Air di lubang dua belas berwarna teh.
Jamal menggigit senter dan mengikat tali di pinggangnya. Simpul mati, lalu satu simpul lagi di atasnya. Tangannya bergerak sendiri. Sudah dua belas tahun tangan itu mengerjakan simpul yang sama, dan sekarang ia bisa memikirkan hal lain sambil mengerjakannya. Di kerah bajunya ada peniti kecil, menahan lipatan yang sudah tidak perlu ditahan. Ia menyentuhnya dengan ibu jari. Lalu turun.
Delapan meter pertama kering. Dinding lubang berlapis akar yang sudah mati dan tidak sempat membusuk. Di bawah itu air, dan air itu tidak bergerak sama sekali, seperti sesuatu yang sedang menunggu ditanya.
Ia berhenti di batas air dan mendengarkan.
"Berapa lama?" Suara Pak Damar dari atas, kecil sekali, seperti orang berteriak dari seberang sungai.
"Dua menit."
"Jangan lebih."
Jamal tidak menjawab. Ia menarik napas dalam tiga kali — bukan untuk menyimpan udara, itu tidak bekerja begitu, tapi karena tubuhnya sudah terlanjur percaya bahwa tiga kali berarti siap. Lalu ia masuk.
Air lubang dua belas hangat di permukaan dan dingin dua jengkal di bawahnya. Senter di mulutnya menerangi mungkin setengah meter, tidak lebih. Sisanya cokelat yang tebal. Jamal turun dengan meraba dinding, mencari lekukan yang ia tandai dua hari lalu dengan potongan slang merah.
Ia menemukannya. Ia meraba ke bawah dari situ. Tangannya menyentuh sesuatu yang keras dan bulat dan bukan batu.
Lutut.
Ia mengikat tali di pergelangan kaki, dua putaran, lalu simpul yang sama seperti di pinggangnya. Ia menarik tali tanda tiga kali. Dari atas, tali bergerak. Jamal mendorong dari bawah.
Yang naik duluan selalu kakinya. Itu satu-satunya cara.
Di atas, di terang, mereka melihat siapa itu sebelum Jamal keluar dari air. Ia tahu dari suara. Ada suara khusus untuk waktu orang mengenali mayat — bukan menjerit, lebih pendek dari itu. Seperti orang tersedak air.
"Pardi," kata Pak Damar. "Anak Bu Sanah."
Jamal memanjat keluar, duduk di tanah, dan melepas tali dari pinggangnya. Simpul mati itu selalu susah dibuka kalau sudah basah. Ia mengerjakannya dengan gigi.
Bu Sanah datang setengah jam kemudian, jalan kaki dari kampung sebelah, dan ia tidak menangis di depan orang. Ia jongkok di samping anaknya, membetulkan kerah baju anaknya yang tidak perlu dibetulkan, dan bertanya kepada Jamal apakah anaknya kelihatan takut.
"Tidak," kata Jamal.
Itu bukan bohong. Wajah orang yang lama di dalam air tidak menunjukkan apa-apa lagi. Tapi Jamal tahu Bu Sanah tidak sedang bertanya soal wajah.
Bu Sanah mengangguk. Ia mengeluarkan uang dari balik kutang, dilipat kecil-kecil, masih hangat. Jamal menerimanya karena menolak akan membuat perempuan itu berdiri lebih lama.
Ada tujuh belas lubang di Serapat. Yang masih dipakai tinggal enam. Yang kebanjiran sejak Februari ada empat, dan lubang dua belas yang paling dalam di antara semuanya.
Jamal sudah mengangkat sembilan orang dari empat lubang itu.
Yang kesepuluh adiknya sendiri.
Sore itu ia pulang ke gubuk genset, tempat ia tidur sejak Februari karena rumahnya di kampung terlalu jauh untuk bolak-balik. Gubuk itu berbau solar bercampur kopi, dua-duanya kuat, dan kalau angin dari arah lubang bau solar menang. Sudi, penjaga genset, menuang kopi ke gelas Jamal tanpa ditanya.
"Rusdi masih di dua belas," kata Sudi. Bukan pertanyaan.
"Iya."
"Kamu tadi lewat mana?"
"Sisi timur. Yang ada slang merahnya."
Sudi mengangguk. Ia tahu Jamal tidak akan bilang apa-apa lagi, jadi ia tidak bertanya lagi. Itu yang membuat Jamal betah tidur di gubuk berbau solar.
Malamnya hujan. Bukan hujan besar, hujan yang tidak berhenti-berhenti, yang membuat air di lubang naik dua senti tiap malam dan tidak pernah turun. Jamal berbaring dan mendengarkan genset. Di sela bunyi genset ia mendengar sesuatu yang lain, dan butuh beberapa detik untuk tahu bahwa yang ia dengar itu bukan dari luar.
Dua ketukan cepat, satu lambat.
Itu kode Rusdi sejak mereka kecil, waktu tidur berdua di kamar belakang dan ibu melarang mereka bicara sesudah lampu mati. Dua cepat berarti kamu masih bangun? Satu lambat berarti aku masih bangun.
Jamal membuka mata dan menunggu sampai bunyi itu jadi bunyi genset lagi.
Pagi-pagi Pak Damar sudah berdiri di mulut lubang dua belas, memandangi air seperti orang memandangi sawah yang gagal.
"Sudah tiga minggu, Mal."
"Iya."
"Bapaknya Pardi mau turunkan pompa minggu depan. Kalau airnya susut satu meter saja, kita bisa cari yang lain."
Jamal tahu yang lain siapa. Ada empat orang lagi di dalam empat lubang, dan salah satunya Rusdi. Ia juga tahu pompa itu tidak akan datang minggu depan, karena pompa yang sama sudah dijanjikan sejak Maret dan yang datang cuma orang yang mengukur-ukur lalu pergi.
"Pak Haji Latif mau ketemu kamu," kata Pak Damar. Ia tidak menoleh waktu mengatakannya.
Haji Latif punya enam lubang di Serapat, termasuk dua belas. Bukan miliknya di atas kertas — di atas kertas tanah itu milik negara — tapi genset, slang, tali, dan orang-orang yang turun semuanya dari dia.
"Mau apa?"
"Kamu tanya sendiri."
Rumah Haji Latif satu-satunya yang berlantai keramik di Serapat. Jamal melepas sandal di teras dan duduk di kursi rotan, dan Haji Latif menuang teh untuknya sendiri, bukan disuruh orang lain. Itu cara Haji Latif menunjukkan bahwa pembicaraannya penting.
"Berapa yang kamu dapat dari Bu Sanah kemarin?"
"Tidak dihitung."
"Bohong." Haji Latif tertawa pendek, tidak marah. "Saya tahu berapa. Tiga ratus. Perempuan itu jual kambing."
Jamal tidak menjawab.
"Mal, saya bukan orang jahat." Haji Latif menaruh gelasnya. "Tapi kalau kamu terus turun ke dua belas, orang akan terus ingat ada orang di dalamnya. Dan kalau orang terus ingat, lubang saya yang lain juga berhenti. Sudah dua minggu tidak ada yang mau turun ke lubang delapan, padahal delapan itu kering."
"Delapan kering karena batunya rapuh."
"Delapan kering karena orang takut. Takut itu menular, dan yang menularkan kamu."
Di luar ada ayam yang naik ke teras lalu diusir seseorang. Jamal memandangi kakinya sendiri. Kukunya hitam, sudah bertahun-tahun begitu, dan tidak ada hubungannya dengan kotor.
"Saya kasih dua juta," kata Haji Latif. "Berhenti sampai airnya susut sendiri. Kalau sudah susut, saya sendiri yang panggil kamu."
"Airnya tidak akan susut."
"Kalau begitu dua juta itu rezeki kamu."
Jamal memikirkan ibunya, yang tinggal sendiri di kampung dan sudah setahun tidak bisa jalan jauh. Ia memikirkan atap rumah yang bocor di tiga tempat. Ia memikirkan bahwa Rusdi turun ke lubang dua belas karena Jamal yang bilang lubang itu aman.
Ia mengambil uang itu.
Ia tidak menghitungnya di depan Haji Latif. Ia melipatnya dan memasukkannya ke saku, dan waktu berjalan pulang ia menyentuh peniti di kerahnya dua kali tanpa sadar.
Sore itu ia pergi ke kampung menengok ibunya. Ibunya sedang menjemur kerupuk di halaman, satu-satu, pakai satu tangan karena tangan kirinya sudah tidak kuat.
"Rusdi mana?"
Ibunya bertanya begitu tiap kali Jamal datang. Dokter di puskesmas bilang itu biasa untuk orang seumur itu, dan tidak ada obatnya, dan sebaiknya keluarga tidak membantah.
"Masih kerja, Bu."
"Kerjanya jauh?"
"Lumayan."
Ibunya mengangguk dan meneruskan kerupuknya. Jamal duduk di anak tangga dan melihat ibunya bekerja. Sepuluh menit begitu, tidak ada yang bicara, dan itu bagian paling ringan dari seluruh harinya.
Waktu Jamal pamit, ibunya berdiri di pintu seperti biasa. Kalimatnya juga seperti biasa, kalimat yang sudah ia ucapkan sejak dua bersaudara itu masih anak-anak dan main hujan di parit belakang.
"Jangan pulang basah."
"Iya, Bu."
Jamal berjalan pulang lewat jalan setapak yang becek, dan hujan mulai turun waktu ia setengah jalan, dan ia tidak berteduh.
Malamnya ia tidak bisa tidur. Bukan karena uang di sakunya — uang itu sudah ia titipkan ke Sudi untuk dibelikan seng. Karena sesuatu yang lebih kecil dari itu.
Waktu ia mengangkat Pardi kemarin, tangannya sempat menyentuh sesuatu yang lain di dasar sana. Bukan batu, bukan kayu. Sesuatu yang bergerak sedikit waktu disentuh, seperti kain.
Ia tidak mencarinya lagi waktu itu. Dua menit sudah habis dan tali sudah ditarik dari atas.
Sekarang ia berbaring di gubuk yang bau solar dan kopi, dan yang ia pikirkan cuma satu hal: kalau kain itu memang kain, ia berada delapan senti dari tangan Jamal, dan Jamal naik ke atas.