Terowongan penyeberangan Senen tidak pernah benar-benar gelap—lampu neon bergantian mati hidup seperti jantung orang sakit, tapi cahayanya cukup untuk Nurlela menemukan bentuk kecil di ujung lorong yang selalu menunggu dengan lampu badai di tangannya. Tiga minggu. Dua puluh satu hari. Setiap sore ia turun dari angkot yang sama, berjalan kaki empat ratus meter melewati bau air comberan dan parfum murah, dan setiap sore lampu kecil itu menyala—kecuali pada hari-hari tertentu.
Hari Senin. Hari Kamis. Hari Sabtu.
Nurlela sudah menghafal pola itu sama seperti ia menghafal berat setiap kantong beras di pasar dulu: angkat, rasakan, tarik breath, catat. Tapi kini yang ditimbang bukan beras. Di titik tergelap tepat di bawah tiang ketiga—di mana bayangan pagar beton paling tebal—ia memeluk adiknya dari belakang, hidung menempel ke kulit leher yang basah keringat, dan menunggu puncaknya.
"Takut itu berat, Dek. Mesti ada yang mengangkat."
Bisikan itu sudah jadi mantra. Damar tidak menolak. Ia tidak pernah menolak. Badannya kaku sejenak, lalu mengendur seperti kain dibasahi air, dan aroma gula hangus melonjak tajam ke telapak tangan Nurlela—berat, manis, memuaskan. Tiga detik. Lima detik. Cukup untuk membuat kepala jernih, tangan berhenti gemetar, dunia kembali punya bau: kayu terbakar, minyak goreng, kapur barus, dan sesuatu yang mirip keamanan.
Cicilan pertama lunas. Pak Broto pergi dengan map plastiknya dan senyum tipis yang tidak sampai ke matanya. "Ongkos kesabaran" berikutnya jatuh tempo Jumat depan. Nurlela sudah menyiapkan uangnya—dari memijat anak tetangga yang tak bisa tidur, menemani ibu sakit di ruang gelap, dijuluki "tangan adem" oleh perempuan-perempuan yang mengira kebaikan itu gratis.
Mulia. Itu kata yang ia pilih. Bukan kerakusan. Bukan pencurian.
Tapi malam ini, saat ia menggosok piring di dapur teras dan Damar sudah tidur di kamar sebelah, Nurlela berhenti sejenak. Jari kanannya—yang selalu tertutup lengan panjang meski panas—terasa gatal di bagian punggung tangan. Bintik-bintik bekas luka bakar. Ia tidak ingat kapan ia mendapatkannya. Kebakaran Blok Hangus? Ibu menumbuk cabai? Atau malam Damar terkunci di gudang los timbangan, pintu dikunci dari luar, dan siapa yang memegang kunci?
Versi cerita di kepalanya bergeser lagi. Dulu ia ingat ibu menyeretnya keluar. Lalu ia ingat ibu menolak keluar dan ia yang menarik lengan ibu. Sekarang... sekarang hanya ada api. Dan bau gosong. Dan tangan kanannya yang berbintik tanpa alasan.
"Neng Le, kopinya mau manis atau pahit?"
Wulan tidak menunggu jawab. Dia sudah menuangkan kopi hitam ke gelas kaca tebal, jari-jari celemeknya cekung because of years lifting timbangan. Warung kopi los timbangan ini berbau kunyit dan asap—bau yang Nurlela sukai karena menghalau aroma lain.
"Manis. Seperti dulu."
"Dulu kau minum pahit. Bilang pahit itu jujur, manis itu menutupi rasa asli." Wulan menaruh gelas di meja kayu goresan. "Sembilan tahun lalu, pintu gudang itu dikunci dari luar. Kunci ada di tangan siapa, Le? Kau tahu. Aku tahu. Damar... Damar mulai tahu."
Nurlela tertawa. Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya—terlalu tinggi, terlalu cepat. "Wulan Neng, jaman now ngomongin masa lalu? Gudang sudah roboh. Timbangan sudah rusak. Damar sudah besar. Aku..." Ia menghentikan gelas di tengah jalan ke mulut. "Aku cuma mau bayar cicilan. Cuma mau Damar tidur nyenyak."
"Damar tidur nyenyak karena kakaknya makan ketakutannya setiap Senin, Kamis, Sabtu." Wulan menepuk meja. "Dan setiap kali kau makan, satu kenangan hilang. Sekarang kau lupa luka tanganmu. Besok kau lupa nama ibu. Lusa kau lupa kenapa kau mulai menimbang."
"Cukup."
Kata itu keluar lebih keras dari yang ia rencanakan. Beberapa kepala menoleh. Di sudut warung, di balik tiang kayu yang catnya mengelupas, sepasang mata mengamati. Kurus. Tinggi. Pergelangan tangan menonjol. Lampu badai kecil di tangan kanan—nyala.
Nurlela tidak berpaling. Ia minum kopinya sampai habis, rasa pahit menyebar di lidah, dan pertama kalinya dalam tiga minggu ia tidak merasa waras.
***
Blok Hangus pada siang hari sunyi berbeda dengan malam. Rumput liar menembus sela-sela keramik pecah, tiang-tiang arang berdiri seperti monumen kegagalan, dan bau abu tetap menempel di hidung Nurlela meski penciumannya sudah mati lima tahun. Ia datang ke sini setiap kali butuh membenarkan diri—tempat satu-satunya di mana hidung mati itu seolah bekerja lagi, menangkap jejak-jejak takut yang tertinggal di batu-batu.
Hari ini ia tidak sendirian.
Anak perempuan duduk di atas kerak timbangan yang roboh, kaki bergoyang-goyang tak sampai ke tanah. Dua belas tahun, maybe. Kecil untuk usianya. Bibir agak kebiruan. Jari-jarinya bergerak ritmis ke dada—hitung napas. Satu, dua, tiga. Tarik. Satu, dua, tiga. Tarik.
Nurlela berhenti. Hidungnya—yang tidak bisa mencium apa pun selain ketakutan—mencium sesuatu. Bukan gula hangus. Bukan logam basah. Bau obat. Kapur barus dicampur something chemical, tajam, menyentak ke lubang hidung.
"Orang dewasa juga punya yang di kolong?"
Suara kecil. Polos. Menusuk.
Nurlela menoleh. Anak itu tidak menatapnya. Matanya menatap lorong gelap di antara dua kios roboh—kolong tempatnya sendiri.
"Yang di kolong?"
"Tempat ketakutan tinggal. Kakak Damar bilang begitu." Anak itu melanjutkan menghitung napas. "Kakak Damar bilang ketakutan itu punya nama. Yang di kolong. Yang di lorong. Yang di atas atap. Supaya bisa diajak berunding."
Jari Nurlela yang sudah tergerak ke punggung tangan kanan—untuk menutupi bintik-bintik yang tak diingat asalnya—berhenti di tengah udara. Ia merasakan sesuatu yang asing. Bukan lapar. Bukan rasa waras yang mengenyangkan. Sesuatu yang mirip... malu.
"Kamu siapa?"
"Mira. Anak Pak Broto." Anak itu—Mira—terus menghitung. "Ayah bilang kau orang baik. Ayah bilang kau bayar cicilan tepat waktu. Tapi ayah juga bilang... kau mencium sesuatu yang lain."
Angin bertiup, menggoikan rumput. Di kejauhan, suara pedal bell berdering. Nurlela menarik napas—menghela napas, mengoreksi sendiri—dan merasakan timbangan di tangannya. Timbangan yang tidak ada. Batu-batu anak timbangan yang tidak ada. Tapi ritualnya tetap berjalan: angkat, rasakan, tarik breath, catat.
Mira tidak bau takut. Mira bau obat. Mira bau paru-paru yang berjuang. Mira bau anak yang sudah terlalu dewasa untuk usianya.
Dan untuk pertama kali dalam tiga minggu—atau mungkin lima tahun—Nurlela menarik tangannya. Tidak menyentuh. Tidak memanen. Tidak menimbang.
"Ibu... ibu tidak punya yang di kolong, Nak," kata Nurlela, suaranya serak. "Ibu punya timbangan. Dan batu-batu. Dan utang yang harus dilunasi."
Mira berhenti menghitung. Ia menoleh, mata hitam pekat menatap wajah Nurlela. "Lalu kenapa kakak gemetar?"
Nurlela melihat ke tangannya. Tidak gemetar. Tidak bergetar. Tapi jari-jarinya mengapit udara kosong—seolah masih memegang sesuatu yang sudah tidak ada.
"Kakak tidak gemetar," kata Nurlela. "Kakak... menimbang."
"Menimbang apa?"
"Menimbang apakah layak makan hari ini."
Sebelum Mira bisa menjawab, bayangan baru muncul dari lorong kios. Kemeja batik rapi. Sandal kulit tipis. Map plastik. Bau obat lebih kuat sekarang—bau yang keluar dari kantong kemeja kanan, di mana resep dokter bersaudara dengan buku utang.
"Maaf, Neng Le. Maaf, Nak. Maaf, Bu... maaf, Mbak Wulan tidak di sini ya. Maaf, saya terlambat lima menit. Maaf—"
"Pak Broto." Nurlela memotong deretan maaf itu. "Cukup lima kali. Angka mana yang mau dibicarakan?"
Pak Broto tersenyum—senyum yang tidak sampai ke mata, seperti yang ia lihat di cermin setiap pagi. Ia membuka buku utang, membalik ke halaman belakang. Kertas tipis, garis-garis biru, angka rapi, dan di tengah: daftar cicilan terapi paru. Nama: Mira Sumitro. Obat: cortikosteroid, bronkodilator, antibiotik. Biaya: tiga juta per bulan. Jatuh tempo: setiap tanggal lima.
"Setoran ke Bang Ali jatuh tempo Jumat depan," kata Pak Broto, jari menelusuri angka-angka. "Kalo meleset... orang-orang Ali yang datang, bukan saya. Saya cuma perantara. Saya cuma... orang yang menolong duluan waktu tidak ada yang mau menolong."
"Saya bayar."
"Saya tahu. Saya lihat cicilan pertama lunas. Tapi..." Pak Broto menutup buku, perlahan, seolah menutup kubur. "Kenapa adik perempuan... bukan, adik laki-laki Neng Le, makin tumpul setiap kali Neng Le bayar?"
Pertanyaan itu tidak berbau ancaman. Itu berbau observasi. Berbau ayah yang menghitung napas anaknya setiap malam. Berbau orang yang sudah terlalu lama melihat kerusakan dari dekat.
Nurlela merasakan aroma logam basah—takut samar, takut Pak Broto. Tapi di bawah itu, lebih dalam, ada gula hangus. Takutnya sendiri.
"Damar... Damar sedang belajar mandiri," kata Nurlela, mendengar suaranya sendiri menjauh. "Dia sudah besar. Harus belajar tidur tanpa lampu. Harus—"
"Lampunya padam karena minyaknya tidak diisi." Suara Pak Broto datar. "Atau karena sengaja dibiarkan habis. Pada hari Senin. Kamis. Sabtu. Hari-hari Neng Le butuh uang tambahan."
Mira tarik napas. Satu, dua, tiga. Tarik. "Ayah, jangan."
"Diam, Mira. Ini urusan dewata." Pak Broto tidak menoleh ke anaknya. Matanya tetap pada Nurlela. "Neng Le. Rumah ini jaminan. Utang Nek Ratmi. Cicilan obat Mira. Saya butuh uang. Neng Le butuh uang. Kita sama-sama menjual sesuatu yang tidak seharusnya dijual. Bedanya... saya jujur soal barang dagangan saya. Neng Le..."
"Ibu menjual ketenangan," kata Nurlela. "Ibu menjual waras. Itu mulia."
"Mulia itu mahal, Neng Le. Dan biasanya... yang bayar bukan penjualnya."
Pak Broto pergi dengan map plastiknya, Mira mengikutinya dengan langkah kecil yang tergesa-gesa. Sebelum lenyap ke lorong, Mira menoleh sekali lagi. Tidak takut. Tidak cemas. Hanya... sadar.
"Kakak Damar bilang," bisik Mira, hampir tidak kedengarangan di atas suara angin, "kalau orang yang kita sayang jadi tumpul, berarti kita terlalu banyak mengambil. Bukan memberinya."
Lalu mereka hilang. Hanya Nurlela tersisa di antara tiang-tiang arang, dengan timbangan imajiner di tangannya, dan batu-batu anak timbangan yang beratnya berubah-ubah setiap kali ia memutuskan untuk menimbang siapa.
***
Malam Jumat. Hujan turun deras, membanting atap seng rumah petak Gang Kelinci. Listrik tidak padam—kali ini PLN berbelas kasih—tapi lampu badai di samping tempat tidur Damar padam. Minyak habis. Seperti yang sudah dihitung.
Nurlela duduk di teras, timbangan kuningan ibu di hadapannya. Piring kanan melengkung kena api, piring kiri masih utuh. Batu-batu anak timbangan tersusun rapi: sepuluh gram, dua puluh gram, lima puluh gram, seratus gram. Ia menimbang... apa? Udara? Kenangan? Rasa bersalah yang ia sebut waras?
"Kakak."
Suara dari ambang pintu. Damar berdiri di sana, lampu badai padam di tangan kanan, kemeja tidur basah hujan. Rambutnya acak. Mata berkedip cepat—tanda gugup yang tidak pernah hilang meski ia sudah belajar menamai ketakutannya.
"Kakak, aku sudah menghitung." Damar berjalan perlahan, kaki tanap di lantai beton yang basah. "Lampu selalu padam pada malam yang tepat. Senin. Kamis. Sabtu. Hari-hari kakak bayar cicilan tambahan."
Nurlela tidak menoleh. Jari-jarinya menyentuh batu lima puluh gram. Dingin. Berat. Nyata.
"Damar, pulang ke tempat tidur. Hujan deras. Kau sakit."
"Aku tidak sakit. Kakak yang sakit." Damar berhenti di samping Nurlela, menatap timbangan. "Kakak gemetar. Kakak lupa luka tangan kakak. Kakak lupa wajah ibu. Kakak... kakak makan ketakutanku."
"Siapa bilang?"
"Wulan Neng. Di warung kopi. Aku dengar dari balik tiang." Suara Damar tidak bergeming. Tetap sopan. Formal. Seperti anak yang banyak membaca. "Dan Mira. Di Blok Hangus. Dia bilang... orang yang kita sayang jadi tumpul kalau kita terlalu banyak mengambil."
Nurlela merasakan sesuatu pecah di dalam dada. Bukan hati—ia sudah lama tidak percaya punya hati. Mungkin itu rasa waras yang mulai hilang. Mungkin itu lapar yang kembali.
"Aku..." Nurlela menarik napas. Menghela napas. "Aku melakukan ini untuk rumah ini. Untuk cicilan. Untuk obat Mira. Untuk... untuk kau bisa tidur nyenyak. Takut itu berat, Dek. Mesti ada yang mengangkat. Aku mengangkat. Setiap Senin. Kamis. Sabtu."
"Kakak mengangkat... atau kakak yang membuatnya berat?"
Pertanyaan itu menembus seperti jarum timbangan menembus kain sack. Nurlela menoleh. Wajah Damar terang dari cahaya bohlam kuning di dalam kamar—cahaya yang bocor dari celah pintu. Pipinya basah. Hujan? Air mata? Nurlela tidak bisa membedakan. Hidungnya buta pada dirinya sendiri.
"Keduanya," kata Nurlela, dan kaget mendengar kejujuran sendiri. "Keduanya, Damar. Aku membuatnya berat dengan... dengan tidak mengisi minyak. Dengan menunggu puncaknya. Dengan... dengan menikmati rasanya."
"Kenapa?"
"Karena itu satu-satunya cara aku merasa waras. Karena sejak kebakaran, dunia tidak punya bau lagi. Karena aku takut... takut kalau aku berhenti, aku akan jadi seperti ibu. Gagal. Meninggalkan kau sendirian di gelap."
Damar diam sejenak. Ia mengulurkan tangan kecil—kurus, pergelangan tangan menonjol—dan menaruhnya di atas tangan Nurlela yang menutupi batu seratus gram.
"Kakak tidak gagal. Kakak... kelaparan. Beda."
"Beda di mana?"
"Yang lapar bisa diisi. Yang gagal... sudah selesai." Damar menarik napas. Satu, dua, tiga. Tarik—meniru cara Mira. "Kakak. Satu kali lagi. Untuk rumah ini. Untuk cicilan Jumat depan. Terus... selesai. Tidak ada Senin-Kamis-Sabtu lagi. Tidak ada minyak yang 'kehabisan'. Tidak ada timbangan."
Nurlela menatap adiknya. Anak yang seharusnya dilindungi. Anak yang sekarang melindungi dia. Anak yang busurnya di Story Bible tertulis: menjadi anak yang menyadari kakaknyalah yang mengambilnya—dan memilih tetap tinggal, dengan syarat: lampu menyala dan pintu tidak dikunci.
"Syaratmu?"
"Lampu menyala. Selalu. Minyak diisi setiap sore. Oleh kakak." Damar menunjuk ke lampu badai padam. "Dan pintu tidak dikunci. Kamar mana pun. Gudang mana pun. Kakak pegang kunci? Kakak buka. Selalu."
"Dan kalau aku melanggar?"
"Maka aku akan menimbang kakak balik." Damar tersenyum—senyum tipis, tapi matanya tidak tertawa. "Dengan timbangan ibu. Batu seratus gram. Dua ratus gram. Sampai kakak ingat kembali... kenapa punggung tangan kakak berbintik bakar."
Nurlela merasakan air mata mengalir. Tidak dibersihkan. Tidak disembunyikan. Ia menangis dengan suara—pelan, seperti suara timbangan yang berayun mencari keseimbangan.
"Baik," kata Nurlela. "Satu kali besar. Jumat depan. Untuk rumah ini. Lalu selesai. Aku bersumpah."
"Kakak sudah bersumpah dua kali. Babak pertama: sekali ini terakhir. Babak kedua: ini tanggung jawab. Sekarang babak ketiga?"
"Babak ketiga... babak terakhir. Yang paling mulia. Yang paling berbahaya."
"Kenapa berbahaya?"
"Karena kali ini... aku tidak boleh berbohong pada diriku sendiri."
Damar mengangguk. Ia mengambil lampu badai padam, berbalik ke kamar, lalu berhenti di ambang pintu.
"Kakak. Besok pagi... isi minyak. Sebelum pulang sekolah. Aku akan cek."
Lalu ia pergi. Pintu tidak dikunci. Cahaya bohlam kuning menyembur ke teras, menerangi timbangan kuningan, batu-batu anak timbangan, dan tangan kanan Nurlela yang kini terbuka—lengan panjang tergulung ke siku, memperlihatkan bintik-bintik bekas luka bakar yang ia tidak ingat asalnya, tapi yang Damar ingat. Yang Wulan ingat. Yang Mira... mungkin akan ingat nanti.
Nurlela menaruh batu seratus gram ke piring kiri. Piring kanan kosong. Timbangan condong. Tidak seimbang.
Belum.
Tapi akan seimbang. Jumat depan. Satu kali lagi. Terus selesai.
Ia bersumpah pada gelap. Bersumpah pada api yang tidak ada. Bersumpah pada ibu yang tidak di sini untuk menimbang bersamanya.
Kali ini, sumpahnya terasa berbeda. Lebih berat. Lebih nyata.
Seperti timbangan yang akhirnya menemukan berat yang benar.