Jalan tanah merah yang membelah kebun lada itu masih sama seperti dua puluh tahun lalu, hanya saja sekarang lebih banyak lubang, lebih banyak akar yang menyembul seperti tulang-tulang tua yang menolak dikubur. Aku mengemudikan mobil sewaan pelan-pelan, menghindari batu-batu yang bisa merobek ban, sementara AC berjuang melawan udara Belitung yang lengket oleh uap laut dan getah pohon. Di kaca spion, aku melihat wajahku sendiri—kantung mata yang tidak pernah benar-benar hilang meski sudah tiga cangkir kopi, rambut yang kuikat asal karena terlalu lelah untuk peduli pada penampilan.
Aku tidak pernah berencana kembali ke sini.
Rumah Panggung Wijaya berdiri di ujung jalan itu, di antara pohon-pohon jambu yang sudah tidak berbuah dan semak yang tumbuh liar menutupi separuh anak tangga. Kayu-kayunya yang dulu berwarna cokelat madu kini kelabu, dimakan waktu dan hujan, seperti kulit orang tua yang menunggu mati. Aku memarkir mobil di pekarangan yang penuh rumput setinggi lutut, mematikan mesin, dan untuk beberapa detik hanya duduk diam, menatap rumah itu lewat kaca depan yang berdebu.
Ini hanya rumah, kataku dalam hati. Sepetak tanah dan kayu lapuk yang harus segera kujual.
Wulan menelepon tiga hari lalu, suaranya bergetar menahan tangis yang coba ia sembunyikan di balik nada praktis. Utangnya sudah menumpuk sampai ke leher—pinjaman online yang bunganya berlipat setiap bulan, kartu kredit yang diam-diam ia buka atas namaku dulu, semua rahasia yang baru terbongkar setelah seorang penagih datang ke rumah kontrakannya di Bandung. Aku bisa saja marah. Aku memang marah. Tapi di ujung amarah itu selalu ada rasa bersalah yang lebih tua, yang sudah mengendap sejak kami masih kecil dan aku berjanji pada diri sendiri untuk selalu menjaganya, apa pun yang terjadi.
Satu-satunya aset yang tersisa dari keluarga kami adalah rumah ini. Warisan dari Kek Damar, yang mati sepuluh tahun lalu dan sejak itu tak seorang pun dari keluarga besar berani tinggal di dalamnya. Ayah selalu bilang rumah itu "berat", entah maksudnya berat secara harfiah karena kayu-kayunya yang tebal, atau berat dalam artian lain yang tak pernah ia jelaskan.
Aku turun dari mobil. Bau tanah basah bercampur bau daun kering menyerbu indraku, dan entah kenapa dada saya terasa sesak, seperti ada yang menahan napas untukku. Beberapa warga yang kebetulan lewat di jalan setapak menghentikan langkah, menatapku dengan tatapan yang sulit kubaca—bukan permusuhan, tapi juga bukan sambutan. Seorang perempuan tua menggendong bakul rotan bergegas mempercepat langkahnya begitu mata kami bertemu, seolah aku adalah sesuatu yang harus dihindari.
Aku mengangkat bahu. Sudah kuduga akan begini. Nama Wijaya bukan nama yang disukai di kampung ini, meski aku sendiri tidak pernah tahu persis alasannya. Ayah tak pernah mau bicara soal itu, dan aku sudah lama berhenti bertanya.
Kunci rumah masih tersimpan rapi dalam amplop cokelat yang dikirim pengacara keluarga bulan lalu, lengkap dengan sertifikat tanah dan surat-surat lain yang kubutuhkan untuk proses jual beli. Aku menaiki tangga kayu yang berderit di setiap injakan, merasakan getaran lapuk menjalar sampai ke telapak kaki. Pintu utama berukir motif bunga yang nyaris tak terlihat lagi karena cat yang mengelupas, dan kunci itu berputar dengan susah payah sebelum akhirnya terbuka dengan bunyi derit panjang yang menggema di ruang kosong di baliknya.
Debu menyambutku seperti kabut tipis yang melayang dalam cahaya sore yang menerobos celah dinding papan. Aku berdiri di ambang pintu, membiarkan mataku menyesuaikan diri dengan temaram ruang tengah yang dipenuhi perabot tua terbungkus kain putih—hantu-hantu kecil dari masa lalu yang menunggu untuk dibuka kembali.
Aku ingat ruangan ini. Aku ingat bau kayu dan minyak tanah, ingat suara Kek Damar yang dalam ketika ia bercerita di depan perapian kecil, meski aku sudah tidak ingat lagi cerita apa yang pernah ia tuturkan. Ingatan masa kecil selalu begitu—fragmen tanpa konteks, gambar tanpa suara, atau suara tanpa wajah.
Aku menggelengkan kepala, mengusir sentimentalitas yang tidak berguna itu. Aku di sini bukan untuk bernostalgia. Aku di sini untuk bekerja.
***
Membersihkan rumah tua ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang kubayangkan. Matahari sudah mulai turun ketika aku selesai menyingkirkan kain-kain penutup perabot, menumpuk barang yang mungkin masih bisa dijual di satu sudut, dan yang sudah rusak parah di sudut lain untuk dibuang. Keringat membasahi punggungku, menempel di kemeja lengan panjang yang kupakai meski cuaca panas—kebiasaan lama yang tak pernah kutinggalkan, untuk menutupi bekas luka di lengan kiri yang lebih baik tak perlu dilihat orang.
Aku berlutut di ruang tengah, menyapu debu tebal dari lantai kayu dengan sapu lidi yang kutemukan di dapur, ketika telapak tanganku merasakan sesuatu yang aneh. Salah satu papan lantai bergoyang lebih dari yang seharusnya. Aku menekannya lagi, dan papan itu berderit, terangkat sedikit di salah satu sisinya seperti gigi yang goyah.
Aku bisa saja mengabaikannya. Itu hanya rumah lapuk, dan papan longgar bukan hal aneh untuk bangunan berumur puluhan tahun. Tapi ada sesuatu dalam diriku—entah rasa penasaran seorang arsitek yang terlatih membaca struktur, atau sesuatu yang lebih purba dari itu—yang membuatku mencungkil papan itu dengan ujung sapu, lalu dengan jari-jariku sendiri ketika kayu itu akhirnya menyerah dan terangkat.
Di bawahnya ada rongga kecil, sengaja dibuat, bukan kebetulan. Dan di dalam rongga itu, terbungkus kain yang sudah menghitam oleh waktu, tersembunyi sebuah kotak timah.
Aku duduk terpaku sesaat, menatap kotak itu seperti menatap sesuatu yang tidak seharusnya kutemukan. Lalu, dengan tangan yang entah kenapa sedikit gemetar, aku mengangkatnya keluar dari rongga itu.
Kotak itu lebih berat dari yang kuduga, permukaannya dingin meski udara di sekitarnya panas. Aku membuka kaitnya yang berkarat, dan penutupnya berderit terbuka, mengungkap dua benda di dalamnya.
Yang pertama adalah sebuah jimat, terbuat dari kayu hitam yang diukir menjadi wajah manusia—atau setidaknya menyerupai wajah manusia, karena di tempat seharusnya ada mata, hanya ada permukaan kayu yang mulus, kosong, seolah wajah itu sengaja dibuat buta. Aku memungutnya, merasakan beratnya yang tidak wajar untuk ukurannya, dan sesuatu dalam diriku—naluri yang tidak bisa kujelaskan—membuatku ingin segera meletakkannya kembali.
Yang kedua adalah sebuah jurnal, sampulnya dari kulit yang sudah retak-retak, halamannya menguning dan rapuh di ujung-ujungnya. Aku membuka halaman pertama dengan hati-hati, dan di sana, dalam tulisan tangan yang kukenal meski sudah bertahun-tahun tak kulihat, tertulis nama itu.
Damar Wijaya.
Kakekku.
Aku duduk di lantai yang berdebu, memangku kotak timah itu di pahaku, dan untuk pertama kalinya sejak tiba di rumah ini, aku merasa sesuatu yang lebih dari sekadar lelah fisik—sesuatu yang menjalar dari tengkuk hingga ke ujung jari, dingin dan asing, seperti ada yang menatapku dari balik bayangan yang mulai memanjang di sudut ruangan.
***
Malam turun cepat di kampung ini, tanpa transisi lembut seperti di kota. Satu menit masih ada semburat jingga di langit, menit berikutnya kegelapan sudah menelan segalanya, hanya disela oleh suara jangkrik dan sesekali lolongan anjing kampung di kejauhan. Aku menyalakan lampu petromaks yang kutemukan di dapur—listrik di rumah ini sudah lama diputus, dan aku belum sempat mengurus penyambungannya kembali—dan duduk di ruang tengah dengan jurnal Kek Damar terbuka di pangkuanku.
Halaman-halaman awal ditulis dengan tangan yang rapi, hampir kekanak-kanakan dalam kepolosannya. Damar muda menulis tentang kehidupan sehari-hari di kampung, tentang tambang timah tempat ia bekerja sebagai buruh, tentang seorang perempuan bernama Sari yang kelak menjadi nenekku, tentang mimpi-mimpinya untuk membangun rumah yang lebih besar, untuk memberi anak-anaknya kehidupan yang lebih baik dari yang pernah ia rasakan.
Aku tersenyum kecil membaca itu, membayangkan Kek Damar muda yang penuh harapan, jauh berbeda dari sosok tua yang samar kuingat dari masa kecilku—sosok yang selalu duduk di kursi goyang dengan tatapan kosong menerawang ke arah hutan, seolah menunggu sesuatu yang tak pernah datang.
Tapi semakin jauh aku membaca, semakin berubah nada tulisan itu.
Tulisan tangannya mulai berubah—lebih kasar, lebih tergesa, seolah ditulis dalam kegelapan atau ketakutan. Kalimat-kalimatnya mulai terputus-putus, penuh coretan yang sengaja digelapkan hingga tak terbaca. Ada satu bagian di mana ia menulis tentang tambang yang runtuh, tentang teman-temannya yang hilang, tentang suara-suara yang ia dengar dari dasar kolong bekas galian yang ditinggalkan begitu saja setelah kecelakaan itu.
Aku membaca dengan alis berkerut, mencoba memahami logika di balik kata-kata yang semakin tidak koheren. Kek Damar menulis tentang rasa bersalah yang tidak pernah ia jelaskan sumbernya, tentang mimpi buruk yang berulang setiap malam, tentang sesuatu yang ia sebut hanya dengan kata ganti "itu"—tidak pernah dengan nama, seolah menyebut namanya akan memanggil kehadirannya.
Dan kemudian, di tengah halaman yang setengah robek, aku menemukan kalimat yang membuat jariku berhenti membalik halaman berikutnya.
Kolong itu memanggilku lagi malam ini. Aku menutup mata, tapi suaranya tetap ada, memanggil namaku dengan suara Sari, dengan suara ibuku, dengan suara semua orang yang kucintai. Aku tahu jika aku menjawab, aku akan kehilangan sesuatu yang tidak bisa kudapatkan kembali.
Aku menutup jurnal itu dengan gerakan yang lebih cepat dari yang kuinginkan, seolah tanganku bergerak sendiri tanpa perintah dari otakku. Jantungku berdebar lebih kencang dari yang seharusnya untuk sekadar membaca tulisan tua yang mungkin hanya hasil dari pikiran seorang lelaki yang trauma oleh kecelakaan tambang.
Hanya itu, kataku pada diriku sendiri. Trauma. Delusi. Tidak ada yang aneh di sini selain seorang lelaki tua yang pikirannya mulai kacau di masa senjanya.
Tapi aku tidak bisa mengabaikan rasa dingin yang masih menjalar di tengkukku, atau bagaimana lampu petromaks itu tampak berkedip sesaat, meski tidak ada angin yang cukup kuat untuk melakukannya.
Aku meletakkan jurnal dan jimat itu di atas meja kayu tua, memutuskan sudah cukup untuk malam ini. Besok aku harus ke kantor notaris, mengurus dokumen-dokumen yang lebih penting daripada catatan seorang lelaki tua yang sudah lama mati.
***
Tidur tidak pernah menjadi teman baikku, bahkan di malam-malam paling tenang di apartemenku di Jakarta. Insomnia sudah menjadi bagian dari diriku sejak bertahun-tahun lalu, sesuatu yang kuterima sebagai harga yang harus dibayar untuk hidup yang kupilih. Tapi malam ini, entah karena kelelahan fisik dari perjalanan dan bersih-bersih seharian, atau karena sesuatu yang lain yang tidak ingin kuakui, aku tertidur lebih cepat dari yang kuduga di kasur berdebu kamar lama yang dulu—kata Ayah—adalah kamarku sewaktu kecil.
Dan dalam tidur itu, aku bermimpi.
Aku berdiri di tepi sebuah kolong—lubang bekas galian tambang timah yang ditinggalkan menganga, dipenuhi air yang begitu hitam hingga tampak seperti tinta pekat, memantulkan langit malam tanpa bintang di permukaannya yang tenang tak beriak. Udara di sekitarnya terasa lembab dan berat, dipenuhi bau logam dan sesuatu yang lebih busuk, seperti daging yang membusuk di bawah tanah.
Aku tidak ingat bagaimana aku sampai di sana. Aku hanya tahu aku berdiri di tepinya, kakiku telanjang menyentuh tanah lempung yang dingin, dan sesuatu dalam air itu memanggilku.
Ratih.
Suara itu bukan suara asing. Suara itu terdengar seperti suara ibuku, lembut dan mengalun, memanggil namaku seperti ketika aku masih kecil dan terbangun dari mimpi buruk. Aku melangkah lebih dekat ke tepi kolong, tertarik oleh sesuatu yang tidak bisa kujelaskan, oleh rasa rindu yang mendadak menyeruak dari tempat yang sudah lama kukubur.
Permukaan air itu mulai beriak, meski tidak ada angin, meski tidak ada yang menyentuhnya. Riak-riak kecil itu membentuk pola, hampir seperti wajah—wajah tanpa mata, seperti jimat yang kutemukan di bawah lantai rumah.
Ratih, sayang. Kemarilah. Aku sudah menunggumu begitu lama.
Aku mengulurkan tangan ke arah air itu, dan tepat sebelum jariku menyentuh permukaannya yang dingin, aku terbangun.
Jantungku berdebar keras, seolah baru saja berlari sejauh berkilo-kilometer. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhku, menembus kaus yang kupakai untuk tidur. Aku duduk tegak di kasur, terengah-engah, mataku menatap kegelapan kamar yang hanya diterangi cahaya bulan yang menyelinap masuk lewat celah jendela kayu.
Hanya mimpi, aku membisikkan pada diriku sendiri, berusaha menenangkan detak jantung yang belum juga mereda. Hanya efek dari membaca jurnal itu sebelum tidur. Otakku sedang memproses cerita aneh yang baru saja kubaca, itu saja. Tidak ada yang supernatural di sini.
Tapi meski aku mengucapkan kata-kata itu berulang kali dalam hati, aku tidak sepenuhnya bisa mempercayainya. Ada sesuatu dalam mimpi itu yang terasa terlalu nyata, terlalu personal, seperti bukan sekadar produk acak dari otak yang lelah.
Aku menghabiskan sisa malam itu terjaga, menatap langit-langit kayu yang penuh sarang laba-laba, menunggu fajar dengan mata yang enggan tertutup lagi.
***
Ketika langit mulai berubah warna, dari hitam pekat menjadi abu-abu keunguan yang menandakan dini hari, aku sudah menyerah untuk mencoba tidur kembali. Aku keluar ke teras depan, membawa secangkir kopi instan yang kubuat dengan air yang kupanaskan di atas kompor gas kecil yang untungnya masih berfungsi. Udara dini hari terasa segar, dipenuhi embun dan suara burung yang mulai bangun, jauh berbeda dari kegelisahan yang masih membekas di dadaku.
Aku duduk di anak tangga teras, menyesap kopi pahit itu, mencoba meyakinkan diriku bahwa hari yang baru akan membawa rasionalitas kembali ke pikiranku. Aku akan ke notaris, menandatangani apa yang perlu ditandatangani, mencari pembeli, dan kembali ke Jakarta secepat mungkin. Tidak perlu ada drama tambahan tentang mimpi aneh atau jurnal kakek yang setengah gila.
Tapi rencana itu terganggu oleh suara langkah kaki yang mendekat dari kegelapan pekarangan.
Aku menegang, refleks bangkit berdiri, siap untuk apa pun. Tapi yang muncul dari balik semak-semak bukanlah ancaman fisik yang kutakutkan—melainkan seorang perempuan tua, bungkuk, mengenakan kain batik lusuh yang warnanya sudah pudar oleh waktu, berjalan dengan tongkat kayu yang mengetuk-ngetuk tanah di setiap langkahnya.
"Kau sudah bangun rupanya," suara itu serak, seperti sudah lama tidak dipakai, tapi tegas dalam nada yang tidak menyisakan ruang untuk basa-basi.
Aku menatapnya dengan waspada. Satu matanya buram, seperti tertutup selaput putih tipis, sementara mata yang lain menatapku tajam, seolah bisa melihat lebih dalam dari yang seharusnya.
"Maaf, siapa—"
"Mak Inum," potongnya, tanpa menunggu aku menyelesaikan pertanyaan. "Kau Ratih, kan? Cucu Damar."
Aku mengangguk pelan, meski dalam hati bertanya-tanya bagaimana perempuan asing ini bisa muncul di pekaranganku pada jam yang tidak wajar seperti ini, dan bagaimana ia begitu yakin dengan identitasku.
"Ya, tapi maaf, ini masih sangat pagi, dan saya—"
"Kau sudah buka kotak timah itu," Mak Inum memotong lagi, matanya yang tajam menatap langsung ke arahku, seolah bisa membaca sesuatu yang tersembunyi di balik wajahku. "Kau sudah baca jurnalnya."
Aku terdiam, merasakan dingin yang sama seperti semalam menjalar kembali di tengkukku. Bagaimana ia tahu? Tidak ada yang melihatku menemukan kotak itu, tidak ada yang tahu aku membuka jurnal itu di ruang tengah yang gelap semalam.
"Bagaimana Anda—"
"Tidak penting bagaimana aku tahu," Mak Inum melangkah lebih dekat, tongkatnya mengetuk anak tangga teras dengan bunyi yang terdengar terlalu keras di keheningan pagi. "Yang penting kau dengar baik-baik apa yang mau kukatakan, Nak. Jangan baca jurnal itu sendirian lagi. Dan jangan—dengar baik-baik—jangan pernah tatap air kolong mana pun lebih dari semenit. Kolong mana pun. Kau paham?"
Aku menatapnya, antara bingung dan mulai merasa kesal. Semalaman aku sudah cukup diganggu oleh mimpi aneh dan tulisan tangan seorang lelaki tua yang mungkin sudah kehilangan akal sehatnya di masa tuanya. Sekarang, di pagi buta, seorang perempuan asing muncul dan memberikan peringatan yang terdengar seperti dongeng untuk menakuti anak kecil.
"Dengar, Mak," aku mencoba bicara dengan nada yang setenang mungkin, meski kesabaranku sudah menipis. "Saya menghargai kepedulian Anda, tapi saya di sini hanya untuk menjual rumah ini. Saya tidak percaya pada—apa pun ini—takhayul kolong dan kutukan. Saya arsitek, saya orang yang percaya pada logika."
Mata Mak Inum yang tajam menyipit, dan untuk sesaat aku melihat sesuatu di sana yang bukan hanya kekesalan, tapi juga sesuatu yang lebih dalam—mungkin kesedihan, atau penyesalan yang sudah lama terpendam.
"Kakekmu juga tidak percaya, dulu," katanya pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri. "Lihat apa yang terjadi padanya."
Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, Mak Inum sudah berbalik, berjalan menjauh dengan langkah yang mengejutkan cepatnya untuk seorang perempuan setua itu, menghilang kembali ke balik semak-semak dari mana ia muncul, meninggalkanku sendirian di teras dengan kopi yang sudah mulai dingin dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab.
Aku berdiri di sana cukup lama, menatap kegelapan yang menelan sosoknya, merasakan campuran aneh antara kekesalan karena privasiku dilanggar dan rasa gelisah yang tidak bisa kujelaskan dengan logika mana pun.
***
Cahaya matahari pagi yang mulai menerobos jendela ruang tengah memberikan keberanian yang tidak kumiliki semalam. Dalam terang hari, semua ketakutan tampak lebih kecil, lebih mudah dijelaskan sebagai produk dari kelelahan dan sugesti. Aku duduk kembali di lantai kayu, jurnal Kek Damar terbuka di hadapanku, bertekad untuk membuktikan pada diriku sendiri bahwa peringatan Mak Inum semalam hanyalah omong kosong takhayul kampung yang tidak perlu kuindahkan.
Aku bukan orang yang mudah percaya pada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan secara rasional. Aku arsitek. Aku bekerja dengan angka, dengan struktur, dengan hukum fisika yang bisa diprediksi dan dihitung. Tidak ada ruang dalam duniaku untuk kolong yang memanggil atau kutukan keluarga.
Aku membalik halaman-halaman yang belum kubaca semalam, mataku menyusuri tulisan tangan Kek Damar yang semakin lama semakin sulit dibaca, seolah tangannya gemetar setiap kali menulis. Nama-nama mulai muncul berulang—nama yang tidak pernah kudengar sebelumnya, nama yang membuat bulu kudukku merinding setiap kali kubaca.
Ki Ireng.
Nama itu muncul pertama kali di halaman yang penuh coretan, ditulis dan dicoret berulang kali seolah Kek Damar sendiri ragu untuk menuliskannya. Ki Ireng datang lagi malam ini, tulisnya. Ia menawarkan apa yang kuminta, tapi harganya terlalu mahal. Aku tidak sanggup membayar dengan yang ia minta.
Beberapa halaman kemudian, nama lain muncul: Kolong Legam. Kolong Legam bukan sekadar lubang bekas tambang, tulis Kek Damar dengan tangan yang semakin tergesa. Ia adalah pintu. Dan di baliknya, Ki Ireng menunggu dengan sabar, seperti laba-laba menunggu mangsa yang terjebak dalam jaringnya sendiri.
Aku membaca kalimat itu berulang kali, mencoba mencari logika di baliknya, mencoba menemukan penjelasan rasional untuk kata-kata yang terdengar seperti dituliskan oleh seseorang yang berada di ambang kegilaan. Tapi semakin aku membaca, semakin aku merasakan dingin yang sama seperti semalam menjalar kembali—dingin yang tidak seharusnya ada di ruangan yang sudah mulai hangat oleh sinar matahari pagi.
Aku menutup jurnal itu dengan gerakan yang lebih cepat dari yang kuinginkan, jantungku berdebar lebih kencang dari yang seharusnya untuk sekadar membaca catatan lama seorang lelaki yang sudah lama mati.
Cukup, kataku pada diriku sendiri, berusaha meyakinkan bagian dari diriku yang mulai gemetar tanpa alasan yang jelas. Aku harus bersiap-siap. Aku ada janji dengan notaris siang ini.
Aku meletakkan jurnal itu kembali ke dalam kotak timah, menutupnya rapat-rapat, dan mendorongnya ke sudut ruangan yang paling jauh dari jangkauan mataku. Aku tidak akan membiarkan cerita lama seorang kakek yang mungkin sudah kehilangan akal sehatnya mengganggu urusan yang jauh lebih penting—menjual rumah ini, melunasi utang Wulan, dan kembali ke kehidupan normalku di Jakarta secepat mungkin.
Tapi bahkan ketika aku bersiap-siap, mengganti kemeja lengan panjang dan menyisir rambutku asal-asalan di depan cermin retak yang tergantung di dinding kamar, aku tidak bisa sepenuhnya mengabaikan bayangan kata-kata itu yang terus berputar di kepalaku.
Kolong Legam. Ki Ireng. Pintu.
Aku menggelengkan kepala keras-keras, seolah gerakan fisik itu bisa mengusir pikiran-pikiran yang tidak diinginkan itu keluar dari otakku. Ini hanya takhayul, ucapku dalam hati, berulang kali, seperti mantra yang kuharap bisa menjadi kebenaran jika diucapkan cukup sering.
***
Kantor notaris terletak di pusat kota kecil, sebuah bangunan sederhana dua lantai dengan cat putih yang sudah mulai menguning oleh usia, diapit oleh toko kelontong dan warung kopi yang ramai oleh obrolan warga setempat. Aku memarkir mobil di depannya, menghela napas panjang sebelum melangkah masuk, mencoba menyingkirkan sisa-sisa kegelisahan yang masih membekas dari pagi yang aneh ini.
Pak Herman, notaris yang mengurus warisan keluargaku, menyambutku dengan senyum ramah dan jabat tangan yang hangat. Ia seorang lelaki paruh baya berkacamata tebal, dengan gaya bicara yang runtut dan profesional—jenis orang yang membuatku merasa sedikit lebih tenang, sedikit lebih kembali ke dunia yang bisa kupahami dengan logika.
"Silakan duduk, Mbak Ratih," katanya, menunjuk kursi di depan mejanya yang penuh tumpukan berkas. "Kita akan bahas dokumen-dokumen yang diperlukan untuk proses penjualan rumah dan tanah warisan almarhum kakek Anda."
Aku duduk, mengeluarkan map berisi surat-surat yang kubawa dari rumah, dan kami mulai membahas detail-detail administratif yang sudah kuduga akan memakan waktu—sertifikat tanah yang perlu diperbarui, pajak yang masih tertunggak, prosedur balik nama yang berbelit-belit khas birokrasi Indonesia.
Kami sudah berbicara selama hampir empat puluh menit ketika pintu ruangan Pak Herman terbuka tanpa ketukan, dan seorang lelaki muda melangkah masuk dengan percaya diri yang hampir terasa berlebihan.
Ia mengenakan kemeja putih yang disetrika rapi, dipadu dengan celana bahan berwarna gelap dan sepatu kulit yang mengilap—gaya yang terlalu necis untuk kota kecil seperti ini, seperti seseorang yang baru saja melangkah keluar dari ruang rapat perusahaan besar di Jakarta. Rambutnya disisir rapi ke belakang, dan senyumnya begitu terlatih hingga terasa seperti topeng yang dipasang dengan sempurna.
"Maaf mengganggu, Pak Herman," katanya, suaranya dalam dan terkontrol, "tapi saya dengar ada urusan penting yang sedang dibahas di sini."
Pak Herman tampak sedikit terkejut, tapi cepat memasang senyum yang lebih formal. "Pak Fajar. Kebetulan sekali. Ini Mbak Ratih Anggraini, cucu dari almarhum Pak Damar Wijaya."
Lelaki yang dipanggil Fajar itu mengalihkan pandangannya ke arahku, dan untuk sesaat, tatapannya menahan diriku di tempat—bukan karena ketampanannya yang memang tidak bisa disangkal, tapi karena sesuatu dalam caranya menatap yang terasa terlalu intens, terlalu mengukur, seperti seorang pedagang yang sedang menaksir harga barang yang ingin ia beli.
"Fajar Rusdianto," katanya, mengulurkan tangan yang kusambut dengan enggan. "Saya dengar Anda berencana menjual rumah warisan keluarga Anda."
"Berita cepat sekali beredar di sini," jawabku, mencoba menjaga nada suara tetap netral meski kewaspadaan mulai merayap di dadaku.
Fajar tersenyum, senyum yang terlatih sempurna hingga terasa sedikit tidak natural. "Kota kecil, Mbak Ratih. Semua orang tahu urusan semua orang." Ia duduk di kursi kosong di sebelahku tanpa diminta, seolah pertemuan ini adalah sesuatu yang sudah direncanakan sejak awal. "Saya kebetulan tertarik dengan properti keluarga Anda. Saya siap menawarkan harga yang jauh di atas nilai pasar."
Aku mengerutkan kening, mencoba memahami logika di balik tawaran yang tiba-tiba dan tidak wajar itu. "Maaf, Pak Fajar, tapi saya belum bahkan memasang rumah itu untuk dijual secara terbuka. Bagaimana Anda tahu—"
"Saya punya cara untuk mengetahui hal-hal yang saya minati, Mbak Ratih," potongnya, senyumnya masih terpasang tapi ada sesuatu di baliknya yang membuat bulu kudukku merinding. "Tanah keluarga Anda memiliki nilai historis yang... menarik bagi bisnis saya. Saya bergerak di bidang tambang timah, dan lokasi properti Anda cukup strategis untuk rencana ekspansi kami."
Aku menatapnya, mencoba membaca kejujuran di balik kata-katanya, tapi semua yang kulihat hanyalah permukaan yang licin dan terkontrol, tanpa celah yang bisa kutembus. "Berapa harga yang Anda tawarkan?"
Fajar menyebutkan angka yang membuatku terdiam sejenak—jumlah yang jauh, sangat jauh di atas harga pasar untuk sebidang tanah dengan rumah lapuk di kampung terpencil seperti ini. Cukup untuk melunasi seluruh utang Wulan dan masih menyisakan jumlah yang signifikan.
Ini seharusnya menjadi kabar baik. Ini seharusnya membuatku lega, membuatku ingin segera menandatangani apa pun yang perlu ditandatangani dan pulang ke Jakarta dengan masalah yang terselesaikan.
Tapi entah kenapa, semakin lama aku menatap wajah Fajar yang tersenyum ramah itu, semakin dalam rasa tidak nyaman yang menjalar di dadaku—rasa yang sama seperti ketika aku menatap jimat berwajah tanpa mata itu, atau ketika aku membaca kalimat tentang kolong yang memanggil dalam jurnal Kek Damar.
"Saya butuh waktu untuk mempertimbangkan," kataku akhirnya, memilih kata-kata dengan hati-hati. "Ini keputusan besar, dan saya tidak terbiasa terburu-buru dalam hal seperti ini."
Senyum Fajar tidak goyah, tapi ada sesuatu dalam matanya yang berkilat sejenak—sebuah gerakan cepat cahaya yang jatuh tepat di iris matanya melalui jendela kaca di belakangnya, memantulkan warna yang bukan cokelat gelap seperti yang seharusnya, melainkan sesuatu yang lebih terang, lebih dingin—warna keperakan yang aneh, hampir seperti logam cair, yang menghilang secepat kemunculannya begitu ia menggeser posisi duduknya.
Aku berkedip, meyakinkan diriku bahwa itu hanya trik cahaya, permainan sudut dan refleksi yang wajar. Tapi kegelisahan yang muncul di dadaku tidak sepenuhnya bisa kujelaskan dengan logika sesederhana itu.
"Tentu saja," kata Fajar, suaranya tetap tenang, terkontrol sempurna. "Ambil waktu Anda, Mbak Ratih. Tapi saya harap Anda mempertimbangkan tawaran saya dengan serius. Properti seperti itu—" ia berhenti sejenak, seolah memilih kata-katanya dengan hati-hati, "—memiliki nilai yang mungkin tidak sepenuhnya Anda sadari."
Kata-kata itu menggantung di udara, penuh implikasi yang tidak sepenuhnya bisa kupahami, tapi cukup untuk membuat firasat burukku semakin menguat.
Pertemuan itu berakhir dengan pertukaran kartu nama dan janji untuk menghubungi kembali dalam beberapa hari, tapi ketika aku akhirnya keluar dari kantor notaris dan berjalan menuju mobilku di bawah terik matahari siang, aku tidak bisa mengusir bayangan kilatan keperakan di mata Fajar Rusdianto, atau nada aneh dalam suaranya ketika ia menyebut nilai yang mungkin tidak sepenuhnya kusadari.
Aku menyalakan mesin mobil, tanganku sedikit gemetar di atas kemudi, dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Belitung, aku mulai bertanya-tanya apakah keputusanku untuk mengabaikan peringatan Mak Inum semalam adalah keputusan yang bijaksana.
Tapi aku Ratih Anggraini. Aku tidak percaya pada takhayul. Aku tidak percaya pada kutukan atau kolong yang memanggil atau lelaki dengan mata yang berkilat aneh di bawah cahaya tertentu.
Aku hanya perlu menjual rumah itu, menyelesaikan urusanku, dan pulang.
Itu yang terus kuulangi dalam hati sepanjang perjalanan kembali ke Rumah Panggung Wijaya, meski jauh di lubuk hati yang paling dalam, sebuah suara kecil—suara yang terdengar aneh mirip dengan suara dalam mimpiku semalam—berbisik bahwa semuanya tidak akan sesederhana itu.