Malam itu, setelah kembali dari kantor notaris dengan kegelisahan yang masih menggantung di dadaku seperti kabut yang enggan pergi, aku duduk di lantai kamar dengan lampu minyak yang kutemukan di gudang—listrik di rumah ini sudah lama diputus, dan aku belum sempat mengurus penyambungannya kembali. Jurnal kulit itu tergeletak di pangkuanku, sampulnya yang retak-retak seperti kulit orang tua yang terlalu lama dijemur matahari. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak membacanya malam ini, mengingat peringatan Mak Inum yang masih terngiang. Tapi rasa penasaran, seperti biasa, mengalahkan kehati-hatian.
Aku membuka halaman pertama, dan tulisan tangan kakekku—rapi di beberapa bagian, kacau dan bergetar di bagian lain, seolah ditulis oleh dua orang yang berbeda dalam rentang waktu yang jauh—mulai menarikku masuk ke dalam sebuah dunia yang tidak pernah kubayangkan ada di balik kesunyian rumah panggung tua ini.
*
Namaku Damar Wijaya, dan aku menulis ini bukan untuk diriku sendiri, melainkan untuk siapa pun yang kelak menemukan jurnal ini setelah aku tiada. Mungkin anakku. Mungkin cucuku. Aku tidak tahu siapa yang akan cukup sial untuk mewarisi apa yang telah kuwariskan tanpa sadar kepada mereka. Tapi jika kau membaca ini, ketahuilah bahwa setiap kata yang kutulis adalah kebenaran yang harus kau tanggung, seberat apa pun itu.
Aku baru berusia tujuh belas tahun ketika semuanya dimulai. Waktu itu aku hanyalah seorang pekerja tambang timah yang kurus, kulitku legam terbakar matahari yang tak pernah kenal ampun, tanganku penuh luka gores dari bijih-bijih yang tajam seperti pisau kecil. Kami—aku, ibu, dan adikku Sari—hidup dalam kemiskinan yang mencekik, di gubuk reyot di pinggir kampung yang bahkan lebih buruk dari rumah panggung ini sebelum aku membangunnya kembali dengan uang yang, astaga, dengan uang yang kutahu sekarang datang dari harga yang tidak seharusnya pernah kubayar.
Setiap pagi aku turun ke lubang tambang bersama puluhan pekerja lain, menggali dengan tangan kosong dan cangkul tumpul, berharap menemukan cukup bijih timah untuk dijual ke tengkulak agar kami bisa makan hari itu. Mimpi bukanlah sesuatu yang mewah bagi orang sepertiku waktu itu. Mimpiku sederhana: aku ingin ibu tidak lagi harus menjual perhiasan terakhirnya, aku ingin Sari bisa bersekolah seperti anak-anak lain, memakai seragam putih merah yang bersih, bukan kain lusuh yang sama dipakai setiap hari.
Tapi kampung ini punya cara sendiri untuk mengingatkanku betapa jauhnya jarak antara mimpi dan kenyataan. Dan cara itu bernama Rusdi Marzuki.
Rusdi adalah anak seorang calo tambang, keluarga yang cukup berkecukupan untuk membeli sepeda baru setiap tahun sementara aku bahkan tidak punya sandal yang layak. Ia bertubuh tegap, selalu tersenyum dengan cara yang membuat orang lain merasa kecil, dan entah kenapa ia sepertinya menjadikanku sasaran empuk untuk hiburannya. Mungkin karena aku terlalu miskin untuk melawan. Mungkin karena ia melihat sesuatu dalam diriku yang membuatnya tidak nyaman—ambisi yang tidak seharusnya dimiliki oleh anak selusuh diriku.
"Damar," katanya suatu siang, ketika aku sedang menimbang hasil galian di depan gudang penampungan, suaranya cukup keras agar semua orang di sekitar bisa mendengar. "Kudengar kau mau buka usaha sendiri. Mau jadi juragan timah, katanya?" Ia tertawa, dan beberapa pekerja lain ikut tertawa, meski aku tahu sebagian dari mereka tertawa hanya karena takut jika tidak melakukannya.
"Aku hanya ingin mengumpulkan cukup untuk keluargaku," jawabku, mencoba menjaga suaraku tetap tenang meski dadaku sudah panas.
"Keluargamu." Rusdi mendekat, tangannya yang bersih—tangan yang tidak pernah menyentuh cangkul—bertepuk di bahuku dengan kekuatan yang sengaja dibuat terasa merendahkan. "Anak gubuk mau jadi juragan. Kau tahu, Damar, ada orang-orang yang lahir untuk memimpin, dan ada yang lahir untuk menggali lubang seumur hidup. Jangan lupa kau termasuk yang mana."
Aku ingat rasa panas yang menjalar dari telingaku hingga ke ujung jariku, rasa malu yang bercampur amarah yang tidak bisa kuluapkan karena aku tahu satu tamparan balik saja bisa membuat keluargaku diusir dari kampung ini, mengingat betapa berpengaruhnya keluarga Marzuki dalam jaringan perdagangan timah. Jadi aku hanya diam, menahan rahangku mengeras, dan melanjutkan pekerjaanku sementara tawa Rusdi dan teman-temannya masih terngiang di telingaku sepanjang jalan pulang.
Malam itu aku duduk di depan gubuk kami, menatap langit yang dipenuhi bintang yang seolah mengejekku dengan keindahan yang tidak bisa kunikmati karena perutku yang lapar dan hati yang penuh dendam. Aku memikirkan wajah ibu yang semakin keriput karena beban, memikirkan Sari yang selalu bertanya kapan ia bisa mulai sekolah seperti teman-temannya. Dan aku memikirkan Rusdi, senyumnya yang licik, cara ia mengucapkan kata "gubuk" seolah itu adalah sebuah penyakit yang menular.
Pada malam itulah, untuk pertama kalinya, sebuah pikiran gelap menyusup ke dalam benakku—pikiran bahwa mungkin aku perlu jalan lain, jalan yang tidak diajarkan oleh kerja keras yang membosankan dan hasilnya yang tidak sepadan dengan keringat yang tumpah.
*
Aku tidak tahu apa yang membuat kakiku melangkah ke arah Kolong Legam malam itu. Kolong itu adalah bekas galian tambang yang sudah lama ditinggalkan, terletak jauh di tengah hutan sekunder yang jarang dilalui orang kampung karena reputasinya yang mencekam. Orang-orang tua bilang kolong itu terkutuk, bahwa airnya yang hitam pekat menyimpan sesuatu yang tidak seharusnya diganggu. Tapi aku, dalam keputusasaan seorang anak muda yang merasa dunia telah mengkhianatinya, tidak lagi peduli pada takhayul semacam itu.
Aku berjalan sendirian menembus kegelapan hutan, hanya berbekal obor kecil yang nyalanya bergoyang-goyang tertiup angin malam. Suara serangga dan burung malam menemani langkahku, tapi semakin dekat aku ke kolong, semakin sunyi suasana di sekitarku, seolah alam sendiri menahan napas. Ketika akhirnya aku tiba di tepiannya, aku berdiri terpaku menatap hamparan pasir putih yang mengelilingi air hitam pekat itu, dikelilingi pohon-pohon mati yang berdiri seperti kerangka yang mengawasi.
Permukaan air itu benar-benar tenang, tidak beriak sedikit pun meski angin bertiup cukup kencang malam itu, seolah ada sesuatu di bawah sana yang menahannya tetap diam. Aku duduk di tepian, menaruh obor di sampingku, dan menatap permukaan air itu tanpa benar-benar berniat melakukan apa pun selain melampiaskan amarah dan keputusasaanku pada kekosongan.
Tapi kekosongan itu, ternyata, tidak sepenuhnya kosong.
Detik demi detik berlalu saat aku menatap ke dalam air hitam itu, dan entah kenapa aku tidak bisa mengalihkan pandanganku, seolah ada sesuatu yang menahan mataku tetap terpaku pada permukaan yang gelap itu. Naluri yang lebih tua dari akal sehatku, sesuatu yang bersembunyi jauh di dasar tulang belakangku, berteriak agar aku memalingkan wajah, agar aku berlari secepat mungkin dari tempat itu. Tapi rasa penasaran—atau mungkin keputusasaan yang sudah terlalu dalam untuk peduli pada bahaya—membuatku tetap diam, menatap, menghitung detik yang berlalu tanpa benar-benar menyadarinya.
Satu menit. Mungkin lebih.
Dan kemudian aku mendengarnya. Bukan suara yang datang dari telinga, melainkan sesuatu yang muncul langsung di dalam kepalaku, seperti bisikan yang menembus tengkorak tanpa perlu melewati udara.
Kau membawa amarah yang berat, anak muda.
Aku terlonjak, hampir jatuh ke belakang, tapi mataku tetap tak bisa lepas dari permukaan air yang kini mulai beriak perlahan, membentuk pola-pola aneh yang tidak wajar—bukan riak biasa yang disebabkan angin, melainkan sesuatu yang bergerak dari dalam, sesuatu yang bangkit dari kedalaman yang tidak seharusnya memiliki dasar.
Dari riak-riak itu, perlahan, sebuah bayangan mulai terbentuk—bukan wajah, bukan sosok yang bisa kudeskripsikan dengan kata-kata manusia biasa, melainkan sesuatu yang menyerupai kegelapan itu sendiri, mengambil bentuk sekadar untuk berkomunikasi denganku, seolah kegelapan itu tahu bahwa mata manusia butuh sesuatu untuk difokuskan.
Siapa kau? Aku ingin bertanya, tapi suaraku tercekat di tenggorokan.
Aku adalah yang mendengar setiap bisikan hati yang putus asa, jawab suara itu, meski aku tidak yakin apakah aku benar-benar mendengarnya atau hanya merasakannya bergema di dalam dadaku. Mereka memanggilku Ki Ireng. Dan kau, Damar Wijaya, telah menatapku cukup lama untuk memanggilku keluar.
*
Aku seharusnya lari. Aku tahu itu sekarang, bertahun-tahun kemudian, dengan kebijaksanaan yang datang terlalu terlambat untuk berguna bagi siapa pun kecuali sebagai peringatan yang kutulis di halaman-halaman ini. Tapi malam itu, aku hanya seorang anak muda yang penuh amarah dan keputusasaan, dan sosok dari kedalaman itu tahu persis bagaimana memanfaatkan kelemahan itu.
"Apa yang kau inginkan dariku?" tanyaku akhirnya, suaraku bergetar meski aku berusaha terdengar berani.
Bukan aku yang menginginkan sesuatu darimu, jawab Ki Ireng, dan aku bisa merasakan—entah bagaimana—sesuatu yang menyerupai senyuman dalam nada suaranya, meski wajahnya, jika bisa disebut wajah, tidak memiliki mulut yang bisa tersenyum. Kau yang menginginkan sesuatu dariku. Bukankah begitu? Kau ingin kekuatan. Kau ingin melihat mereka yang meremehkanmu berlutut. Kau ingin ibumu tidak lagi menangis di malam hari, dan adikmu bisa memakai seragam sekolah yang bersih.
Aku terdiam, terkejut betapa entitas itu tahu begitu banyak tentang hidupku, tentang keinginan-keinginan yang bahkan tidak pernah kuucapkan dengan lantang kepada siapa pun.
"Bagaimana kau tahu semua itu?"
Aku mendengar setiap bisikan yang jatuh ke dalam airku, jawabnya. Dan aku bisa memberikannya padamu. Semua yang kau inginkan. Kekayaan. Kekuatan. Kemenangan atas mereka yang telah menghinamu.
"Dengan harga apa?" tanyaku, karena bahkan dalam keputusasaanku, aku masih cukup waras untuk tahu bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini, apalagi dari sesuatu yang muncul dari kolong terkutuk di tengah hutan.
Hutang hati, jawabnya, dan kata-kata itu menggantung di udara malam yang dingin. Sederhana saja. Kau hanya perlu membayar dengan apa yang paling berharga dalam dirimu.
"Aku tidak punya apa-apa yang berharga," kataku, tertawa pahit. "Aku bahkan tidak punya sandal yang layak."
Kau salah, bisiknya, dan untuk sesaat aku merasakan sesuatu yang dingin merayapi tulang punggungku, sebuah firasat yang samar namun nyata, seperti bayangan awan yang lewat di depan matahari. Setiap manusia memiliki sesuatu yang berharga, meski ia tidak selalu menyadarinya sampai saat pembayaran tiba.
Aku seharusnya bertanya lebih jauh. Aku seharusnya menuntut kejelasan tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan "hutang hati" itu. Tapi keputusasaan dan amarah yang telah lama mengendap dalam diriku membuatku terlalu bersemangat untuk mendapatkan apa yang ditawarkan, terlalu buta untuk melihat bahaya yang tersembunyi di balik kata-kata teka-teki itu.
"Aku terima," kataku, suaraku lebih mantap dari yang kurasakan dalam hati. "Berikan aku kekuatan itu."
Dan dalam kegelapan malam itu, di tepi Kolong Legam, aku merasakan sesuatu yang menembus dadaku, dingin seperti air yang mengalir langsung ke dalam pembuluh darahku, sebuah sensasi yang tidak bisa kudeskripsikan dengan kata-kata manusia manapun. Ketika sensasi itu mereda, sosok Ki Ireng telah menghilang, permukaan air kembali tenang seperti tidak ada apa pun yang terjadi.
Aku berjalan pulang malam itu dengan perasaan aneh yang bercampur antara kemenangan dan ketakutan, tidak sepenuhnya yakin apakah aku baru saja melakukan sesuatu yang luar biasa atau sesuatu yang akan menghancurkanku.
*
Perubahan itu datang lebih cepat dari yang kubayangkan. Dalam minggu-minggu berikutnya, setiap lubang yang kugali seolah selalu menemukan bijih timah yang berlimpah, seolah bumi sendiri membuka diri untukku dengan cara yang tidak pernah kulihat terjadi pada pekerja lain. Tengkulak-tengkulak mulai mencari-cariku, menawarkan harga yang lebih baik karena kualitas timah yang kubawa selalu lebih murni. Dalam waktu singkat, aku bisa membeli peralatan sendiri, mempekerjakan beberapa orang, dan mulai membangun apa yang kelak menjadi usaha timah yang cukup dikenal di kampung ini.
Orang-orang kampung mulai berbisik-bisik tentang keberuntunganku yang tiba-tiba, beberapa dengan nada kagum, yang lain dengan kecurigaan yang tidak mereka sembunyikan dengan baik. Tapi aku, dibutakan oleh kesuksesan yang selama ini hanya bisa kubayangkan dalam mimpi, mengabaikan semua bisikan itu, mengabaikan tatapan curiga dari mata-mata yang dulu meremehkanku.
Rusdi Marzuki, tentu saja, tidak tinggal diam melihat perkembangan ini. Aku mendengar dari beberapa sumber bahwa ia mulai kalang kabut, bahwa usaha keluarganya yang dulu begitu mapan mulai goyah karena para pelanggan mereka beralih kepadaku. Aku tidak tahu persis apa yang dilakukannya untuk mencoba menandingi keberuntunganku—apakah ia mendengar tentang Kolong Legam dari mulut ke mulut, atau apakah ia menemukannya sendiri melalui cara yang lebih gelap—tapi yang jelas, dalam beberapa bulan berikutnya, kondisi usahanya semakin memburuk sementara usahaku terus melejit.
Aku tidak akan berpura-pura bahwa aku tidak menikmati pembalikan nasib itu. Aku menikmatinya dengan cara yang sekarang, dengan kebijaksanaan usia dan penyesalan yang mendalam, kusadari sebagai kesombongan yang tidak seharusnya kubiarkan tumbuh dalam diriku. Setiap kali aku melewati Rusdi di pasar, melihat wajahnya yang dulu penuh keangkuhan kini dipenuhi keputusasaan yang sama seperti yang pernah kurasakan, ada bagian dari diriku yang bersorak dengan kejam.
Aku seharusnya melihat tanda-tanda bahaya yang mulai muncul. Tidur yang semakin sulit. Mimpi-mimpi aneh tentang air hitam yang memanggil namaku. Perasaan diawasi yang tidak pernah benar-benar hilang, bahkan di tengah keramaian pasar. Tapi aku memilih untuk mengabaikan semua itu, terlalu mabuk dengan kesuksesan yang selama ini kudambakan.
*
Kabar tentang kematian Rusdi datang pada suatu pagi yang cerah, dibawa oleh seorang tetangga yang berbicara dengan suara yang bergetar penuh ketakutan. Mereka menemukan jasadnya mengambang di Kolong Legam, wajahnya membiru, matanya terbuka lebar seolah melihat sesuatu yang tidak bisa dideskripsikan oleh siapa pun yang menemukannya.
Aku ingat berdiri di tepi kolong itu, di antara kerumunan warga kampung yang berbisik-bisik dengan ketakutan, menatap jasad Rusdi yang diangkat dari air hitam yang sama yang telah mengubah hidupku selamanya. Dan aku ingat—Tuhan, ampuni aku—perasaan lega yang menyusup ke dalam dadaku, bercampur dengan rasa bersalah yang samar namun nyata, seperti bayangan yang mengintai di sudut mata.
Apakah Rusdi juga datang ke sini, menatap air ini seperti yang kulakukan, mencoba menawar dengan entitas yang sama demi menyelamatkan usahanya yang bangkrut? Apakah kematiannya ada hubungannya dengan kekuatan yang kuterima, semacam harga yang harus dibayar oleh seseorang, entah bagaimana caranya?
Aku tidak pernah mendapatkan jawaban pasti untuk pertanyaan-pertanyaan itu. Yang kulakukan hanyalah diam, menutupi kecurigaanku dengan wajah yang berusaha terlihat berduka sewajarnya, meyakinkan diriku sendiri bahwa itu hanya kecelakaan tragis, bahwa Kolong Legam memang tempat yang berbahaya bagi siapa pun yang cukup bodoh untuk mendekatinya sendirian di malam hari.
Aku memilih untuk percaya pada kebohongan yang kubuat sendiri, karena kebenaran yang sesungguhnya terlalu mengerikan untuk kuhadapi.
*
Kehidupan berjalan terus setelah kematian Rusdi. Usahaku semakin berkembang, dan akhirnya aku bisa membangun rumah panggung ini—rumah yang sekarang menjadi tempat di mana jurnal ini kutulis, tempat di mana kau, siapa pun kau yang membaca ini, mungkin sedang duduk sekarang. Ibu bisa beristirahat dari kerja kasar yang selama bertahun-tahun menguras tenaganya. Dan Sari—adikku yang selalu tersenyum, yang berkepang dua dan berlari-lari kecil di sekitar rumah dengan keceriaan yang tak pernah pudar meski kami hidup dalam kemiskinan—akhirnya bisa bersekolah seperti yang selalu ia impikan.
Aku ingat betapa bahagianya Sari ketika aku membelikannya seragam sekolah pertama kalinya, bagaimana ia berputar-putar dengan riang di halaman rumah, kepangnya yang melambai-lambai, senyumnya yang begitu tulus hingga untuk sesaat aku bisa melupakan semua kegelisahan yang mengendap di dasar hatiku.
"Kak Damar," katanya suatu sore, duduk di sampingku di beranda rumah yang baru saja selesai dibangun, "kenapa kita tiba-tiba jadi kaya begini? Apa karena Kakak rajin bekerja?"
Aku ingat bagaimana aku tersenyum kepadanya, sebuah senyuman yang menyembunyikan kebohongan yang mulai membusuk di dalam diriku. "Iya, Sari. Karena Kakak rajin bekerja."
Ia mempercayaiku sepenuhnya, seperti biasa. Sari selalu percaya penuh pada kakaknya, tidak pernah sekali pun meragukan kata-kataku, tidak pernah sekali pun mencurigai bahwa ada sesuatu yang gelap tersembunyi di balik keberuntungan keluarga kami. Kepercayaan itu, kepolosan itu, adalah salah satu hal paling murni yang pernah kukenal dalam hidupku.
Dan itulah, aku sekarang tahu, yang menjadikannya begitu berharga bagi entitas yang telah kuterima tawarannya di tepi Kolong Legam malam itu.
*
Penyakit itu datang tanpa peringatan, tanpa sebab yang bisa dijelaskan oleh tabib mana pun yang kami panggil. Sari yang biasanya begitu penuh energi, yang selalu berlari-lari di sekitar rumah dengan tawa yang menggema, tiba-tiba terbaring lemah, demamnya tidak kunjung turun meski sudah diberi berbagai ramuan dan obat.
Aku ingat duduk di sampingnya siang malam, menggenggam tangannya yang semakin dingin meski demamnya tinggi, berdoa kepada Tuhan yang mungkin sudah lama tidak kudengarkan karena kesombonganku sendiri. Aku memanggil tabib dari kampung sebelah, bahkan dokter dari kota, tapi tidak ada yang bisa menemukan penyebab pasti dari penyakit yang perlahan-lahan menggerogoti tubuh kecil adikku.
Pada malam ketujuh, ketika aku duduk di samping ranjangnya dengan mata yang sudah tidak sanggup lagi menahan air mata, Sari membuka matanya dan menatapku dengan tatapan yang jernih, tidak seperti orang yang sedang sekarat.
"Kak Damar," bisiknya, suaranya lemah namun jelas. "Kenapa air itu terus memanggilku dalam mimpi? Ada suara yang bilang... Kakak berhutang padanya."
Dunia seolah runtuh di sekelilingku saat itu juga. Aku ingin bertanya lebih jauh, ingin memohon penjelasan, ingin memohon ampun kepada entitas mana pun yang telah mengambil adikku sebagai pembayaran atas kesombonganku. Tapi sebelum aku bisa mengucapkan sepatah kata pun, mata Sari perlahan menutup, napasnya yang lemah berhenti sepenuhnya, dan tangan kecilnya yang kugenggam menjadi dingin selamanya di dalam genggamanku.
Aku tidak akan mencoba mendeskripsikan kehancuran yang kurasakan malam itu. Tidak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan rasa sakit seorang kakak yang menyaksikan adiknya yang paling ia sayangi meninggal di hadapannya, mengetahui—dengan kepastian yang mengerikan—bahwa kematian itu adalah harga yang harus dibayar atas kesepakatan bodoh yang ia buat sendiri di tepi kolong terkutuk itu.
*
Bertahun-tahun telah berlalu sejak malam itu. Aku sekarang tua, tanganku bergetar saat menulis kata-kata ini, mataku sudah tidak sejernih dulu, tapi rasa bersalah yang mengendap sejak kematian Sari tidak pernah benar-benar pudar. Aku telah mencoba segala cara untuk melunasi hutang yang kubuat malam itu—aku telah kembali ke Kolong Legam berkali-kali, menawarkan apa pun yang tersisa dalam hidupku, tapi Ki Ireng, entitas licik itu, selalu berbicara dalam teka-teki yang tidak pernah benar-benar memberikan jalan keluar.
Hutangmu belum lunas, katanya setiap kali, suaranya yang dingin menembus air hitam yang tak pernah berubah. Dan tidak akan pernah lunas, sampai kau membayarnya dengan cara yang benar—dengan cinta yang tulus, bukan dengan tawar-menawar yang penuh perhitungan.
Aku tidak pernah sepenuhnya memahami apa maksud dari kata-katanya, dan aku terlalu takut, terlalu pengecut, untuk mencoba mencari tahu lebih jauh, khawatir harga yang harus kubayar akan merenggut lebih banyak lagi dari yang sudah hilang.
Jadi aku menulis peringatan ini, untuk siapa pun yang membaca jurnal ini setelah aku tiada. Anakku. Cucuku. Siapa pun kau.
Jangan pernah pergi ke Kolong Legam. Jangan pernah menatap air hitam mana pun lebih dari semenit, terlepas dari seberapa besar keputusasaan yang kau rasakan, terlepas dari seberapa menariknya tawaran yang mungkin dibisikkan kepadamu dari kedalaman yang gelap itu. Hutang yang belum lunas ini, aku khawatir, tidak akan hilang bersama kematianku—ia mungkin akan mengalir dalam darah kita, menunggu kesempatan untuk kembali menuntut pembayaran dari generasi berikutnya.
Aku menulis ini dengan tangan yang gemetar bukan karena usia, tapi karena ketakutan yang telah menghantuiku selama puluhan tahun. Ketakutan bahwa apa yang kuwariskan bukan hanya rumah panggung tua ini, bukan hanya kekayaan yang kudapatkan dari harga paling mahal yang pernah dibayar seorang manusia, melainkan sebuah kutukan yang tidak akan pernah benar-benar berakhir sampai seseorang, entah kapan, cukup berani dan cukup penuh cinta untuk membayarnya dengan cara yang sebenarnya.
Semoga Tuhan mengampuni dosa-dosaku. Dan semoga kau, siapa pun yang membaca ini, lebih bijaksana dariku.
*
Aku menutup jurnal itu dengan tangan gemetar, jantungku berdegup kencang di dalam dadaku yang terasa sesak. Lampu minyak di sampingku bergoyang tertiup angin malam yang entah dari mana masuk melalui celah-celah kayu rumah yang lapuk, membuat bayangan di dinding menari-nari seperti sosok-sosok yang mengintai dari balik kegelapan.
Rusdi Marzuki. Nama itu terus bergema di kepalaku, menyatu dengan nama lain yang baru saja kudengar siang tadi di kantor notaris—Fajar Rusdianto.
Aku merasakan darah menjauh dari wajahku ketika kesadaran itu menghantam dengan kekuatan yang membuatku hampir tidak bisa bernapas. Marzuki. Rusdianto. Nama yang berbeda, tapi mungkinkah—
Aku meraih ponselku dengan tangan yang gemetar, membuka pencarian dengan sinyal yang tersendat-sendat di kampung terpencil ini, mengetikkan nama yang membuat dadaku semakin sesak dengan setiap huruf yang kuketik: Fajar Rusdianto, cucu Rusdi Marzuki.
Dan ketika hasil pencarian itu muncul di layar, mengonfirmasi ketakutan yang mulai menjalar di setiap sel tubuhku, aku menyadari dengan ngeri yang tidak bisa kudeskripsikan bahwa lelaki yang tersenyum ramah kepadaku siang tadi, yang menawarkan harga tinggi untuk tanah keluargaku dengan mata yang berkilat keperakan aneh, bukanlah sekadar pengusaha tambang yang kebetulan tertarik pada properti kami.
Ia adalah keturunan dari orang yang mati di Kolong Legam yang sama yang telah merenggut nyawa Sari, dan aku—Tuhan, aku—mungkin adalah bagian dari sesuatu yang jauh lebih gelap dan lebih kuno daripada yang bisa kubayangkan, sesuatu yang belum selesai, sesuatu yang telah menunggu, mungkin selama puluhan tahun, untuk akhirnya dituntaskan.