Saya akan bercerita pelan-pelan saja, biar Anda paham dulu bagaimana saya menjaga rumah ini.
Malam itu saya sudah menakar semuanya sejak sore. Beras kuning dua liter, pas untuk tumpeng kecil. Kembang tujuh rupa Nek Ratmi saya bagi ke dalam tiga baskom plastik supaya wanginya rata sampai ke pojok dapur. Kursi plastik saya hitung dua kali, tiga puluh dua buah, karena tamu yang diundang tiga puluh, dan saya selalu melebihkan dua untuk jaga-jaga, sebab begitulah cara saya menyayangi orang: dengan menghitung lebih dulu sebelum mereka sempat kekurangan. Saya sendiri sudah berganti kemeja lengan panjang sejak sore, kebiasaan lama untuk menutupi punggung tangan kanan saya yang berbintik bekas luka bakar, meski udara sedang panas menyengat. Minyak di lampu badai Damar juga sudah saya lihat. Tinggal sedikit, memang. Saya bilang pada diri sendiri itu kebetulan, sumbu yang boros, botol yang lupa saya isi ulang sejak dua hari lalu karena antre di warung Wulan terlalu panjang. Saya percaya itu waktu mengatakannya. Saya masih setengah percaya sekarang.
Rumah petak kami di Gang Kelinci ini kecil, dua kamar berdempetan dan dapur yang sebetulnya cuma teras diberi atap seng. Satu bohlam kuning menggantung di ruang tengah, kabelnya menjuntai turun seperti tali gantungan yang lupa dipakai. Bohlam itu pusat dunia Damar. Ke mana pun cahaya kuning itu jatuh, di situlah adik saya merasa aman. Saya menyapu lantai di bawahnya setiap pagi, bukan karena kotor, tapi karena saya suka berdiri di situ dan membayangkan saya masih bisa mencium bau tanah basah kena sapu ijuk seperti dulu.
Saya bilang dulu karena hidung saya sudah lima tahun tidak bekerja. Sejak kios Ibu di Blok Hangus terbakar, dunia jadi bisu buat hidung saya. Bawang goreng, got mampet, minyak wangi murahan yang dijual Ceu Imas, semuanya lewat begitu saja tanpa jejak. Saya kira saya kehilangan sesuatu yang penting. Sekarang saya tahu saya keliru bilang begitu. Hidung saya tidak mati. Ia cuma pindah kerja, seperti orang PHK yang akhirnya dapat pekerjaan baru yang lebih cocok dengan bakatnya.
Sekarang hidung saya mencium takut.
Takut tetangga yang cuma khawatir dagangannya tidak laku, baunya samar, seperti logam basah kena hujan, ringan, gampang menguap. Tidak ada yang menarik dari takut semacam itu. Tapi takut Damar, adik saya, empat belas tahun, kurus tinggi dengan pergelangan tangan yang selalu menonjol seperti tulang ayam, baunya lain sekali. Gula hangus. Manis yang sudah kelewat panas, sedikit gosong di ujungnya, dan kalau saya ulurkan tangan ke arahnya, saya bisa merasa beratnya di telapak saya, seolah seseorang menaruh kantong gula sekilo penuh persis di tengah tapak tangan saya. Saya tidak akan bohong, saya suka menimbang berat itu di kepala saya sebelum tidur. Bukan karena saya jahat. Karena itu satu-satunya cara dunia masih terasa punya bau untuk saya.
Malam itu untuk seribu hari Ibu, rumah kami penuh. Nek Ratmi duduk paling depan dekat tumpeng, kebaya lusuhnya berlapis kardigan rajut meski udara sedang panas, kantong kain berisi kembang tujuh rupa dan uang receh ia peluk di pangkuan seperti bayi. Wulan mondar-mandir dari dapur membawa gelas kopi, suaranya yang serak memanggil semua orang Neng dan Bang meski usianya lebih muda dari separuh tamu. Damar duduk di sudut, lampu badainya menyala kecil di pangkuannya, sumbunya sudah saya lihat tadi sore tinggal sedikit sekali minyaknya. Saya duduk agak jauh dari dia, cukup jauh supaya tidak ada yang curiga saya sedang menghitung. Menghitung berapa lama nyala itu akan bertahan sebelum padam sendiri.
Doa dimulai. Suara Pak Kyai mengalun, Nek Ratmi menaburkan kembang ke atas piring seng, saya menunduk seperti yang lain, meski mata saya sesekali mencuri lihat ke arah lampu badai Damar yang mulai berkedip.
Lalu listrik sekampung padam.
Bukan cuma rumah kami. Seluruh Gang Kelinci gelap sekaligus, seperti seseorang menutup kotak korek api besar-besar dan semua isinya ikut mati. Lilin di atas tumpeng terguling, tumpah minyaknya, seseorang menjerit karena kakinya kena percikan panas, kursi plastik berderak ditabrak orang yang berdiri mendadak. Dan di tengah semua itu, Damar menjerit.
Bukan jeritan biasa. Jeritan yang keluar dari tenggorokan anak yang sudah lama tahu gelap akan datang lagi dan tidak pernah bisa memaafkan tubuhnya sendiri karena tetap takut meski sudah sembilan tahun berlalu sejak gudang los timbangan itu.
Saya bergerak lebih cepat dari siapa pun malam itu. Saya selalu bergerak paling cepat kalau menyangkut Damar, itu yang saya percaya tentang diri saya, dan saya masih percaya sampai sekarang meski cara saya bergerak barangkali tidak seperti yang dibayangkan orang.
Saya memeluknya. Tangan saya, yang punggungnya berbintik bekas luka bakar dan selalu saya sembunyikan di balik lengan panjang meski panas menyengat, saya lingkarkan ke pundaknya yang gemetar. Saya tempelkan pipi saya ke lehernya, dekat sekali, seperti kakak yang menenangkan, seperti ibu yang tidak pernah sempat menenangkan siapa-siapa malam kebakaran itu. Dan tepat di detik ketakutannya paling penuh, paling matang, saya menghirupnya.
Seperti orang menghirup uap dari panci yang baru diangkat dari api. Manis, gosong, berat, penuh. Saya menelannya diam-diam, di tengah kegelapan, di tengah puluhan orang yang berteriak mencari korek api, tidak seorang pun tahu apa yang baru saja terjadi di pelukan saya.
Dunia langsung berbau lagi. Asap lilin yang tumpah, keringat orang-orang berdesakan, minyak kelapa dari dapur Wulan, semuanya masuk sekaligus ke hidung saya seperti pintu yang lama terkunci akhirnya dibuka paksa. Kepala saya jernih. Tangan saya, yang tadinya gemetar ikut panik, berhenti bergetar sama sekali. Saya merasa waras. Saya bersumpah, itu satu-satunya kata yang tepat.
Yang tidak saya sadari malam itu, di suatu tempat dalam kepala saya, ibu saya sedang menumbuk cabai sambil bersenandung, dan kenangan itu diam-diam padam bersama lilin, tanpa saya dengar suaranya pergi.
Listrik menyala kembali beberapa menit kemudian. Damar duduk tenang di pangkuan saya, matanya kosong sebentar sebelum berkedip normal lagi. "Terima kasih, Kak," katanya, sopan seperti biasa, lalu ia menoleh ke lilin yang sudah ditegakkan seseorang. "Siapa yang menyalakan itu tadi?" tanyanya, bingung, seolah lupa bahwa dialah yang memegangnya sebelum semua gelap. Saya tertawa kecil, bilang mungkin dia terlalu kaget sampai lupa. Dia mengangguk, percaya begitu saja pada saya, seperti biasanya.
Tamu pulang satu-satu sesudah doa penutup. Baru saja saya melipat tikar terakhir, Pak Broto muncul di pintu, kemeja batiknya rapi disetrika sendiri, sandal kulit tipisnya berdebu jalan gang. Map plastik ia dekap seperti barang berharga.
"Maaf, saya tahu ini malam yang tidak tepat," katanya, membungkuk sedikit. "Maaf sekali, Bu Ratmi, saya benar-benar tidak enak hati." Ia meminta maaf sekali lagi sebelum akhirnya membuka map itu, mengeluarkan buku tulis bergaris penuh angka rapi. "Tapi ongkos kesabaran saya juga ada batasnya."
Nek Ratmi mengerutkan dahi, menyangkal angka yang disebut terlalu besar untuk cicilan yang ia rasa baru berjalan sebentar. Broto membalik halaman dengan tenang, menunjuk cap jempol di sudut kertas. "Ini tanda tangan Ibu sendiri," katanya lembut, seperti orang menunjukkan resep dokter, bukan ancaman. "Rumah ini jaminannya, Bu."
Wulan menarik lengan saya ke teras sebelum saya sempat ikut bicara. "Neng," bisiknya, "Paguyuban masih mau nerima kamu balik. Cuma kamu harus ngaku soal timbangan dulu." Saya tersenyum, menggeleng pelan, bilang saya baik-baik saja begini.
Malam itu, sesudah semua orang pergi, saya turunkan timbangan kuningan Ibu dari atas lemari, saya timbang batu-batu anak timbangannya satu per satu di bawah bohlam kuning, sampai jarumnya diam lurus. Saya bilang pada diri saya sendiri, ini darurat. Sekali ini saja. Tidak akan terulang.