Aku terbangun dengan mulut kering dan mata yang perih, seolah aku baru saja menangis dalam tidur tanpa sempat mengingat mimpinya. Cahaya pagi menyusup lewat celah dinding kayu, membentuk garis-garis tipis yang jatuh di lantai berdebu—garis-garis yang, entah kenapa, mengingatkanku pada jeruji. Jurnal Damar masih tergeletak di sampingku, terbuka di halaman terakhir yang semalam kubaca sampai tanganku gemetar. Aku tidak ingat kapan aku tertidur. Yang kuingat hanya rasa dingin yang menjalar dari tulang belakangku setiap kali nama Rusdi Marzuki dan Fajar Rusdianto berbaur menjadi satu di kepalaku, seperti dua bayangan yang akhirnya menyatu di bawah cahaya yang sama.
Aku bangkit dengan tubuh kaku, meraba leher yang pegal, dan hal pertama yang kulakukan—seperti kebiasaan lama sejak kami masih kecil—adalah memanggil nama adikku.
“Wulan?”
Tidak ada jawaban. Rumah panggung ini selalu berderit, kayu-kayunya seperti punya suara sendiri setiap kali angin laut menyusup dari bawah, tapi pagi itu keheningannya terasa berbeda. Terlalu penuh. Seperti rumah sedang menahan napas.
Aku berjalan menyusuri lorong sempit menuju kamar Wulan, kamar yang dulu jadi tempatnya mengurung diri setiap kali Ayah dan Ibu bertengkar, dan kudapati pintunya terbuka setengah. Aku mendorongnya pelan.
Kosong.
Kasur lipat yang kami gelar semalam masih berantakan, selimut tersingkap seolah ditarik terburu-buru. Ponsel Wulan tergeletak di lantai, layarnya retak sedikit di sudut, baterai hampir penuh—artinya dia tidak sempat membawanya, atau tidak diberi kesempatan untuk itu. Aku meraihnya dengan tangan gemetar, menekan tombol daya, membiarkan cahaya layar menyilaukan mataku yang belum sepenuhnya terjaga.
Tidak ada pesan baru. Tidak ada panggilan tak terjawab. Hanya foto-foto lama kami berdua, dan satu video singkat Wulan menari konyol di depan cermin kamar kos-nya di Jakarta beberapa bulan lalu, sebelum semua utang dan tekanan itu menghancurkan senyumnya.
Aku menahan napas, mencoba berpikir jernih, mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa mungkin dia hanya berjalan-jalan pagi, mungkin dia bosan menunggu kabar dariku semalam, mungkin—
Mataku menangkap sesuatu di lantai. Garis-garis samar di lapisan debu tebal, seperti bekas seretan dua kaki yang diseret paksa, memanjang dari sisi kasur menuju pintu belakang rumah yang biasanya jarang kami buka karena engselnya berkarat. Aku berjongkok, menelusuri jejak itu dengan jari, dan tanganku gemetar bukan karena dingin.
Ini bukan jejak orang berjalan sendiri.
Aku mengikuti garis itu sampai ke pintu belakang, yang kini terbuka sedikit, cukup untuk seseorang menyelinap keluar—atau menyeret seseorang keluar. Angin pagi menampar wajahku, membawa bau tanah basah dan sesuatu yang lebih tajam, logam, seperti karat bercampur air laut. Di ambang pintu, tersangkut di paku yang menonjol, ada secarik kertas kecil yang dilipat rapi.
Aku membukanya dengan tangan yang nyaris tak sanggup menahan getarnya sendiri.
Tulisan tangan yang rapi, hampir terlalu rapi untuk keadaan seperti ini, tertera di sana: Kantor Tambang, tepi Kolong Legam. Datanglah sendiri, Ratih. Waktunya sudah lama tertunda—mari kita lunasi hutang keluargamu, sekali dan untuk selamanya. —F.R.
Aku membaca kalimat itu berulang-ulang, seakan dengan membacanya lagi dan lagi aku bisa mengubah maknanya menjadi sesuatu yang tidak semengerikan yang sebenarnya. Tapi tidak ada cara lain untuk memahaminya. Fajar Rusdianto tahu tentang jurnal itu. Tahu tentang hutang yang dimaksud Damar. Dan entah bagaimana caranya, ia telah membawa Wulan pergi—mungkin dengan paksa, mungkin dengan tipu daya—ke tempat yang selama ini kuanggap hanya mimpi buruk yang lahir dari halaman-halaman jurnal usang.
Segala keskeptisan yang selama ini kupelihara, yang membuatku bertahan hidup di Jakarta dengan menolak segala bentuk takhayul yang dulu membesarkanku di kampung ini, runtuh dalam hitungan detik. Aku tidak punya waktu lagi untuk berdebat dengan diriku sendiri tentang apa yang nyata dan apa yang tidak. Yang nyata adalah adikku hilang. Yang nyata adalah nama itu, Kolong Legam, yang telah merenggut nyawa Sari puluhan tahun lalu menurut tulisan kakekku sendiri.
Aku menyambar kunci motor dan jaket, memasukkan jurnal serta jimat timah itu ke dalam tas selempang tanpa berpikir panjang alasan mengapa aku melakukannya—hanya insting yang mengatakan aku akan membutuhkannya.
Ada satu orang di kampung ini yang mungkin tahu lebih banyak daripada siapa pun tentang apa yang sedang terjadi.
Mak Inum.
*
Rumah Mak Inum berdiri di ujung kampung, di batas antara pemukiman dan hutan sekunder yang mulai menelan jalan setapak dengan akar-akar dan semak liar. Rumahnya kecil, terbuat dari papan yang menghitam dimakan usia, dengan asap tipis mengepul dari dapur di belakang meski hari belum genap siang. Aku menghentikan motor dengan kasar, hampir terjatuh saking tergesa-gesanya, dan berlari menaiki tangga kayu yang berderit di bawah pijakan kakiku.
“Mak Inum!” Aku menggedor pintu tanpa basa-basi. “Mak Inum, tolong buka pintunya!”
Pintu terbuka lebih cepat dari yang kuduga, seolah wanita tua itu sudah menunggu di baliknya. Mata buramnya menatapku dengan tenang yang justru membuat dadaku semakin sesak—bagaimana bisa ia setenang itu ketika duniaku sedang runtuh?
“Sudah kuduga kau akan datang,” katanya, suaranya serak seperti biasa, dipenuhi ketenangan yang menyakitkan untuk didengar dalam keadaan seperti ini. “Cepat atau lambat.”
“Wulan hilang.” Suaraku pecah, lebih mirip erangan daripada kalimat. “Fajar membawanya ke Kolong Legam. Tolong, Mak, aku butuh tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku sudah baca jurnal kakekku, aku tahu tentang Ki Ireng, tentang hutang itu, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya—bagaimana caranya menghentikan ini!”
Mak Inum tidak segera menjawab. Ia berbalik, berjalan pelan ke dalam rumahnya yang temaram, dan aku mengikutinya dengan kesabaran yang mulai retak di setiap detiknya.
“Duduklah,” katanya, menunjuk bangku kayu di dekat perapian kecil.
“Aku tidak punya waktu untuk duduk!”
“Kalau kau tidak duduk,” Mak Inum menjawab tanpa menoleh, “kau tidak akan pernah tahu apa yang harus kau lakukan di sana. Dan kalau kau tidak tahu, adikmu akan mati sia-sia, dan kau akan menyusulnya tanpa arti apa-apa. Duduk, Ratih. Kesabaran sepuluh menit tidak akan membunuhmu—ketergesaan mungkin akan.”
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuatku tak kuasa membantah. Aku duduk, meski tubuhku terasa seperti dawai yang ditarik terlalu kencang, siap putus kapan saja.
“Aku sudah menunggu bertahun-tahun untuk momen ini,” Mak Inum berkata pelan, menatap api kecil di tungku seolah menatap kenangan yang menari-nari di antara bara. “Sejak kematian Damar. Sejak kematian Sari, adiknya. Aku tahu suatu hari, seseorang dari keturunan Wijaya akan kembali ke kampung ini, dan hutang itu akan menuntut untuk dilunasi lagi.”
“Kenapa kau tidak memberitahuku semuanya sejak awal?” Suaraku bergetar, campuran antara marah dan putus asa. “Kenapa kau hanya datang dengan peringatan setengah-setengah, dengan pepatah-pepatah yang tidak jelas maksudnya? Kalau kau tahu ini akan terjadi, kenapa kau tidak mencegahnya?!”
Mak Inum menoleh, dan untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu retak di balik ketenangannya—sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik mata buramnya yang seperti kabut.
“Karena aku gagal, Nak,” katanya, suaranya nyaris berbisik. “Aku gagal menyelamatkan Damar dulu, ketika ia masih muda dan bodoh dan putus asa. Aku tahu ia pergi ke kolong malam itu—aku melihatnya dari kejauhan, tapi kakiku terlalu takut untuk mengejarnya. Dan ketika Sari mati, aku tahu itu harga yang harus dibayar Damar, tapi aku tidak berani mengatakan yang sebenarnya padanya, karena aku takut ia akan melakukan sesuatu yang lebih nekat lagi untuk menyelamatkan adiknya. Aku diam. Dan kediamanku itulah yang membuatku bungkuk seperti ini sekarang, Ratih—bukan hanya usia yang menekukkan tulangku, tapi rasa bersalah yang tidak pernah bisa kutebus.”
Aku menatapnya, dan amarahku perlahan meleleh menjadi sesuatu yang lebih rumit—iba, mungkin, bercampur dengan kengerian yang semakin dalam. “Lalu bagaimana caranya memutus ini, Mak? Bagaimana caranya membebaskan Wulan tanpa membuat sejarah itu terulang?”
Mak Inum menghela napas panjang, seperti mengeluarkan beban yang sudah dipendamnya puluhan tahun.
“Hutang hati hanya bisa dilunasi dengan satu cara, Ratih. Bukan dengan darah yang dipaksa, bukan dengan nyawa yang direnggut dari orang lain. Ki Ireng bisa memberi kekuatan, tapi kekuatan itu selalu meminta bayaran berupa kasih sayang tulus dari orang yang dicintai penerimanya. Itulah yang terjadi pada Damar—Sari adalah bayarannya, meski Damar tidak pernah bermaksud demikian. Tapi ada satu cara untuk memutus rantai itu selamanya.” Ia menatapku lekat-lekat, mata buramnya seolah menembus jauh ke dalam diriku. “Pengorbanan yang tulus. Bukan yang dipaksakan, bukan yang ditipu, bukan yang direnggut dengan ancaman. Seseorang yang menerima kekuatan itu, atau keturunannya yang mewarisi hutangnya, harus rela mengorbankan dirinya sendiri, dengan penuh cinta, tanpa pamrih apa pun. Hanya itu yang bisa memutuskan ikatan itu untuk selama-lamanya.”
Kata-kata itu menghantamku seperti gelombang dingin. Aku mengerti sekarang mengapa Fajar membawa Wulan, bukan aku. Ia butuh aku datang dengan sukarela, mempertaruhkan sesuatu yang kucintai, untuk membuat Ki Ireng bangkit sepenuhnya—entah dengan cara memaksaku menyerahkan kasih sayangku, atau dengan cara lain yang lebih licik dan kejam.
“Aku harus pergi sekarang,” kataku, bangkit dari bangku kayu itu.
“Aku ikut,” Mak Inum berkata, mengejutkanku.
“Mak, jalan ke sana jauh, dan—”
“Aku sudah menunggu terlalu lama untuk menebus dosaku, Ratih.” Suaranya tegas, meski tubuhnya renta. “Kali ini aku tidak akan diam saja melihat keturunan Damar menghadapi Ki Ireng sendirian.”
*
Kami berjalan menembus hutan sekunder yang lembap, mengambil jalan setapak yang nyaris tak terlihat, yang menurut Mak Inum jarang diketahui orang luar—jalan yang biasa dipakai warga kampung dulu untuk menghindari mandor tambang kolonial. Kaki Mak Inum yang bungkuk berjalan lebih lambat dari yang kuharapkan, dan aku harus menahan diri untuk tidak berlari mendahuluinya, meski setiap detik yang berlalu terasa seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tak bisa kubayangkan.
“Sabar, Nak,” katanya, seperti bisa membaca kegelisahanku. “Tergesa-gesa hanya akan membuatmu ceroboh, dan kau tidak boleh ceroboh di depan Ki Ireng.”
Udara semakin berat seiring kami mendekati kawasan kolong, seolah atmosfer di sekitar sana menolak kehadiran manusia. Pepohonan semakin jarang, digantikan oleh tanah pasir putih yang gersang, dan aku mulai mencium bau logam samar yang bercampur dengan sesuatu yang lebih busuk—bau yang mengingatkanku pada daging yang terlalu lama terendam air.
Kami tiba di sebuah area yang ditumbuhi ilalang tinggi, tempat tanah terasa lebih padat di bawah kaki, seolah pernah digali dan ditutup berulang kali. Mak Inum berhenti, wajahnya yang keriput tampak semakin muram.
“Ini dia,” katanya pelan. “Makam Tak Bernama.”
Aku menoleh, dan yang kulihat membuat napasku tercekat.
Puluhan—mungkin ratusan—gundukan tanah kecil tersebar di antara ilalang, tertata dalam barisan yang rapi seolah sengaja disusun sedemikian rupa agar terlihat teratur, namun tak satu pun dari gundukan itu memiliki nisan bernama. Beberapa hanya ditandai batu kali yang disusun asal, beberapa lainnya bahkan tidak memiliki tanda apa pun kecuali cekungan tanah yang lebih rendah dari sekitarnya. Ilalang tumbuh liar di sela-selanya, seolah alam sendiri enggan membiarkan tempat ini terlihat lebih manusiawi dari yang sebenarnya.
“Siapa—siapa mereka semua?” bisikku, suaraku nyaris tak terdengar oleh diriku sendiri.
“Mereka semua yang pernah membayar hutang hati kepada Ki Ireng,” Mak Inum menjawab, suaranya berat, penuh dengan beban puluhan tahun. “Orang-orang yang dicintai oleh mereka yang menatap kolong terlalu lama. Beberapa dari mereka meninggal karena keluarga Wijaya, karena hutang yang diwariskan Damar tanpa sempat dilunasi. Beberapa lainnya... karena keluarga lain yang juga pernah mencoba menatap air itu, tergoda oleh kekayaan atau kekuasaan yang ditawarkan Ki Ireng.”
Aku berjalan di antara gundukan-gundukan itu dengan langkah gemetar, menghitung dalam kepalaku tanpa sadar—sepuluh, dua puluh, tiga puluh—dan berhenti ketika angka itu terasa terlalu menyakitkan untuk terus dihitung. Rasa malu yang membakar wajahku bukan karena aku pernah melakukan sesuatu secara langsung, tapi karena darahku, garis keturunanku, adalah bagian dari mesin yang mengumpulkan korban-korban ini selama beberapa generasi. Keluargaku, yang kubanggakan meski dengan segala kepahitannya, ternyata adalah salah satu sumber dari penderitaan yang tertanam di tanah ini.
“Bagaimana bisa,” aku berbisik, lebih kepada diriku sendiri daripada kepada Mak Inum, “bagaimana bisa kekejaman seperti ini dibiarkan berlangsung selama itu tanpa ada yang menghentikannya?”
“Karena hutang hati bukan sekadar cerita, Ratih,” Mak Inum menjawab, berdiri di sampingku dengan mata yang berkaca-kaca. “Ia mengalir dalam darah, menular dari satu generasi ke generasi berikutnya, menunggu kesempatan untuk menuntut lagi. Damar hanya satu dari banyak orang yang tergoda oleh Ki Ireng. Fajar—Rusdi Marzuki—dan sekarang cucunya, mereka juga tergoda oleh hal yang sama, tapi dengan tujuan yang lebih gelap: bukan sekadar bertahan hidup, tapi kekuasaan mutlak.”
Aku menutup mata sejenak, membiarkan rasa sakit itu mengalir sebelum kubiarkan diriku bangkit lagi. Tidak ada waktu untuk terus tenggelam dalam rasa bersalah warisan ini. Wulan masih menungguku, entah dalam keadaan apa, di ujung jalan setapak ini.
“Ayo,” kataku, suaraku lebih tegas dari yang kurasakan. “Kita harus terus.”
*
Kantor Tambang Fajar berdiri kontras mencolok di tepi Kolong Legam—bangunan modern minimalis dengan dinding kaca dan baja, lampu sorot yang menyala terang meski hari masih siang, seolah sengaja dipasang untuk menegaskan dominasi manusia atas alam yang gelap di sekelilingnya. Alat-alat berat tersebar di sekitarnya, ekskavator raksasa dan truk-truk pengangkut yang kini tampak seperti bangkai logam yang diam, tak ada satu pun pekerja yang terlihat.
“Terlalu sepi,” bisikku pada Mak Inum, yang mengangguk dengan waspada.
“Ia sudah menyingkirkan semua orang yang tidak perlu tahu,” Mak Inum berkata. “Ini bukan urusan tambang lagi, Ratih. Ini urusan pribadi Fajar.”
Kami bersembunyi di balik salah satu ekskavator, mengintai kantor dari kejauhan. Aku bisa merasakan tanganku sendiri gemetar, entah karena dingin angin yang bertiup dari arah kolong atau karena ketakutan yang mulai merayapi setiap syaraf tubuhku. Aku menahan napas, mencoba menenangkan diri, mencoba mengingat kembali kata-kata Mak Inum—pengorbanan yang tulus, bukan yang dipaksakan.
Aku melihat sosok Fajar berdiri di tepi kolong, punggungnya menghadap ke arah kami, mengenakan kemeja putih yang rapi seperti biasa, seolah ia sedang menghadiri rapat bisnis biasa, bukan ritual kuno yang penuh darah dan pengkhianatan. Di sampingnya, terikat pada kursi kayu yang sengaja diletakkan menghadap air hitam, aku melihat Wulan—kepalanya terkulai, tubuhnya lemas tak bergerak.
Amarah yang membakar dadaku hampir membuatku lupa akan segala kehati-hatian. Aku hampir berlari keluar dari persembunyian jika saja Mak Inum tidak menahan lenganku dengan kekuatan yang mengejutkan untuk tubuh serentanya.
“Tunggu,” bisiknya. “Ia menunggumu, Ratih. Jangan biarkan amarahmu membuatmu berjalan langsung ke dalam jebakannya.”
Tapi Fajar sudah berbalik, seolah bisa merasakan kehadiran kami meski kami bersembunyi cukup jauh. Ia tersenyum—senyum yang sama yang kulihat di kantor notaris beberapa hari lalu, senyum yang kini terasa jauh lebih dingin dan mengerikan dari yang kuingat.
“Ratih,” panggilnya, suaranya menggema di area terbuka itu, seolah ia sudah lama menunggu momen ini. “Aku tahu kau akan datang. Keluar saja, tidak ada gunanya bersembunyi.”
Aku menghela napas, menatap Mak Inum yang mengangguk pelan, memberi izin tanpa kata. Aku melangkah keluar dari balik ekskavator, tubuhku tegang namun langkahku kupaksakan tetap mantap.
“Lepaskan adikku,” kataku, suaraku lebih keras dan lebih berani dari yang kurasakan di dalam.
Fajar tertawa kecil, tawa yang tak mengandung kehangatan sama sekali. “Aku akan melepaskannya. Setelah kau memberikan apa yang seharusnya diberikan keluargamu sejak dulu.”
*
Ia berjalan mendekat, langkahnya tenang di atas pasir putih yang menjadi bantalan tepi kolong. Air hitam di belakangnya tampak begitu tenang, begitu pekat, memantulkan langit mendung di atasnya namun tidak memantulkan sosok kami yang berdiri di tepiannya—seolah kolong itu hanya memilih apa yang ingin dipantulkannya.
“Kau tahu ceritanya, bukan?” Fajar berkata, berhenti beberapa meter dariku, cukup dekat untuk aku melihat kilau keperakan aneh di matanya yang kini semakin jelas, semakin sering muncul, seperti sesuatu yang mulai meluap dari dalam dirinya. “Kakekku, Rusdi Marzuki, dihancurkan oleh kakekmu. Bisnisnya, kehormatannya, hidupnya—semua direnggut oleh Damar Wijaya yang menatap kolong ini dan menerima kekuatan yang seharusnya menjadi milik kakekku. Rusdi mati di sini, Ratih, di air yang sama ini, tenggelam tanpa seorang pun yang peduli untuk menyelamatkannya. Dan aku telah menghabiskan bertahun-tahun mempelajari apa yang gagal dilakukannya—bagaimana menyelesaikan apa yang seharusnya menjadi haknya.”
“Dengan menculik adikku?” Suaraku bergetar, tapi bukan karena takut—karena murka yang mendidih di setiap kata yang kuucapkan. “Dengan mengorbankan orang yang tidak bersalah untuk dendammu?”
“Dendam?” Fajar mengulang kata itu seolah menemukan sesuatu yang menggelikan di dalamnya. “Ini bukan dendam, Ratih. Ini keadilan. Keluargamu mengambil sesuatu dari keluargaku. Sekarang saatnya keluargaku mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milik kami.” Ia melangkah lebih dekat, matanya berkilat semakin terang. “Aku sudah mempersiapkan semuanya. Wulan akan menjadi persembahan terakhir, kecuali—” ia berhenti, menatapku dengan seringai yang membuat perutku terbalik “—kecuali kau bersedia memberikan sesuatu yang lebih berharga sebagai gantinya. Kasih sayangmu padanya, Ratih. Serahkan itu kepada Ki Ireng, dan aku akan melepaskannya.”
Aku menatap Wulan yang masih tak sadarkan diri, dadanya naik turun perlahan—setidaknya ia masih bernapas. Aku merasakan air mata mulai menggenang di sudut mataku, tapi aku menahannya, memaksa diriku untuk tetap berdiri tegak.
“Bagaimana caranya,” aku bertanya, suaraku nyaris berbisik, “aku menyerahkan kasih sayangku?”
Fajar tersenyum, senyum penuh kemenangan yang membuat kilau keperakan di matanya semakin terang, seolah ia sudah menunggu pertanyaan itu. “Tatap air itu, Ratih. Lebih dari semenit. Panggil dia keluar. Dan biarkan Ki Ireng mengambil apa yang perlu diambilnya darimu.”
Air kolong di belakangnya mulai beriak, meski tidak ada angin yang cukup kuat untuk menggerakkannya. Riak-riak kecil itu menyebar dari tengah menuju tepian, seperti sesuatu di kedalaman sana mulai terjaga, mendengar percakapan kami, menunggu dengan sabar seperti yang sudah dilakukannya selama puluhan tahun.
Aku melangkah maju, namun bukan menuju Fajar—menuju tepi kolong itu sendiri.
“Ratih, jangan!” Mak Inum berteriak dari kejauhan, namun aku sudah terlalu dekat dengan kebenaran yang harus kuhadapi untuk mundur sekarang.
Aku berdiri di tepi air hitam itu, menatap permukaannya yang tenang, dan untuk pertama kalinya aku melihat pantulanku sendiri di sana—bukan wajahku yang biasa, melainkan wajah yang lebih tua, lebih lelah, dengan mata yang menyimpan kesedihan yang tidak sepenuhnya kukenali sebagai milikku sendiri.
“Kalau aku menyerahkan kasih sayangku pada Wulan,” aku bertanya pada Fajar tanpa menoleh, mataku masih terpaku pada air itu, “apa artinya bagi Ki Ireng? Apa yang sebenarnya kau inginkan darinya?”
“Kekuatan absolut,” Fajar menjawab, suaranya kini penuh gairah yang mengerikan. “Kekuasaan penuh atas semua tambang di pulau ini, atas semua orang yang pernah meremehkan keluargaku. Ki Ireng menjanjikan itu, jika aku bisa menyelesaikan apa yang gagal dilakukan kakekku—mengumpulkan pembayaran terakhir dari darah keturunan Damar Wijaya.”
Aku menutup mataku sejenak, merasakan detak jantungku yang mulai melambat, aneh, seolah tubuhku sendiri tahu bahwa ini adalah momen yang membutuhkan ketenangan, bukan ketergesaan.
“Kau salah, Fajar,” kataku akhirnya, suaraku tenang, jauh lebih tenang dari yang kubayangkan bisa kucapai dalam situasi seperti ini. “Kau pikir kau akan menyelesaikan apa yang gagal dilakukan kakekmu. Tapi kau hanya mengulanginya. Dendam yang sama, ketakutan yang sama, hasrat akan kekuasaan yang sama—kau bukan menyelesaikan kutukan ini, kau memperpanjangnya.”
“Diam kau!” Fajar membentak, untuk pertama kalinya kehilangan ketenangannya yang biasa. “Kau tidak tahu apa-apa tentang penderitaan keluargaku!”
“Aku baru saja melihat puluhan makam tanpa nama di pinggir kolong ini,” jawabku, akhirnya menoleh menatapnya langsung. “Aku tahu tentang penderitaan, Fajar. Bukan hanya penderitaanmu. Penderitaan semua orang yang pernah dikorbankan demi hutang ini—termasuk keluargaku sendiri.”
Riak di air semakin kencang, dan dari kedalamannya, aku mulai mendengar bisikan—bisikan yang familiar, yang membuat bulu kudukku berdiri karena suara itu adalah suara ibuku, suara ayahku, bahkan suara Wulan sendiri, memanggil namaku dengan nada yang penuh kerinduan.
Ratih... kembalilah... kami merindukanmu...
Aku tahu itu bukan suara mereka yang sebenarnya. Aku tahu ini adalah tipu daya, godaan yang dirancang untuk membuatku goyah, untuk membuatku menatap air itu lebih lama dari yang seharusnya tanpa kesadaran penuh atas apa yang kulakukan.
Tapi aku sudah membuat keputusanku.