Jumat malam tidak punya bau sendiri — ia hanya menumpang bau hari-hari sebelumnya yang belum sempat dibuang: minyak goreng, debu kapur barus, dan sesuatu yang lebih tajam, seperti logam dibiarkan di bawah hujan. Nurlela mengencangkan ikat pinggang kain pada pinggang Damar, tangan kecilnya bergerak cepat meski jari-jarinya sedikit gemetar di ujung.
"Karung beras Nek Ratmi," katanya, nada datar seperti menyebut daftar belanja. "Titipan di los timbangan. Kalau kita ambil sekarang, pagi ini Nek tidak usah repot antar."
Damar menunduk, lampu badai kecil di tangannya gelap. "Minyaknya habis, Mbak."
"Kebetulan," Nurlela menjawab terlalu cepat. "Kita lewat los timbangan duluan. Beli minyak di warung Pak Haji sebelahnya. Dua keperluan sekaligus."
Anak itu tidak bertanya kenapa ibu tidak ikut turun. Tidak bertanya kenapa kunci gudang ada di saku kemeja Nurlela, bukan di gantungan kunci di dapur. Sembilan tahun menemaninya di gelap telah mengajarkan Damar bahwa pertanyaan hanya membuat beban kakaknya lebih berat — dan beban kakak adalah satu-satunya hal yang ia takutkan.
Los timbangan Sepen diam di ujung lorong pasar, pintu besinya berkarat di pangkal, tiang neon di atasnya mati sejak bulan lalu. Hanya cahaya remang dari toko kelontong sebelah yang menembus celah. Gudang tanpa jendela. Pintu yang hanya bisa dibuka dari luar. Nurlela menghitung langkahnya ke tangga beton, enam anak tangga, lalu pijakan kayu yang sudah lapuk — persis seperti yang ia hitung puluhan kali di kepala selama tiga minggu ini.
"Masuk, Dek. Aku tunggu di sini."
Damar menuruni tangga dengan gerak lambat, kaki menembus kegelapan sebelum tubuhnya. Suara langkahnya hilang di tengah deru angin yang melewati atap seng. Nurlela menunggu sampai suara itu benar-benar padam, lalu menarik kunci dari saku. Logam dingin di telapak tangannya. Ia mengunci pintu dari luar — klak — bunyi itu nyaring di telinga sendiri, tapi tidak ada yang menjawab dari dalam.
Aroma naik seketika.
Gula hangus. Tebal. Menempel di bagian dalam hidung seperti asap, turun ke tenggorokan, membuat perut keronik walau ia baru makan nasi hangat dan sambal terasi di warung Wulan sore tadi. Lutut Nurlela lemas. Ia merapatkan punggung ke dinding besi dingin, menahan napas — bukan menarik napas dalam, hanya menahan — sambil menunggu puncak. Panen menuntut sentuhan tepat saat rasa takut memuncak. Itu aturan. Itu harga.
Di dalam gelap total, Damar tidak menjerit.
Tidak ada suara kaki mengayun, tidak ada tubuh yang menggelepar menumbal dinding. Hanya suara krek korek gas dipijak — sekali, dua kali, tiga kali — lalu api kecil meledak, menggores kegelapan dengan lingkaran kuning yang getir.
Damar berdiri di tengah gudang, tangan kanan mengangkat korek setinggi dada, wajahnya terang dalam lingkaran api itu. Matanya tidak terbelalak. Tidak basah. Hanya menatap ke arah Nurlela — menembus celah ventilasi kayu di atas pintu, menembus jarak tiga meter, menembus kebohongan yang telah Nurlela bangun selama tiga minggu.
"Aku takut, Mbak."
Suaranya bergetar, tapi tidak patah.
"Aku tahu kamu di sini. Yang di kolong itu kamu."
Kata-kata itujatuh seperti batu ke dalam air tenang — tapi airnya tidak bergolak. Aroma gula hangus padam seketika. Hilang. Seolah tidak pernah ada. Nurlela merasa tangan kanannya — tangan yang sudah siap memeluk, menenangkan, memanen — menganggur di udara. Perutnya keroncongan lagi, tapi kali ini bukan lapar. Kosong. Seperti seseorang yang baru sadar ia tidak makan sejak berminggu-minggu, dan tubuhnya mulai memakan dirinya sendiri.
Ia tidak bisa mengingat bau masakan ibunya.
Bukan cabai ditumbuk. Bukan daun salam digoreng. Bukan nasi hangat di nampan bambu yang dibawa ke tempat tidur saat sakit. Semua hilang. Kenangan terakhir ibu — yang masih tersisa setelah puluhan panen, setelah puluhan sumpah 'sekali ini terakhir' — terbawa pergi bersama aroma yang padam tadi. Hanya tersisa rasa dingin di ujung jari, dan timbangan kuningan di rumah yang tiba-tiba terasa berat di ingatan, meski ia tidak membawa pulang.
Pintu gudang terbuka dari luar.
Cahaya remang memotong kegelapan, dan di ambang pintu berdiri dua sosok. Nek Ratmi dengan kardigan rajutnya yang lusuh, tangan kanan menepuk tongkat bambu ke lantai beton dengan suara tok yang berulang. Di sampingnya Wulan, celemek kotor kunyit tergantung di pinggang, tangan menyilang di dada.
"Aku yang nambahin bunganya," kata Nek Ratmi, suara serak tapi tidak goyah. "Aku yang suruh Broto diam. Aku yang catet utang di buku hitam, bukan dia."
Nurlela tidak bergerak. Tidak bisa. Tangan kanannya masih terangkat setengah, seperti berdoa kepada tidak ada.
"Aku takut mati sebelum melunasi dosa ini," lanjut neneknya, mata tua menatap Damar yang keluar dari gudang, gemetar tapi berdiri tegak di samping kakaknya. "Tapi aku lebih takut cucuku jadi bayaran utang yang tidak ia buat."
Wulan tidak bicara. Hanya mendekat, menutupi bahu Nurlela dan Damar dengan tangan kiri dan kanan — tangan yang biasa menimbang beras, mengaduk kopi, membanting piring ke meja saat marah. Jari-jarinya kasar, hangat, berbau kunyit dan kopi. Nurlela merasa air mata keluar tanpa izin, mengalir ke pipi yang kering.
"Bodoh," bisik Wulan, cukup keras agar keduanya dengar. "Kalian berdua bodoh sama sekali."
Orang-orang Bang Ali tiba sebelum subuh.
Tiga pria berkemeja polos, celana jeans, tatapan datar dan tangan yang selalu di saku celana. Mereka tidak membawa senjata — tidak perlu. Reputasi Bang Ali sudah jadi senjata tersendiri, tajam dari segala pisau. Salah satunya, yang paling tinggi, mengacungkan kertas ke arah Nurlela.
"Cicilan Jumat. Total lima puluh juta. Rumah ini sudah kita ambil kalau hari ini tidak lunas."
Nurlela ingin mundur. Ingin menarik Damar ke belakang. Ingin berkata ini tidak adil, ini tidak — tapi suara tidak keluar. Tenggorokannya kering. Hidungnya tidak mencium apa pun pada ketiga pria itu. Tidak logam basah. Tidak gula hangus. Hanya kosong. Seperti hidungnya benar-benar mati kali ini.
Pak Broto datang dari arah lain.
Kemeja batiknya kusut di pinggang, map plastik di tangan kiri, sepatu sandal kulitnya bermacam lumpur. Ia tidak berlari. Tidak tergesa-gesa. Hanya berjalan dengan langkah teratur, berhenti tepat di antara Nurlela dan orang-orang Bang Ali, map plastik dibuka dengan gerak lambat.
"Ini daftar cicilan terapi paru Mira," katanya, suara tenang meski dada terlihat naik turun cepat. "Dua puluh lima juta per bulan. Rumah ini jaminan utang Nek Ratmi. Kalau Anda ambil rumah ini, Mira mati."
Orang Bang Ali yang paling tinggi tersenyum — bukan tersenyum tipis, tapi tawa pendek, suara kasar yang menggema di lorong.
"Urusan Anda dengan Bang Ali, Pak Broto. Kami hanya menagih."
"Mira anak saya," Broto menjawab, tidak mundur seinci. "Utang ini juga utang saya. Saya yang bayar. Minggu depan, di kantor Bang Ali, saya tunjukkan rekeningnya. Tulis nama saya di buku Anda. Bukan nama Nek Ratmi. Bukan nama Nurlela. Nama saya."
Dia menatap Nurlela sebentar. Mata tua itu — mata yang pernah mengendus sesuatu yang salah pada adik perempuan ini — kini menahan sesuatu yang mirip malu, tapi tidak mundur.
"Saya yang mendorong Anda sampai di sini," katanya pelan, hampir tidak kedengarannya di tengah deru angin. "Maaf."
Negosiasi berlangsung di los timbangan yang sama, di atas meja timbangan besar yang biasa dipakai menimbang beras dan kacang tanah. Anggota Paguyuban Timbangan — lima orang penimbang tua dengan sarung dan topi peci, wajah berkerut mengenal setiap gram kecurangan — duduk melingkar. Mira duduk di kursi timbangan di pojok, jari-jari kecil menghitung napas: satu, dua, tiga... hingga sepuluh, lalu mulai dari awal. Lampu badai kecil di tangannya menyala, cahayanya goyang di wajahnya yang tenang.
Nek Ratmi menandatangani kertas dengan jari telunjuk — tinta hitam merembes ke sidik jari, bau logam timbangan naik ke hidung Nurlela, pertama kali malam ini hidungnya bekerja lagi. Wulan menaruh cap warung kopinya di samping sidik jari neneknya. Broto menandatangani dengan bolpoin biru, tanda tangan rapi seperti di formulir pajak. Nurlela menaru jari di kertas terakhir — surat pengakuan perkara timbangan lama, syarat Paguyuban menerima dia kembali.
"Jujur," kata ketua Paguyuban, suara bergema di lorong kosong. "Itu satu-satunya takaran yang kami terima."
Nurlela mengangguk. Jari-jarinya hitam di ujung. Bau logam timbangan menempel di kulit. Rasanya seperti pulang — tapi pulang ke tempat yang tidak pernah ada, tempat yang harus dibangun dari awal.
Subuh menyusup dari celah atap seng Blok Hangus.
Tiang-tiang arang berbayang hitam di langit abu-abu. Rumput liar berdesir di antara keramik pecah. Nurlela berdiri di tengah area terbuka, timbangan kuningan ibunya di tangan — piring kanan melengkung kena api, piring kiri masih utuh. Batu-batu anak timbangan sudah disusun rapi di saku celana Damar.
"Ambil, Dek."
Damar menerima timbangan tanpa ragu. Jari-jarinya menyentuh piring yang melengkung, menelusuri bekas api yang ia tidak pernah lihat terbentuk. Ia tidak menolak. Tidak bertanya kenapa. Hanya menatap ke arah Nurlela, mata berkedip cepat sekali — tadi malam di gudang, mata itu tidak berkedip sama sekali.
"Kuncinya di saku saya, Mbak."
Nurlela tertawa. Suara aneh di telinga sendiri, seperti suara orang lain yang dipinjam. "Kau terlalu cepat percaya, Dek."
"Bukan percaya," Damar menjawab, suara datar tapi ada sesuatu di belakangnya — keputusan, mungkin. Atau sekadar fakta. "Aku hanya tahu kalau kuncinya di saku aku, kamu tidak bisa mengunci pintu dari luar lagi."
Pagi tiba penuh asap kopi dan kunyit.
Warung Wulan ramai suara gelas kaca bertemu piring, suara orang-orang Paguyuban memesan kopi tubruk dan roti bakar, suara Mira yang menghitung napas di meja pojok: satu, dua, tiga... Pak Broto duduk di meja paling ujung, map plastiknya tertutup, wajahnya tenang pertama kali sejak Nurlela kenal dia. Nek Ratmi minum kopi pelan, kadang menatap jari-jarinya yang masih hitam tinta.
Wulan menyodorkan gelas kopi ke Nurlela. Gula terlalu banyak — Neng selalu nyelehkan gula ke kopinya, bilang hidup sudah pahit, jangan tambah pahit lagi. Nurlela menerima gelasnya, uap panas menyentuh wajahnya.
"Neng, ini manisnya berlebihan," kata Wulan, nyelehkan gula lagi ke gelasnya sendiri. "Nanti kencing manis."
Nurlela menatap kopi hitam pekat, gula putih mengendap di dasar gelas. Hidungnya menangkap bau kopi, kunyit, roti bakar, dan — di balik semua itu — gula hangus dari anak-anak yang lewat ke sekolah, tas punggung menetekkan bahu, kaki kecil berlari mengejar bis. Masih ada. Masih lapar.
"Pas, Bu," katanya, mengangkat gelas ke bibir. "Utangnya sudah dilunasi."
Dia minum. Manis. Pahit. Hangat. Nyata.
Dan untuk pertama kali dalam tiga bab, Nurlela Warsih tidak mengoreksi sendiri.