnya dengan ibu jari, pelan-pelan, sampai warnanya kelihatan lagi. Biru. Ia melipatnya kembali, rapi, seperti orang melipat baju yang mau dipakai.
Ia menyentuh peniti di kerahnya sekali.
Pagi harinya Haji Latif sudah tahu.
"Kamu turun tadi malam."
"Iya."
"Saya sudah bayar kamu."
"Iya."
Haji Latif tidak marah, dan itu lebih tidak enak daripada kalau ia marah. Ia menyuruh orang mengambil kursi untuk Jamal dan Jamal tidak duduk.
"Kamu tahu kenapa saya bayar kamu, Mal? Bukan karena saya takut kamu ketemu adikmu. Saya bayar kamu karena kalau kamu mati di dalam sana, tidak ada lagi orang yang mau turun ke lubang mana pun di kampung ini. Tidak satu pun. Saya bukan mengurus mayat, saya mengurus enam lubang dan tiga puluh orang."
"Ada celah di dinding utara."
"Saya tahu."
Jamal berhenti.
"Karim yang bilang," kata Haji Latif. "Dia sudah turunkan orang bulan lalu, sebelum kamu. Orangnya naik dan bilang di bawah ada rongga, dan saya suruh dia tutup mulut."
"Kenapa?"
"Karena rongga itu artinya lubang dua belas tidak bisa dipakai lagi selamanya. Dan kalau orang tahu, mereka akan tanya kenapa saya masih menyuruh orang turun bulan Januari."
Angin dari arah lubang membawa bau solar. Di dalam rumah keramik itu bau kopi lebih kuat, dan dua bau itu bertemu di ambang pintu, dan Jamal berdiri tepat di situ.
"Pompanya datang kapan?"
"Selasa."
"Batalkan."
"Tidak bisa. Sudah dibayar."
Jamal mengeluarkan kemeja biru dari balik bajunya dan menaruhnya di meja keramik itu, di antara dua gelas teh yang belum disentuh.
"Ini punya Ableh," katanya. "Yang hilang sepuluh bulan lalu. Bapak bilang dia kabur ke Samarinda."
Haji Latif memandangi kemeja itu cukup lama.
"Saya tidak pernah bilang begitu."
"Bapak bilang."
"Saya bilang mungkin."
Jamal keluar dari rumah itu tanpa pamit, dan ia berjalan sampai jalan setapak berakhir, dan berdiri di mulut lubang dua belas memandangi air yang tidak bergerak sama sekali.
Selasa berarti empat hari.
Empat hari untuk turun ke rongga yang bisa runtuh kapan saja, mencari orang yang mungkin tidak ada di sana, sebelum pompa datang dan menutup lubang itu selamanya dari dalam.
Ia mulai menghitung tali yang ia punya.